Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Minggu, 22 Agustus 2021

Budi Darma, Sang Penyayang Itu (Sebuah Obituari)

Kenangan saya tampil di Nawawarsa Himapala KM IKIP Surabaya 1987.

Hari ini, saya kehilangan sosok penyayang dan sederhana itu. Sabtu, 21 Agustus 2021, pada sekitar pukul 08.25 WIB, saya membaca kabar duka itu di sebuah grup whatsapp (wa). Sosok yang begitu dekat di hati itu telah berpulang pada sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah sejak 28 Juli 2021, begitulah kabar yang saya terima juga dari sebuah grup wa, beliau berjuang karena terpapar covid. Selain beliau, isteri beliau, seorang putra beliau serta seorang asisten rumah tangga beliau, juga terpapar.

Kabar beliau terpapar covid spontan membuat hati saya waswas. Tapi saya tidak mau berpikir buruk. Meski usianya sudah kepala delapan, Prof Budi Darma akan baik-baik saja. Beliau memiliki kesehatan yang relatif prima. Beliau masih menulis, bahkan sebelum dikabarkan sakit itu, beberapa tulisannya kerap menghiasi media surat kabar. Beliau juga masih aktif mengajar, begitulah kabar yang saya terima dari Direktur Pascasarjana Unesa, tentu saja sebelum beliau terpapar covid.

Lalu sehari sebelum Hari Kemerdekaan RI ke-76, sebuah kabar – juga dari grup wa – saya baca, bahwa Prof. Budi Darma kesadarannya menurun. Saya mulai waswas namun tentu saja terus berharap beliau akan membaik. Sampai akhirnya saya harus menerima kenyataan pahit itu, beliau berpulang. Allah telah membebaskan beliau dari segala beban. Telah melunaskan tugas beliau di dunia.

Malam ini, saya ingin menulis tentang sosok yang begitu saya cintai itu. Meski saya menyadari, saya bukan siapa-siapa di blantika sastra, sebagaiman dunia yang digeluti dan menggeluti Prof. Budi Darma. Namun Prof. Budi Darma telah membuat diri saya merasa begitu berarti dan berharga karena betapa beliau tak pernah melupakan saya, sejak pertama kali beliau mengenal saya. Tentu saja, seperti itulah memang beliau. Hampir selalu mengingat siapa pun yang beliau kenal. Dan membuat setiap orang merasa berarti dan berharga karena diingat.

Malam ini, saya ingin menulis tentang sosok yang begitu saya cintai itu. Saya seolah tidak ingin kehilangan setiap kenangan manis tentang beliau. Hari itu, tahun 1987, pertama kali saya berhadapan dengan sosoknya, secara dekat, saat saya menjadi ketua panitia Nawawarsa Himapala. Beliau yang waktu itu menjabat sebagai Rektor, hadir pada kegiatan pembukaan, mendengarkan laporan saya, memberi ucapan selamat, menggunting pita, dan melihat-lihat eksibisi kami di Gedung Gema Kampus Ketintang. Saya mendampinginya, dan betapa saya menyadari, begitu rendah hatinya sosok ini. Begitu penyanyangnya. Saya merasa begitu nyaman berada di dekat beliau, tidak ada kecanggungan, berbangga dan berbesar hati karena apresiasi beliau, senyum beliau, ungkapan kata-kata santun beliau. Sungguh sama sekali bukan ungkapan-ungkapan formalitas. Ungkapan-ungkapan yang benar-benar keluar dari lubuk hati seorang Bapak yang sedang membesarkan hati anak-anaknya, mengobarkan api kebanggan pada kami semua.

Sejak saat itu, Prof. Budi Darma bukanlah orang asing di mata saya. Tentu saja saya sudah mengenal beliau jauh sebelum kami berjumpa hari itu. Setidaknya saya sudah sejak lama menamatkan Olenka dan Orang-orang Bloomington, dan dari situlah saya mengenalnya sebagai sastrawan besar. Tak terbayang bahwa suatu ketika, saya akan merasa begitu dekat dengan penulisnya.

Nasib membawa saya bertumbuh dan berkembang di IKIP Surabaya yang kemudian berubah nama menjadi Unesa. Nasib juga yang membawa saya beruntung bisa relatif sering bertemu dengan Prof. Budi Darma. Di berbagai kesempatan, di berbagai pertemuan, di jalan, di ruang dosen di pascasarjana, di rapat senat terbuka, juga di berbagai kegiatan literasi. Yang saya sangat suka, beliau jarang memanggil nama saya dengan sebutan Bu Luthfiyah, begitulah beliau kadang menyebut saya. Namun beliau lebih sering menyebut saya dengan panggilan Mbak Ella. Itu panggilan yang hanya dilakukan oleh teman-teman kuliah, teman-teman dekat, dan teman-teman Himapala saja. Dan dengan panggilan itulah beliau lebih sering menyebut saya. Begitu berkesan.

Saya memiliki sedikit kegemaran menulis, dan itulah yang kemudian membawa saya banyak bergaul dengan teman-teman IKA Unesa yang memang penulis, seperti Sirikit Syah, M. Khoiri, Rukin Firda, Eko Prasetyo, Suhartoko, Satria Darma, Habe Arifin, Pratiwi Retnaningdyah, Fafi Inayatillah, dan sebagainya. Suatu ketika, kami membuat buku antologi cerpen, dan saya menyumbangkan dua cerpen saya. Itu memang bukan cerpen pertama yang saya tulis, kebetulan saya sudah mulai memuatkan cerpen-cerpen saya di majalah nasional sejak saya remaja dulu, dan masih sesekali menulis cerpen bila sedang ingin menulis atau harus menulis. Namun cerpen di buku antologi itu seperti begitu istimewa, bukan hanya karena prosesnya yang mengasyikkan, namun karena Prof. Budi Darma membaca cerpen-cerpen itu. Ya, termasuk cerpen saya.

Siang itu beliau sedang duduk melayani konsultasi mahasiswa saat saya memasuki ruang dosen pascasarjana. Seperti biasa, dengan kesantunan dan senyum khasnya, beliau menyapa, “apa kabar, Mbak Ella?” Saya menjawab sapaan beliau, dan menanyakan kabar beliau juga. Lantas beliau bertanya, “bagaimana kabar laki-laki di pantai berpasir putih itu?” Wow. Saya merasa sangat takjub dengan pertanyaan itu. “Waduh, Bapak maos nggih? Waduh, malu dalem, Bapak. Itu cerpen rame-rame saja, Bapak.” Beliau tertawa, renyah namun santun. “Juga kisah…. siapa itu, saya lupa namanya, yang di cerpen satunya itu?” Saya semakin tersipu-sipu, namun senang, merasa surprised, excited, namun agak malu, karena menyadari cerpen jelek saya itu dibaca oleh sastrawan besar itu.

Lantas ketika saya diamanahi sebagai Direktur PPPG, saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bersama-sama teman alumni yang penulis, penyunting, dan jurnalis, untuk mengembangkan literasi. Ada Eko Pamuji, Abdur Rohman, Anwar Djaelani, dan sebagainya, selain nama-nama di atas. Pada beberapa kesempatan, kami mengundang Prof. Budi Darma untuk menjadi narasumber dan motivator bagi mahasiswa-mahasiswa calon guru itu. Beberapa kali kami menjemput beliau di rumah beliau, dan mengantarkan kembali beliau ke rumah setelah acara. Rumahnya yang bersih, sederhana, ada di kawasan Kampus Ketintang, merepresentasikan kesederhanaannya. Kadang saya berpikir, bagaimana orang yang memiliki begitu banyak peluang untuk hidup mewah itu bisa memilih menjalani kehidupannya dengan segala kesederhaannya?

Saat saya menikahkan anak saya pada tahun 2017, saya mengundang Prof. Budi Darma. Beliau tidak hadir. Tiba-tiba seminggu setelah itu, beliau mengirim pesan singkat. “Mbak Ella, “ begitu sapanya. Beliau meminta maaf karena baru melihat ada undangan mantu dari saya. Undangan itu ada di meja beliau di kampus, dan beberapa hari beliau ada kegiatan di luar kota, sehingga tidak tahu kalau ada undangan. Pesan singkat itu tentulah sangat berharga bagi saya, karena menyadari, Prof. Budi Darma tidak melupakan saya. Begitu juga saat beliau mengirimkan foto tulisan saya yang dimuat di Jawa Pos, dengan sebuah kalimat pujian yang saya yakin itu tulus, betapa hal itu membuat saya merasa sangat berarti.

Malam ini, saya ingin menulis tentang sosok yang begitu saya cintai itu. Saya seolah tidak ingin kehilangan setiap kenangan manis tentang beliau. Namun terlalu banyak yang mungkin harus saya tuliskan, juga untuk mengungkapkan rasa kehilangan ini. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seseorang yang merasa begitu dekat dengan beliau, seseorang yang telah berhasil dibuatnya merasa begitu berarti, begitu berharga.

Selamat jalan, Prof. Budi Darma. Seharian ini sosok panjenengan berkelebat-kelebat dalam benak saya. Senyum panjenengan menari-nari dalam untain doa saya. Sapa panjenengan terbayang-bayang di mata saya yang basah dan berkabut.

Selamat jalan, Prof. Budi Darma. Beristirahatlah dengan damai. Seperti kedamaian yang senantiasa menghiasi wajah teduhmu…..

 

Taman Dayu Hotel & Resort, Pandaan, 21 Agustus 2021

Sabtu, 19 Juni 2021

Diundang Menutup KKN

Hari ini saya diundang oleh Unesa untuk memberikan sambutan, paparan, dan menutup acara. Agenda kegiatannya adalah Penutupan KKN Mahasiswa Unesa Tahun 2021. Acara digelar di BUMDes Cengkok Asri, Kabupaten Ngajuk.

Ada 5609 mahasiswa Unesa yang telah selesai melaksanakan KKN di seluruh Indonesia.  KKN yang disebut KKN Tematik ini merupakan salah satu perwujudan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Mereka (MBKM). Tema-tema KKN meliputi kemanusiaan, kewirausahaan, proyek di desa, asistensi mengajar, dan proyek independen. Selama empat bulan, setara 20 SKS, mahasiswa menempuh program KKN di daerahnya masing-masing karena pandemi.

Acara penutupan hanya dihadiri oleh sebagian kecil mahasiswa yang kebetulan lokasi KKN mereka di Kabupaten Nganjuk. Wakil Rektor 4, PLT Bupati Nganjuk, satgas covid, camat, kepala desa, dosen pembimbing lapangan, dan perwakilan IKA Unesa cabang Nganjuk, merupakan sebagian undangan yang hadir. Undangan yang lain, termasuk mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia, hadir secara virtual.

Saya sampaikan dalam paparan saya bahwa program KKN Tematik sangat gayut dengan program prioritas kemendes, yaitu SDGs Desa.

SDGs Desa berturut-turut mencakup tujuan: 1) Desa Tanpa Kemiskinan, 2) Desa Tanpa Kelaparan, 3) Desa Sehat dan Sejahtera, 4) Pendidikan Desa Berkualitas, 5) Keterlibatan Perempuan Desa, 6) Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi, 7) Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan, 😎 Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata, 9) Infrastruktur dan Inovasi Desa sesuai Kebutuhan, 10) Desa Tanpa Kesenjangan, 11) Kawasan Permukiman Desa Aman dan Nyaman, 12) Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan, 13) Desa Tanggap Perubahan Iklim, 14) Desa Peduli Lingkungan Laut, 15) Desa Peduli Lingkungan Darat, 16) Desa Damai Berkeadilan, 17) Kemitraan untuk Pembangunan Desa, dan 18) Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.


Desa merupakan basis evidential untuk mengidentifikasi berbagai problematika pembangunan. Ada 74.961 desa di seluruh Indonesia,  dengan segala potensi dan keunggulannya, yang bila dikelola dengan baik, sangat potensial dalam menyumbang pencapaian tujuan SDGs. Apabila segenap permasalahan sosial-ekonomi di perdesaan teratasi, sebagian besar tantangan pembangunan di negeri ini dapat teratasi. Di sinilah urgensi menjadikan desa sebagai prioritas dalam pembangunan.

Arah pembangunan perdesaan saat ini bertumpu pada pencapaian 18 tujuan SDGs Desa yang mampu berkontribusi 74% terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Pencapaian ini tentunya memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, komitmen yang tinggi dari seluruh pemangku kepentingan, serta kerjasama multisektor termasuk dukungan kerjasama dari Perguruan Tinggi.

Kamis, 17 Juni 2021

Hari yang Sibuk

Rabu dan Kamis yang lalu merupakan hari yang sibuk. Untunglah saya sudah terlatih bekerja nonstop, indoor maupun outdoor. Jadi ya alhamdulilah, semua baik-baik saja. Meski usia tak lagi muda (kepala lima gitu....), insyaallah semangat tetap muda.

Semangat itulah yang menopang fisik saya  untuk bergerak dan bergerak, belajar dan belajar, berbuat dan berbuat. Pengalaman mendampingi program SM3T dan Jatim Mengajar menjadi modal tersendiri. Juga kegemaran pada aktivitas di alam bebas, termasuk kegiatan  Pramuka dan Himapala yang dulu saya geluti saat di bangku sekolah dan kuliah, juga menjadi amunisi yang sewaktu-waktu butuh sasaran untuk diejawantahkan.

Kami mendampingin Gus Menteri Desa mengunjungi Wonogiri dan Yogyakarta. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 08.45 menumpang Batik, dan mendarat di Solo. Lantas melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri dengan mobil, lengkap dengan patwalnya yang sirinenya meraung-raung. Sungguh saya tak pernah membayangkan menjadi salah satu orang dalam iring-iringan mobil seperti ini. Dulu pernah, seperti ini, saat menjadi rombongan mendikbud M. Nuh mengunjungi Papua Barat. Namun saat itu, saya hanya sebagai salah satu koordinator program SM3T. Bukan pejabat yang memang sehari-hari harus berada di sekitar Menteri.

Saya jadi ingat, biasanya, bila ada rombongan mobil pejabat lewat dan sirine mobil patwalnya meraung-raung, saya akan meminggirkan mobil yang yang sedang saya kemudikan, tentu saja sambil menggerutu, "duh...pejabat iki kok menang-menangan yooo....". Sekarang saatnya saya "digerutui" orang. Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini....

Saat saya menceritakan hal itu ke Mas Ayik Baskoro Adjie , dia tertawa dan bilang, "makanya jok suka alok. Alok iku melok." Tuh...

Kegiatan di Wonogiri adalah pemberian piagam penghargaan pada bupati, camat, lurah, dan pendamping desa, karena Wonogiri sudah menyelesaikan pendataan SDGs Desa. SDGs Desa sendiri merupakan arah kebijakan prioritas pembangunan desa, yang terdiri dari 18 tujuan pembangunan desa, antara lain desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, desa sehat dan sejahtera, pendidikan desa berkualitas, keterlibatan perempuan desa, dan sebagainya. Mungkin pada kesempatan lain akan saya tulis khusus tentang SDGs Desa.

Selain menyerahkan piagam, kami juga mengunjungi salah satu desa wisata dan juga pesantren. Rangkaian kegiatan selesai sekitar pukul 16.30, Dan kami melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Yogyakarta, kami sudah ditunggu dengan acara sertijab dari pejabat lama kepada pejabat baru. Selain itu juga pembukaan acara rakor yang akan dilaksanakan besoknya dari pagi sampai malam.

Alhamdulilah, acara rakor berjalan lancar. Presentasi dari sekretariat dan empat pusat berjalan dari pagi sampai sore. Dilanjutkan dengan presentasi oleh sembilan Kepala Balai Pelatihan. 

Saya sendiri sangat berkepentingan dengan rakor ini. Saatnya untuk kulakan.....

Malamnya, kami membuang penat dengan sepiring gudeg Yogya yang khas dan lezat.....

Senin, 07 Juni 2021

Jangan Lengah, Ya?

Jadi ingat waktu kami sekeluarga pesiar ke Madura. Saat itu, kami singgah di sebuah tempat makan, namanya bebek songkem. Konon, bebek songkem di rumah makan ini yang paling enak di antara bebek songkem yang lain. Tahu sendiri kan, warung bebek di Madura tersebar di banyak tempat, dengan berbagai variannya. Menu bebek songkem saja ada di mana-mana, belum lagi bebek-bebek yang lain.

Nah, saat kami pesan makanan di bagian depan, kami lihat petugas pencatat pesanan dan kasir tidak memakai masker. Begitu juga dengan petugas yang lain. Pokoknya mulai dari depan sampai belakang, tidak ada yang pakai masker. Waktu saya ingatkan, mereka bilang, "di sini sudah aman, buk, ndak ada lagi corona."

Dan itu tidak hanya di warung yang tergolong skala kecil-menengah ya. Di hari yang lain, kami singgah di rumah makan yang tergolong besar, berharap para petugasnya lebih disiplin pada prokes. Ternyata, dugaan kami salah besaaarrr. Di rumah makan gede pun, yang menyajikan berbagai pilihan menu yang lezat, tempat makan yang assoy, besar, luas, dikelilingi taman dan kolam yang apik, perilaku petugasnya sama saja. Tak bermasker. Atau bermasker tapi masker hanya jadi hiasan di leher. Saat diingatkan, anehnya, jawabannya kok ya persis sama, "di sini sudah ndak ada lagi corona, buk."

Sebenarnya kondisi seperti itu tidak hanya di Madura. Di berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk, maaf, di kampung halaman saya sendiri, perilaku masyarakatnya sungguh memprihatinkan. Sedihnya, bahkan orang-orang yang seharusnya menjadi contoh tentang pentingnya prokes, karena mereka guru atau tokoh agama misalnya, justeru menjadi pemicu terabaikannya prokes. Tak peduli, cuek, mengejek dan meremehkan saat diingatkan. Dan sikap buruk itu dinampakkan secara demonstratif di depan murid-muridnya. Sedih nggak? Sedih dan prihatin deh pokoknya.

Kita semua berharap, semoga Madura dan Jawa Timur serta Indonesia dan seluruh dunia segera terbebas dari pandemi ini. Vaksinasi adalah salah satu ikhtiar. Ikhtiar yang lain seperti yang sudah sangat kita kenal, yaitu 5M dan 3T, harus terus-menerus dilakukan secara disiplin. Jangan meremehkan. Jangan lengah. Jangan jumawa. Sudah banyak contoh terjadinya lonjakan pandemi di wilayah lain atau negara lain yang justeru lebih dahsyat akibat kejumawaan. Kalau Anda diingatkan, jangan bilang, "itu kan di India, bukan di Indonesia. Itu kan di sana, di sini amaaannnn....". Plis deh. Pliiisssss.....

Bener, jangan lengah ya.... Meskipun sudah divaksin, tetap jaga prokes ya. Jangan lengah.

Surabaya, 8 Juni 2021

Sabtu, 05 Juni 2021

Benteng Van de Bosch

Hari ini kami bersilaturahim ke Ngawi. Ke rumah salah satu anggota paguyuban haji Hidayah Mabrur 2009. Ya, sejak bersama-sama beribadah haji pada 2009, alhamdulilah rombongan haji kelompok kami sampai sekarang masih solid. Pertemuan setiap tiga bulan sekali. Kadang di rumah salah satu anggota di Surabaya, kadang di rumah asalnya, seperti pertemuan yang lalu di Tuban, dan sekarang di Ngawi. Kadang ke tempat wisata seperti di Batu, Tretes, Sarangan. Kadang ziarah wali, kadang berkunjung ke panti-panti. Pokoknya setiap pertemuan, selalu diisi dengan kegiatan yang menyenangkan dan insyaallah bermanfaat, selain--tentu saja--yasin dan tahlil sebagai agenda wajib. Termasuk mengirim doa pada teman-teman yang sudah mendahului, yang sampai saat ini sudah 13 orang, dari 54 anggota.

Anggota paguyuban, tentu saja, sudah pada berumur. Saya saja sudah kepala lima, meskipun pada saat berangkat dulu, termasuk masih muda.....ehm....sok muda, padahal juga sudah kepala empat. Namun semangat bersilaturahim mereka, sungguh mengagumkan. Begitu istiqomah. Juga kedisiplinan pada waktu. Kita-kita yang  lebih muda ini sampai sering malu pada diri sendiri karena kalah jauh dengan beliau-beliau untuk urusan itu.

Setiap kali ada kegiatan keluar kota, maka titik kumpulnya di rumah kami. Sarapan dulu dan menikmati kopi dan teh. Mobil dan sepeda motor bisa diparkir dengan aman, dan bus yang akan membawa kami juga bisa masuk leluasa sampai depan rumah.

Nah, hari ini, selain bersilaturahim, kami juga menyempatkan diri mengunjungi Benteng Van de Bosch. Lokasinya kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah yang kami kunjungi. Tapi saya belum tahu banyak tentang kisah benteng ini ya. Sementara gambar-gambarnya dulu ya.

Begitulah yang hampir selalu kami lakukan. Bersilaturahim, diselingi dengan berwisata, termasuk wisata religi. Namun karena para anggota sudah banyak yang sepuh, tujuan wisatanya yang tidak terlalu sulit untuk dijangkau. Itu pun juga fleksibel, yang pingin berwisata bisa turun, yang tidak, tetap menunggu di bus atau di mobil. Kalau ini yang terjadi, maka kami berwisata dengan cepat, supaya yang di mobil tidak terlalu lama menunggu. Pokoknya yang penting semua happy....

Sabtu, 02 Januari 2021

Kenangan tentang Prof Sukamto

Kenangan tentang Prof Sukamto bermula saat saya menempuh studi S2 di Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan IKIP Yogyakarta (sekarang UNY). Saya masuk pada 1991, saat itu, saya baru lulus S1 dan belum lama menikah, serta dalam keadaan hamil.

Sebuah proses yang tidak ringan, namun saya selesaikan semester satu dengan baik. Saya katakan tidak ringan karena saya jauh dari keluarga, masih pengantin baru, hamil muda yang tidak mudah, minim pengetahuan dan pengalaman, finansial terbatas dan tanpa beasiswa kecuali bantuan SPP dan buku dari IKIP Surabaya. Status saya saat itu, CPNS saja belum, sehingga peluang beasiswa TMPD tidak bisa saya dapatkan. Saya ingat dua kali saya dipanggil oleh Dr. Amin, direktur pasca saat itu, dan diminta untuk menyerahkan SK CPNS karena ada kesempatan bagi saya untuk memperoleh beasiswa. Tapi karena salah satu persyaratan pokoknya adalah yang bersangkutan harus sudah memiliki NIP, lepaslah kesempatan itu untuk saya. Maka biaya hidup saya selama studi ditanggung oleh suami sepenuhnya, yang saat itu juga masih belum mapan pekerjaannya.

Pada semester kedua, saya mengambil cuti sekolah. Melahirkan dan mengasuh bayi saya.

Pada semester ketiga, saya kuliah lagi. Mengambil matakuliah di semester 3 sekaligus semester 2. Terasa beraaat banget. Tapi untunglah ada banyak teman yang sangat helpful. Ketua kelas saya, Pak Martubi, sesepuh kelas saya, Pak Said yang biasanya kami sebut Simbah, dan teman-teman yang lain, sungguh sangat berjasa pada perjuangan saya menyelesaikan semester 3 saya.

Nah, di semester 3 inilah kenangan terbaik saya tentang Prof Sukamto. Saya menempuh matakuliah metodologi penelitian yang seharusnya saya ambil di semester 2. Saya diberi jadwal dua minggu sekali bertemu Prof Sukamto untuk kuliah mandiri. Di ruangan beliau, di ruang kepala lembaga penelitian. Waktu itu beliau menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.

Setiap dua minggu sekali, saya mengalami hari yang sangat mencemaskan. Duduk di depan meja beliau, melaporkan progres belajar saya dan tugas-tugas, menyimak penjelasan beliau. Waktunya sekitar 1,5 jam per pertemuan, namun rasanya seperti berabad-abad. Saya selalu merasa menjadi orang paling bodoh sedunia di hadapan beliau. Berusaha mencerna apa yang beliau ajarkan, yang mungkin hanya nyantol sepersekian persennya di kepala. Seringkali saya lihat raut muka beliau seperti berusaha menahan kesabaran. Mungkin dalam hati beliau berkata, 'kok ya kebangeten tenan bocah iki leh ra paham-paham....."

Modal saya belajar metodologi penelitian saat itu benar-benar minim. Juga pengalaman meneliti saya. Saya baru lulus S1 ketika saya 'terpaksa' harus sekolah S2. Sebagai mahasiswa S1 penerima beasiswa TID, setelah lulus saya harus siap ditugaskan di mana pun.  Ternyata saya ditugaskan di Jurusan PKK IKIP Surabaya (Unesa saat ini), almamater saya sendiri. Berdasar surat rekomendasi penugasan itulah, saya diwajibkan pimpinan untuk mengikuti tes masuk S2. Saat itu, ada 14 dosen FPTK IKIP Surabaya yang berangkat tes ke Yogya, saya salah satunya. Dosen mudaaaa banget, yang masih culuuuuunnn banget, yang berangkat benar-benar karena terpaksa. Dari 14 dosen tersebut, yang lulus tes hanya 4, termasuk saya. Saya masih berusaha bernego dengan Dekan FPTK supaya saya diizinkan untuk tidak berangkat sekolah. Tapi negosiasi menemui jalan buntu. Saya harus tetap sekolah.

Benar-benar bermodal dengkul. Saat itu, saya adalah mahasiswa termuda di kelas, dan teman sekelas hampir semuanya adalah dosen PNS yang sudah jauh lebih punya banyak pengalaman, pengetahuan, dan juga uang, karena setidaknya mereka sudah memiliki gaji. Pada saat itu, studi lanjut S2 tidak terlalu lazim diambil oleh fresh graduate seperti saya, melainkan oleh para dosen yang memang sudah siap untuk sekolah. Saya benar-benar seperti memasuki hutan belantara.

Kembali pada cerita tentang kuliah mandiri saya dengan  Prof Sukamto.

Ketika UTS tiba, saya duduk di depan meja Prof Sukamto. Beliau menyodorkan sebuah kotak berisi kartu-kartu soal. Saya diminta memilih sendiri kartu-kartu soal itu, sebanyak 3 kartu. Lantas beliau menyodorkan beberapa lembar kertas untuk saya menulis jawabannya dan menyilakan saya berada sendirian di ruangan dekat ruang beliau untuk saya bisa bekerja.

Pada jam yang telah ditentukan, saya kembali menghadap beliau dan menyerahkan hasil pekerjaan saya. Kemudian saya diminta membacakan soal, menyampaikan jawabannya, dan selalu--setiap kali saya selesai membacakan jawaban saya--beliau tersenyum. Tapi, sungguh, jangan bayangkan saya bahagia dengan senyum beliau. Teman-teman bilang, begitu Prof Sukamto tersenyum, maka yang kami rasakan adalah, 'senyummu adalah tangisku.' Ya, entahlah, dengan segala kepintaran dan kepiawaiannya yang bagi sebagian besar kami terasa tak terjangkau, senyum  Prof Sukamto saat di kelas adalah senyum paling sinis yang menyayat hati. Menggores bagai sembilu. Seperti itu jugalah yang saya rasakan saat itu. Meskipun setelah itu, luka hati sedikit terobati saat beliau menjelaskan dengan detil bagaimana seharusnya jawaban saya dan mengapa. Dengan style-nya yang khas, lengkap dengan senyum manisnya yang menghunjamkan luka. Dalam kondisi seperti itu, saya hanya bisa berdoa semoga waktu cepat berlalu.

Keadaan seperti itu terulang lagi saat saya menempuh UAS. Mandiri lagi tentu saja. Dengan prosedur yang sama persis. Dengan senyum sinis yang bagai sembilu menyayat hati itu. Namun Prof Sukamto dengan segala kecermatannya menunjukkan di mana kesalahan saya, bagaimana seharusnya jawaban saya, dan menyarankan untuk membaca buku apa.

Lantas karena saat itu merupakan pertemuan terakhir, beliau bertanya pada saya, yang intinya,  berapa kira-kira nilai yang pantas saya dapatkan dengan proses dan hasil seperti itu. Tentu saja ini pertanyaan yang tidak mudah saya jawab. Namun saat saya menyerahkan kembali keputusan tentang nilai itu pada beliau, beliau bersikeras menolak, dengan mengatakan, "sebut berapa nilainya, saya akan ikuti Ibu. Kan kita sama-sama dosen, mestinya bisalah Ibu memutuskan berapa nilainya." Begitu kata beliau. Dalam hati saya berteriak, "saya dosen yang belum pernah mengajar, Bapaaaakkkk...."

Karena saya tidak punya pilihan untuk menghindar, maka dengan ragu, saya menyebut, "ya....kalau tidak A min, setidaknya B plus."

"Saya memilih B plus," spontan beliau menyahut.

Saya pun spontan tersenyum. Entah senyum kecut entah senyum girang. Apapunlah. Setidaknya saya sudah bebas dari rasa cemas dan tertekan setiap dua minggu sekali itu. Saya merasakan seperti baru saja ada beban berat lepas dari tubuh saya.

Setelah kejadian itu, sekitar seminggu kemudian, suatu sore ada anak laki-laki muda belasan tahun yang ngganteng datang ke tempat kos saya. Dia memberikan sebuah buku ke saya, dan memperkenalkan diri sebagai putra Prof Sukamto. Dia bilang kalau dia diminta bapaknya untuk mengantarkan buku itu ke saya, supaya bisa saya baca dan pelajari.

Masyaallah, saya hampir tidak percaya. Terbayang sosok Prof Sukamto lengkap dengan senyum sinisnya. Namun sesungguhnya di balik senyum itu, adalah keteduhan, keramahan, dan ketulusan, yang seringkali kami tak mampu membacanya karena tertutup rasa takut dan grogi. Rasa takut dan grogi yang sebenarnya muncul dari pikiran sendiri, karena ketidaksiapan kami untuk berhadapan dengan beliau yang sering melempar pertanyaan-pertanyaan kritis yang lantas membuat kami gelagapan.

Segala luka karena sayatan senyum sinis yang bagai sembilu itu lenyap seketika. Tak berbekas. Yang tersisa adalah kekaguman saya pada sosok yang luar biasa itu. Yang dengan caranya memaksa setiap  mahasiswa untuk membangkitkan kemauannya sendiri akan rasa haus pada ilmu, kemandirian, percaya diri, sekaligus memiliki rasa malu pada diri sendiri. Mendorong untuk terus belajar dan belajar. Mendorong setiap orang untuk senantiasa menjadi "a learning person".

Pengalaman dengan Prof Sukamto ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Sejak 2003, saya mulai terlibat di beberapa kegiatan di Jakarta. Saat itu, Prof Sukamto adalah direktur Ditnaga, Ditjen Dikti. Maka saya sering bertemu beliau dalam banyak acara.

Kemudian setelah saya menyelesaikan studi S3 saya di UM pada 2007 dan pada 2009 menjadi guru besar, saya mulai sering bertugas menguji disertasi di beberapa universitas, salah satunya di UNY. Saya beberapa kali kembali  bertemu dengan Prof Sukamto sebagai sesama penguji. Saya melihat beliau tetap dengan kejeniusannya. Namun waktu telah sedikit demi sedikit merenggut kesehatannya. Terakhir menguji bersama beliau, mungkin sekitar setahun yang lalu, kesehatan beliau semakin memprihatinkan. Beliau berjalan dengan sangat pelan, berbicara dengan sangat pelan, bertanya dengan sangat pelan, dan menjelaskan dengan sangat pelan.

Kemarin, Kamis 31 Desember 2020, saya mendengar sosok guru yang sangat berilmu itu berpulang ke haribaan-Nya. Saya merasa sangat amat kehilangan. Ada yang terasa kosong di sudut hati saya. Air mata saya meleleh. Hati saya basah.

Ya Allah, saya bersaksi, Prof. Dr. Sukamto adalah orang baik. Ampuni segala dosanya. Terimalah semua amal kebaikan dan amal jariyahnya. Berikan jannah-Mu yang penuh kedamaian dan keindahan hakiki.

Selamat jalan, Guruku.....

Surabaya, 1 Januari 2020