Pages

Minggu, 26 Maret 2017

Ng-Uber

Sehari ini saya ng-uber tiga kali. Pertama, pagi jam 08.00, dari rumah menuju PPG Kampus Lidah Wetan. Saya hanya membayar Rp.17.000,-. Kedua, dari kampus Lidah Wetan, sekitar jam 10.00, menuju Hotel Ibis Styles jalan Jemursari. Bayarnya Rp.35.000. Ketiga, selesai acara di Ibis, sekitar pukul 13.00, pulang ke rumah. Bayarnya Rp.11.000,-. 

Jadi dengan rute perjalanan sejauh itu, saya hanya mengeluarkan uang Rp.63.000,-. Padahal, saat saya naik taksi argo, dari rumah ke Kampus Lidah Wetan atau sebaliknya, bisa bayar lebih dari Rp.100.000,- Artinya, dengan menggunakan taksi online semacam uber, kita bisa berhemat tiga sampai lima kali lipat.

Murah banget kan? Tapi bukan murahnya itu yang saya mau tulis di sini. Saya ingin berbagi tentang profil para driver. Tentu saja sebatas hasil bincang-bincang dalam perjalanan tersebut.

Driver pertama, cewek, namanya--sebut saja Rini. Alumni Prodi Psikologi Unesa, lulus 2013, single, cantik, bersih, berambut panjang, modis. Dia bekerja di perusahaan konsultan IT, bagian HRD, di daerah Jemursari. Ng-uber hanya hari Sabtu-Minggu saja, sebagai pengisi waktu luang. Saat saya pesan uber lewat aplikasi di ponsel saya tadi, posisi dia ada di Gunungsari, jadi saya menunggunya hanya sekitar tujuh menit. Setelah saya duduk dalam mobilnya yang bersih dan wangi, dengan sopan dia memperkenalkan diri dan bertanya, "ibu terburu-buru atau tidak?" Saya jawab, "biasa saja, tidak terburu-buru."  Saya khawatir juga kalau saya bilang terburu-buru, dia akan menyetir dengan kecepatan tinggi alias ngebut. Tak terbayang gadis cantik dan bersih dengan jari-jari lentiknya yang sedang memegang setir itu membawa mobil seperti pembalap.

Sepanjang perjalanan, kami mengobrol. Saya sempat bertanya bagaimana pendapatnya tentang pro kontra taksi online. Dia malah memberi tahu, "besok ada sweeping lho, bu." Terus dia menambahkan, sebenarnya tidak masalah taksi online dilarang, tapi perbaiki dulu transportasi umum. Keamanan dan kenyamanan naik angkot dan bus kota, katanya. Hm, saya pikir anak ini objektif. Dia bisa memahami penolakan moda transportasi konvensional terhadap taksi online. Tapi dia tetap berpihak pada pelanggan. "Rider kan juga pingin kenyamanan, keamanan, dan kepraktisan, Bu. Itu hak mereka." 

Driver kedua, anak muda juga, saya perkirakan usianya sekitar 35 tahun. Tidak muda lagi ya? Hehe. Dia asli Salatiga. Tinggal di Lakarsantri bersama istri dan dua orang anaknya. Anak pertamanya, cowok, usia 6 tahun, kelas 1 SD. Anak keduanya, cewek, 2,5 tahun, sekolah di PAUD. Istrinya, asli Semarang, buka warung kopi di rumah. Ng-uber dan Nge-grab memang mata pencaharian dia. Awalnya dia mau jadi supir taksi Blue Bird, tapi karena kondisi seperti ini, dia urungkan niat jadi supir taksi konvensional itu, dan dia menyewa mobil untuk digunakannya ng-uber dan nge-grab. 

Saat saya tanya, bagaimana dengan problem antara taksi online dan konvensional, dia bilang, yang salah pemerintah. Pemerintah sudah mengeluarkan keputusan persetujuan operasional taksi online, sekarang gamang karena banyak pihak yang protes. Itu kan tidak tegas namanya. Lagi pula pelanggan kan punya hak memilih. Butuh kenyamanan, keamanan, kepraktisan. "Kalau taksi online mau dilarang, kayaknya nggak mungkin, Bu, sudah terlanjur merajalela," katanya. 

Selesai rapat koordinasi international conference di Hotel Ibis, saya kembali menghubungi uber. Kali ini drivernya sudah senior. Pensiunan kepala kantor pos. Ya, pensiunan kepala kantor pos, Saudara. Sudah pernah menjelajah seantero Tanah Air, karena sebagai pejabat, beliau sering ditugaskan berpindah-pindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Terakhir beliau bertugas di Probolinggo. Putrany empat, sudah berkeluarga semua, juga tersebar di beberapa kota: Balikpapan, Jakarta, Surabaya, dan Palangkaraya. Sukses semua. Sekarang dia tinggal bersama istrinya saja, di Probolinggo. Main ke Surabaya kalau kangen cucu. 

Nah, ng-uber hanya untuk mengisi waktu saja. Iseng saja. Iseng-iseng dapat duit. Dia beli mobil baru di akhir 2016, saat sebuah show room mobil di Surabaya cuci gudang, jadi dapatnya harga yang sangat murah. Mobil itulah yang dipakainya untuk ng-uber saat ini. Kalau beliau nengok cucu di Surabaya, beliau akan tinggal seminggu-dua minggu. Jalan-jalan di Surabaya sambil ng-uber. Kadang dari Surabaya, beliau lanjut Yogya, nengok cucunya yang lain. Begitulah. Meskipun sudah berumur, beliau tidak langsung diam dan hanya mengharap uang pensiun. Masih produktif. Dan ini yang istimewa, meskipun beliau mantan pejabat, begitu jadi driver, sikapnya sangat sopan, sangat melayani, dan menerima tip yang saya berikan saat turun di depan rumah, dengan berkali-kali melontarkan ungkapan terima kasihnya.

Saya jadi teringat status yang ditulis sahabat saya di akun facebook-nya. Intinya kurang lebih tentang ketidaksetujuannya dengan keberadaan taksi online. Menurutnya, taksi online tidak seharusnya ada, karena tidak sesuai dengan peraturan layanan transportasi umum, dan drivernya seringkali bukanlah driver yang benar-benar butuh uang. Bukan sebagai mata pencaharian, melainkan sekadar mengisi waktu luang atau kerja sampingan. Sementara untuk taksi konvensional, menjadi supir taksi adalah satu-satunya mata pencaharian bagi para driver-nya.

Dari hasil ngobrol saya dengan tiga orang driver taksi online, apa yang diungkapkan teman saya itu ada benarnya, meskipun tidak sepenuhnya benar. Tidak semua orang ng-uber hanya untuk mengisi waktu luang atau sekadar kerja sampingan. Ada yang ng-uber memang benar-benar menjadi mata pencaharian andalannya. 

Apa pun itu, pada era informasi dan teknologi seperti saat ini, menolak segala sesuatu yang berbau online sepertinya sudah tidak mungkin, termasuk taksi online. Tak terhindarkan. Bagaimana pun semua orang harus menyesuaikan diri. Kata orang bijak, yang akan menjadi pemenang bukanlah mereka yang terkuat, namun mereka yang bisa menyesuaikan diri. Punya daya adaptabilitas tinggi. Coba lihat perusahaan-perusahaan besar dan berjaya pada masanya yang sekarang gulung tikar. Digilas kemajuan zaman, terkalahkan oleh perusahaan yang lebih mengandalkan kecepatan, kepraktisan, dan kenyamanan. Kemampuan untuk menyesuaikan diri itulah kunci untuk bisa bertahan dan berkembang dalam situasi apa pun.

Lagi pula, konsumen berhak memilih mana yang mereka inginkan. Bukan hanya soal harga. Tapi kenyamanan dan kepraktisan. Dengan uber, kita bisa memantau di mana posisi mobil yang akan menjemput kita, apa merk mobilnya, siapa driver-nya, seperti apa wajah driver-nya, bahkan berapa rupiah tarifnya, kita bisa tahu semua sebelumnya. Dan lain-lain kelebihannya, termasuk kebersihan kendaraan dan keramahan driver. Satu lagi, uber seringkali meluncurkan promo-promo. Pengalaman saya ng-uber hari ini adalah contohnya. Saya dikenakan tarif discount 50 persen. Menyenangkan sekali kan? 

Saya tidak sedang membela taksi online, meskipun akhir-akhir ini saya memang menjadi pelanggan taksi online. Saya hanya ingin menegaskan, bagaimana pun taksi konvensional harus berbenah dan mencari cara-cara cerdas untuk bisa tetap eksis. Wacana akan adanya peraturan yang mengendalikan harga taksi, sehingga selisih tarif antara taksi online dan konvensional tidak terlalu tinggi, sepertinya tidak akan banyak mempengaruhi pilihan pelanggan untuk tetap menggunakan taksi online. Jadi, bangkit dan berbenahlah, taksi konvensional. Bangkit dan berbenahlah angkot, bus kota, dan moda transportasi umum yang lain. Bangkit dan berbenahlah sesuai dengan tuntutan zaman, atau kalian akan gulung tikar.

Surabaya, 18 Maret 2017

LN  

0 komentar

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...