Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Sabtu, 19 Juni 2021

Diundang Menutup KKN

Hari ini saya diundang oleh Unesa untuk memberikan sambutan, paparan, dan menutup acara. Agenda kegiatannya adalah Penutupan KKN Mahasiswa Unesa Tahun 2021. Acara digelar di BUMDes Cengkok Asri, Kabupaten Ngajuk.

Ada 5609 mahasiswa Unesa yang telah selesai melaksanakan KKN di seluruh Indonesia.  KKN yang disebut KKN Tematik ini merupakan salah satu perwujudan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Mereka (MBKM). Tema-tema KKN meliputi kemanusiaan, kewirausahaan, proyek di desa, asistensi mengajar, dan proyek independen. Selama empat bulan, setara 20 SKS, mahasiswa menempuh program KKN di daerahnya masing-masing karena pandemi.

Acara penutupan hanya dihadiri oleh sebagian kecil mahasiswa yang kebetulan lokasi KKN mereka di Kabupaten Nganjuk. Wakil Rektor 4, PLT Bupati Nganjuk, satgas covid, camat, kepala desa, dosen pembimbing lapangan, dan perwakilan IKA Unesa cabang Nganjuk, merupakan sebagian undangan yang hadir. Undangan yang lain, termasuk mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia, hadir secara virtual.

Saya sampaikan dalam paparan saya bahwa program KKN Tematik sangat gayut dengan program prioritas kemendes, yaitu SDGs Desa.

SDGs Desa berturut-turut mencakup tujuan: 1) Desa Tanpa Kemiskinan, 2) Desa Tanpa Kelaparan, 3) Desa Sehat dan Sejahtera, 4) Pendidikan Desa Berkualitas, 5) Keterlibatan Perempuan Desa, 6) Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi, 7) Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan, 😎 Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata, 9) Infrastruktur dan Inovasi Desa sesuai Kebutuhan, 10) Desa Tanpa Kesenjangan, 11) Kawasan Permukiman Desa Aman dan Nyaman, 12) Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan, 13) Desa Tanggap Perubahan Iklim, 14) Desa Peduli Lingkungan Laut, 15) Desa Peduli Lingkungan Darat, 16) Desa Damai Berkeadilan, 17) Kemitraan untuk Pembangunan Desa, dan 18) Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.


Desa merupakan basis evidential untuk mengidentifikasi berbagai problematika pembangunan. Ada 74.961 desa di seluruh Indonesia,  dengan segala potensi dan keunggulannya, yang bila dikelola dengan baik, sangat potensial dalam menyumbang pencapaian tujuan SDGs. Apabila segenap permasalahan sosial-ekonomi di perdesaan teratasi, sebagian besar tantangan pembangunan di negeri ini dapat teratasi. Di sinilah urgensi menjadikan desa sebagai prioritas dalam pembangunan.

Arah pembangunan perdesaan saat ini bertumpu pada pencapaian 18 tujuan SDGs Desa yang mampu berkontribusi 74% terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Pencapaian ini tentunya memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, komitmen yang tinggi dari seluruh pemangku kepentingan, serta kerjasama multisektor termasuk dukungan kerjasama dari Perguruan Tinggi.

Kamis, 17 Juni 2021

Hari yang Sibuk

Rabu dan Kamis yang lalu merupakan hari yang sibuk. Untunglah saya sudah terlatih bekerja nonstop, indoor maupun outdoor. Jadi ya alhamdulilah, semua baik-baik saja. Meski usia tak lagi muda (kepala lima gitu....), insyaallah semangat tetap muda.

Semangat itulah yang menopang fisik saya  untuk bergerak dan bergerak, belajar dan belajar, berbuat dan berbuat. Pengalaman mendampingi program SM3T dan Jatim Mengajar menjadi modal tersendiri. Juga kegemaran pada aktivitas di alam bebas, termasuk kegiatan  Pramuka dan Himapala yang dulu saya geluti saat di bangku sekolah dan kuliah, juga menjadi amunisi yang sewaktu-waktu butuh sasaran untuk diejawantahkan.

Kami mendampingin Gus Menteri Desa mengunjungi Wonogiri dan Yogyakarta. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 08.45 menumpang Batik, dan mendarat di Solo. Lantas melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri dengan mobil, lengkap dengan patwalnya yang sirinenya meraung-raung. Sungguh saya tak pernah membayangkan menjadi salah satu orang dalam iring-iringan mobil seperti ini. Dulu pernah, seperti ini, saat menjadi rombongan mendikbud M. Nuh mengunjungi Papua Barat. Namun saat itu, saya hanya sebagai salah satu koordinator program SM3T. Bukan pejabat yang memang sehari-hari harus berada di sekitar Menteri.

Saya jadi ingat, biasanya, bila ada rombongan mobil pejabat lewat dan sirine mobil patwalnya meraung-raung, saya akan meminggirkan mobil yang yang sedang saya kemudikan, tentu saja sambil menggerutu, "duh...pejabat iki kok menang-menangan yooo....". Sekarang saatnya saya "digerutui" orang. Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini....

Saat saya menceritakan hal itu ke Mas Ayik Baskoro Adjie , dia tertawa dan bilang, "makanya jok suka alok. Alok iku melok." Tuh...

Kegiatan di Wonogiri adalah pemberian piagam penghargaan pada bupati, camat, lurah, dan pendamping desa, karena Wonogiri sudah menyelesaikan pendataan SDGs Desa. SDGs Desa sendiri merupakan arah kebijakan prioritas pembangunan desa, yang terdiri dari 18 tujuan pembangunan desa, antara lain desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, desa sehat dan sejahtera, pendidikan desa berkualitas, keterlibatan perempuan desa, dan sebagainya. Mungkin pada kesempatan lain akan saya tulis khusus tentang SDGs Desa.

Selain menyerahkan piagam, kami juga mengunjungi salah satu desa wisata dan juga pesantren. Rangkaian kegiatan selesai sekitar pukul 16.30, Dan kami melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Yogyakarta, kami sudah ditunggu dengan acara sertijab dari pejabat lama kepada pejabat baru. Selain itu juga pembukaan acara rakor yang akan dilaksanakan besoknya dari pagi sampai malam.

Alhamdulilah, acara rakor berjalan lancar. Presentasi dari sekretariat dan empat pusat berjalan dari pagi sampai sore. Dilanjutkan dengan presentasi oleh sembilan Kepala Balai Pelatihan. 

Saya sendiri sangat berkepentingan dengan rakor ini. Saatnya untuk kulakan.....

Malamnya, kami membuang penat dengan sepiring gudeg Yogya yang khas dan lezat.....

Senin, 07 Juni 2021

Jangan Lengah, Ya?

Jadi ingat waktu kami sekeluarga pesiar ke Madura. Saat itu, kami singgah di sebuah tempat makan, namanya bebek songkem. Konon, bebek songkem di rumah makan ini yang paling enak di antara bebek songkem yang lain. Tahu sendiri kan, warung bebek di Madura tersebar di banyak tempat, dengan berbagai variannya. Menu bebek songkem saja ada di mana-mana, belum lagi bebek-bebek yang lain.

Nah, saat kami pesan makanan di bagian depan, kami lihat petugas pencatat pesanan dan kasir tidak memakai masker. Begitu juga dengan petugas yang lain. Pokoknya mulai dari depan sampai belakang, tidak ada yang pakai masker. Waktu saya ingatkan, mereka bilang, "di sini sudah aman, buk, ndak ada lagi corona."

Dan itu tidak hanya di warung yang tergolong skala kecil-menengah ya. Di hari yang lain, kami singgah di rumah makan yang tergolong besar, berharap para petugasnya lebih disiplin pada prokes. Ternyata, dugaan kami salah besaaarrr. Di rumah makan gede pun, yang menyajikan berbagai pilihan menu yang lezat, tempat makan yang assoy, besar, luas, dikelilingi taman dan kolam yang apik, perilaku petugasnya sama saja. Tak bermasker. Atau bermasker tapi masker hanya jadi hiasan di leher. Saat diingatkan, anehnya, jawabannya kok ya persis sama, "di sini sudah ndak ada lagi corona, buk."

Sebenarnya kondisi seperti itu tidak hanya di Madura. Di berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk, maaf, di kampung halaman saya sendiri, perilaku masyarakatnya sungguh memprihatinkan. Sedihnya, bahkan orang-orang yang seharusnya menjadi contoh tentang pentingnya prokes, karena mereka guru atau tokoh agama misalnya, justeru menjadi pemicu terabaikannya prokes. Tak peduli, cuek, mengejek dan meremehkan saat diingatkan. Dan sikap buruk itu dinampakkan secara demonstratif di depan murid-muridnya. Sedih nggak? Sedih dan prihatin deh pokoknya.

Kita semua berharap, semoga Madura dan Jawa Timur serta Indonesia dan seluruh dunia segera terbebas dari pandemi ini. Vaksinasi adalah salah satu ikhtiar. Ikhtiar yang lain seperti yang sudah sangat kita kenal, yaitu 5M dan 3T, harus terus-menerus dilakukan secara disiplin. Jangan meremehkan. Jangan lengah. Jangan jumawa. Sudah banyak contoh terjadinya lonjakan pandemi di wilayah lain atau negara lain yang justeru lebih dahsyat akibat kejumawaan. Kalau Anda diingatkan, jangan bilang, "itu kan di India, bukan di Indonesia. Itu kan di sana, di sini amaaannnn....". Plis deh. Pliiisssss.....

Bener, jangan lengah ya.... Meskipun sudah divaksin, tetap jaga prokes ya. Jangan lengah.

Surabaya, 8 Juni 2021

Sabtu, 05 Juni 2021

Benteng Van de Bosch

Hari ini kami bersilaturahim ke Ngawi. Ke rumah salah satu anggota paguyuban haji Hidayah Mabrur 2009. Ya, sejak bersama-sama beribadah haji pada 2009, alhamdulilah rombongan haji kelompok kami sampai sekarang masih solid. Pertemuan setiap tiga bulan sekali. Kadang di rumah salah satu anggota di Surabaya, kadang di rumah asalnya, seperti pertemuan yang lalu di Tuban, dan sekarang di Ngawi. Kadang ke tempat wisata seperti di Batu, Tretes, Sarangan. Kadang ziarah wali, kadang berkunjung ke panti-panti. Pokoknya setiap pertemuan, selalu diisi dengan kegiatan yang menyenangkan dan insyaallah bermanfaat, selain--tentu saja--yasin dan tahlil sebagai agenda wajib. Termasuk mengirim doa pada teman-teman yang sudah mendahului, yang sampai saat ini sudah 13 orang, dari 54 anggota.

Anggota paguyuban, tentu saja, sudah pada berumur. Saya saja sudah kepala lima, meskipun pada saat berangkat dulu, termasuk masih muda.....ehm....sok muda, padahal juga sudah kepala empat. Namun semangat bersilaturahim mereka, sungguh mengagumkan. Begitu istiqomah. Juga kedisiplinan pada waktu. Kita-kita yang  lebih muda ini sampai sering malu pada diri sendiri karena kalah jauh dengan beliau-beliau untuk urusan itu.

Setiap kali ada kegiatan keluar kota, maka titik kumpulnya di rumah kami. Sarapan dulu dan menikmati kopi dan teh. Mobil dan sepeda motor bisa diparkir dengan aman, dan bus yang akan membawa kami juga bisa masuk leluasa sampai depan rumah.

Nah, hari ini, selain bersilaturahim, kami juga menyempatkan diri mengunjungi Benteng Van de Bosch. Lokasinya kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah yang kami kunjungi. Tapi saya belum tahu banyak tentang kisah benteng ini ya. Sementara gambar-gambarnya dulu ya.

Begitulah yang hampir selalu kami lakukan. Bersilaturahim, diselingi dengan berwisata, termasuk wisata religi. Namun karena para anggota sudah banyak yang sepuh, tujuan wisatanya yang tidak terlalu sulit untuk dijangkau. Itu pun juga fleksibel, yang pingin berwisata bisa turun, yang tidak, tetap menunggu di bus atau di mobil. Kalau ini yang terjadi, maka kami berwisata dengan cepat, supaya yang di mobil tidak terlalu lama menunggu. Pokoknya yang penting semua happy....