Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Minggu, 30 November 2014

Melbourne 5: Sovereign Hill dan The State Rose Garden

Mendung menggantung di langit saat kami tiba di Sovereign Hill. Sebuah tempat di ketinggian yang sejuk dan dingin. Seperti layaknya sebuah taman di perbukitan, saya membayangkan pasti akan ada banyak hal yang menakjubkan di balik pepohonan yang rapat itu.

Melalui sebuah undak-undakan, kami berjalan menuju pintu masuk. Beberapa orang berbusana ala masa lampau pun menyambut kami. Yang perempuan dengan blus panjang yang lebar bagian bawahnya, lengkap dengan topi lebarnya juga. Yang laki-laki berbusana lengkap dengan topi panjangnya juga dan sepatu boot. Mereka memandu para tamu dengan sangat ramah, termasuk melayani mereka yang ingin sekedar berfoto-foto. Counter penjualan tiket dan berbagai macam souveneer yang cantik-cantik ada di ruang yang menjadi pintu masuk ke Sovereign Hill itu.

Hujan deras membuat kami harus mengeluarkan payung dan menutup kepala kami dengan topi atau kerpus. Hawa dingin, namun tak menyurutkan kami untuk meneruskan wisata yang bagi kami tidak murah ini. Ya, 50 dollar per orang bukankah setara dengan hampir enam ratus ribuan? 'Hanya' untuk berwisata seperti ini? Hanya untuk masuk. Kalau kita ingin mengenakan kostum seperti orang-orang pertambangan zaman dahulu, kita dikenakan tambahan biaya 37 dollar lagi. Begitu juga kalau kita ingin naik kereta kuda dan mengikuti mining tour, harus membayar entah berapa dollar lagi.

Namun tentu saja bukan 'hanya'. Ya, karena ternyata begitu hujan reda, berbagai pemandangan langsung mencerahkan mata kami.  Serombongan anak sekolah biara, dipimpin oleh seorang guru perempuan, berjalan rapi dengan pakaian biara mereka, dengan topi-topi khas, dan berjalan cepat dengan kedua telapak tangan saling berpagut di bawah dada. Anak-anak itu berusia belasan tahun, mungkin siswa sekolah dasar, dan mereka sesekali membalas sapa kami dengan senyum manis dan sopan. Mereka masuk ke tempat pandai besi, ke peternakan kerbau dan kuda, ke toko roti, ke mana saja. Ada saatnya mereka bermain lompat tali, persis seperti yang dilakukan Laura Angels dan teman-temannya dulu. Melihat mereka begitu tertib dan rapi dengan segala kepolosan, membuat kita seperti melihat anak-anak sekolah zaman dahulu yang begitu takzim pada gurunya.

Menikmati Sovereign Hill memang mengingatkan kita pada film favorit masa kecil 'Little House on The Prairie". Para petugas yang mengenakan kostum zaman dahulu. Para wanita dengan rok lebar dan berat, lengkap dengan topi kain menutup rambut. Para pria mengenakan pantolan dan topi yang tinggi, lengkap dengan ikat pinggang dan sepatu kulit serta segala macam aksesoris. Mereka ada di toko-toko, apotek, bakery shop, bar, hotel, dan di rumah makan. Semua dengan latar masa lalu, sebelum tahun 1900-an. Dengan bangunan, alat-alat, perabot, dekorasi, yang semuanya dengan nuansa masa lalu. Roti, obat-obatan, permen, alat-alat memasak, dan sebagainya, pun dibuat dengan cara konvensional. Juga ada rumah-rumah para penambang, lengkap dengan dapur tradisional, kandang- kandang kuda, ternak ayam, dan bunga-bunga warna-warni, di pekarangan rumah kayu yang sederhana.

Hari sudah semakin siang dan Sovereign Hill yang panas namun sejuk kami tinggalkan sekitar pukul 13.00, setelah kami menyempatkan diri mengelilingi gold museum. Tempat di mana sejarah penemuan emas dan pengembangannya di Victoria bisa dipelajari. Termasuk para penemu dan selintas biografinya. Kita juga bisa membeli perhiasan emas di tempat itu, dalam bentuk cincin, giwang, liontin, bross, dan sebagainya. Harganya? Hm, untuk ukuran kami, tidak murah tentu saja....hehe.

Dari Sovereign Hill, kami berkendara lagi bersama Mas Toro menuju State Rose Garden. Sebagainama namanya, tempat ini adalah sebuah taman bunga yang luas, dan sejauh mata memandang, adalah bunga dan bunga. Kita akan terkagum-kagum dengan begitu banyaknya ragam bunga mawar dengan berbagai warna dan ukuran. Tak terbayangkan bagaimana taman sebesar dan seindah ini hidupnya dibiayai hanya mengandalkan dari donatur. Benar-benar fantastis.

Selain Sovereign Hill dan The State Rose Garden, kami juga berkesempatan mengunjungi tempat wisata bersejarah Shrine of Rememberance. Wisata belanja murah meriah juga kami lakukan di Shaver, toko yang menyebut dirinya sebagai "the recycle superstore". Ya, kita bisa mendapatkan barang bekas apa saja di sini. Buku, baju, peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, aksesories, apa pun ada. Saya memborong buku-buku dan pernak-pernik alat makan. Semua barang itu masih bagus dan tidak rugi kalau kita beli, setidaknya sekadar sebagai kenang-kenangan kalau kita pernah ke Shaver.

Melakukan perjalanan di Melbourne begitu menyenangkan. Di sepanjang jalan banyak kita temui padang rumput, bukit dan lembah, dan domba-domba, juga hutan-hutan yang hijau menyejukkan. Meski melaju di jalan tol, sesuai peraturan, kecepatan mobil tidak lebih dari 117 kilometer per jam. Nampaknya para pengendara di Melbourne adalah pengendara yang patuh dan sopan. Apa lagi di sepanjang jalan tol kabarnya ada kamera terembunyi, dan bila ada kendaraan yang melebihi batas kecepatan, maka surat pemberitahuan dari kepolisian akan dilayangkan ke rumah pemilik kendaraan, dan yang bersangkutan akan terkena denda. Tidak perlu ketemu polisi di jalanan, apa lagi bermain mata dan 'berdamai' demi mengamankan pelanggaran.

Begitulah, semua serba rapi. Serba tertib dan teratur. Membuat betah dan nyaman siapa pun. Tentu kita, Indonesia, akan menuju ke sana juga, dan bahkan saat ini kita semua sedang menuju ke sana. Menuju pada keadaan yang lebih rapi, teratur, nyaman, layanan yang ramah dan peduli, termasuk peduli pada lingkungan sekitar. Betulkah? Semoga. Harus tetap optimis.

Melbourne, 4 November 2014

Wassalam,
LN

Jumat, 21 November 2014

New Zealand, Akhirnya Terwujud

Delapan mahasiswa itu berdiri tegak di sudut panggung. Tangan kiri mereka mengepal,  tangan kanan mengacungkan dayung. Di belakangnya adalah perahu karet besar berwarna biru. Di sebelah kiri mereka berdiri sebuah banner bertuliskan New Zealand Rafting Expedition 2014. Beberapa meter di belakang mereka, backdrop bertuliskan "Persembahan Himapala Unesa untuk Almamater dan Negeriku Tercinta, New Zealand Rafting Expedition 2014." Di depan panggung, belasan awak media cetak dan TV sedang mengambil gambar mereka.

Ya. Setelah diperjuangkan sejak lebih dari setahun yang lalu, mimpi itu, ekspedisi ke New Zealand, akhirnya terwujud. Ekspedisi rafting untuk mengakrabi tiga sungai sekaligus, Sungai Kaituna, Rangitaiki, dan Ngaruroro.

Ketiga sungai itu memang penuh dengan jeram yang curam dan sudah dikenal sebagai tempat untuk rafting yang menantang. Sungai Kaituna memiliki panjang sekitar 50 kilometer. Rangitaiki memiliki panjang 155 kilometer. Sedangkan Ngaruroro, terpanjang di antara ketiganya, yakni 164 kilometer.

Delapan orang itu, adalah Dimas Prasetyo Kurniawan, Anggar Sukmana Saputra, Dwi Zulaikah, Rizal Fanani Aziz, Fitria Indriani, Choirul Huda, Ulumuddin Fanani, dan Nafisa Ratna Sari. Tiga perempuan, lima laki-laki. Dua perempuan di antaranya adalah dari Program Studi Pendidikan Tata Busana. Ya, meski sehari-hari berurusan dengan fashion dan jahit-menjahit, nyali mereka besar juga untuk menjadi atlit rafting di lokasi yang bahkan belum pernah mereka kunjungi kecuali lewat dunia maya.

Tim delapan itu, tentu tidak terbentuk begitu saja. Ada proses panjang yang harus mereka lalui. Dari sebanyak 37 pendaftar, disaring sedemikian rupa, baik fisik maupun mental, tinggallah 10. Dari 10 orang, karena hanya diperlukan 8, maka gugurlah 2  di antaranya. 

Mereka juga harus masuk training center. Rutin fitness dan latihan dayung di Rolak dua kali seminggu. Bahkan pada hampir setiap akhir pekan, mereka turun ke Sungai Pekalen dan sungai lain untuk latihan. Mereka juga melakukan tryout di Dampit, Malang, juga ke Sungai Citandui, Jawa Barat. Sampai akhirnya, setelah fisik dan keterampialn mereka dinilai siap, mereka harus menjalani karantina di Roks (Rolak Outbound Kids) mulai tanggal 17 November sampai menjelang pemberangkatan nanti. Karantina itu dimaksudkan untuk lebih membangun kekompakan dan kebersamaan mereka. Lepas dari itu, sejak berbulan-bulan sebelumnya, korespondensi, perizinan, pengurusan passport dan visa, serta persiapan logistik, terus dilakukan.

Pada tanggal 27 November nanti, tim akan berangkat dari Surabaya menuju Auckland, New Zealand. Semua perjuangan yang telah dilakukan sejak setahun yang lalu, dengan berbagai rintangan dan tantangan yang harus dihadapi, akhirnya terbayar sudah. Benar. Bukan perjuangan yang ringan untuk mendapatkan dana sekitar 180 juta, bernegosiasi dan beaudiensi kesana kemari untuk mencari dukungan, di antara waktu-waktu kuliah dan tugas-tugas yang menumpuk, dan jadwal latihan yang padat. Mereka melalui semunya benar-benar dengan penuh perjuangan, dengan segala daya upaya, tetesan keringat, bahkan air mata, demi mewujudkan mimpi itu.

Siang itu, di Gedung Gema Kampus Ketintang, upacara pelepasan Tim New Zealand digelar. PR 3, Dr. Ketut Prasetyo, menyerangkan bendera Merah Putih sebagai simbol menitipkan nama baik negeri untuk mereka. Pembina Himapala, Luthfiyah Nurlaela, menyerahkan bendera Unesa, sebagai simbol menitipkan kejayaan Unesa. Dan Ketua Umum Himapala, Maratus Sholihah, Menyerahkan bendera Himapala, sebagai simbol menitipkan kehormatan Himapala untuk mereka. Semua yang hadir menyaksikan dengan penuh rasa haru dan bangga. Para orang tua, para senior Himapala, juga para awak media.

Ini bukan ekspedisi pertama untuk Himapala. Setidaknya sudah ada lima kali ekpedisi besar yang sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Ekspedisi Cartenz, ekspedisi Lawe Alas, ekspedisi Tebing Bambapuang, ekspedisi Sulsel 3 divisi (panjat, caving, rafting), ekspedisi ladies team Selelo Sumatera, dan ekspedisi elit (5 tebing dalam satu bulan penuh). 

Ekspedisi New Zealand, sejatinya, adalah juga mimpi para senior Himapala. Dan saat ini, anak-anak muda itu, mewujudkan mimpi itu, dengan dukungan penuh para seniornya. Betapa indahnya sebuah silaturahim yang terus terjaga sebagaimana layaknya seorang adik-kakak.    

Ekspedisi semacam ini, tidaklah dimaksudkan untuk menaklukan alam. Alam sama sekali bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk diakrabi. Juga bukan sebagai simbol kekuatan, keperkasaan. Ini tentang perjuangan mengalahkan rasa takut, tentang ketegaran, sekaligus tentang kerendah hatian, kebersamaan, serta kemampuan untuk bertahan. Sebagai bagian dari peningkatan kesadaran akan betapa kecil dan tak berartinya manusia, di tengah alam yang maha luas dan tak terhingga nilainya. Sebagai wujud rasa syukur dari sosok-sosok makhluk yang begitu tak berarti di hadapan Sang Pencipta. Ini tentang menjaga reputasi, menjaga kejayaan sebuah organisasi, almamater, dan kejayaan negeri.

Tanggal 7 Desember nanti, Tim New Zealand akan kembali dari petualangan mereka. Mereka akan membawa banyak pengalaman. Mereka akan membawa oleh-oleh berupa dokumentasi foto dan video. Mereka akan membawa banyak cerita. Namun, sebagai bagian dari masyarakat akademis, mereka akan menuliskan cerita pengalaman petualangan itu dalam sebuah buku. Buku yang menceritakan seluruh perjuangan mereka, suka duka mereka, dan juga--mungkin--tentang pelajaran berharga bagi semua untuk lebih mencintai alam semesta. 

Buku itu, akan menjadi kado indah untuk Ulang Tahun Unesa yang ke-50. Selamat Ulang Tahun, Unesa. Semoga kejayaan semakin dekat dan senantiasa dalam genggaman.

Selamat jalan, selamat berjuang, kawan. Kami di sini menanti kalian, lengkap dengan doa penuh harapan untuk kesuksesan kalian. Jaga kesehatan, jaga keamanan, jaga kehormatan. 

Salam lestari.

Surabaya, 21 November 2014.

Wassalam,
LN

Senin, 10 November 2014

Melbourne 2: Hidup Tidak Selamanya Mudah

Kami menuju Stasiun Moreland yang tidak terlalu jauh dari Hotel Dolma. Ditemani Tiwik dan Adzra, namun keduanya tidak ikut jalan-jalan, hanya melepas kami di stasiun tersebut. Untuk pertama kalinya, kami menggunakan myki di stasiun ini. 

Tujuan kami adalah Camberwell Market. Sebuah pasar yang tidak buka setiap hari, dan berbagai barang 'branded' bekas dijual di sana. Mulai dari pernak-pernik merchandise, sepatu, tas, baju, topi, alat-alat rumah tangga, alat-alat musik, alat-alat tukang, alat-alat menjahit, sampai sepeda bekas. 

Sepanjang perjalanan ke Camberwell market adalah perjalanan yang hijau dan teduh. Di mana-mana padang rumput, taman-taman, bukit-bukit, hutan-hutan kecil yang pohon-pohonnya berbaris rapi, rumah dan gedung-gedung berwarna tanah, dan tidak ada sampah berserakan. Tepatlah kalau Australia dikatakan sebagai negera terbersih di dunia dan Victoria disebut city of green. 

Suhu yang dingin tetap kami rasakan di dalam train. Musim seharusnya sudah masuk ke summer, tapi sisa-sisa spring masih sangat terasa. Hari ini tidak hanya cuaca yang dingin, namun juga berangin dan sedikit gerimis. Melbourne benar-benar membuat kami mengalami shock weather. 

Kami turun di Parliament. Ganti naik train ke arah Belgrave, menuju pasar Camberwell.

Saya sebenarnya lelah sekali. Tapi sangat sayang membuang waktu hanya untuk duduk-duduk atau tertidur di lobi hotel. Maka, pada siang hari pertama di Melbourne ini,  kami habiskan dengan berjalan-jalan ke Camberwell Market. Berbelanja barang-barang bekas. Saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan barang bekas. Pikiran terlanjur tidak terlalu bisa menerima barang bekas, terutama untuk kelompok baju dan aksesoris.  Beda dengan orang-orang Melbourne, me-'recycle' barang-barang mereka sudah menjadi budaya. Oleh sebab itu, di mana-mana ditemukan toko barang bekas. Penampilan orang-orang itu selalu up to date, fashionable, modern, meski tidak selalu mengenakan barang baru.

Saya hanya membeli sebuah CD rekaman kelompok musik yang judulnya The Scrimshaw Four Bazaar. Kelompok musik itu sedang bermain di tempat itu juga. CD itu, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Arga.  

Kami juga melakukan window shopping di kawasan Fliders Road, dan lanjut ke Queen Victoria Market (Vicmart). Di Vicmart ini, anak sulung Tiwik, Ganta, yang beberapa waktu yang lalu sudah diwisuda lulus high school, bekerja membantu buka-tutup toko, untuk sekedar mengisi waktu luangnya. Dia mendapatkan 50 dollar untuk empat jam waktu kerja per hari, dan bekerja selama lima hari seminggu. Pendapatan yang sangat lumayan. Lebih dari sepuluh juta per bulan. Hm....

Sore ini kami benar-benar lelah. Juga kelaparan. Sepotong dua potong fried chicken dan french fries, yang kami dapatkan di ujung Swanston street, membantu mengusir lapar dan dingin. Masih harus naik satu kali tram lagi sebelum sampai ke hotel kami.

Nanti malam, kami harus briefing, untuk mempersiapkan presentasi pada esok harinya, di Victorian Institute of Teaching (VIT) dan di University of Melbourne. Tiwik akan datang ke hotel untuk membantu persiapan kami. Tempo hari saya katakan pada Tiwik: "berkali-kali aku bersyukur pada Tuhan, Wik, betapa beruntungnya aku punya kamu. Huwaaa...." 

Karena kami akan berkunjung ke tiga institusi, kami berbagi tugas. Kesempatan pertama, di VIT, saya yang akan presentasi. Pak Sulaeman kebagian giliran kedua, di University of Melbourne. Dan lusa, di Victorian University (VU), Pak Yoyok yang akan presentasi. 

Kami tiba kembali ke Hotel Dolma saat matahari bersiap untuk tenggelam. Tubuh kami sangat lelah. Tujuh pack nasi padang yang kami beli dari penjual yang berasal dari Vietnam, ya dari Vietnam--bukan dari Padang--kami bawa pulang, untuk makan malam nanti. 

Menyapa Melbourne yang baru sepintas ini memberikan kesan mendalam bagi saya. Hidup di tempat ini seolah begitu nyaman. Lihat di mana-mana. Kota yang bersih. Taman di mana-mana. Hiburan dan kemudahan di mana-mana. Transportasi yang sangat rapi dan serba otomatis. Jalanan tanpa macet. Orang-orang yang mondar-mandir dengan penampilan  dan wajah-wajah yang bersemangat. Semua serba modern, fashionable, dan mewah.

Tapi coba sedikit menengok ke Pasar Camberwel. Seorang tua berjualan sepeda dan barang-barang "rongsokan". Sweater yang dikenakannya koyak dan terburai di beberapa bagian. Sepatunya adalah sepatu butut. Juga sepasang suami istri yang berjualan pernak-pernik, dan menawar-nawarkannya dengan wajah memelas. "Everything is two dollars, everything is two dollar..... All must go, all must go....". 

Secara berseloroh, Pak Yoyok berkomentar. "Lihat mereka. Ternyata para turis yang sering kita lihat di Indonesia, seperti ini kerja mereka di sini. Isih keren awak dewe. Haha....."

Memang tidak semua orang yang berjualan barang bekas di tempat itu berpenampilan memelas. Banyak orang dewasa dan anak muda yang nampaknya berjualan hanya sekedar mengisi waktu luang atau melampiaskan hobi. Mereka cantik-cantik dan keren, bahkan ada yang wajahnya secantik Sandra Bullock.

Beberapa tuna wisma, meski tidak banyak, juga saya temukan di beberapa tempat, di stasiun dan emperan pertokoan di Flinders street dan Bourke street. Salah seorang dari mereka bahkan memasang tulisan: "Hello, my name is Sarah. I am homeless and if any one could help with food, coffee and any spare clothes...", dan seterusny. Ada juga yang menengadahkan topinya dengan tatapan kosong. Musisi jalanan, mirip di kawasan Malioboro, menyanyi dan memainkan berbagai instrumen, mungkin dengan tujuan benar-benar mencari uang atau sekadar menyalurkan hobi, baik sendiri maupun berkelompok, dan mengharap koin dari para pengguna jalan.

Ya, bahkan di Melbourne pun, hidup tidak selamanya mudah.


Melbourne, 2 November 2014

Wassalam,
LN

Melbourne 1: Princess Pinus untuk si Princess

Pukul 07.30 waktu Melbourne. Garuda Indonesia mendarat mulus di landasan Tullamarine Airport. Udara dingin terasa menggingit kulit begitu kami keluar dari badan pesawat jumbo itu. 

Kami bertujuh. Saya, Pak Sulaiman, Bu Kisyani, Pak Yoyok, Pak Heru, Bu Lucia, dan Mbak Silfia. Kami semua tim PPPG (Program Pengembangan Profesi Guru) Unesa, kecuali Bu Kisyani yang baru saja mengakhiri masa jabatan sebagai PR 1 Unesa. Juga Mbak Silfia, staf Kantor Urusan Internasional Unesa. 

Kedatangan kami ke Melbourne adalah untuk melakukan benchmarking ke tiga institusi, yaitu Victorian Institute of Teaching (VIT), University of Melbourne, dan Victoria University (VU). Kawasan benchmarking kami seputar sistem sertifikasi guru dan pendidikan guru. Korespondensi dengan ketiga institusi itu sudah kami lakukan sejak tiga empat bulan yang lalu, untuk menyampaikan tujuan kami dan menentukan  hari di mana kami bisa berkunjung. Bahan presentasi sudah kami persiapkan juga, termasuk mempelajari berbagai hal tentang profil ketiga institusi.  

Kami semua tidur hanya sebentar semalam. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Australia yang selisih empat jam, membuat tidur kami tidak sempat lelap. Tiba-tiba saja setelah sekitar dua jam terbang, pramugari membangunkan kami dan membagikan breakfast. Oh God. Ini seperti makan sahur saja. Tapi saat kami mengintip keluar jendela, ternyata hari sudah mulai terang. Meski masih ada sekitar dua setengah jam lagi waktu yang tersedia sebelum mendarat, kebanyakan kami sudah tidak bisa melanjutkan tidur yang tertunda setelah menghabiskan breakfast yang terlalu cepat itu.

Kami berjalan memasuki gedung terminal, mengikuti petunjuk arah. Mengisi custom form, menuju counter imigrasi yang antriannya mengular. Lanjut mengambil bagasi, berjalan ke arah yang ditunjukkan petugas. Berdiri lurus di line 4. Semua bagasi, termasuk tas tenteng, diminta meletakkan di lantai, di depan kami berdiri. Anjing pelacak mengendus-endus tas-tas kami. Semua aman kecuali ransel Pak Yoyok. Dia membawa roti daging, dan meskipun sudah dia 'declare', tetap saja dia harus berurusan dengan petugas, dan rotinya disita. Hiks.... 

Kami berjalan keluar, menunggu penjemput. Berdiri di meeting point sembari menahan dingin. Mbak Silfia menelepon Bu Pratiwi, teman kami yang sedang menempuh program Ph.D dalam bidang cultural studies di University of Melbourne. Bu Pratiwilah yang membantu menyiapkan semua keperluan kami selama di Melbourne, akomodasi, transportasi, dan juga konsumsi. Bu Pratiwi juga yang membantu mengoreksi bahan presentasi kami untuk ketiga institusi yang akan kami kunjungi nanti. Kami menyiapkan power point, dan power point itu saya narasikan, supaya bisa lebih membantu memperlancar presentasi kami. Maklum, dengan keterbatasan keterampilan bahasa Inggris kami, apa pun harus kami lakukan, supaya tidak terlalu mengecewakan ketika presentasi dan diskusi nantinya.  

Bu Pratiwi. Sebenarnya dia bukan orang lain bagi saya. Tiwik, begitu saya menyebutnya, adalah teman seperjuangan. Satu angkatan di Himapala IKIP Surabaya (Unesa sekarang), sama-sama aktif di senat fakultas, sama-sama penyuka kegiatan tulis-menulis, teman satu kost ketika kuliah di S2 di Yogyakarta, dan sama-sama menjadi dosen di Unesa.

Kami dijemput oleh Bang Luhut, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Melbourne. Menurut Mbak Silfia, kebanyakan mahasiswa Indonesia berkuliah sambil bekerja. Juga para pelajar SMA. Mengisi waktu dengan bekerja part-timer, gajinya cukup menjanjikan. Satu jam rata-rata tidak kurang dari 8 dollar. Mereka bekerja apa saja, mencuci piring di rumah makan, membuka dan menutup lapak di pasar atau toko, menjadi driver, dan sebagainya.

Setelah berkendara selama sekitar dua puluh menit dari Tullamarine Airport, kami tiba di penginapan Dolma, di kawasan North Coburg. Sebuah penginapan sederhana, tapi cukup nyaman. Kami membayar 'hanya' 1.750 dollar untuk tiga kamar, selama lima hari, dengan tambahan satu microwave dan satu toaster. Namun kami datang terlalu pagi, oleh sebab itu kami belum bisa check in. Petugas meminta kami memasukkan koper-koper kami ke ruang di sisi ruang resepsionis.  

Udara pagi yang dingin, sekitar 13 derajat Celcius membuat tubuh kami lumayan menggigil. Bu Lucia sampai membungkus tangannya dengan kaus tangan. Jaket kulitnya menutup rapat-rapat tubuhnya. Kami semua menutup tubuh kami dengan jaket. Untungnya, kami semua membawa jaket. Beberapa hari sebelum keberangkatan kami, Tiwik sudah mengingatkan kami untuk membawa baju hangat, payung dan topi.  

Tak berapa lama, Tiwik datang dengan Adzra, anak bungsunya yang masih kelas 1 SD. Kami menyambutnya dengan suka cita. Saya memeluk tubuh mungil Tiwik dengan sepenuh hati. Kerinduan pada seorang sahabat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, saya akan menemui Tiwik di sini. Selama ini kami hanya berkomunikasi via BBM dan mendengar ceritanya dari mailing list keluarga Unesa. Apa yang dia ceritakan semuanya berkesan, semua ceritanya, cerita sedih maupun menyenangkan. Tiwik mengalami banyak hal selama menempuh studinya, banyak hal, yang menguras energi lahir dan batin, dan dia bisa melaluinya dengan baik. Tiwik, dengan tubuh mungilnya itu,  adalah pejuang yang sangat tangguh dan tak kenal menyerah. 

Tiwik membawakan kami nasi kotak plus sebotol air mineral. Wow, benar-benar saat yang tepat. Meski di pesawat tadi kami sudah sarapan dengan menu nasi goreng dan ayam berbumbu, udara dingin membuat perut kami sudah lapar lagi. Menu nasi putih, tahu isi, nugget, dan balado terong, begitu pas dengan suasana pagi ini. 

Adzra, gadis kecil Tiwik, begitu  ceriwis. Kemarin dia berultah. Dia bercerita tentang ultahnya, sekolahnya, apa saja, dengan bahasa Inggrisnya yang sangat lancar. Tentu saja. Anak itu telah bersekolah di Melbourne selama sekitar dua tahun. Untuk anak seusia dia, belajar bahasa sangatlah cepat, apa lagi dalam lingkungan belajar yang sangat mendukung, baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan teman sebayanya. Maka dia berbicara dalam bahasa Inggris dengan begitu natural, dengan body languange yang sungguh menggemaskan. 

Saya memberinya oleh-oleh  tas ransel biru dan sebuah buku bacaan. Sebenarnya saya tidak tahu kalau dia sedang berultah. Tapi tas biru dan buku itu membuat matanya berbinar-binar.

"It's gift for you. For your birthday." Kata saya. 
"Oh, really?" Dia seperti tidak percaya. 
"Yes, sure."

Adzra melompat-lompat sambil melambai-lambaikan tas biru dan bukunya. 

Bu Kisyani bertanya. "Adzra, what is the meaning of Adzra?"
"Princess."
"Princess?" Saya menyahut. "You got the book of Princess Pinus."

Ini benar-benar kebetulan yang menyenangkan. Adzra, si princess itu, sedang berulang tahun, dan dia mendapatkan buku berjudul Princess Pinus sebagai hadiah ultahnya. Tentu ini bukan buku yang ditulis dalam bahasa Inggris. Buku tentang kisah inspiratif regu penggalang SMP IT Auliya,  yang dihimpun oleh sahabat baik kami, Mas Basir Aidi, dan kebetulan saya diminta untuk memberikan endorsement dalam buku itu, saya harapkan bisa membantu Adzra untuk tidak melupakan bahasa ibunya, bahasa Indonesia.

Saya membongkar koper. Mengeluarkan kering tempe dan sambal pecel pesanan Tiwik. Juga buku-buku titipan Mas Khoiri, teman dosen dan juga sahabat kami, juga buku-buku dari saya sendiri. Salah satunya adalah buku 'Cermin', kumpulan tulisan saya dan Dik Utik, adik saya, buku yang menandai ulang tahun kami pada Oktober yang lalu.

Setelah selesai makan, kami bersiap untuk jalan-jalan, sekadar menunggu waktu. Tiwik membagikan 'myki visitor", sebuah kartu pass untuk memanfaatkan transportasi umum, yaitu train, tram dan bus. Kami akan memerlukannya selama sekitar seminggu kami di sini. Sejumlah 42 dollar per orang kami membelinya, dengan-- tentu saja-- dibantu Tiwik. 

Baik, mari kita mulai menyapa Melbourne yang dingin meski matahari bersinar cerah.

North Coburg, Melbourne, 2 November 2014


Wassalam,
LN