Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Jumat, 14 Desember 2018

MENGUNJUNGI EROPA 4: KE BELANDA


Seperti mimpi, tiba-tiba kami sudah di Amsterdam. Bersama bu Sri Handajani, selepas konferensi sore tadi, kami langsung menumpang Uber menuju Vienna International Airport. Lantas pada sekitar pukul 20.30, kami menumpang pesawat easyJet menuju Amsterdam. Dua jam perjalanan kami tempuh nyaris dengan tidur pulas. Kelelahan setelah beraktifitas seharian, serta efek jetlag yang tak juga pergi, membuat kami benar-benar menikmati penerbangan ke Amsterdam dengan sangat nyaman. Saat tiba di Bandara Schipol, Amsterdam, sekitar pukul 22.30, kondisi kami sudah jauh lebih segar.
Rob Van Erven, sahabat keluarga kami, yang menjadi alasan saya mengunjungi Belanda, sudah menunggu di depan pintu keluar bandara. Senang luar biasa rasanya hati saya bertemu Rob. Rob adalah teman kerja Mas Ayik, suami saya, di PT. Jacob. Dia konsultan di perusahaan tersebut. Sekitar setahun yang lalu, kontrak kerja dia selesai. Selama bekerja di Surabaya, keluarga kami adalah keluarganya. Dia memanggil ‘Ibu’ pada ibu kami. Bersepeda, camping, travelling, selalu bersama kami. Dia juga menjadi guru anak-anak yang belajar di rumah kami setiap malam. Bahkan dalam kondisi hujan pun, dia datang untuk menemui anak-anak. Saat Arga dan Lita menikah, dia juga menunggui di Ponorogo mulai dari persiapan dan ijab qabul di masjid. Oh ya, ke mana-mana, selama di Surabaya, Rob selalu bersepeda. Sepeda yang digunakannya juga sepeda kami. Sering sekali tiba-tiba dia datang di rumah pada minggu pagi, dan menikmati makan pagi bersama kami. Pernah juga suatu ketika, saat keluarga besarnya dari Belanda datang ke Surabaya, mereka semua berkumpul di rumah kami untuk menikmati makan malam. Pendek kata, Rob sudah menjadi bagian dari keluarga kami.
Sehari sebelum saya berangkat ke Vienna, Rob tiba-tiba menyapa saya. “Hi Luth, how is everything with you and Baskoro?” Lantas kami berbincang, dan saya juga katakan bahwa saya akan ke Vienna untuk mengikuti konferensi. “It’s close to us. One hour fly.” Katanya. Lantas saya katakan kalau sebenarnya saya ingin ke Belanda tapi tidak tahu bagaimana caranya. “Ok, I will see what I can do.”
Dengan bantuan Rob, akhirnya kami memperoleh tiket pesawat dari Vienna ke Amsterdam dan sebaliknya. Dengan harga tiket sekitar enam juta rupiah atau 334€. Tapi Rob bilang, “you do not need  to pay the ticket, you are part of our family.” O o….seperti mendapatkan durian runtuh lagi rasanya. Saya memaksa untuk membayar tiket dan Rob tetap menolak. Allah memang Maha Pemurah. Mimpi mengunjungi Negeri Kincir Angin tiba-tiba terwujud. Gratis lagi.
Perjalanan dari Schipol Airport di Amsterdam menuju Tilburg, kota tempat tinggal Rob, memerlukan waktu sekitar satu jam. Rob menyetir, saya duduk di sebelahnya, dan Bu Yani duduk di jok belakang. Tidur pulas lagi. Saya yang sudah mulai sangat mengantuk lagi, harus bertahan untuk menemani Rob membelah malam yang dingin dan sepi. Kami membincang apa saja, tentang keluarga, anak-anak, dan juga meninggalnya ibu kami. Nampak sekali betapa Rob sangat merindukan Indonesia, makanannya, dan orang-orangnya. Dia ingin suatu ketika bisa kembali.
Kami diinapkan di rumah Mom Ans, ibunya Rob. Seorang wanita 77 tahun yang masih cantik, sehat, yang saat kami datang, beliau sedang duduk di depan televisi sendirian. Mom Ans tinggal sendiri di rumah yang sangat nyaman sanyaman villa itu. Rumah Rob tidak terlalu jauh dari rumah Mom Ans. Dengan sepenuh hati Mom Ans memeluk saya, seperti seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu putrinya. Begitu juga dengan Bu Yani, dipeluknya dengan sepenuh hati, meski ini pertama kali bertemu. Mom Ans memang pernah berkunjung ke rumah keluarga kami, sehingga dia merasa sangat dekat dengan saya. Dia bertanya tentang Mas Ayik, Arga, Lita, Ibu. Dia menawari kami minuman hangat dan memastikan kami sudah makan malam. Saya sendiri mengeluarkan oleh-oleh yang saya bawa, salah satunya adalah lenan rumah tangga karya siswa SMKN 3 Magelang. Mom Ans dan Rob senang sekali dan merasa surprised dengan oleh-oleh itu. Kami juga membawakan Rob kering kentang dan kering tempe serta sambal pecel kesukaannya. Rob jatuh cinta pada makanan Indonesia, dan dia senang sekali kami membawakannya makanan Indonesia meski hanya sedikit.
Malam itu kami pulas sekali tidur di kamar yang nyaman, di lantai dua. Begitu pulasnya sehingga kami bangun kesiangan esok harinya, sekitar pukul 07.00. Terpaksa mengqadha shalat shubuh. Dari jendela kamar, kami bisa melihat meja makan di lantai bawah yang sudah dipenuhi dengan berbagai makanan untuk breakfast. Wow. Mom Ans psti bangun pagi sekali untuk menyiapkan semuanya. Dan menariknya, Mom Ans sudah memasang lenan oleh-oleh saya menghiasi meja makan yang besar itu.
Kami menikmati makan pagi dengan menu ala Belanda. Bersama Rob, Margot (isteri Rob), dua anak gadis Rob (Sam dan Pip), dan tentu saja, Mom Ans. Sejak awal saya sudah berpesan pada Rob untuk tidak menyediakan makan berbahan ayam dan daging. Saya memesan hidangan dari sayuran, telur dan ikan saja. Dan benar. Di antara gundukan roti, beberapa jenis ikan tersaji. Tapi jangan bayangkan ikan goreng atau bakar. Apa lagi pepes atau penyet. O tidak. Yang kami temukan adalah ikan-ikan yang berbentuk lembaran, penampilannya seperti ikan mentah, namun sebenarnya dia sudah diasap. Saya sering menemukan ikan semacam itu di hotel-hotel di Indonesia, biasanya disajikan di antara salad dan hidangan appetizer yang lain. Saya sama sekali belum pernah menyentuhnya. Tidak tertarik. Tapi saat ini, saya harus konsekuen. Demi menghormati Mom Ans dan keluarga Rob, saya mengambil lembaran ikan itu, meletakkannya di antara roti keras yang sudah saya belah bagian tengahnya, dan mengunyahnya dengan nikmat.
Hari ini agenda kami adalah mengunjungi Velondam. Volendam adalah sebuah kota di Belanda Utara, 20 kilometer di utara Amsterdam. Kadang-kadang disebut "the pearl of the Zuiderzee" atau “mutiara dari Zuiderzee". Tempat ini merupakan tujuan wisata yang sangat populer. Lokasinya yang agak terpencil dan karakter penghuninya telah memberi Volendam suasana yang sangat spesifik. Tempat ini dulunya adalah daerah kantung Roma-Katolik di wilayah yang sebagian besar beragama Protestan. Dialek yang diucapkan di Volendam sangat khusus dan sulit dipahami bagi penutur bahasa Belanda standar. Volendam merupakan desa nelayan, dan meskipun sejak penutupan Zuiderzee pada tahun 1932 industri perikanan tidak seperti biasanya, kawasan pelabuhan yang ramai dengan banyak perahunya masih menjadi daya tarik utama. Dari tahun 1880-an, Volendam adalah tempat yang populer bagi para seniman. Tidak hanya musik, tapi juga karya lukisan dan karya seni lainnya.
Kostum tradisional Volendam adalah salah satu contoh pakaian kuno terkenal (klederdracht) di Belanda. Hanya segelintir orang memakainya dalam kehidupan sehari-hari mereka saat ini, tetapi karena penduduk setempat telah menyadari nilainya untuk pariwisata, mereka terus melestarikannya. Volendam juga terkenal dengan penyanyi dan musisi. Ada adegan musik Belanda yang berbasis di Volendam, yang menghasilkan gaya musik yang dikenal sebagai musik populer, dan beberapa penyanyi Belanda yang paling populer berasal dari kota ini.
Kami menikmati pantai, melihat proses pembuatan sepatu kayu khas Belanda, menimati coklat ‘hand-made’, menikmati keju, dan tentu saja, budaya Belanda. Rob, Margot, dan Sam bersama kami. Udara dingin luar biasa dan kami semua bermantel tebal, lengkap dengan sarung tangan dan penutup kepala. Beberapa kali kami harus singgah ke café hanya sekadar untuk menghangatkan tubuh sambil minum coklat panas. Kami juga berfoto bersama dengan busana khas Belanda. Beberapa hidangan khas Belanda juga kami nikmati sambil mengusir dingin. Rob sekeluarga sepertinya ingin pengalaman hari ini menjadi sesuatu yang sangat berkesan bagi kami.
Namun hari begitu cepatnya berlalu. Tiba-tiba saja temaram sudah datang meski waktu masih menunjukkan sekitar pukul 16.00. Kami harus mengakhiri eksplorasi Velondam. Kami akan mencari restaurant halal food dalam perjalanan menuju Bandara Schipol. Saya dan Bu Yani akan kembali terbang ke Vienna dengan menumpang KLM pada pukul 20.30 nanti. Benar-benar seperti mimpi….
Esok pagi, kami harus sudah kembali ke Tanah Air. Membawa pulang pengalaman berharga. Membawa pulang harapan-harapan untuk pengembangan diri dan institusi. Untuk terus meningkatkan keilmuan dan networking. Semoga bisa terwujud dan memberi makna.
Belanda, 1 November 2018

Selasa, 04 Desember 2018

MENGUNJUNGI EROPA 3: EDUCATION 4.0

Tibalah hari ini, yang sesungguhnya menjadi alasan kami datang ke Vienna. Menjadi peserta sekaligus penyaji makalah pada konferensi internasional pendidikan. Acara konferensi digelar di University College for Agrarian and Environmental Pedagogy, alamatnya di Angermayergasse 1, 1130 Vienna, Austria. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Tapi dengan kondisi udara yang minus 3 derajat Celcius, no way, kami lebih memilih naik uber. Hanya perlu ongkos 9€ dan kami aman dari terpaan cuaca dingin yang begitu ramah tapi membekukan.
Kegiatan ini merupakan kerja bareng antara Erasmus, ProfEsus, dan empat organisasi yang lain. Salah satunya adalah IFHE (International Federation of Home Economics). Kami berempat menjadi bagian dari IFHE ini, sebagai member. Peserta yang lain adalah para guru, kepala sekolah, dosen, peneliti, dan pengamat pendidikan, yang datang dari 23 negara. Keren. Kegiatan yang hanya diikuti tidak lebih dari 100 orang ini, mampu menyedot peserta dari 23 negara. Semuanya berkulit putih, kecuali kami berempat dan tiga teman kami dari Zambia. Tapi wajah-wajah Asia bertebaran, begitu juga wajah Timur Tengah dan India. Kehadiran kami semua ditandai dengan 23 bendera kecil yang berjajar di bagian depan ruang konferensi.
Konferensi dibuka oleh rektor, yang menyampaikan welcome speech-nya dalam Bahasa Jerman. Sebagian besar narasumber berbicara dalam Bahasa Jerman, dan sebagian besar dari kami para peserta menggunakan translater dengan pilihan Bahasa Inggris dan Jerman. Acara demi acara disusun dengan begitu apik dan efisien. Sejak kami datang, kami disambut oleh panitia yang membantu kami melepaskan mantel, memandu menandatangani daftar hadir, dan menunjukkan di mana ruang konferensi, di mana toilet, di mana ruang break. Ajaibnya, mereka yang kami kira panitia itu ternyata sekaligus menjadi orang-orang penting, termasuk para narasumber. Anne Fox, yang menjaga dan membagikan translater, bahkan pemilik perusahaan pelatihan dan konsultan pendidikan yang berkedudukan di Denmark.  Sini Temiseva, dari Laurea University of Applied Science, Finland, salah satu orang kunci “Laurea” yang menjadi salah satu supporter konferensi ini, adalah orang yang menjaga daftar hadir.  Anne Lauveberg, salah satu perwakilan penting dari IFHE, sibuk mengantarkan mikrofon pada para penanya, dan menggeser-geser flip-chart di depan. Luar biasa efisiennya mereka. Saya bayangkan orang-orang itu adalah dekan, ketua lembaga, direktur, kalau di Indonesia. Namun saya tidak bisa membayangkan orang-orang penting di Tanah Air itu akan mau melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mereka.
Hari pertama kami diskusi tentang “Education in the Anthropocene”. Kata kuncinya adalah “climate change cannot be negotiated - a new “green deal” for sustainable development”. Prof. Dr. Kai NIEBERT, Professor for Science and Sustainability Education, University Zürich, Switzerland, menyajikan topik tersebut dengan sangat menarik. Anthropocene sendiri dimaknai sebagai periode waktu di mana aktivitas manusia memiliki dampak lingkungan terhadap bumi yang dianggap sebagai usia geologis yang berbeda. Sebagian besar ilmuwan setuju bahwa tangan manusia telah mempengaruhi pemanasan iklim bumi sejak revolusi industri - beberapa bahkan berpendapat bahwa kita hidup dalam zaman geologi baru, dijuluki Anthropocene. Dampak kemanusiaan di bumi sekarang sangat besar. Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang utama adalah menjadikan dunia yang lebih hijau, sehat dan lebih setara pada tahun 2030. Prof. Kai Niebert dalam presentasinya mengeksplorasi pertanyaan bagaimana pendidikan bisa menghadapi tantangan Anthropocene. Jawaban kritisnya adalah pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan serta peluang dan hasil penelitian di bidang didaktik.
Tidak kalah menariknya adalah topik tentang “Pedagogy for Sustainable Development”, dengan kata kunci “empowering learners for transformation processes in every-day life, in businesses and in social communities”. Penyajinya adalah Prof. David SELBY, founding director of sustainability frontiers and adjunct professor at Mountain Saint Vincent University, Halifax, Canada. Prof David Selby melihat 'sindrom multi-krisis' yang dihadapi dunia, sebelum mempertanyakan apakah pendidikan keberlanjutan saat ini menawarkan respon yang cukup transformatif (memberdayakan, transgresif dan restoratif). Dia akan terus mengusulkan kurikulum dan pedagogi tersebut untuk memperdalam dan memperluas apa yang kita pelajari, bagaimana kita belajar, dan apa yang kita lakukan dengan pembelajaran kita.
Ada 4 topik yang lain, satu diantaranya disampaikan oleh Prof. Johanna MICHENTHALER, dari University College for Agricultural and Environmental Education. Topik tersebut adalah “Elements of the international ProfESus course: Discovering a Sustainable Mindset - in future-thinking professionals“. Johanna mengungkapkan, “Pembelajarn dan penelitian saya berfokus pada nutrisi dan teknologi pangan, ilmu kesejahteraan keluarga, green pedagogy, subjek didaktik dan pengembangan sekolah. Sejak Oktober 2016 Johanna adalah ketua proyek Erasmus + internasional “ProfESus” dengan topik “Focus on Sustainability – Education for Professionals in Household and guest-oriented Businesses. Sebagai bagian dari Proyek Uni Eropa ProfESus, konsep pelatihan guru internasional telah dikembangkan dan diuji dalam 2 tahun terakhir. Kursus pembelajaran terpadu ini, yang dikembangkan sebagai praktik terbaik, contoh untuk "Transformative Sustainable Learning", disajikan secara rinci selama konferensi tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, pantaslah kalau peserta konferensi ini adalah dominan guru dan kepala sekolah.
Johanna sepertinya menjadi pemeran kunci pada konferensi ini, karena dia tampil hampir sepanjang waktu, termasuk menjadi moderator dan fasilitator dalam setiap diskusi. Mungkin karena dia adalah nyonya rumah, dan sekaligus sebagai Ketua ProFesus Project. 
 
Oh ya, satu topik lagi yang sangat menarik di hari pertama ini adalah “Learning, to design the future, The didactic concept of Green Pedagogy and the use in vocational education”. Topik ini disampaikan oleh Prof. Wilhelm LINDER, dari University College for Agricultural and Environmental Education. Konsep didaktik dari green pedagogy digunakan dalam pendidikan kejuruan untuk pembangunan berkelanjutan. Salah satu aspek kunci di masa depan akan menjadi cara berpikir inovatif. Tetapi kompetensi apa yang dibutuhkan dan bagaimana hal ini bisa dikembangkan? Green pedagogy mencari jawaban bagaimana mengembangkan dan mengevaluasi pembelajaran. 
 
Kami mengikuti konferensi selama dua hari, mulai dari pukul 09.00-17.00. Beberapa variasi interaksi digunakan dalam konferensi, seperti diskusi kelompok, brainstorming, dan focus group discussion. Hari terakhir, kami dibagi dalam grup-grup, dan grup tersebut mengelompok sesuai dengan bahasa yang digunakan. Tentu saja pilihannya hanya dua, Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Setiap kelompok mendapatkan semacam worksheet yang dikemas dalam bentuk studi kasus dan pemecahan masalah. Setelah itu setiap wakil kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan peserta saling menanggapi. Benar-benar bernas dan mencerahkan.
Satu lagi yang menarik, tentu saja, konsumsinya. Bukan karena ragam makanannya, bukan, karena makanannya bagi saya tidak terlalu bervariasi. Juga bukan karena kelezatannya, karena bagi kami, makanan yang disajikan sama sekali jauh dari lezat menurut selera kami. Namun proses pengolahan dan penyajiannya yang dilakukan oleh siswa-siswa SMK. Para siswa itu mengenalkan makanan yang disajikannya di depan para peserta konferensi sebelum acara break. Guru mereka mendampingi, dan membantu meyakinkan pada peserta konferensi bahwa makanan yang disajikan adalah aman, dan tentu saja lezat. Saya teringat mahasiswa kami kalau lagi melaksanakan gelar karya boga. Seperti itu jugalah yang mereka lakukan. Mempromosikan makanan kreasi mereka sebelum dilakukan penilaian oleh juri dan dilihat serta dicicipi para pengunjung. Untuk hal ini, kita sepertinya jauh lebih keren deh.

Wien, 29 November 2018

Senin, 03 Desember 2018

MENGUNJUNGI EROPA 2: SCHONBRUNN PALACE

Kami mempunyai libur sehari sebelum kegiatan besok. Seharusnya kami gunakan untuk beristirahat, memulihkan kondisi setelah perjalanan jauh dan terserang jetlag. Namun tentu saja kami tidak ingin melewatkan waktu yang sempit ini hanya untuk tidur-tiduran dan menikmati kehangatan apartemen.
Hari ini, suhu Vienna pada posisi nol derajat Celcius. Salju tipis menutupi halaman, ujung-ujung daun, jalan-jalan. Usai menyantap sarapan, kami berempat bergegas menuju Spar Gourmet, tempat pertemuan kami dengan Bu Ira. Bu Ira yang manis dan baik hati itu sudah membawakan kami empat tiket untuk bepergian sehari ini, masing-masing seharga 8€. Bepergian di Vienna, sebagaimana di negara-negara maju yang lain, dengan menumpang transportasi publik, sangatlah murah dan nyaman. Bus dan train tersedia ke jurusan mana pun dan dengan jadwal yang sangat tepat.
Tujuan pertama kami adalah Schonbrunn Palace. Istana Schönbrunn (Jerman: Schloss Schönbrunn [ʃøːnˈbʁʊn]) adalah kediaman musim panas utama milik penguasa Habsburg, terletak di Hietzing. Istana Baroque seluas 1.441 kamar adalah salah satu monumen arsitektur, budaya, dan sejarah yang paling penting di negara ini. Sejak pertengahan 1950-an, bangunan itu telah menjadi daya tarik wisata utama. Sejarah istana dan kebunnya yang luas membentang lebih dari 300 tahun, mencerminkan selera, minat, dan aspirasi raja-raja Habsburg.
Tak heran jika ribuan orang tumpah di tempat wisata yang sangat mengagumkan ini. Kami menikmati taman labirin yang pohon-pohonnya meranggas, hamparan taman bunga yang tertutup salju, sambil membayangkan betapa hijau dan berwarnanya jika musim telah berganti. Bukit yang berada di ujung halaman belakang istana, dan kolam yang biru sekali dengan puluhan angsa yang sedang berenang. Beningnya air memantulkan patung-patung di tepian kolam dan kerimbunan pepohonan. Dari kejauhan, gedung istana yang luas dan panjang nampak begitu kokoh dan anggun. Subhanallah. Indahnya tak terkatakan. Meski suhu begitu membekukan, namun kekaguman kami pada keindahan yang membentang di depan mata seolah tak mampu menyurutkan kaki kami untuk segera menjauh.
Namun kami harus menghemat waktu. Hari begitu cepat berjalan. Tujuan kami selanjutnya adalah wisata belanja. Bu Ira membawa kami ke sebuah tempat belanja bernama Stephanplatz, sebuah tempat yang sungguh menyenangkan. Mau beli apa saja ayuk. Coklat, gantungan kunci, magnet-magnet untuk kulkas, apa saja, ada, dan harganya, tentu saja, tidak usah dicek dalam rupiah. Bisa-bisa tidak jadi beli apa pun. Jadi belanja sajalah. Rileks sajalah. Yang penting tidak menangis habis belanja karena kehabisan uang.
Belum puas sebenarnya kami di Stephanplatz, namun masih ada satu tempat yang wajib kami kunjungi. Sebenarnya bukan kami, lebih tepatnya, saya. Ya, karena ini urusannya dengan pesanan Arga, anak saya. Dia meminta saya membelikan casing cello. Coba, pinternya anak zaman now ‘ngerjain’ emaknya. Nah, meski yang punya kepentingan hanya saya, namun karena kami tak mungkin terpisah pada saat ini (kecuali kalau mau ‘get lost’), kami pun menumpang kereta ke arah Modling. Ke sebuah toko musik bernama ‘Vienna Viollin & Accessories’. Ternyata letak toko sudah di luar kota, sudah di luar jangkauan tiket kami. Jadi saat pulang, kami harus beli tiket lagi sebesar 11€ untuk berlima.
Untungnya, toko musik itu lokasinya persis di depan stasiun kereta. Hanya dengan menyeberang jalan, kami sudah mencapainya. Tampak depannya persis seperti gambar di web yang dikirim Arga. Seorang wanita setengah baya yang begitu elegan menyambut kami dan bertanya ramah “can I help you?”. Saya langsung to the point. Menanyakan casing cello yang dia punya, dan berapa harganya. Lantas seorang laki-laki, rupanya dia yang lebih paham tetang per-casing-an dan per-cello-an, membantu saya memilih casing cello impian Arga. Tak mau repot, saya telepon Arga, dan saya minta dia bicara langsung dengan pemilik toko. Sambil menunjukkan macam-macam casing cello dengan video call, Arga akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu casing berwarna pastel dengan aksen hitam. Murah, kata Arga. Hanya sekitar 3,5 juta rupiah. Di Indonesia, kata Arga lagi, sekitar 5 juta rupiah. Oke. Selisih sekitar 1,5 juta rupiah, dan saya harus menenteng casing cello itu dari Modling ke apartemen kami. Tentu saja naik kereta. Untung di Vienna. Syah-syah saja orang tua seperti saya menenteng alat musik meski hanya casing-nya. Bukankah Vienna kota musik? Hiks. Menghibur diri.
Siang di Vienna terasa begitu cepat. Jam 16.00-an hari sudah mulai gelap. Maghrib sekitar pukul 16.30. Shubuh sekitar pukul 05.30. Kegiatan pagi umumnya dimulai pukul 09.00 atau 08.30, saat hari sudah mulai terang. Hanya sekitar enam sampai tujuh jam kami menikmati terang. Selebihnya temaram dan gelap. Dan dalam temaram lampu-lampu kota yang sudah mulai menyala, kami menikmati Vienna yang semakin cantik jelita. Pulang kembali ke peraduan.

Wien, 28 November 2018

Minggu, 02 Desember 2018

Pendidikan Profesi Guru: PR Berat


Saat ini, tahun 2018 ini, merupakan tahun tersibuk bagi Pusat PPG Unesa. Sejak awal tahun, pusat yang berada di bawah LP3M ini telah kedatangan tamu kehormatan bernama mahasiswa PPG Pasca SM-3T dan mahasiswa PPG Prajabatan Bersubsidi Tahap 2. Tak berapa lama disusul oleh mahasiswa PPG Prajabatan 2018. Setelah itu berturut-turut kehadiran mahasiswa PPG Dalam Jabatan Gelombang 1 dan Gelombang 2. Hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan mahasiswa PPG Guru Daerah Khusus (Gurdasus). Jumlah mahasiswa seluruhnya dari berbagai program ini adalah 1788. Rinciannya: PPG Pasca SM-3T 193, PPG Prajabatan Bersubsidi Tahap 2 sebanyak 146, PPG Prajabatan Bersubsidi 2018 sebanyak 62, PPG Dalam Jabatan Gelombang 1 sebanyak 579, PPG Dalam Jabatan Gelombang 2 sebanyak 638, dan PPG Gurdasus 170.
Praktis sejak kehadiran mahasiswa PPG dalam berbagai bentuk program yang susul-menyusul itu, Gedung LP3M yang menjadi pusat kegiatan PPG setiap hari tak pernah sepi. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu. PPG Dalam Jabatan melaksanakan kegiatan workshop dari hari Senin-Sabtu, dari pagi sampai sore. Sementara untuk mahasiswa PPG Pasca SM3T yang berasrama, dan asramanya berdekatan dengan gedung LP3M, mengisi hari Sabtu dan Minggu dengan berbagai kegiatan, meliputi olah raga, seni, kerohanian, dan sebagainya. Jadilah LP3M yang berada di Kampus Unesa Lidah Wetan itu, menjadi wahana yang lebih “hidup dan berwarna” daripada tahun-tahun sebelumnya.
PPG merupakan pendidikan profesi yang memberikan layanan pada lulusan (fresh graduate) yang ingin menjadi guru profesional (disebut PPG Prajabatan) dan bagi guru yang ingin memperoleh sertifikat guru profesional (PPG Dalam Jabatan). PPG Prajabatan ditempuh dalam waktu 2 semester, dengan beban 36-40 SKS. PPG Dalam Jabatan ditempuh dalam waktu 1 semester, atau setara dengan 1 semester, dengan beban 24 SKS.
Kegiatan PPG di kampus dimulai dengan lapor diri dan orientasi akademik. Selanjutnya adalah kegiatan workshop atau lokakarya dan PPL. Lokakarya berisi kegiatan pengembangan perangkat pembelajaran dan pendalaman materi bidang studi, presentasi perangkat, dan peerteaching/microteacing. Dalam pelaksanaannya, di antara waktu-waktu lokakarya, mahasiswa melakukan orientasi sekolah, menyusun proposal penelitian tindakan kelas (PTK), dan menyiapkan portofolio. Selanjutnya, saat mahasiswa melaksanakan PPL, mereka juga harus melakukan PTK dan membuat laporan PTK. Mahasiswa PPL juga tidak hanya bertugas dalam bidang akademik (mengajar), namun juga dalam bidang nonakademik, seperti terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler serta membantu melaksanakan administrasi dan manajemen sekolah. Menjelang akhir program, mahasiswa melaksanakan Ujian Tulis Lokal (UTL), dan Ujian Kompetensi Mahasiswa PPG (UKMPPG). Untuk yang terakhir ini, tes terdiri dari dua jenis, yaitu uji pengetahuan (UP) dan uji kinerja (Ukin). UP diselenggarakan berbasis komputer. Sedangkan Ukin dilaksanakan di sekolah dalam bentuk real teaching.
Melihat rangkaian kegiatan yang sedemikian kompleks, bisa dibayangkan, betapa tidak sederhana untuk menjadi guru. Kalau dulu lulusan S1 kependidikan sudah bisa langsung menjadi guru. Sedangkan yang bukan lulusan S1 kependidikan, syarat untuk menjadi guru cukup dengan menempuh program Akta IV. Sekarang semuanya itu tidak lagi cukup.
PPG merupakan amanah dari Undang-undang Nomer 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Pasal 8). Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (Pasal 10). Berdasarkan pasal ini, jelaslah bahwa untuk menjadi guru, setiap orang harus memiliki sertifikat pendidik. Dan sertifikat pendidik ini, bisa diperoleh melalui PPG, baik PPG Dalam Jabatan (inservice training) atau PPG Prajabatan (preservice training).
Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan bagi lulusan S-1 Kependidikan dan S-1/D-IV Nonkependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar mereka dapat menjadi guru profesional setelah mereka memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai dengan standar nasional pendidikan dan memperoleh sertifikat pendidik. Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 Pasal 1 butir 5 menyebutkan, Program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan setelah program sarjana atau sarjana terapan untuk mendapatkan sertifikat pendidik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah.
Berdasarkan uraian tersebut, lulusan S1 dan D4 bidang apa pun bisa menjadi guru asal lulus program PPG. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi LPTK, yang notabene adalah perguruan tinggi yang menyiapkan guru. Termasuk kekhawatiran akan persaingan antara lulusan LPTK dan non-LPTK. Juga kekhawatiran tentang bekal kemampuan pedagogik yang minim dari lulusan no-LPTK. Namun semua polemik tentang hal tersebut telah lama berlalu. Faktanya memang LPTK belum bisa memenuhi semua kebutuhan guru di lapangan. Belum ada LPTK yang menghasilkan guru bidang agribisnis misalnya, atau bidang pariwisata, dan sebagainya. Ditambah lagi dengan berbagai hasil penelitian dan kajian yang menemukan bahwa kemampuan guru lulusan program studi non-LPTK tidak lebih buruk dibanding dengan guru lulusan LPTK. Dan juga dengan berbagai rasional yang didasarkan pada asumsi dan fakta, bahwa memang rekrutmen calon guru dari program studi nonpendidikan tidak bisa dihindari.
Justeru yang saat ini menjadi kegalauan banyak pihak adalah pola penyelenggaraan PPG itu sendiri. Sebagaimana disebutkan, pada tahun ini, beberapa LPTK, termasuk Unesa, menyelenggarakan PPG Prajabatan Pasca SM-3T (berakhir pada tahun ini), PPG Prajabatan Bersubsidi, PPG Dalam Jabatan-Daring, dan PPG Dalam Jabatan-Gurdasus. Di LPTK yang lain tidak hanya itu, namun ada tambahan PPG 3T dan PPG dalam jabatan gelombang 2 lanjutan. PPG dengan berbagai pola itu susul-menyusul dan membuat LPTK kewalahan karena harus mengatur sumber daya yang ada sedemikian rupa. Dosen, tenaga kependidikan, sarana prasarana, dana, dan sebagainya, benar-benar harus dikelola sebaik-baiknya dengan segala kendala dan persoalannya. Kelas di mana-mana penuh bahkan kekurangan. Dosen kelebihan beban. Pengelolaan dana terpaksa ibarat ‘gali lubang tutup lubang’. Pendek kata, luar biasa tuntutan energi dan pengorbanan lahir dan batinnya.
Tidak usah bicara tentang asrama. Meskipun dalam UU Guru dan Dosen dinyatakan bahwa PPG dilaksanakan berasrama, namun kenyataannya, asrama yang tersedia di LPTK tidak cukup untuk menampung semua mahasiswa PPG. Pada saat ini, yang wajib diasramakan adalah PPG Prajabatan Pasca SM-3T dan PPG 3T. Untuk program PPG yang lain, mahasiswa tidak diwajibkan tinggal di asrama dan memang tidak mungkin tinggal di asrama karena keterbatasan asrama. Jadi tidak perlu dipertanyakan bagaimana pembentukan kompetensi sosial dan kepribadian yang sebenarnya diharapkan bisa ditumbuhkankembangkan melalui kehidupan berasrama.
Saat ini ada sekitar 421 LPTK di Indonesia. Terdiri dari LPTK eks-IKIP 12, FKIP Negeri 30, dan LPTK swasta 378. Salah satu permasalahn LPTK adalah belum semua LPTK memenuhi Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru. LPTK juga mengalami keterbatasan anggaran serta disparitas kualitas yang cukup tajam. Namun dengan tuntutan pemenuhan kuota PPG Prajabatan, dan terutama PPG Dalam Jabatan, ada lebih dari 50 LPTK yang ditunjuk untuk menyelenggarakan PPG prajabatan dan/atau dalam jabatan. Kuota PPG Dalam Jabatan untuk tahun 2018 saja sebesar 70 ribu lebih. Untuk memenuhi kebutuhan guru, prediksi untuk dua tahun yang akan datang adalah tidak kurang dari 100 ribu per tahun. Bayangkan dengan kemampuan LPTK yang ada.
Dengan kondisi seperti ini, salahkah kalau orang mempertanyakan mutu proses PPG itu sendiri? Sementara PPG adalah garda terakhir untuk bisa menghasilkan guru yang profesional. Namun dengan kenyataan yang sebegitu pelik dan rumitnya, salahkah kalau orang mempertanyakan, bagaimana pula mutu calon guru yang dihasilkan?
Tidak sederhana mengurai persoalan demi persoalan yang terkait dengan penyelenggaraan PPG. Namun pemikiran yang benar-benar matang dan bijaksana, kritis dan solutif, sepertinya sangat mendesak. LPTK, terutama LPTK besar, tak berdaya untuk tidak menyelenggarakan program PPG yang berjubel itu. Tak ada waktu untuk memikirkan kreativitas dan inovasi, yang ada adalah rutinitas dan rutinitas. Program yang susul-menyusul membuat LPTK harus memutar otak dengan cepat untuk mempersiapkan dosen, guru pamong, sekolah, kelas, dana, tryout, UP, UKIN, dan sebagainya, dan sebagainya. Begitu pelik, begitu rumit. Apa lagi penyelenggaraan PPG yang juga masih terus mencari dan mencari pola terbaik. Tidak sekadar karena alasan rasional-akademis, namun justeru kadangkala yang lebih dominan adalah alasan non-akademis (misalnya menyesuaiakan dengan aturan penganggaran).
Pekerjaan rumah untuk menghasilkan guru yang profesional benar-benar masih berat.

Surabaya, 22 November 2018
Luthfiyah Nurlaela

Sabtu, 01 Desember 2018

MENGUNJUNGI EROPA 1: WELCOME TO VIENNA

Nama kegiatan ini adalah International Education Conference 2018. Dengan tema “enabling-provocation-reflection. Education 4.0-Promotion of Sustainable Development through Innovative Teaching”. Tema yang menarik dan aktual. Konferensi pendidikan, dengan kata kunci education-4.0, yang semua orang pada saat ini sedang membincangkannya. Ditambah dengan “suntainable development dan innovative teaching’, lengkaplah. Kalau ini makanan, sepertinya ini makanan yang mengandung semua unsur nutrisi untuk diet sehat. Tidak hanya sehat, tapi juga lezat.
Saya menerima informasi tentang kegiatan ini melalui email. Sebagai anggota dari International Federation of Home Economics (IFHE), saya selalu menerima informasi apa pun terkait dengan kegiatan IFHE. Baik kegiatan yang dilaksanakan secara periodik maupun kegiatan insidental. Juga newsletter yang diterbitkan setap bulan.
Begitu menerima informasi kegiatan, saya langsung bagi ke grup whattsapp FPS-PTBI (Forum Program Studi-Pendidikan Tata Boga Indonesia). Kebetulan saya ketua forum ini, dan tujuan saya membagi informasi tersebut adalah supaya ada banyak anggota forum yang tertarik. Ternyata saya belum terlalu beruntung. Tidak ada satu pun anggota asosiasi yang merespon positif. Sekadar “ayo, ayo”, tapi sepertinya belum serius. Maka saya melakukan provokasi pada teman-teman sendiri. Berhasil. Tiga kolega, dua dari Jurusan PKK, yaitu Dr. Meda Wahini, M.Si dan Dr. Sri Handajani, S.Pd., M.Kes, berhasil terprovokasi. Satu lagi dari Program Studi Pendidkan Teknologi Informasi (PTI), Setya Chendra Wibawa, S.Pd, M.T, juga sangat berminat. Meskipun home base-nya ada di Prodi PTI, tapi separuh jiwanya ada di jurusan PKK, karena dia pengajar beberapa mata kuliah di Prodi Tata Boga, Tata Busana, dan Tata Rias. Tema konferensi juga sangat cocok dengannya. Satu lagi, saya membutuhkan dia karena dia sudah punya pengalaman menjelajah Eropa pada tahun 2014, saat mengikuti Non-Degree Program di Jerman dan Paris. Dan, tentu saja, Mas Bowo, begitu saya menyebutnya, karena termasuk orang yang sangat helpful, peduli, dan ‘nggak itungan’. Tipe orang muda seperti itu sangatah cocok untuk ‘ngemong’ emak-emak seperti kami ini.
Maka kami pun mulai megurus semua uborampe bersama. Mas Bowo menjadi andalan kami. Menjadi narahubung dengan Kantor Urusan Internasional Unesa dan rektorat untuk surat izin rektor, surat izin sekretariat negara, untuk visa, tiket, tukar duit, dan banyak hal. Saya menjadi narahubung dengan panitia di Vienna, untuk urusan artikel, jadwal presentasi, dan sertifikat. Alhamdulilah, semua siap pada waktunya.
Vienna hujan salju saat pertama kali kami menginjakkan kaki di kota yang eksotis ini. Di pagi hari, setelah kami menempuh perjalanan hampir dua puluh jam. Di mata saya, Vienna ibarat seorang gadis cantik yang anggun dan kharismatik. Salju tipis yang jatuh satu per satu, angin dingin yang bertiup keras membekukan tuang-belulang, membuat kami seperti seorang pemuda yang sedang tergugu karena ketakjubannya pada sosok gadis jelita namun berparas dingin. Dalam terpaan cuaca yang begitu ekstrim, kami menembus Vienna, menumpang sebuah mobil van, dari Vienna International Airport menuju apartemen kami di bilangan Veitingergasse 67. Sekitar 45 menit perjalanan.
Hari pertama ini, kami membiarkan jetlag menguasai. Mata serasa berat dan tubuh lunglai. Kami hanya perlu memastikan, ada toko bahan makanan di dekat-dekat apartemen kami. Belum sempat kami memastikan hal itu, sebuah sapaan yang masuk di facebook message saya membuat saya seperti menemukan durian runtuh. Bu Ira Darmawanti, dosen Psikologi Unesa, memperkenalka dirinya sebagai mahasiswa S3 Vienna University. Wow. Allah menyediakan guide bagi kami. Bahkan sore itu juga, Bu Ira tiba-tiba muncul di apartemen kami bersama suaminya, Pak Rozi, dosen Universitas Diponegoro. Membawakan kami roti dan jeruk. Subhanallah. Andaikata semua orang di dunia ini sebaik mereka, pasti tidak akan ada penderitaan karena kelaparan.
Bersama bu Ira dan Pak Rozi, malam ini juga, saya dan Mas Bowo dipandu menuju supermarket. Lengkap dengan mantel tebal dan kaus tangan yang membalut tubuh lelah kami. Menembus dinginnya malam menapaki jalanan yang sepi. Badan saya agak menggigil dan karena tidak mau ambil risiko, saya lingkarkan scarf saya menutupi mulut dan hidung. Kami menemukan Spar Gourmet. Tidak terlalu jauh. Jaraknya hanya sekitar Kampus Unesa Ketintang ke Wonokromo. Jauh ya?
Saya juga dibantu Bu Ira membeli krem untuk wajah di apotek di depan gourmet. Wajah saya sudah kesakitan sejak pertama kali tiba di Vienna pagi tadi. Suhu ekstrim seperti membekukan pori-pori wajah dan mengeriputkan kulit. Setelah itu kami berbelanja: kentang, telur, roti, buah, sayur, untuk logistik selama seminggu. Tidak terlalu mahal. Hanya sekitar 50€. Satu € saat ini sekitar Rp.16.500,-. Patungan empat orang, entenglah.
Kami juga membawa bekal dari Surabaya. Beras, mie instan, sambal pecel, sambal-sambal botol, kering kentang, bumbu instan, santan instan, dan berbagai minuman. Pendek kata, lengkap. Kami seperti pasukan tidak berani mati dan tidak berani lapar. Setidaknya malam ini kami bisa tidur nyenyak karena yakin logistik kami sudah aman.

Wien, 27 November 2018

Minggu, 28 Oktober 2018

Literasi di Era Disrupsi


Sekitar sebulan yang lalu, saya diundang Universitas Negeri Makassar untuk memberikan kuliah umum tentang tantangan Jurusan PKK dalam menghadapi Era Industri 4.0. Beberapa minggu yang lalu, kami, Pusat Pendidikan Profesi Guru (PPG) Unesa, melaksanakan orientasi akademik untuk para calon guru dan para guru yang menjadi mahasiswa program PPG prajabatan (preservice training) dan dalam jabatan (inservice training). Di antara para mahasiswa PPG itu, ratusan berasal dari daerah tertinggal seperti NTT, Papua, papua Barat, Maluku, dan sebagainya. Pada acara orientasi akademik tersebut, saya menjadi salah satu narasumber untuk topik “menjadi guru yang profesional”.  Sebelumnya, sejak beberapa bulan terakhir ini, saya juga diminta menjadi narasumber di STKIP Al Hikmah Surabaya, SMKN 1 Dlanggu-Mojokerto, SMKN 1 Buduran-Sidoarjo, SMKN 2 Bondowoso, SMKN 3 Probolinggo, SMKN 8 Makassar, SMKN 3 Magelang, dan M.Ts Alhidayah-Tuban. Luar biasa. Semuanya ingin berdiskusi tentang bagaimana menyiapkan guru dan pendidikan pada era yang akan datang. Tentang innovative learning, higher order thiking skills (HOTS), penyelarasan kurikulum dengan tuntutan masyarakat, kompetensi abad 21, dan seterusnya. Benar-benar sebuah topik yang “HOT”, dan betapa kita semua menyadari bahwa ada tantangan yang sangat besar di hadapan kita, baik sebagai orang tua, guru, anggota masyarakat, pemerintah, dan juga sebagai pribadi.
Kita menghadapi tantangan berat dengan segala kondisi dan potensi kita sebagai bangsa yang besar yang memiliki disparitas yang sangat luar biasa. Kita punya semuanya, sumber daya alam yang potensinya melimpah, sumber daya manusia yang jumlahnya luar biasa, namun tidak mudah untuk mengelolanya. Bandingkan dengan Singapura dan Finlandia. Negara kecil yang sungguh sangat menyadari keterbatasan kekayaan alam dan potensi mereka, namun justeru karena kesadaran itulah,  maka mereka berusaha menghadapinya dengan menggarap sektor pendidikan sebaik-baiknya untuk menggenjot kualitas SDM. Pendidikan bagi negara-negara tersebut adalah satu-satunya sumber daya, dan oleh sebab itu harus diurus dengan baik untuk mendongkrak kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan peradaban.
Saat saya berbicara di hadapan para guru dan calon guru yang berasal dari berbagai wilayah Tanah Air, saya sedang berhadapan dengan orang-orang yang sebagian dari mereka, bahkan belum mengalami era revolusi industri kedua. Di tempat mereka, tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon. Bahkan untuk memperoleh air bersih pun tidak mudah. Sebagian dari keluarga mereka masih mencari makan dengan cara meramu (food gathering), keluar masuk hutan untuk mendapatkan ubi-ubian, buah, dan juga berburu. Atau hidup di sekitar sungai dan danau untuk mendekati sumber kehidupan mereka, yaitu air dan hasil alam. Kondisi seperti ini dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia. Kita masih memiliki 122 kabupaten tertinggal dari 416 kabupaten di Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 28,5 juta jiwa,  dan 17,9 juta jiwa di antaranya adalah masyarakat yang tinggal di desa.
Kenapa kita selama ini terus menerus memperoleh skor rendah dalam tes-tes internasional seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS? Salah satu kendala terbesar adalah karena disparitas Indonesia yang sangat luar biasa. Kondisi geografis, kualitas guru, sarana prasarana pendidikan, suku dan budaya, hanyalah sebagian kecil tantangan. Prof. Berinderjeet Kaur, guru besar dari NIE-NTU Singapore—yang saat menulis ini saya sedang mengikuti program immersion di Singapore dengan salah satu narasumbernya adalah beliau—mengatakan bahwa untuk urusan sampling saja, Indonesia adalah negara dengan masalah yang sangat besar. Hanya untuk urusan sampling. Oleh sebab itu, bisa dipahami bila mengelola pendidikan dan sektor lainnya adalah tidak mudah. Perlu energi berlipat-lipat, komitmen, fokus, kerja keras, kesatuan cara pandang.
Di sisi lain, kita tidak mungkin menghindari tantangan era industri 4.0 yang disebut orang sebagai era disrupsi ini. Era digitalisasi. Era internet of things (IoT).  Indonesia harus berbenah dengan cepat, fokus, dan bersatu. Literasi menjadi salah satu harapannya. Masyarakat yang literat adalah masyarakat yang melek teknologi, berpikiran kritis, peka terhadap lingkungan sekitar.
Pendidikan adalah jalan kita untuk itu. Untuk membangun generasi yang literat. Bicara tentang pendidikan, maka guru adalah garda terdepan. Bagaimana pun bagusnya kurikulum, fasilitas pendidikan, dan sebagainya, tanpa kehadiran guru yang mengabdi dengan jiwa kesepenuh-hatian, pendidikan tidak akan maju dengan cepat.
Bila kita tengok Kurikulum 2013, muatan kompetensi era disrupsi sebenarnya sudah sangat kental. Di sana ada yang disebut 4Cs: critical thinking and problem solving, creativity, collaboration, and communication. Strategi pembelajaran yang juga menggunakan pendekatan saintifik, mendorong guru dan peserta didik untuk kritis, kreatif, dan bekerja secara kolaboratif, serta mendorong keterampilan berkomunikasi. Tinggal bagaimana guru melengkapi diri sendiri dengan amunisi kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Kalau saat ini soal-soal UNAS dan UNBK sudah mengarah pada HOTS, maka kita tidak cukup hanya dengan men-drill peserta didik mengerjakan soal-soal HOTS, tanpa ada upaya mengembangkan keterampilan berpikirnya dalam pembelajaran. Soal-soal HOTS adalah soal-soal yang mengembangkan berpikir kritis dan pemecahan masalah, dua kemampuan penting untuk memasuki kehidupan yang penuh tantangan. Bukan sekadar untuk melewati UNBK dan lulus dengan nilai baik. Untuk dapat membelajarkan peserta didik dengan baik,maka guru harus lebih dulu menjadi pebelajar yang baik. Guru yang mencintai ilmu pengetahuan, mencintai profesinya, menjadi model sebagai pribadi yang matang, bijaksana, dan memiliki kepedulian pada sesama dan alam sekitar. Guru yang literat. Yang akan menghasilkan generasi yang literat.

Luthfiyah Nurlaela
Singapura, 18 Oktober 2018

Sabtu, 27 Oktober 2018

Immersion 2: Guru untuk Keberlangsungan Generasi


Jam kegiatan kami setiap hari dimulai pukul 09.30 sampai 18.00. Itulah pada umumnya jam kerja di Singapura. Sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia, karena di sini ada selisih waktu satu jam lebih cepat. Waktu shubuh adalah 05.31, dhuhur 12.48, dan seterusnya, selisih waktu sekitar satu jam.

Kegiatan kami dilaksanakan di Kantor THF. Namun di antara lima hari tersebut, ada kesempatan bagi kami untuk melakukan observasi ke NIE-NTU pada hari ketiga, dan ke Fajar Secondary School di hari keempat. Ada tugas-tugas juga yang harus kami selesaikan selama kegiatan. Hari pertama kami diminta presentasi praktik PPG di lembaga masing-masing, dan berdasarkan hasil diskusi, observasi, wawancara pada hari-hari berikutnya, kami harus mempresentasikan model PPG ideal di hari terakhir.

Pagi ini, setelah overview program, Prof. S. Gopinathan memberikan presentasinya tentang “building a high performing education system in Singapore and the contribution of teacher education and teachers. Prof. Gopi, begitu panggilan akrabnya, saat ini menjadi academic advisor di THF. Beliau merupakan guru besar dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapura. Pernah menjabat sebagai dekan School of Education di NIE-NTU, Singapore. THF sendiri adalah organisasi nirlaba yang berbasis pada Singapore Foundation yang bertujuan untuk memberikan kontribusinya pada pembangunan berkelanjutan di Asia.

Menarik sekali presentasi Prof. Gopi. Gambaran tentang bagaimana Singapura sebagai negara kecil dengan minim sumber daya ini bisa menjadi negara terdepan di Asia. Sistem pendidikan di Singapura diakui dunia sebagai sistem pendidikan terbaik di Asia. Coba cek skor Singapura untuk PISA dan TIMSS. Hampir selalu mengungguli negara-negara Asean yang lain. Singapura meyakini bahwa kemajuan dalam bidang pendidikan akan mendongkrak bidang-bidang yang lain. Petumbuhan ekonomi di Singapura sungguh pesat dan peran pendidikan sangat sentral dalam hal ini.

Di Singapura, guru disiapkan dengan begitu rapi. Tujuan pendidikan guru adalah untuk menyiapkan mahasiswa calon guru (student teacher) dengan pedagogi dan landasan kependidikan yang kuat  untuk pembelajaran yang efektif serta spesialisasi pengetahuan akademik (sucject knowledge) sedikitnya pada satu disiplin. Jalur pendidikan guru terspesialisasi meliputi primary (SD), secondary (SMP/SMA), dan junior college (JC). Program penyiapan guru pemula atau ITP (Initial Teacher Preparation Programmes) memiliki beberapa jalur untuk student teachers dari berbagai latar belakang pendidikan. Ada tiga jalur, yaitu Bachelor in Arts/Science (BA/BSC), Postgraduate Dploma in Education (PGDE), dan Diploma Education. Program pertama durasinya empat tahun, merupakan jalur untuk menjadi guru SD atau SMP/SMA. Mahasiswa berasal dari lulusan secondary school. Program yang kedua duarasinya 16 bulan sampai 2 tahun, disiapkan untuk mereka yang ingin menjadi guru SD, SMP/SMA, dan JC. Mahasiswa berasal dari lulusan program bachelor dari berbagai bidang ilmu. Sedangkan program ketiga, durasinya 1-2 tahun, disiapkan untuk calon guru SD dan SMP/SMA. Mahasiswa juga berasal dari lulusan secondary school. Khusus untuk proram ini, disiapkan bagi calon guru bidang bahasa, seni, musik, dan ilmu keluarga (home economics).

Untuk struktur praktek profesi atau disebut praktikum, program BA/BSC melaksanakan empat kali praktikum, meliputi: 1) school experience/SE (2 minggu), dilaksanakan selama masa libur sebelum tahun kedua;  2) teaching assistantship/TA (5 minggu) dengan local/international TA, selama masa libur sebelum tahun ketiga; 3) TP1 (5 minggu), selama masa libur sebelum tahun keempat; dan 4) TP/TP2 (10 minggu), selama tahun keempat pada semester 2. Selanjutnya untuk program PGDE yang 16 bulan, struktur praktikumnya meliputi TA (4 minggu) dan TP 10 minggu. Selama TA, student teachers setiap minggu berada di sekolah 4 hari dan di sekolah 1 hari. Struktur ini memungkinkan terjadinya early exposure sedini mungkin dan terjadinya kegiatan refleksi yang terus-menerus sehingga terjadi penguatan berbagai aspek pedagogik dan konten serta aspek lain yang penting sebagai bekal menjadi guru profesional. Sedangkan untuk PGDE 2 tahun, praktikum meliputi TP1 (5 minggu) dan TP (10 minggu). Program terakhir, yaitu Dploma in Education, untuk program durasi 2 tahun, praktikumnya meliputi TP1 (5 minggu), TP2 (10 minggu). Sementara untuk program durasi 1 tahun, kegiatan praktikumnya hanya TP (10 minggu).

Yang cukup menarik, mahasiswa tidak dituntut untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam tanya jawab kami dengan para narasumber kegiatan dan juga saat di sekolah, PTK tidak menjadi bagian dari kurikulum penyiapan guru. Penguasaan mahasiswaa calon guru terhadap konten dan metodologinya, peningkatan pemahaman pada profesi guru, keterampilan memberi dorongan pada peserta didik, menjadi model kepribadian yang baik, adalah jauh lebih penting untuk terus-menerus diupayakan. Diperlukan energi yang besar untuk hal tersebut, dan oleh sebab itu, PTK tidak menjadi prioritas.

Singapura juga tidak mengenal ujian nasional (national exam) untuk pendidikan dan pelatihan calon guru. Ya, memang Singapura masih menerapkan ujian nasional untuk siswa, namun tidak untuk calon guru. Singapura percaya bahwa untuk menjadi guru memerlukan proses yang harus terus-menerus diasah, dilatihkan, dikembangkan. Ujian nasional bagi pendidikan dan pelatihan guru tidak terlalu bermakna untuk memastikan bahwa guru yang sudah lulus ujian secara otomatis memiliki kompetensi untuk menjadi guru. Kompetensi menjadi guru perlu dilatihkan dengan sabar, bila calon guru telah dirasa cukup bekal kompetensi, maka yang bersangkutan akan diberikan sertifikat kompetensi. Bila calon guru dinilai belum memiliki kecakapan yang diharapkan, maka yang bersangkutan perlu diberikan waktu untuk meningkatkan kecakapan mereka sampai pada batas yang ditentukan.

Hari pertama ini, selain berbincang dengan Prof. Gopi, kami juga berbincang dengan narasumber lain yang tidak asing bagi kita, yaitu Prof. Muchlas Samani. Saat ini, selain sebagai guru besar Unesa, beliau juga menjadi ketua panitia nasional Ujian Kompetensi Mahasiswa PPG (UKMPPG). Beliau juga yang menjadi salah satu inisiator program PPG di Indonesia. Pengalamannya sebagai birokrat, termasuk menjadi ketua tim sertifikasi guru-dikti, wakil rektor bidang kerja sama Unesa, rektor  Unesa, dan juga sebagai direktur ketenagaan dikti, tidak ada yang meragukan pengalaman dan keluasan wawasannya tentang pendidikan guru.

Pada kesempatan ini, Prof Muchlas berbicara tentang “Indonesia’s education system”. Tentu saja fokusnya tetap pada sistem pendidikan dan pelatihan guru. Berbagai persoalan, kebijakan, dan inspirasi untuk pendidikan guru yang lebih baik. Indonesia yang begitu luar biasa disparitasnya, tentu tidak mudah untuk mengelolanya, termasuk dalam hal mengurus bidang pendidikan, khususnya bagaimana menyiapkan guru yang profesional. Terkait hal ini, Prof. Gopi amat sangat menyadari, dan rekomendasi yang diberikan adalah bagaimana Indonesia bisa menyiapkan dan menata guru sesuai dengan kebutuhan lokalitas masing-masing wilayah yang begitu beragam. Prof Gopi mengakui, tentu hal tersebut mudah untuk diucapkannya, tidak mudah untuk dirumuskan, lebih-lebih untuk diimplementasikan. Tapi semua harus mengarah ke sana, karena guru sangat menentukan kualitas generasi bangsa. Merujuk pada model Finlandia yang begitu fokus dalam meyiapkan guru, Prof. Gopi menegaskan: one generation will be lost if you don’t have good teachers. (Habis)