Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 November 2023

Sandalwood Boutique Hotel

Hotel ini ada di kawasan Lembang, Bandung. Bukan hotel yang besar. Namun begitu saya memasuki ruang lobinya, saya langsung terkesima karena banyak hal unik. Beberapa keunikan itu saya tampilkan di sini.

Selama tiga hari saya membersamai teman-teman Balai Besar Jakarta dalam kegiatan FGD Pembahasan Kurikulum Pelatihan di hotel ini. Ada lima kepala dinas juga yang hadir, serta beberapa narasumber. Ada juga kegiatan outbound.
Udara Lembang yang sejuk dan makanan yang enak sangat mendukung kenyamanan. Meskipun acara demi acara padat, semua dilakukan dengan suka cita. Saya dan Pak Sesbadan serta beberapa teman, malah sempat mencuri sedikit waktu untuk healing di Tangkuban Perahu, yang jaraknya dari hotel hanya sekitar lima belas menit.
Keunikan hotel ternyata tidak hanya di bagian depan saja, namun ada di mana-mana. Di kamar juga ditemukan banyak hiasan dan ornamen unik. Juga di tempat makan. Dipadu dengan kealamiahan pohon-pohon pinus dan aroma wangi bunga yang sangat natural, tempat ini sangat cocok untuk kerja dan gathering. Apa lagi beberapa destinasi wisata ada di sekitar hotel, cocoklah hotel ini sebagai pilihan keluarga dan siapa saja yang ingin hiling-hiling hehe.
Lembang, 22-24 Nobember 2023

Rabu, 27 Oktober 2021

Naik Bus


Saya sudah lamaaa sekali tidak naik bus. Kemarin saya dan mas Ayik Baskoro Adjie  memutuskan naik bus ke Tuban, dalam rangka memperingati 100 harinya Ibu besoknya (hari ini). Kata Mas Ayik, yang sudah beberapa kali naik bus dari Surabaya ke Tuban PP, naik bus patas nyaman, simple, ngirit. Ngirit duit, ngirit tenaga.

 

Ok, karena saya sendiri hari itu baru pulang dari Jakarta, dan capeknya belum ilang, saya setuju dengan usul Mas Ayik. Maka setelah shalat tarawih, kami diantar si ngganteng yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, Barrock Argashabri Adji , ke terminal Bungurasih.

 

Syukurlah ada bus patas yang sebentar lagi berangkat. Kami langsung mengambil tempat duduk. Jaket dirapatkan karena dinginnya AC cukup menusuk. Juga siap-siap berangkat tidur. Posisi badan sudah menyandar nyaman.

 

Eh, tiba-tiba.... "Tahu sumedang, enak, fresh, silakan untuk cemilan....." Plek, plek, plek. Tahu sumedang ada di pangkuan saya. "Kaus kaki, kaus kaki, anget, anget, murah meriah...." Kaus kaki ada di pangkuan saya. Tak berapa lama tahu dan kaus kaki diambil sama penjualnya, setelah dia membagikannya dari depan ke belakang, lantas dari depan ke belakang lagi sambil  mencomoti barangnya. Begitu seterusnya, headset, buku doa, gantungan kunci, kacang goreng, lemper, lumpia....

 

Saya mulai gelisah. Bakulnya banyak yang lepas masker. Teriak-teriak dan mondar-mandir. Nggak ada prokes babar blas. Beeelllaaasss.

 

"Duh. Kalau  kayak gini kapok aku naik bus, Mas. Ngeri-ngeri sedap gini."

 

"Kalau sudah jalan nanti kan enggak....." jawab Mas Ayik.

 

"Ya iyalah, Maaassss. Mosok bakule kate meloook..."

 

Ternyata itu belum seberapa, Saudara. Muncullah seorang perempuan. Cuwantik. Rambut panjangnya terurai indah. Alisnya, matanya, bibirnya, wajahnya, semua indah, bersih dan kopen. Nampak kalau dia sering perawatan. Saya kira dia penumpang. Ternyata dia bawa gitar. Terus nyanyi. Lhah. Ternyata dia pengamen. Inilah pengamen tercantik yang saya pernah lihat. Kalau Anda penasaran pingin lihat pengamen cantik ini, datang saja ke terminal Purabaya ya. Gampang niteninya. Karena perempuan itu lagi hamil. Ya. Perutnya buncit. Jadi dengan perut buncit itulah dia menyanyi. Eh salah, menyanyinya tetap dengan mulut ya, bukan dengan perut hehe. Saya ya sakno-sakno gimana gitu. Sambil mikir, nangdi yo bojone, arek ayu dan lagi hamil kayak gini kok dibiarkan ngamen malam-malam. Duh. Sebagai sesama perempuan, saya merasa gimanaaa gitu.

 

Bakul-bakul pun terus teriak-teriak dan mondar-mandir. Sampai akhirnya bus mulai berjalan dan bakul-bakul mulai berkurang. Saya kira ketenangan akan segera saya dapatkan. Wooo, ternyata belum, Sodara. Seorang perempuan naik lagi dengan membawa gitar. Nyanyi ndangdut yang lagunya tidak saya kenal. Cantik juga. Nampak terawat juga. Saya lagi-lagi terpikir, di mana misuanya. Nduwe bojo ayu koyok ngene kok dijarne di jalanan.

 

Setelah dia turun, saya pikir selesailah sudah panggung hiburan yang bagi saya tidak menghibur ini, namun justeru menggugah keprihatinan. Bus yang berjalan pelan keluar terminal masih berharap ada tambahan penumpang. Dan betul. Ada dua orang perempuan naik. Dua-duanya agak gemuk. Dan, olala....bawa gitar juga. Mereka berdiri persis di sebelah saya. Menyanyi sambil genjreng-genjreng dengan suara yang memekakkan telinga. Oh Tuhan, benar-benar ujian kesabaran. Satunya lagi bergerak dari satu penumpang ke penumpang lain sambil menyodorkan kantung plastik wadah duit. Tentu saja tidak semua penumpang nyemplungke duit.

 

Nah, sudah begitu, setelah mereka turun, naik lagi seorang pengamen laki-laki yang, nyuwun sewu, tangannya cacat dan sepertinya mentalnya kurang sehat juga. Menyanyi dengan suara dan lagu yang bagi saya ora jelas blas tapi saya yakin itulah penampilan terbaik yang bisa dia persembahkan. Owalah, Gusti....

 

Situasi seperti ini sudah sangat sering saya hadapi, dulu. Meskipun sudah ada mobil, saya sering menumpang bus keluar kota. Saat kuliah S3 di Malang, mobil sering saya parkir di terminal, dan saya naik bus PP. Kalau duit lagi longgar, saya naik bus patas, lantas pakai taksi ke kampus UM. Kalau duit lagi cupet, saya tetap naik bus patas, tapi lanjut pakai angkot AL menuju kampus.

 

Nah, di jalanan itulah banyak saya temui romantika kehidupan. Ada banyak pelajaran. Ada banyak hikmah. Telinga saya terbiasa mendengarkan musik dari yang paling indah sampai yang paling ancur. Terbiasa mendengar tutur kata yang paling sopan dengan kromo inggil sampai yang kuwasar sak kasar-kasare plus sumpah-serapah komplit dengan pisuhannya.

 

Tapi itu bukan pada kondisi pandemi seperti ini tentu saja. It's okay. Aku rapopo. Ra maskeran yo rapopo. Ra jaga jarak yo rapopo. Bengok-bengok nang kupingku yo rapopo. Tapi lek saiki, watatattaaa....sungguh situasi kayak gitu menyiksa saya dan membuat saya prihatin bin kuwatir. Tapi aku kudhu piye?

 

Hayo, kudhu piye hayo....

 

Tuban, 29 April 2021

Kamis, 17 Juni 2021

Hari yang Sibuk

Rabu dan Kamis yang lalu merupakan hari yang sibuk. Untunglah saya sudah terlatih bekerja nonstop, indoor maupun outdoor. Jadi ya alhamdulilah, semua baik-baik saja. Meski usia tak lagi muda (kepala lima gitu....), insyaallah semangat tetap muda.

Semangat itulah yang menopang fisik saya  untuk bergerak dan bergerak, belajar dan belajar, berbuat dan berbuat. Pengalaman mendampingi program SM3T dan Jatim Mengajar menjadi modal tersendiri. Juga kegemaran pada aktivitas di alam bebas, termasuk kegiatan  Pramuka dan Himapala yang dulu saya geluti saat di bangku sekolah dan kuliah, juga menjadi amunisi yang sewaktu-waktu butuh sasaran untuk diejawantahkan.

Kami mendampingin Gus Menteri Desa mengunjungi Wonogiri dan Yogyakarta. Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 08.45 menumpang Batik, dan mendarat di Solo. Lantas melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri dengan mobil, lengkap dengan patwalnya yang sirinenya meraung-raung. Sungguh saya tak pernah membayangkan menjadi salah satu orang dalam iring-iringan mobil seperti ini. Dulu pernah, seperti ini, saat menjadi rombongan mendikbud M. Nuh mengunjungi Papua Barat. Namun saat itu, saya hanya sebagai salah satu koordinator program SM3T. Bukan pejabat yang memang sehari-hari harus berada di sekitar Menteri.

Saya jadi ingat, biasanya, bila ada rombongan mobil pejabat lewat dan sirine mobil patwalnya meraung-raung, saya akan meminggirkan mobil yang yang sedang saya kemudikan, tentu saja sambil menggerutu, "duh...pejabat iki kok menang-menangan yooo....". Sekarang saatnya saya "digerutui" orang. Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini....

Saat saya menceritakan hal itu ke Mas Ayik Baskoro Adjie , dia tertawa dan bilang, "makanya jok suka alok. Alok iku melok." Tuh...

Kegiatan di Wonogiri adalah pemberian piagam penghargaan pada bupati, camat, lurah, dan pendamping desa, karena Wonogiri sudah menyelesaikan pendataan SDGs Desa. SDGs Desa sendiri merupakan arah kebijakan prioritas pembangunan desa, yang terdiri dari 18 tujuan pembangunan desa, antara lain desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, desa sehat dan sejahtera, pendidikan desa berkualitas, keterlibatan perempuan desa, dan sebagainya. Mungkin pada kesempatan lain akan saya tulis khusus tentang SDGs Desa.

Selain menyerahkan piagam, kami juga mengunjungi salah satu desa wisata dan juga pesantren. Rangkaian kegiatan selesai sekitar pukul 16.30, Dan kami melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Yogyakarta, kami sudah ditunggu dengan acara sertijab dari pejabat lama kepada pejabat baru. Selain itu juga pembukaan acara rakor yang akan dilaksanakan besoknya dari pagi sampai malam.

Alhamdulilah, acara rakor berjalan lancar. Presentasi dari sekretariat dan empat pusat berjalan dari pagi sampai sore. Dilanjutkan dengan presentasi oleh sembilan Kepala Balai Pelatihan. 

Saya sendiri sangat berkepentingan dengan rakor ini. Saatnya untuk kulakan.....

Malamnya, kami membuang penat dengan sepiring gudeg Yogya yang khas dan lezat.....

Sabtu, 22 Februari 2020

Naik Kereta Api dan Ibu


Saya lumayan sering naik kereta api. Lebih dari sepuluh kalilah. Hehe. Itu termsuk sering tidak?

Kali ini saya naik kereta api dari Surabaya ke Banyuwangi. Untuk memenuhi undangan guru-guru MAN 2 Banyuwangi. Berbagi tentang bagaimana menjadi guru di era mileneal. Waw. Saatnya menjadi dosen mileneal juga ini. Acaranya besok pagi. Jadi masih cukup lama. Ups.

Setiap bepergian dengan menumpang kereta api, saya selalu menikmatinya. Sebetulnya tidak hanya saat menumpang kereta api saja sih. Pergi kemana pun saya selalu menikmatinya. Pakai kereta api, bus, truk, pesawat, mobil pribadi, angkot, motor, sepeda pancal, dokar, saya selalu menikmatinya. Setidaknya berusaha menikmatinya. Pada dasarnya saya suka kluyuran, dan berpetualang, namun untuk tujuan yang insyaallah baik: bersilaturahim, berbagi, dan tadabbur alam. Untuk tujuan itu, seringkali risiko yang berat harus saya tempuh. Tapi tentu tidak seberat tugas para abdi negara yang berada di garis-garis terluar dan terdepan NKRI. Mereka tuh, bener-bener 'toh nyowo'. Saya tidak ada apa-apanya tentu saja. Apa lagi kalau dibandingkan dengan perjuangan Nabi saat berdakwah dan membela Islam. Wew. Gak onok sak ipit-ipit a.

Sik. Iki mau ngomong kereta api ya?

Naik kereta api itu keren. Nyaman sekali. Bersih. Toiletnya juga. Tisu juga tersedia. Petugasnya ramah-ramah. Mau makan, ada banyak pilihan menu. Ada televisinya juga. Mau kerja pakai laptop atau nge-charge ponsel, sak wayah-wayah. Jalannya juga halus, nggak gronjal-gronjal. Bikin orang sliyat-sliyut. Pemandangan di kanan-kiri jalan menyejukkan. Banyak pohon-pohon, sawah-sawah, hutan-hutan, kebun-kebun, sak mblengere deh. Di kota jarang toh nemu pemandangan seperti itu?

Namun ada satu kenangan tersendiri saat saya berkereta api seperti ini.

Oktober 2018. Saya ada di Yogya. Menjelang shubuh, suami saya, menelepon. Ibu mertua yang memang sudah mengidap sakit beberapa bulan, kapundhut. Seketika saya menangis. Ibu mertua kami tinggal bersama kami. Saya  bingung. Suami menenangkan saya. Meminta saya segera pulang.

Saya pun menghubungi Pak Nardi, teman Unesa yang biasa membantu memesankan tiket. Minta dicarikan tiket pesawat apa pun pagi ini. Ternyata tidak ada. Kecuali saya mau via Jakarta.

Saya lari, eh, naik taksi, ke stasiun. Mengejar kereta. Sepanjang perjalanan dari hotel ke stasiun, saya menangis. Driver-nya baik hati, mengantar saya ke bagian reservasi sambil membawakan koper saya, dan melepas saya sampai pintu masuk stasiun.

Saya tenang sebentar karena sudah dapat kereta. Sekitar pukul 12.00 saya akan tiba di Surabaya. Saya tidak minta dijemput siapa-siapa karena semua pasti sibuk menyiapkan pemakaman ibu. Di kereta, saya mengaji, baca tahlil, berdoa untuk ibu, sambil air mata saya dleweran. Saya ingat pesan ibu, duluuuuu sekali. Saat itu habis makan sahur. Kami di rumah Ponorogo. Sambil menunggu subuh, saya mengaji. Lalu ibu ngendikan, "Fi, suk lek ibu arep kapundhut, wacakno yasin yo?" Saya ingat pesan itu dan menyesal sekali kenapa saya tidak berada di sisi ibu saat beliau menghadapi sakaratul maut.

Ibu telah meninggalkan kami lebih dari dua tahun yang lalu. Namun setiap kali menumpang kereta api seperti ini, saya selalu ingat ibu. Sebagai manusia biasa, ibu tentulah tidak sempurna. Namun ketika ibu sudah tiada, yang tertinggal hanyalah kebaikan, keikhlasan, kasih sayang, nasehat dan petuah, senyuman, kebersamaan bersamanya. Dan juga penyesalan yang mendalam, kenapa saya menyia-nyiakan waktu untuk membahagiakannya......

Setelah kepergian ibu, rumah tak lagi seperti dulu. Serasa tak lengkap lagi. Ada banyak hal yang membuat kami selalu terkenang pada ibu.

Kami berusaha membacakan al fatehah dan berdoa untuk ibu, dan tentu saja untuk bapak, setiap selesai shalat. Membacakan tahlil dan yasin setiap malam jumat. Itulah saat ini yang bisa kami lakukan. Berusaha menebus hari-hari yang tak mungkin kembali di mana saya telah lalai untuk membahagiakan Ibu.

Semoga Allah memberikan tempat terindah untuk Ibu, sebagaimana keindahan yang selalu beliau hadirkan dalam hidup kami, anak cucunya.

Amiin.

Kalibaru, 22 Februari 2020

Minggu, 28 Januari 2018

Revitalisasi SMK: SMK Bisa Tidak Hanya Jargon

Pemotongan kue tart perayaan hari PGRI.

Oleh Luthfiyah Nurlaela

Pukul 12.50, tidak terlalu meleset dari perkiraan, Sriwijaya Air yang saya tumpangi mendarat di Bandara Sultan Babullah. Udara tidak terlalu panas, awan kelabu menggantung di langit. Ternate cukup ramah, seperti keramahan yang dinampakkan oleh Pak Iswanto, Bu Nuraini, dan Pak Rajak, para wakil kepala sekolah yang menjemput saya.

Perjalanan dari Surabaya sejak pukul 06.00 tadi pagi tidak terlalu melelahkan karena saya beberapa kali pulas di dalam pesawat. Oleh sebab itu, siang ini, kunjungan ke SMK Negeri 1 Kota Ternate bisa langsung saya lakukan sesuai rencana. Makan siang dan check in hotel bisa dilakukan setelah bertugas. Lagi pula, perut saya masih sangat kenyang karena meskipun saat ini sekitar pukul 13.00 di Ternate, di Surabaya masih pukul 11.00. Sepagi ini, saya sudah makan dua kali. Pertama saat transit di Makassar tadi, dan kedua saat terbang, menghabiskan menu makan siang yang disediakan oleh Sriwijaya Air.

SMK 1 Ternate berada  di tengah kota, tidak terlalu jauh dari bandara. Bertempat di Jalan Ki Hajar Dewantara—dulunya bernama Jalan Siswa—yang juga berdiri beberapa sekolah, seperti SMK 5 dan SMA 10, serta beberapa kantor pemerintahan.

Saya bertemu dengan kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah di ruang kepala sekolah yang sejuk. Bukan hanya karena AC, namun di luar, hujan sedang turun lumayan deras. Kepala sekolah, Bapak Bahrudin Marsaaly, S.Pd, mengatakan kalau sudah beberapa hari hujan tidak turun, dan tiba-tiba hari ini turun. “Rupanya menyambut tamu”, begitu katanya. “Berarti pertanda baik, Pak”, jawab saya.

Saya menyampaikan maksud kedatangan saya—yang tentu saja sudah diketahui oleh kepala sekolah dan jajarannya. Yaitu dalam rangka melaksanakan tugas pendampingan program revitalisasi SMK. Di antara sekitar 3000-an SMK se-Indonesia, SMKN 1 Ternate terpilih dalam 125 SMK yang memperoleh block grant Revitalisasi SMK. Block grant tersebut dicanangkan oleh Direktorat Pembinaan SMK, sebagai salah satu bentuk perwujudan Inpres nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK.

Sedikit menengok ke belakang, dengan ditetapkannya Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), menuntut SMK harus semakin dekat dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (du/di). Program Revitalisasi Pendidikan Vokasi merupakan amanah Nawacita dan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dalam rangka pemenuhan 58 juta tenaga kerja terampil sampai 2030. Melalui Nawacita, bangsa Indonesia memiliki cita-cita yang tinggi untuk menjadikan ekonomi Indonesia peringkat 7 dunia pada 2030 dan memenangkan persaingan SDM di regional dan global.

Lebih lanjut, Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan bertujuan untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia, yang kemudian menjadi rujukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan SMK untuk mengimplementasikan program revitalisasi SMK di seluruh Indonesia. Aspek revitalisasi meliputi penyelarasan kurikulum dengan dunia usaha dan dunia industri, inovasi pembelajaran, peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, standarisasi sarana dan prasarana utama, peningkatan kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri, serta penataan dan pengelolaan kelembagaan. Program  dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi wilayah, sumber daya, dan kebutuhan riil tenaga kerja untuk mendukung perkembangan ekonomi dan pengembangan wilayah. Revitalisasi SMK diharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu SMK sekaligus memberikan pengaruh terhadap kualitas lulusan SMK yang akan menjadi sumber daya pembangunan di Indonesia.

Kondisi SMK yang beragam dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia memerlukan dukungan eksternal dari berbagai pihak dalam bentuk pendampingan untuk SMK. Oleh sebab itu, perlu adanya pendampingan. Kegiatan pendampingan program revitalisasi SMK melibatkan stakeholder, antara lain perguruan tinggi, DU/DI, P4TK, dan LP3TK. Tujuan pendampingan adalah memberikan masukan dan mengarahkan SMK untuk mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing unggul dalam persaingan kebekerjaan secara nasional maupun global. Tim pendamping bersama-sama dengan SMK memprioritaskan program revitalisasi sehingga sekolah memiliki keunggulan berbasis potensi wilayah dan sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan lulusan sesuai dengan kebutuhan industri.

Dalam rangka mengemban amanah sebagai pendamping inilah kehadiran saya di SMKN 1 Kota Ternate ini. Tugas pendampingan sendiri dibagi dalam dua tahap, yaitu Pendampingan Tahap I dan Pendampingan Tahap II, yang dilaksanakan antara bulan Juli sampai dengan November 2017. Setiap tahap dilakukan selama lima hari kerja, sehingga total ada sepuluh hari kerja petugas pendamping berada di sekolah. Namun tentu saja komunikasi dan koordinasi tidak hanya sebatas sepuluh hari kerja itu saja, namun terus dilakukan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Semangatnya bukan seberapa banyak pendamping berada di sekolah, meskipun minimal sepuluh hari kerja itu menjadi keharusan. Namun yang terpenting adalah bagaimana supaya SMK yang didampingi benar-benar bisa melaksanakan program revitalisasi sesuai dengan target yang ditentukan, dan terus memilik semangat menjadi institusi penopang tenaga kerja andal yang dibutuhkan oleh masyarakat dan dunia kerja.  

Siang itu, ditemani dengan kue-kue khas Ternate yang legit, kami juga berbincang tentang sejarah KesultananTernate dan Kesultanan Tidore dan bagaimana keduanya mewarnai sejarah kemerdekaan Indonesia. Termasuk peran Ternate dan Tidore dalam pembebasan Irian Barat. Bahkan nama ‘Papua’ yang saat ini digunakan sebagai pengganti nama Irian Barat, konon berasal dari Bahasa Tidore yang artinya ‘tidak putus’.  Adanya beberapa benteng di Ternate maupun Tidore menandakan bahwa kedua pulau tersebut merupakan salah satu wilayah pertahanan di masa perang kemerdekaan.

Beragam objek wisata Kota Ternate dan sekitarnya juga tidak luput dari perbincangan kami. Ada bekas aliran lava yang membeku pada saat terjadi letusan Gunung Gamalama pada tahun 1907, yang disebut Batu Angus. Dua danau, yang disebut sebagai Danau Tolire Kecil dan Danau Tolire Besar, juga menjadi obyek wisata yang sangat menarik. Yang dekat dan berada di dalam kota ada beberapa, yaitu Pantai Falajawa dan Landmark Ternate, yang sangat indah dinikmati pada pagi atau sore hari, sambil menikmati pisang mulu bebe dan sambalnya. Pantai Jikomalamo, Danau Laguna Ngade, wah….sepertinya semuanya harus masuk dalam daftar kunjungan saya. Dan juga, yang menurut saya paling unik adalah kebun cengkeh, yang puluhan pohon dengan dahan dan ranting kering, yang katanya kita akan merasa seperti sedang berada di Korea atau Eropa pada saat musim gugur.

Yang tak kalah menariknya lagi, adalah kuliner Ternate yang ternyata sangat luar biasa beragamnya. Siapa yang tidak kenal cakalang fufu dari Ternate? Pak Rajak berjanji akan memasaknya sendiri untuk saya, karena istrinya jago membuat cakalang fufu. Ikan yang mungkin dalam bahasa kita adalah tongkol asap itu memang istimewa. Beda dengan tongkol asap yang seringkali saya konsumsi, cakalang fufu sangat padat dagingnya, kesat, dan lapisan-lapisan dagingnya bisa dilepas-lepas sedemikian rupa. Tentu saja papeda, ikan kuah kuning, ikan soru, sayur garu, gohu, roti tawar singkong, dabu-dabu, ikan garu rica, kasbi, batatas, bĂȘte, dan sebagainya, juga tak lepas dari perbincangan kami.

Dapat kehormatan menjadi pembina upacara HUT PGRI.
Sore itu juga, saya memanfaatkan waktu untuk mengunjungi laboratorium sekolah. Ada lima program keahlian di SMKN 1 Ternate ini, yang semuanya terakreditasi A, yaitu Usaha Perjalanan Wisata (UPW), Akuntansi, Perkapalan, Multimedia, dan Administrasi Perkantoran, yang masing-masing memiliki satu laboratorium. Laboratorium UPW berupa teaching factory (tefa), yang telah berafiliasi dengan Asya Tour Ternate. Beberapa paket wisata telah dilaksanakan  oleh UPW bersama Asya Tour, yang baru-baru ini adalah Wonderful Ternate-Morotai dan Hot Promo Tour Bali.

Sesuai dengan Panduan Pendampingan Revitalisasi SMK  Tahun 2017, Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2017-2019 menetapkan, bahwa tahun 2017 merupakan fase konsolidasi. Tiga aspek utama dalam fase tersebut yaitu: peningkatan akses layanan mutu, penyelarasan kurikulum (termasuk inovasi pembelajaran), dan inovasi kelembagaan.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada hari kedua kegiatan pendampingan, kami berbincang dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, yang juga membuka secara resmi kegiatan pendampingan. Di sebuah ruang yang cukup luas di lantai tiga SMK Negeri 1 Kota Ternate, kami berdiskusi tentang target program revitalisasi pada kegiatan pendampingan pertama ini, bersama kepala sekolah dan semua jajarannya, juga guru, tenaga kependidikan, serta dunia usaha dan dunia industri (du/di). Diskusi yang bernas, dengan target menyusun program prioritas, serta berbagi tugas dan tanggung jawab. Saya selaku pendamping menyajikan gambaran program revitalisasi dan target-target yang perlu dicapai sesuai dengan kondisi potensi sekolah serta peta jalan revitalisasi SMK. Dilanjutkan dengan presentasi program sekolah yang disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Bapak Iswanto Marjuki. Tentu saja lengkap dengan kue-kue khas Ternate dan teh manis yang harum, yang membuat diskusi terasa begitu menyenangkan, hangat dan penuh keterbukaan untuk saling belajar.

Hari itu saya semakin menyadari, betapa menyenangkannya orang-orang Ternate. Sejak kehadiran saya kemarin siang, kehangatan dan keterbukaan itu begitu kental kami rasakan. Tamu bagi mereka adalah raja. Dan mereka yakin, orang yang datang ke Ternate, akan kembali lagi suatu ketika, karena begitu dia sudah bergaul dengan orang Ternate, maka dia akan menjadi saudara bagi orang Ternate dan begitu sebaliknya. Sedemikian baiknya mereka sehingga saya seperti merasa sedang berada di rumah sendiri. Seperti sudah bertahun-tahun tinggal di Ternate dan memiliki banyak saudara orang Ternate.

****

SMK Negeri 1 Kota Ternate memiliki lahan seluas 4.026 m2, tidak terlalu luas sebagai sebuah sekolah SMK dengan lima program keahlian. Pengembangan sekolah hanya bisa dilakukan ke atas, dalam bentuk bangunan bertingkat. Saat ini, sekolah dengan tiga lantai tersebut sudah cukup padat dengan jumlah siswa 823 orang, 25 guru produktif, dan 60 guru normatif dan adaptif.

Meski bukan sekolah yang ‘besar’, SMKN 1 Kota Ternate selalu mewakili Lomba Kompetensi Sekolah (LKS) di tingkat provinsi Maluku Utara. Sekolah juga selalu menjadi spot khusus ajang penilaian Adipura. Dan, ini yang juga sangat membanggakan, di Provinsi Maluku Utara, SMKN 1 Kota Ternate adalah satu-satunya sekolah yang memiliki Program Keahlian Usaha Jasa Perjalanan Wisata. Hal ini sangat menguntungkan, mengingat Ternate dan sekitarnya memiliki banyak sekali potensi wisata dan juga memiliki andalan destinasi wisata prioritas, yaitu Morotai.

Berkaitan dengan hal tersebut, dan karena bidang pariwisata menjadi salah satu prioritas program revitalisasi SMK, maka yang memperoleh block grant revitalisasi SMK di SMKN 1 Kota Ternate adalah Program Keahlian UPW.  Meskipun begitu, empat program keahlian yang lain selalu dilibatkan dalam semua kegiatan. Ibarat sebuah lokomotif, Program Keahlian UPW melaju bersama semua program keahlian yang lain sebagai gerbongnya. Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya berlaku bagi program keahlian penerima hibah, namun juga berlaku untuk semua program keahlian yang ada di sekolah tersebut, meskipun UPW tetap menjadi prioritas program.

Sebagai sebuah sekolah kejuruan, SMKN 1 Kota Ternate memiliki kerja sama yang erat dengan du/di. Beberapa di antaranya adalah PT. Sriwijaya Air, The Hotel Batik, Boulevard Hotel Ternate, dan PT. The Golden Tour and Travel, serta Asya Tour and Travel. Meskipun begitu,  kerja sama dalam bentuk MoU masih sangat terbatas, sehingga hal ini juga menjadi prioritas program pendampingan.

Pada bidang pengembangan  dan penyelarasan kurikulum, SMKN 1 Kota Ternate tentu saja telah menggunakan Kurikulum 2013, namun penyelarasan kurikulum bersama du/di belum pernah dilakukan, baru sebatas kerja sama dalam pelaksanaan praktik kerja industri (prakerin). Kompetensi Dasar yang disusun sudah mengacu pada SKKNI. Sementara itu, sekolah juga sedang mempersiapkan terbentuknya lembaga sertifikasi profesi (LSP) dan saat ini bersiap untuk pelaksanaan full assesment.

Dalam hal inovasi pembelajaran, guru sudah mengajar dengan menggunakan bermacam model pembelajaran di antaranya inquiry/discovery learning. Sudah ada teaching factory (tefa) di sekolah dan pembelajaran menggunakan sistem blok. Juga Sudah dilaksanakan lokakarya tentang tefa dan kewirausahaan.

Namun demikian, dalam hal pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan, sekolah masih kekurangan guru pariwisata, karena sekarang baru ada dua guru produktif di Program Keahlian UPW. Sekolah juga tidak memiliki personil laboratorium, pengelolaan lab dirangkap guru produktif yang mengampu di program keahlian.

Kerjasama Sekolah dengan du/di baru sebatas pada penyelenggaraan praktik industri. Setiap semester ada sekitar enam guru tamu dari du/di di kelas XI dan XII. Du/di juga melaksanakan rekruitmen  bagi lulusan sesuai dengan keahlian. Sebagian siswa sudah  ‘dipesan’ oleh du/di pada saat melaksanakan prakerin. Berdasarkan data sekolah, sekitar 80% lulusan bekerja dan 20% melanjutkan sekolah.
Lepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, guru-guru di SMKN 1 Kota Ternate memiliki semangat yang sangat kuat untuk maju dan menjadi sekolah terdepan dalam mengembangkan pariwisata. Pada pendampingan kedua, yang saya lakukan pada 24-28 November 2017, berkat kerja keras mereka, sekolah sudah memiliki MoU dengan 40 du/di dari yang semula hanya 5 MoU.

Dalam acara penandatanganan MoU, kami berdialog dengan du/di dan komite sekolah. Pada kesempatan ini, saya menyampaikan apresiasi yang tinggi pada du/di yang telah bersedia sepenuh hati mendukung program revitalisasi SMKN 1 Kota Ternate. Selain du/di, hadir juga Kepala UPBJJ-UT, yang juga mendatangani MoU sebagai bentuk kerja sama antara sekolah dengan perguruan tinggi.

Saya menyampaikan, keterlibatan du/di dalam penyelenggaraan SMK tidak bisa ditawar. Setidaknya ada dua peran yang dimainkan oleh du/di. Yang pertama adalah peran sosial ekonomi. Pendidikan menghasilkan lulusan yang akan digunakan oleh du/di. Ini berarti, kualitas hasil pendidikan akan mempengaruhi kualitas du/di. Dengan demikian, tentu saja amatlah rasional jika du/di ikut mengulurkan tangan dalam mempersiapkan lulusan yang bermutu. Konsekuensinya, du/di harus menyisihkan sebagian sumberdayanya, bisa berupa bahan, alat, dana, tenaga, untuk sekolah. Seperti inilah yang dilakukan oleh negara-negara maju dalam mengembangkan pendidikan kejuruan. Sumbangsih ini juga bisa dalam bentuk resource sharing, pengiriman guru dari du/di sebagai instruktur di sekolah, guru magang di industri, pelaksanaan kelas industri, pelaksanaan job matching, serta keterlibatan du/di dalam pembelajaran tefa.

Peran kedua adalah peran sosial budaya. Du/di pada umumnya merupakan institusi yang sangat berorientasi pada mutu. Selain itu, du/di juga sangat beroerientasi pada aspek keuntungan. Fasilitas modern du/di dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda. Begitu juga dengan budaya kerja du/di, yang senantiasa berorintasi pada mutu yang tinggi. Sekolah harus bersinergi dengan du/di untuk belajar tentang budaya mutu ini. Kesempatan belajar ini akan meningkatkan layanan mutu sekolah atau layanan mutu pendidikan pada umumnya. Peningkatan layanan mutu pendidikan akan menghasilkan lulusan yang bermutu. Lulusan yang bermutu inilah yang nantinya akan direkrut oleh du/di sebagai SDM yang bermutu. Pada intinya, sekolah dan du/di merupakan sisi mata uang yang keduanya tidak dapat dipisahkan.

Pada kesempatan pendampingan kedua itu juga, SMKN 1 Kota Ternate juga menyelenggarakan kegiatan MICE (Meeting, Incentives, Conventions, and Events). Kegiatan ini dikemas oleh guru dan siswa dengan melibatkan semua program keahlian, menyelenggarakan paket wisata ke Pulau Maitara, sebuah pulau yang sangat indah yang terkenal dengan gambar uang seribu rupiah itu. Pulau Maitara yang letaknya di antara Pulau Ternate dan Tidore—atau terletak di Tidore Kepulauan (Tikep)--dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dari Pulau Ternate, dengan mengendarai speedboat. Bagi saya, tentu saja hal ini merupakan pengalaman yang sangat amat berkesan. Di atas pantai yang didominasi oleh pasir putih, MICE tidak hanya berupa wisata pantai, namun dilengkapi dengan tari-tarian adat penyambutan tamu, outbound, presentasi makanan tradisional Ternate, dan juga menikmati makanan khas serta kelapa muda yang berlimpah. Kegiatan ini juga diliput oleh stasiun TV Maluku Utara dan Maluku Post.

Tentu saja saya tidak hanya terkesan pada keindahan Maitara dan semua menu wisata yang tersaji. Namun lebih dari itu, kemampuan guru dan siswa untuk menyelenggarakan kegiatan MICE ini sangat patut diacungi jempol. Mereka pasti sudah menyiapkannya berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelumnya, dengan melakukan koordinasi yang intens dengan semua pihak yang berkepentingan, Pemerintah Desa Maitara, Polsek Maitara, Pelabuhan Kota Maitara, travel biro, media televisi dan surat kabar, dan lain-lain. Bukan sesuatu yang sederhana untuk membuat semuanya tersaji dengan begitu apik dan memukau. Potensi Maitara menjadi begitu menonjol karena hasil kerja para guru dan siswa serta didukung oleh semua pihak yang terlibat dengan penuh totalitas.

SMK Bisa, sudah terbukti tidak hanya menjadi jargon. SMK Bisa benar-benar sudah mewujud pada banyak karya guru dan siswa. Namun demikian, berpuas diri haruslah dihindari. Tantangan yang beratnya luar biasa terpampang di depan mata. Era baru, yang disebut era Internet of Things, era teknologi, sudah memasuki dunia kita. Media sosial dan komersial sudah memasuki titik puncaknya. Dunia memasuki gelombang smart device yang mendorong kita semua hidup dalam karya-karya yang kolaboratif. Akan ada banyak bidang kerja atau kompetensi yang berangsur hilang digantikan dengan bidang kerja yang membutuhkan kompetensi baru. Menghasilkan lulusan SMK yang terampil dan kompeten harus menjadi tujuan setiap sekolah, namun menghasilkan lulusan yang memiliki soft skill mutlak dilakukan. Keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan problem solving, menjadi tuntutan. Soft skill inilah yang akan menjadi kompetensi sepanjang waktu, di mana pun, kapan pun, tak akan lekang oleh zaman.


****

Senin, 04 September 2017

Nunukan 4: SM-3T Berakhir dan Harapan pada GGD

Pagi ini tiba-tiba hujan. Padahal kami akan bertolak dari Nunukan menuju Tarakan. Dua speedboat sudah disiapkan untuk membawa kami dan semua bagasi kami. Meski hujan tak juga reda, setelah sarapan pagi dengan menu hotel yang hampir sama dengan menu kemarin, kami bergegas. Semua bagasi dinaikkan ke truk, bus, dan mobil pickup. Semua peserta diangkut dengan kendaraan yang sama. Saya dan Mas Febry menumpang mobil kijang hijau yang disediakan Disdik. Kami semua menuju Pelabuhan Tunon Taka.

Meski proses memasuki speedboat membutuhkan waktu yang cukup lama, karena begitu banyaknya bagasi para peserta, perjalanan kami menuju Tarakan lancar, dan hanya sesekali disuguhi hentakan-hentakan keras speedboat menghantam ombak. Saya sendiri sudah pernah ber-speedboat dengan kondisi laut dan sungai yang lebih ganas, dengan waktu yang jauh lebih lama, sehingga saya menikmati perjalanan ini dengan sangat nyaman. Meski begitu, saya sempat memastikan di mana letak pelampung dan ke arah mana kita harus keluar dari speedboat bila sesuatu yang buruk terjadi. Selebihnya adalah doa dan kepasrahan pada Yang Maha Memberi Keselamatan dan Kehidupan.

Menjelang dhuhur kami baru tiba di Pelabuhan Tarakan. Beberapa alumni S2 Pendidikan Teknologi Kejuruan (PTK) sudah menunggu saya. Bu Novi, Pak Asdar, dan Pak Kurnia. Bahkan sebelum speedboat merapat tadi, masih di tengah laut, pak Eko Dani sudah menelepon saya dan memastikan keberadaan saya.

Sebelum bergabung dengan para alumni yang sudah menunggu, saya dan Mas Febry harus memastikan semuanya ‘clear’ dan 84 peserta SM-3T ini sudah stay di hotel tempat transit mereka. Besok pagi, kami akan terbang menuju Surabaya.


Buah Elai yang mirip durien.
Dan seharian ini, waktu saya nyaris saya habiskan bersama para alumni. Belasan alumni berdatangan dan bergabung saat makan siang, makan sore, dan juga saat berkumpul di lobi hotel. Luar biasa mereka itu. Sebegitunya melayani mantan dosennya ini. Tak pelak, wisata kuliner pun terjadilah. Mulai dari ikan pallumara, kapah, sanggar, kepiting, buras, bahkan elai. Ya, buah eksotis itu. Setelah kemarin kenyang makan durian di Sebatik, maka hari ini kami kenyang makan elai di Tarakan. Besoknya, seperti belum puas, saya bahkan membawa pulang sekotak plastik penuh elai yang disiapkan oleh Bu Novi.

Begitulah hikmah silaturahim. Tentu bukan hanya wisata kulinernya. Namun juga kebahagiaan dan energi positif yang dihasilkannya.

Tahun ini adalah tahun terakhir Program SM-3T. Ya. Setidaknya, sampai saat ini, rekrutmen untuk peserta SM-3T Angkatan VII belum dilakukan. Bila program itu berlanjut, seharusnya pada saat ini sudah selesai proses rekrutmen dan bahkan telah  dilakukan pemberangkatan peserta ke kabupaten-kabupaten tempat pengabdian.

Banyak yang menyesalkan berakhirnya program yang diyakini sangat menyentuh kebutuhan masyarakat yang paling mendasar terkait dengan layanan pendidikan ini.  Namun inilah faktanya. Program ini berhenti, dengan berbagai rasional yang dikemukakan oleh para pemilik kebijakan dan pengambil keputusan.

Sebagai gantinya—setidaknya untuk mengatasi masalah kekurangan guru—sejak 2016, ada Program Guru Garis Depan (GGD), yaitu penugasan guru ke berbagai daerah tertinggal di seluruh Tanah Air. Ada sekitar 7000-an GGD yang telah diangkat sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) dan mengisi kekurangan guru di berbagai pelosok Indonesia. Di pundak merekalah keberlangsungan pendidikan yang bermartabat di negeri ini kita titipkan. Sebagai alumni PPG SM-3T, GGD seharusnya adalah guru-guru yang ‘berbeda’, guru-guru yang benar-benar bisa menjadi ‘agent of change’, guru-guru yang akan menghasilkan anak didik menjadi sumber daya yang andal, yang memiliki keterampilan hidup sebagaimana tuntutan era abad 21, serta mampu menjamin terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara di masa depan.

Tarakan, 22 Agustus 2017


SELESAI

Nunukan 3: Menjelajah Pulau Sebatik

Siang yang terik tak menghalangi saya dan Mas Febry untuk mewujudkan niat menjelajah Nunukan. Sejak kedatangan kami siang hari kemarin, Nunukan terlalu biasa, dan kami yakin, pasti ada sisi-sisinya yang menarik. Memang benar, begitulah kata Bu Rus. Tapi tempat-tempat itu ada di pulau-pulau seberang, dan kita perlu berjam-jam untuk menjangkaunya. Tapi ada pulau yang terdekat yang masih mungkin dijangkau, yaitu Pulau Sebatik.

Selesai acara di kabupaten, berkat fasilitasi dari Pak Ridwan, Kabid Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nunukan, yang sejak kemarin memantau kehadiran kami, kami mengunjungi Pulau Sebatik. Namun sebelum menyeberang, kami mengunjungi Islamic Center yang megah dengan pemandangan alam laut dan Pulau Sebatik di depannya. Megah dan indah, meski untuk mencapainya, jalan yang dilalui bukan jalan beraspal. Di sinilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-2 tingkat Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), tanggal 12-18 Mei 2017 yang lalu diselenggarakan. Kalau kita berdiri memandang sampai pada batas kaki langit di depan, di sisi kiri adalah wilayah Malaysia, dan di sini kanan adalah wilayah Indonesia.

Tidak berlama-lama di Islamic Center, mengingat hari sudah semakin siang, kami segera menuju Pelabuhan Penyeberangan Sei Jepun, Kecamatan Nunukan Selatan, menuju ke Dermaga Rakyat Desa Binalawan Kecamatan Sebatik Barat. Hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 20 menit dengan kapal motor. Di sana, Camat Sebatik Barat, Bapak Akhmad, S. IP, M. Si, telah menunggu. Lengkap dengan staf yang akan menjadi driver dan mobil double cabin.

Saya dan Mas Febry duduk di jok tengah, di depan ada Pak Achmad dan stafnya yang memegang setir. Di belakang, di bak terbuka itu, ada tiga orang peserta SM-3T yang ikut mendampingi. Kami berkendara mengelilingi Pulau Sebatik. Bila terus berkendara, kami memerlukan waktu sekitar dua jam, dengan menempuh perjalanan sekitar 60 kilometer. Dimulai dari Sebatik Barat, Sebatik Induk, Sebatik Timur, Sebatik Utara, dan Sebatik Tengah. Di sepanjang perjalanan, kami menikmati deretan kebun kelapa, kakao, dan juga pisang. Pisang Sebatik sangat bagus mutunya dan umumnya dijual ke Brunei. Oleh karena berdekatan dengan Tawau, Malaysia, penduduk Sebatik juga banyak yang memilih melakukan aktivitas jual beli ke Tawau daripada ke Nunukan. Mata uang ringgit beredar juga di Nunukan karenanya.

Pulau Sebatik termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Sebatik, yaitu kecamatan paling timur di kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Pulau ini memang terbagi dua. Belahan utara merupakan wilayah Negara Bagian Sabah, Malaysia, sedangkan belahan selatan merupakan wilayah Indonesia. Dengan letak wilayah seperti ini, Sebatik bisa dikatakan sebagai daerah terdepan dan terluar, dan rentan dari sisi pertahanan dan keamanannya bila tidak diurus dengan baik. Kekalahan Indonesia dalam mempertahankan Sipadan dan Ligitan salah satunya adalah karena Malaysia bisa menunjukkan fakta pada Mahkamah Internasional bahwa dialah yang selama ini mengurus pulau tersebut dan masyarakatnya, sementara Indonesia hanya bisa memberikan fakta berdasarkan penetapan wilayah.

Jalan Perbatasan di Nunukan.
Kami juga sempat menikmati makan siang di Rumah Makan Cahaya Pare di Desa Sei Nyamuk. Saya pikir pemiliknya dari Jawa, karena menu yang disediakan adalah menu Jawa: rawon, penyet ayam, soto, dan sebagainya. Tapi ternyata pemiliknya adalah orang Sebatik, entah dari mana dia berasal. Oya, Pak Camat Sebatik adalah orang asli Bojonegoro, dan terdampar di Nunukan sejak tahun 1990. Karir awalnya adalah sebagai guru sekaligus staf tata usaha SMPN 1 Nunukan. Kemudian pernah menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Dinas Pendidikan (Kasubag Disdik) Nunukan. Beliau juga pernah menjabat di Dinas Perhubungan, Dinas Pertambangan, dan jabatan terakhir sebelum menjadi camat adalah Sekretaris Disdik Kabupaten Nunukan. Makan siang kami di sini adalah atas ‘traktiran’ Bapak Camat yang ramah dan baik hati ini.


Jembatan Perbatasan Desa Sei Pancang Kecamatan Sebatik Utara
Kami juga berhenti di Jembatan Perbatasan Desa Sei Pancang Kecamatan Sebatik Utara. Jembatan tersebut panjangnya 2000 meter. Beberapa waktu yang lalu, di tempat ini, diselenggarakan acara memecahkan rekor Muri dengan pengibaran bendera merah putih terbanyak. Kami bertemu dengan dua orang penjaga dari TNI AL. Salah seorang dari mereka dari Jawa juga, tapi saya lupa persisnya dari Jawa bagian mana. Di tempat jaga mereka, tertulis: POS TNI AL SEI PANCANG, TEGAR MENJAGA PERBATASAN. Di sisi dinding yang lain, terpampang poster Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI. Ada juga poster tentang Kekuatan Unsur Lawan. Di tengah laut yang begitu luas dan sepi, dua abdi negara itu berjaga siang dan malam, tentu saja bergantian dengan rekan-rekannya yang lain. Sedangkan sejauh mata memandang, adalah kaki langit, dengan wilayah Tawau, Malaysia di sebelah kiri, dan Wilayah Sebatik, Indonesia, di sebelah kanan. Benar-benar membuat saya takjub.

Ketakjuban kami tidak hanya sampai di situ. Saat kami berhenti di patok perbatasan 3 di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, kami bisa menjadi orang sakti mandraguna. Betapa tidak. Pada detik yang sama, satu kaki kita bisa berada di Wilayah Indonesia, dan satu kaki yang lain berada di Wilayah Malaysia. Ya. Kami berdiri persis di bendera penanda patok perbatasan. Di dekat bendera merah putih kecil itu, berdiri tugu kecil dengan tulisan: Kokohkan MERAH PUTIH di Tapal Batas. Tugu itu diresmikan pada 17 Agustus 2009, dan ditandatangani oleh tokoh masyarakat Sebatik dan Danramil Sebatik. Begitulah masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut, bisa jadi ruang tamu rumah mereka ada di wilayah Indonesia, sementara ruang dapurnya ada di wilayah Malaysia. Bahkan jalan kecil yang ada di depan patok perbatasan itu pun namanya adalah Jalan Perbatasan.

Kekecewaan saya pada Nunukan sirnalah sudah. Meski tidak saya temukan barang-barang etnik di Kota Nunukan, saya menemukan tempat-tempat yang sangat bersejarah dan bermakna. Selain itu, kami juga menemukan durian Sebatik yang meskipun ukurannya tidak terlalu besar, tapi manis dan legitnya….wow.

Kami kembali ke Nunukan melewati Desa Sei Limau Kecamatan Sebatik tengah. Sei, artinya sungai. Di Nunukan, banyak tempat yang awal katanya Sei, karena di sana banyak sungai. Kami menyeberang lewat Dermaga Rakyat Desa Bambangan. Di sinilah keprihatinan saya kembali menyeruak. Wilayah yang katanya rutin mendapatkan kunjungan dari para pejabat daerah dan pusat ini, kondisi lingkungannya sungguh-sungguh memprihatinkan. Sampah yang memenuhi selokan-selokan dan perairan-perairan yang di atasnya padat dengan rumah-rumah penduduk. Aroma busuk air mampat bercampur dengan sampah sangat mengganggu indera penciuman. Entah bagaimana orang bisa betah hidup bertahun-tahun dalam kondisi kotor dan bau seperti ini. Perlu edukasi, perlu intervensi, perlu contoh nyata, dari para pemuka wilayah dan tokoh masyarakat.


Sebatik, 21 Agustus 2017

Nunukan 2: Kisah Pengabdian di Tau Lumbis dan Krayan Selatan

Pagi yang cerah menemani aktivitas kami di Hotel Laura. Makan pagi telah siap dan peserta SM-3T telah memenuhi ruang makan sejak pukul 06.30. Menunya sederhana, khas hotel kecil. Nasi putih, ca sayuran, ayam bumbu kecap, dan krupuk.

Hari ini pukul 09.00, akan dilaksanakan acara pelepasan peserta SM-3T di Kabupaten Nunukan. Yang melepas langsung bupati. Kepala Dinas sedang beribadah haji, dan yang mewakili pejabat dinas adalah Pak Ridwan, Kepala Bidang Ketenagaan. Pak Ridwan telah berkoordinasi dengan saya sejak beberapa minggu yang lalu terkait pelepasan dan penjemputan peserta SM-3T ini.

Kantor Kabupaten Nunukan cukup megah. Kami naik melalui lift ke lantai 7, tempat acara diselenggarakan. Ruangan cukup besar, tertata apik. Meski di luar sudah cukup panas, di dalam ruangan sejuk karena AC. Tak perlu menunggu lama, bupati hadir, dan acara pun segera dimulai. Bupati, saya, dan Pak Ridwan, duduk di depan. Ada para undangan di sebelah kiri kami, peserta SM-3T di depan kami, dan belasan fotografer-termasuk dari media - di beberapa titik.

Bupati Nunukan benar-benar cantik, secantik fotonya yang saya lihat di warung dekat Hotel Laura semalam. Posturnya tidak terlalu tinggi, tubuhnya langsing. Dandanannya tidak berlebihan, berkerudung dengan motif bunga-bunga, serasi sekali dengan baju coklat seragam pemda yang dikenakannya. Awalnya saya menangkap kesan ‘jaim’ memang, tetapi kesan itu menjadi agak cair ketika saya mengajaknya mengobrol.

Acara demi acara berjalan lancar. Yang paling berkesan adalah kesan-pesan dari dua wakil peserta. Salah satunya adalah Arham, peserta yang bertugas di Tau Lumbis. Dia bertugas di SMP 2 Lumbis Ogong. 

Saat menceritakan awal kedatangannya ke Nunukan, kemudian harus menempuh jarak berjam-jam menuju Tau Lumbis dengan perahu bermotor dan melawan riam-riam sungai yang sangat deras airnya,  sementara pelampung yang dibawanya sungguh bukan pelampung yang ‘aman’, membuatnya benar-benar seperti sedang berada di dunia lain. Namun demikian, dia mengisahkannya dengan gayanya yang khas dan sangat menarik, kocak, termasuk saat menyampaikan sindiran halus pada Bupati supaya beliau hadir menengok anak-anak sekolah di tempat tersebut. 

Arham juga bercerita, untuk mendapatkan sinyal, mereka harus menyeberang dan biaya untuk menyeberang itu tidaklah murah, yaitu sekitar Rp.1.000.000,-. “Jadi, hanya untuk mendengar suara orang tua, kami harus rela mengeluarkan biaya satu juta rupiah’’ begitu katanya.         

Arham juga sangat menyayangkan etos kerja guru yang sangat rendah termasuk guru-guru yang sudah bersertifikat sebagai guru profesional, dan berharap mereka akan meningkatkan kinerjanya, karena sesungguhnya, merekalah tulang punggung sekolah. Sebagai daerah perbatasan, Arham juga melihat, betapa jauh kondisi pendidikan di Nunukan dengan kondisi di tetangga sebelah, yaitu di Malaysia. Sangat jauh bedanya, baik kondisi sarana prasarana sekolah dan infrastruktur yang lain, juga kondisi kesejahteraan masyarakatnya. Namun Arham terus menanamkan rasa cinta Tanah Air pada para siswa, dan dengan tegas dia menyatakan: “di tanah ini kita dilahirkan, di tanah ini kita dibesarkan, dan tanah ini jugalah yang akan menutup jasad kita kelak”.

Wakil dari peserta yang lain, Ria Utami, ceritanya tak kalah seru. Gadis manis yang ditugaskan di Krayan Selatan itu tak pernah menyangka kalau untuk menuju tempat tugasnya, dari Nunukan dia harus menumpang pesawat kecil menuju bandara perintis Long Bawan. 

Nama Krayan sudah ada dalam kepalanya sebelum ada kepastian tempat tugas, lengkap dengan semua ‘cerita seram’ tentang tempat tersebut. Dia selalu berdoa semoga bukan Krayanlah tempat dia ditugaskan. Namun kenyataan berkata lain. 

Krayan adalah dunia baru yang akan dihuninya selama setahun. Tak ada pilihan. Dengan perasaan tak menentu, terbanglah dia bersama lima rekan lainnya menuju Krayan. Meski begitu, Ria dan kawan-kawannya tak perlu berlama-lama untuk bisa beradaptasi dengan segala keterbatasan yang ada. 

Mandi, mencuci, mengambil air di sungai menjadi keseharian yang dinikmatinya bersama anak-anak didik dan masyarakat setempat. Listrik dan sinyal yang langka menjadi lagu-lagu indah yang menepiskan kesedihan mereka. Lagi pula, kata Ria, Krayan menyediakan banyak kekayaan alam yang membuat mereka tak perlu takut kelaparan. Daun pakis, beragam jamur, ikan laut, kijang, landak, monyet, macan, musang, semua tersedia. Juga beras Krayan yang sangat enak itu. Putih, kenyal, seperti mengandung jeli, begitu cerita Ria. 

Kecamatan Krayan memang merupakan penghasil beras terbesar di Kabupaten Nunukan, yaitu beras adan, yang dihasilkan dari tanaman padi unggul organic. Beras ini banyak dipasarkan ke Malysia dan Brunei. Krayan juga memiliki garam gunung yang unik. Ya, garam gunung yang dihasilkan dari pengolahan sumur air bergaram, bukan garam laut seperti yang biasa kita konsumsi. Krayan sendiri terletak di bagian barat Kabupaten Nunukan dan berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Jumlah penduduknya sekitar 1.150 ribuan jiwa yang sebagian besar adalah penduduk asli pedalaman Kalimantan yaitu Suku Dayak Lundayeh.

Saat giliran saya untuk memberi sambutan sebagai wakil dari Unesa, saya menyampaikan harapan saya pada para peserta SM-3T untuk terus menjaga passion sebagai guru yang tidak hanya menjadikan profesi tersebut sebagai ajang mengais rezeki. Guru yang mengispirasi adalah mereka yang mendedikasikan diri untuk anak didik dan pendidikan dengan sepenuh hati. 

Saya juga tegaskan pada bupati, bahwa adanya kekurangan guru di daerah 3T, termasuk Kabupaten Nunukan, baik dalam jumlah maupun kualifikasi, tak dipungkiri adanya. Namun berdasarkan pengamatan saya setelah bertahun-tahun melakukan kunjungan di berbagai kabupaten 3T, faktor penghambat terbesar dalam pembangunan pendidikan bukanlah karena kekurangan guru atau terbatasnya sarana-prasarana atau kendala geografis. 

Faktor penghambat terbesar adalah etos kerja guru yang rendah. Ya. Ditambah lagi dengan minimnya figur panutan. Kepala sekolah yang tidak segan-segan mangkir dari tugas. Guru PNS dan bahkan sudah bersertifikat pendidik yang tak merasa berdosa menelantarkan kelas dan anak didik. Artinya, kendala terberat itu ada pada kultur, pada budaya. Dengan demikian, sosok pemimpin yang ‘membumi’, yang bisa menjadi teladan, yang peduli pada peningkataan kompetensi guru dan kinerja semua pelaku pendidikan, mutlak diperlukan. Mengingat pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia yang paling rasional untuk memangkas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan peradaban, maka tidak ada pilihan, kepala daerah harus benar-benar memberi perhatian khusus pada percepatan pembangunan pendidikan di wilayahnya.

Pagi ini acara pelepasan Guru SM-3T Unesa oleh Bupati Kabupaten Nunukan ditutup dengan penyerahan cindera mata, baik dari bupati kepada Unesa dan GTK, maupun dari Unesa kepada bupati. Seperti biasa, Unesa menyerahkan buku-buku sebagai kenang-kenangan. Buku yang berisi kisah-kisah inspiratif pengalaman mengabdi selama mengemban tugas sebagai guru SM-3T, yang ditulis oleh para peserta SM-3T angkatan sebelumnya. Harapan saya, buku itu akan dibaca oleh bupati dan jajarannya, kepala dinas pendidikan dan jajarannya, kepala sekolah dan guru-guru, dan bisa menjadi inspirasi bagi mereka semua untuk lebih meningkatkan kinerjanya dalam mengemban tugas mengurus pendidikan.


Nunukan, 21 Agustus 2017

Nunukan 1: Tak Ada yang Istimewa

Panas menyengat menyambut kedatangan kami di Bandar Udara Nunukan. Waktu sekitar pukul 14.00. Hentakan Karlstar yang keras saat menyentuh landasan beberapa menit yang lalu seperti masih terasa. Pesawat berkapasitas 48 orang itulah yang membawa kami terbang dari Tarakan menuju Nunukan dengan waktu sekitar tiga puluh menit. Sebuah perjalanan udara yang singkat. Papan nama “Selamat Datang di Bumi Penekindi Debaya” menarik perhatian saya dan begitu saja menepiskan lelah dan gerah yang saya rasakan. Spontan hati saya bertanya, “apakah artinya penekindi debaya?” Lewat Wikipedia, saya temukan bahwa istilah tersebut berasal dari Bahasa Tidung, yang artinya: “Membangun Daerah”.

Saya bersama Mas Febry Irsiyanto, staf LP3M Unesa, segera memasuki gedung terminal yang kecil itu, mengingatkan saya pada gedung terminal di Waingapu, Melongwane, Wamena, Kasonaweja, Saumlaki, dan bandara perintis lainnya yang pernah saya singgahi. Tak berapa lama, kami keluar dari gedung bandara dengan membawa bagasi kami, dan menuju hotel dengan diantar mobil kijang hijau yang sudah disiapkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan.

Kedatangan saya dan Mas Febry di salah satu kabupaten di Kalimantan Utara ini adalah dalam rangka melaksanakan tugas menjemput Peserta SM-3T Unesa Angkatan VI. Ada sebanyak 84 peserta yang saat ini seluruhnya sudah berkumpul di Nunukan. Sebagian di Hotel Maspul dan sebagian lagi di Hotel Laura. Hotel Laura, kabarnya adalah hotel milik Ibu Bupati. Nama lengkap bupati adalah Hj. Asmin Laura Hafid, SE., MM. Masih muda, 32 tahun. Cantik jelita. Setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap saat melihat fotonya bersama Wakil Bupati yang ada di pigura di dinding sebuah warung makan di sekitar Hotel Laura.

Hari ini tidak banyak yang saya lakukan. Saya bahkan menghabiskan sore saya dengan membuka laptop dan mengerjakan pekerjaan rumah saya yang menumpuk. Menjelang maghrib, saya keluar kamar untuk berkoordinasi dengan Mas Febri dan Korlap SM-3T Nunukan, Afif, tentang rancangan acara pelepasan besok pagi di Kabupaten. Tidak ada hal yang urgen. Semua acara sudah disiapkan oleh Dinas dan staf GTK. Transportasi diatur oleh biro perjalanan yang dikondisikan langsung dari Jakarta. Konsumsi peserta sehari-hari juga semua sudah dipesan oleh GTK. Tugas saya dan Mas Febri hanya menjemput dengan peran sesuai yang tertuang dalam SOP Penjemputan.

Selepas maghrib, kami berkoordinasi, atau lebih tepatnya, berbincang dengan dua staf Dinas. Satu orang staf sedang mempersiapkan kelengkapan administrasi dan meminta para peserta SM-3T untuk menandatangani berkas-berkas. Seorang lagi, menemani kami makan malam dengan menu yang saya sebenarnya tidak terlalu berselera.

Sepertinya saya belum menemukan sesuatu yang ‘wow’ sejak siang sampai malam ini. Kota Nunukan yang diresmikan pada 4 Oktober 1999 ini bagi saya sangat-sangat biasa. Setidaknya itulah yang saya lihat di sepanjang jalan dari Hotel Laura menuju alun-alun. 

Bersama Pak Fadli, staf Dinas, dan Mas Febry, kami memilih jalan-jalan malam itu sambil menikmati suasana Kota Nunukan. Toko-toko dan minimarket serta pedagang kaki lima memenuhi sepanjang jalan. Penjual makanan dengan menu-menu Jawa, ayam penyet, soto, seafood, nasi goreng, capcay, sangat biasa. Tidak ada taman-taman kota yang indah. Tidak ada kios-kios yang menjual pernak-pernik etnik. Tidak ada hasil bumi atau hasil laut khas Nunukan. Biasa-biasa saja. Nunukan di mata saya bahkan cenderung semrawut dan kurang bersih.

Beda sekali kesan pertama saya saat mengunjungi daerah 3T yang lain. Sumba Timur dengan kain tenun dan beragam aksesorisnya yang khas, serta tumpukan ikan dan hasil bumi di pasar-pasar tradisional. Sorong yang kaya dengan hasil bumi dan—yang sangat berkesan bagi saya—daun gatal. Wamena dan Mamberamo Tengah yang memiliki bunga plastik, buah merah, noken, dan koteka. Mamberamo Raya dengan papeda dan ulat sagunya. Talaud dengan lobster, umbi-umbian, dan sambal dabu-dabu. Menado dengan  bubur tinutuan dan nasi jaha. Kupang dengan dendeng sapi dan sei. Dan sebagainya.

Kesukaan saya setiap kali mengunjungi tempat baru, selalu yang saya cari adalah apa yang khas. Bisa berupa makanan, barang kerajinan, atau adat istiadat dan budaya. Saya hobi blusukan di pasar tradisional atau ke kampung-kampung untuk melihat kehidupan masyarakat. Namun di Nunukan ini, sepertinya saya belum beruntung karena saya belum menemukan apa yang saya cari. Mungkin juga karena saya belum cukup melakukan penjelajahan.

Saat saya bertanya pada Pak Fadli, di mana pasar tradisonal, jawabannya bukan seperti harapan saya. Dia menyebut sebuah tempat dan di situ dia bilang, kita bisa mudah menemukan baju-baju dan lain-lain yang diimport dari Malaysia, termasuk baju-baju bekas. Padahal maksud saya adalah pasar tradisional yang di situ kita bisa mendapatkan hasil bumi, hasil laut, dan barang-barang khas lainnya.

Hal ini mungkin dikarenakan Nunukan sudah banyak kehilangan penduduk aslinya. Penduduk Nunukan lebih banyak para pendatang dari Jawa, Makassar, Sulawesi. Penduduk asli, Suku Tingalan atau Dayak Agabag, menjadi kelompok minoritas dan tinggal di pedalaman-pedalaman. Suku ini kabarnya tidak hanya ada di Kabupaten Nunukan, namun juga di Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Malinau, bahkan juga di negara tetangga, Malaysia, yaitu di Sabah dan Tawau.

Malam ini saya dan Mas Febry sempat berbincang dengan Ibu Rus, kepala sekolah SMK Sei Menggaris. Sei Menggaris bisa ditempuh dengan speedboat dalam waktu tempuh sekitar dua jam dari Nunukan kota. Ibu Rus datang ke Nunukan dalam rangka mengantar siswanya berobat, sekaligus ingin melepas tujuh guru SM-3T yang ditugaskan di sekolahnya. Berbagai cerita mengalir deras dari mulutnya. Kisah awal mula perempuan Bugis itu terdampar di Sei Menggaris. Juga cerita tentang perjuangannya memajukan SMK tempatnya bertugas. Tentang etos kerja sebagian besar guru lokal yang memprihatinkan dan etos kerja guru SM-3T yang strong, begitu dia menyebutnya. Kehadiran guru SM-3T telah sangat amat berarti dalam mempersiapkan akreditasi sekolah serta penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Dia bilang, tanpa bantuan guru-guru yang luar biasa itu, tidak mungkin semuanya itu bisa dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sangat baik. Yang membuatnya sedih, dia dan seluruh warga sekolah dan masyarakat Sei Menggaris harus kehilangan guru-guru SM-3T tersebut. Namun ada yang membuatnya agak lega, adalah kehadiran 6 Guru Garis Depan (GGD), yang akan ditugaskan di sekolahnya mulai minggu ini. Meski, dia menyayangkan, karena latar belakang pendidikan keenam guru tersebut dari mata pelajaran kelompok adaptif dan normatif. Padahal yang dia butuhkan adalah guru-guru dari kelompok produktif. Namun, dia menghibur diri, siapa pun yang menjadi guru di tempatnya dan juga di sekolah-sekolah lain di pedalaman Nunukan, harus bisa mengajar mata pelajaran apa pun, tak perduli latar belakang pendidikannya. Begitulah, cerita lama itu terus saja terulang, di mana guru-guru SM-3T menjelma menjadi ‘guru serba bisa’ di tempatnya bertugas. Saya katakan pada Bu Rus, semoga tidak terjadi malapraktek pendidikan. Karena bagaimana pun, guru-guru bidang adaptif dan normatif tentulah tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengajar praktek mata pelajaran kelompok produktif.

Ya, tapi mereka bisa mengajar sambil belajar, dan belajar sambil mengajar. Begitulah saya dan Bu Rus bersepakat. Ya…ya, setidaknya mereka masih lebih baik karena mereka berada di sekolah dan memastikan siswa-siswa akan terlayani. Setidaknya mereka tidak membiarkan kelas-kelas menjadi kosong dan sepi dan siswa-siswa terlantar. Setidaknya mereka siap mendampingi siswa untuk belajar dan menjadi fasilitator yang baik serta bersama-sama mencari solusi atas masalah apa pun yang dihadapi dalam belajar.

Nunukan, 20 Agustus 2017

Minggu, 26 Maret 2017

Ng-Uber

Sehari ini saya ng-uber tiga kali. Pertama, pagi jam 08.00, dari rumah menuju PPG Kampus Lidah Wetan. Saya hanya membayar Rp.17.000,-. Kedua, dari kampus Lidah Wetan, sekitar jam 10.00, menuju Hotel Ibis Styles jalan Jemursari. Bayarnya Rp.35.000. Ketiga, selesai acara di Ibis, sekitar pukul 13.00, pulang ke rumah. Bayarnya Rp.11.000,-. 

Jadi dengan rute perjalanan sejauh itu, saya hanya mengeluarkan uang Rp.63.000,-. Padahal, saat saya naik taksi argo, dari rumah ke Kampus Lidah Wetan atau sebaliknya, bisa bayar lebih dari Rp.100.000,- Artinya, dengan menggunakan taksi online semacam uber, kita bisa berhemat tiga sampai lima kali lipat.

Murah banget kan? Tapi bukan murahnya itu yang saya mau tulis di sini. Saya ingin berbagi tentang profil para driver. Tentu saja sebatas hasil bincang-bincang dalam perjalanan tersebut.

Driver pertama, cewek, namanya--sebut saja Rini. Alumni Prodi Psikologi Unesa, lulus 2013, single, cantik, bersih, berambut panjang, modis. Dia bekerja di perusahaan konsultan IT, bagian HRD, di daerah Jemursari. Ng-uber hanya hari Sabtu-Minggu saja, sebagai pengisi waktu luang. Saat saya pesan uber lewat aplikasi di ponsel saya tadi, posisi dia ada di Gunungsari, jadi saya menunggunya hanya sekitar tujuh menit. Setelah saya duduk dalam mobilnya yang bersih dan wangi, dengan sopan dia memperkenalkan diri dan bertanya, "ibu terburu-buru atau tidak?" Saya jawab, "biasa saja, tidak terburu-buru."  Saya khawatir juga kalau saya bilang terburu-buru, dia akan menyetir dengan kecepatan tinggi alias ngebut. Tak terbayang gadis cantik dan bersih dengan jari-jari lentiknya yang sedang memegang setir itu membawa mobil seperti pembalap.

Sepanjang perjalanan, kami mengobrol. Saya sempat bertanya bagaimana pendapatnya tentang pro kontra taksi online. Dia malah memberi tahu, "besok ada sweeping lho, bu." Terus dia menambahkan, sebenarnya tidak masalah taksi online dilarang, tapi perbaiki dulu transportasi umum. Keamanan dan kenyamanan naik angkot dan bus kota, katanya. Hm, saya pikir anak ini objektif. Dia bisa memahami penolakan moda transportasi konvensional terhadap taksi online. Tapi dia tetap berpihak pada pelanggan. "Rider kan juga pingin kenyamanan, keamanan, dan kepraktisan, Bu. Itu hak mereka." 

Driver kedua, anak muda juga, saya perkirakan usianya sekitar 35 tahun. Tidak muda lagi ya? Hehe. Dia asli Salatiga. Tinggal di Lakarsantri bersama istri dan dua orang anaknya. Anak pertamanya, cowok, usia 6 tahun, kelas 1 SD. Anak keduanya, cewek, 2,5 tahun, sekolah di PAUD. Istrinya, asli Semarang, buka warung kopi di rumah. Ng-uber dan Nge-grab memang mata pencaharian dia. Awalnya dia mau jadi supir taksi Blue Bird, tapi karena kondisi seperti ini, dia urungkan niat jadi supir taksi konvensional itu, dan dia menyewa mobil untuk digunakannya ng-uber dan nge-grab. 

Saat saya tanya, bagaimana dengan problem antara taksi online dan konvensional, dia bilang, yang salah pemerintah. Pemerintah sudah mengeluarkan keputusan persetujuan operasional taksi online, sekarang gamang karena banyak pihak yang protes. Itu kan tidak tegas namanya. Lagi pula pelanggan kan punya hak memilih. Butuh kenyamanan, keamanan, kepraktisan. "Kalau taksi online mau dilarang, kayaknya nggak mungkin, Bu, sudah terlanjur merajalela," katanya. 

Selesai rapat koordinasi international conference di Hotel Ibis, saya kembali menghubungi uber. Kali ini drivernya sudah senior. Pensiunan kepala kantor pos. Ya, pensiunan kepala kantor pos, Saudara. Sudah pernah menjelajah seantero Tanah Air, karena sebagai pejabat, beliau sering ditugaskan berpindah-pindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Terakhir beliau bertugas di Probolinggo. Putrany empat, sudah berkeluarga semua, juga tersebar di beberapa kota: Balikpapan, Jakarta, Surabaya, dan Palangkaraya. Sukses semua. Sekarang dia tinggal bersama istrinya saja, di Probolinggo. Main ke Surabaya kalau kangen cucu. 

Nah, ng-uber hanya untuk mengisi waktu saja. Iseng saja. Iseng-iseng dapat duit. Dia beli mobil baru di akhir 2016, saat sebuah show room mobil di Surabaya cuci gudang, jadi dapatnya harga yang sangat murah. Mobil itulah yang dipakainya untuk ng-uber saat ini. Kalau beliau nengok cucu di Surabaya, beliau akan tinggal seminggu-dua minggu. Jalan-jalan di Surabaya sambil ng-uber. Kadang dari Surabaya, beliau lanjut Yogya, nengok cucunya yang lain. Begitulah. Meskipun sudah berumur, beliau tidak langsung diam dan hanya mengharap uang pensiun. Masih produktif. Dan ini yang istimewa, meskipun beliau mantan pejabat, begitu jadi driver, sikapnya sangat sopan, sangat melayani, dan menerima tip yang saya berikan saat turun di depan rumah, dengan berkali-kali melontarkan ungkapan terima kasihnya.

Saya jadi teringat status yang ditulis sahabat saya di akun facebook-nya. Intinya kurang lebih tentang ketidaksetujuannya dengan keberadaan taksi online. Menurutnya, taksi online tidak seharusnya ada, karena tidak sesuai dengan peraturan layanan transportasi umum, dan drivernya seringkali bukanlah driver yang benar-benar butuh uang. Bukan sebagai mata pencaharian, melainkan sekadar mengisi waktu luang atau kerja sampingan. Sementara untuk taksi konvensional, menjadi supir taksi adalah satu-satunya mata pencaharian bagi para driver-nya.

Dari hasil ngobrol saya dengan tiga orang driver taksi online, apa yang diungkapkan teman saya itu ada benarnya, meskipun tidak sepenuhnya benar. Tidak semua orang ng-uber hanya untuk mengisi waktu luang atau sekadar kerja sampingan. Ada yang ng-uber memang benar-benar menjadi mata pencaharian andalannya. 

Apa pun itu, pada era informasi dan teknologi seperti saat ini, menolak segala sesuatu yang berbau online sepertinya sudah tidak mungkin, termasuk taksi online. Tak terhindarkan. Bagaimana pun semua orang harus menyesuaikan diri. Kata orang bijak, yang akan menjadi pemenang bukanlah mereka yang terkuat, namun mereka yang bisa menyesuaikan diri. Punya daya adaptabilitas tinggi. Coba lihat perusahaan-perusahaan besar dan berjaya pada masanya yang sekarang gulung tikar. Digilas kemajuan zaman, terkalahkan oleh perusahaan yang lebih mengandalkan kecepatan, kepraktisan, dan kenyamanan. Kemampuan untuk menyesuaikan diri itulah kunci untuk bisa bertahan dan berkembang dalam situasi apa pun.

Lagi pula, konsumen berhak memilih mana yang mereka inginkan. Bukan hanya soal harga. Tapi kenyamanan dan kepraktisan. Dengan uber, kita bisa memantau di mana posisi mobil yang akan menjemput kita, apa merk mobilnya, siapa driver-nya, seperti apa wajah driver-nya, bahkan berapa rupiah tarifnya, kita bisa tahu semua sebelumnya. Dan lain-lain kelebihannya, termasuk kebersihan kendaraan dan keramahan driver. Satu lagi, uber seringkali meluncurkan promo-promo. Pengalaman saya ng-uber hari ini adalah contohnya. Saya dikenakan tarif discount 50 persen. Menyenangkan sekali kan? 

Saya tidak sedang membela taksi online, meskipun akhir-akhir ini saya memang menjadi pelanggan taksi online. Saya hanya ingin menegaskan, bagaimana pun taksi konvensional harus berbenah dan mencari cara-cara cerdas untuk bisa tetap eksis. Wacana akan adanya peraturan yang mengendalikan harga taksi, sehingga selisih tarif antara taksi online dan konvensional tidak terlalu tinggi, sepertinya tidak akan banyak mempengaruhi pilihan pelanggan untuk tetap menggunakan taksi online. Jadi, bangkit dan berbenahlah, taksi konvensional. Bangkit dan berbenahlah angkot, bus kota, dan moda transportasi umum yang lain. Bangkit dan berbenahlah sesuai dengan tuntutan zaman, atau kalian akan gulung tikar.

Surabaya, 18 Maret 2017

LN