Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Minggu, 07 Agustus 2022

Kang Zainal


Namanya Zainal Muttaqin. Kami memanggilnya Kang Zainal. Panggilan khas untuk semua santri laki-laki di pondok kakek kami, Kyai Chusain.

 

Kang Zainal, meskipun tidak mondok di pondok kakek saya-- waktu dia mondok, kakek saya sudah meninggal-- kami tetap memanggilnya Kang. Bapak kami menempatkannya di rumah, bukan di pondok. Dia disediakan kamar depan, makan sehari-harinya Ibu kami yang mengurusnya.

 

Ya, Kang Zainal yang asli Brebes ini diistimewakan oleh keluarga kami. Dia tuna netra. Makanya dia ditempatkan di rumah. Bapak dan Ibu tidak sampai hati menempatkannya di pondok, pasti dengan pertimbangan tertentu. Bapak saya setiap hari mengajarinya membaca Al Quran huruf braille, setelah mengajar para santri di pondok.

 

Itulah kenangan yang tersisa di memori saya tentang Kang Zainal. Saya masih SMP saat dia mondok di rumah. Setiap habis mengaji dan sarapan, dia berdiri mematung di halaman rumah, sambil bibirnya bergerak-gerak menghafal ayat-ayat yang baru saja dibacanya bersama Bapak.

 

Tiba-tiba, beberapa hari yang lalu, ada pesan masuk di ponsel saya. "Assalamualaikum wr wb. Saya Zainal Muttaqin."

 

Sejenak saya bertanya-tanya, siapa Zainal Muttaqin? Begitu saya lihat profilnya, masyaallah, saya seperti tak percaya, dialah Kang Zainal. Waktu puluhan tahun pasti sudah mengubahnya sedemikian rupa, namun saya masih bisa melihat dengan utuh sosoknya.

 

Kang Zainal bercerita, dia sekeluarga baru saja bersilaturahim ke rumah kami di Jenu-Tuban pertengahan Juli, sekitar sebulan yang lalu. Dia memperoleh nomor saya dari kakak saya, Mas Zen Zainal Makarim Azach .

 

Hari ini saya bersilaturahim ke rumahnya di Purwakarta. Bersama beberapa kolega dari Kemendes PDTT, karena semalam kami berkegiatan bersama para TPP Kabupaten Purwakarta.

 

Kami menemuinya saat dia sedang duduk di halaman belakang rumahnya yang terbuka dan menghadap perbukitan dan hutan. Ya, tempat tinggalnya memang dekat sekali dengan hutan, hanya sekitar satu kilometer dari tempat yang dinamakan Ujung Aspal. Benar-benar ujung aspal, karena setelah itu, tidak ada jalan lagi. Mentok hutan pinus. Kami berkesempatan healing juga ke hutan pinus itu, yang sudah disulap menjadi tempat wisata yang sangat menarik.

 

Wajahnya yang tenang dan teduh tak berubah meski garis-garis usia nampak begitu jelas. Jenggot panjang yang telah memutih melengkapi penampilannya. Dengan balutan baju gamis putih, kulitnya yang putih nampak semakin bersih. Tentu itu karena cahaya yang memancar dari kemurnian hatinya juga. Dari ketawadhu'annya. Dari keshalehannya.

 

Kami mengobrol, saling bercerita, bersama isterinya. Anaknya enam, semua mondok. Setiap bulan keluarganya mengadakan mauludan, setiap tahun mengadakan haul. Dia meng-haul-kan orang tua dan guru-gurunya, termasuk bapak saya, Abah Zawawi, begitu dia menyebutnya. Sesekali dia mengumpulkan anak-anak di lingkungannya, di antaranya adalah anak yatim. Dia juga hobi bersilaturahim ke sanak-saudara dan handai taulan, juga membiarkan pintu rumahnya terbuka untuk siapa pun orang yang ingin bertamu dengannya.

 

Kang Zainal, sampai pada usianya yang menjelang enam puluh tahun ini, hidup dengan sederhana tapi sangat layak. Dia tinggal di rumah yang besar dan nyaman meski sederhana, isterinya yang pintar memasak bisa berbelanja saban hari, dia juga memiliki kendaraan roda empat yang  juga nyaman.

 

Jangan ditanya berapa banyak pemasukannya per bulan. Dia tidak pernah bisa menjawab. Tapi dia mungkin masih bisa menjawab saat ditanya berapa pengeluarannya per bulan. Untuk membiayai keenam anaknya di pondok, mengumpulkan para kerabat untuk acara mauludan, menjamu tamu-tamu yang nyaris tak pernah jeda, membiayai perjalanannya dalam rangka silaturahim dan ziarah, pastilah belasan atau bahkan puluhan juta dia keluarkan. Dia bilang, rezekinya dikirim Allah, semata berkah dari para gurunya.

 

Keikhlasannya, keistiqomahannya, ketaatannya, kesyukurannya, membuat dia sekeluarga menjalani hidup dengan bahagia dan apa adanya. Kecintaannya pada Allah dan Rasul, kecintaannya pad Al Quran, benar -benar telah membuat hidupnya selalu berkecukupan.

 

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunianya" (QS Fathir: 29-30).

 

Purwakarta, 6 Agustus 2022

Minggu, 26 Juni 2022

Pasar Terapung


Berkali-kali ke Banjarmasin, baru kemarin saya sempat ke pasar terapung. Kami menumpang perahu dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari pangkalan. Pagi masih menyisakan subuh dan langit berhias pendar jingga. Air sungai coklat keruh dengan enceng gondok berbaur sampah di beberapa permukaannya. Rumah-rumah kayu di sepanjang sungai, dan para penghuni terlihat sedang beraktivitas. Mencuci baju, mencuci piring, memandikan si kecil, atau sekadar duduk-duduk sambil merokok. Beberapa perahu bersandar di rumah-rumah di atas sungai itu. Sebagian melaju dengan para perempuan dan laki-laki yang mengayuh perahu penuh dagangan, berpacu dengan waktu.

Sampai di pasar terapung, saya sungguh takjub. Saya sudah sering melihat di gambar-gambar, media sosial, televisi, pasar terapung di Banjar ini. Tapi semua yang saya lihat pagi kemarin jauh lebih indah dan menakjubkan. Bahkan lebih indah dari pasar terapung yang saya pernah kunjungi di Thailand. Tidak sekadar keindahan yang disuguhkan dari jajaran komoditi yang dijual di atas perahu-perahu kecil itu. Namun juga keindahan yang dipertontonkan oleh para peniualnya, para perempuan setengah baya dan lanjut usia yang giat mengayuh perahu dan merapatkan perahu-perahu mereka ke kapal penumpang. Lantas mereka menawarkan dagangannya kepada kami semua. Dengan senyum dan rayuan mautnya. Dilengkapi dengan pantun-pantun jenaka yang sungguh-sungguh menyegarkan. 

Oh indahnya pagi ini. Indahnya Indonesia. 

Jeruk, sawo, ikan asin,  rempeyek, bermacam jajanan, bahkan nasi bungkus, berpindah ke tangan kami. Bukan karena kami ingin melahapnya. Hanya karena kami menemukan alasan untuk sedikit berbagi. Menambah keindahan di mata-mata dan senyum-senyum yang sudah indah itu.

Sekitar setengah jam saja kami bercengkerama dengan para perempuan pejuang itu. Kapal kecil kami kembali ke pangkalan, meninggalkan pasar apung yang begitu mengesankan.

Sebentar lagi, kami harus segera bersiap untuk melaksanakan tugas di Kabupaten Barito Kuala. Bertemu bupati, wakil rektor 4 Univesitas Lambung Mangkurat beserta dosen dan mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di desa percontohan, sinergi dengan BPPMDDTT Banjarmasin. 

Banjarmasin, 25 Juni 2022

Sabtu, 18 Juni 2022

Penulis Amatir (Bagian 2, selesai)


Suatu ketika, secara kebetulan, saya dipertemukan dengan para pegiat dan dedengkot literasi, antara lain almarhumah Sirikit Syah, Satria Dharma , Much Khoiri , almarhum Rukin Firda , Eko Prasetyo , Habe Arifin , Ihsan Mohammad , Ria Fariana , Abdur Rohman , Pratiwi Retnaningdyah , Mas Hartoko ,  Dina Hanif Mufidah ,  Icha Hariani Susanti , Fafi Inayatillah , dan banyak lagi. Mereka semua adalah alumni IKIP Surabaya atau Unesa. Mereka semua penulis yang merupakan alumni fakultas bahasa. Mungkin karena tulisan jugalah yang membawa saya bisa masuk dalam komunitas para dedengkot ini.

 

Kami tergabung dalam milis keluarga Unesa. Berdiskusi banyak hal dan berbagi pengalaman lewat tulisan. Lantas kami membuat buku keroyokan. Ada kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan feature, dan kumpulan artikel.

 

Saya juga mengikuti kegiatan-kegiatan literasi seperti bedah buku, pelatihan menulis, diskusi dan seminar.

 

Suatu saat, ada kegiatan bedah buku di Balai Pemuda. Buku yang dibedah adalah antologi cerpen berjudul "Ndoro, Saya Ingin Bicara." Sebuah buku yang kami tulis keroyokan. Salah satu narasumbernya adalah sastrawan beken Tengsoe Tjahjono . Ada satu pernyataan beliau yang terus terngiang-ngiang di benak saya. Intinya, seorang sastrawan tidak pernah berhenti menulis. Bila seseorang pernah menulis, kemudian dia berhenti menulis, lantas menulis lagi, sesungguhnya dia bukan seorang sastrawan, bukan seorang penulis.

 

Nah, itulah mengapa saya menyebut saya sebagai penulis amatir. Saya menulis hanya kalau ingin saja. Khususnya menulis cerita fiksi, puisi, feature, atau artikel ringan. Saya tidak secara konsisten memaksa mood saya untuk selalu mau menulis. Sesuka-suka saya. Apa yang saya tulis juga sesuka-suka saya. Nyaris tak pernah pasang target. Pokoknya nulis kalau lagi mau. Kalau nggak, ya nggak nulis. Hehe.

 

Namun tentu saja berbeda ketika menulis sebagai tuntutan profesi. Tuntutan akdemis. Kalau urusan ini, saya selalu pasang target. Menulis skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, publikasi ilmiah, buku kuliah, harus dan harus. Tapi jangan salah. Saya pasang targetnya pakai standar minimal saja ya. Sekadar, ya sekadar memenuhi tuntutan minimal untuk naik pangkat dan jabatan. Tapi alhamdulilah, so far, pencapaiannya selalu di atas target minimal. Berkah mestakung. Semesta mendukung.

 

Sebagai seorang penulis amatir, maka menulis yang paling mudah bagi saya adalah menulis feature. Ya, karena jenis tulisan ini lebih banyak menceritakan pengalaman pribadi, bisa yang dialami sendiri atau orang lain. Tidak terlalu terikat pada aturan atau kaidah penulisan. Tidak selalu butuh referensi, tidak memerlukan metodologi.

 

Menulis yang paling abot bagi saya adalah menulis artikel ilmiah untuk publikasi pada jurnal ilmiah. Perlu ketekunan, ketangguhan, kesabaran, daya tahan. Bagi banyak teman, menulis artikel ilmiah bisa jadi mudah dan dia bisa menghasilkan belasan artikel ilmiah setiap tahun. Kalau ada yang seperti ini, saya cukuplah berdecak kagum dan mengucap kata "wow!".

 

Selesai

 

Surabaya, 19 Juni 2022

Jumat, 17 Juni 2022

Penulis Amatir (1)


Saya adalah seorang penulis amatir. Saya menulis apa saja. Cerpen, cerber, puisi, feature, artikel ilmiah, artikel populer, resensi buku, dan tentu saja menulis status di medsos, seperti yang saat ini saya lakukan.

 

Karena penulis amatir, saya tidak pernah secara khusus belajar menulis. Saya belajar sendiri, dari membaca tulisan orang lain dan dari buku-buku. Salah satu buku yang saya baca adalah "Mengarang itu Gampang" tulisan Arswendo Atmowiloto. Kakak saya, Mas Zen Zainal Makarim Azach , tahu kalau saya suka menulis, dan diberilah saya buku itu, waktu saya masih kelas 1 SMA.

 

Pernah juga sih, ikut pelatihan jurnalistik di kampus. Bareng dengan sahabat saya Pratiwi Retnaningdyah . Saat itu, tulisan saya sempat jadi tulisan terbaik. Hihi.

 

Meskipun saya bukan penulis profesional, tapi saya sudah pernah memiliki cita-cita untuk jadi penulis profesional. Ya, setidaknya pernah bercita-cita. Meskipun tidak pernah serius mewujudkan cita-cita itu.

 

Saya kutu buku sejak SD. Buku perpustakaan sekolah habis saya lahap. Buku di perpustakaan umum, yang ada di dekat SMA, sebagian besar sudah saya baca. Saya membaca buku sastra, novel, kumpulan cerpen, biografi, dan lain-lain. Saya membaca majalah Bobo, Kawanku, Kuncup, Jayabaya, Penjebar Semangat, Hai, Gadis, Anita Cemerlang....

 

Nah, ini tentang Anita Cemerlang. Saya adalah penyuka majalah nasional remaja itu. Iya, betul, mungkin karena saya tipe melangkolis dan suka mendayu-dayu. Berhati Rinto, kata Mas Nanang Ahmad Rizali . Untungnya tidak berbodi Rambo.

 

Saking ngefans-nya sama Anita Cemerlang, saya ngebet pingin ikutan nulis di majalah yang super keren itu. Ada Adek Alwi di sana, Leila S Chudhori, Zara Zettira, Lan Fang, banyak lagilah penulis-penulis keren.

 

Maka sejak SMP, saya mulai menulis cerpen dan mengirimkannya ke Redaksi Anita Cemerlang. Lewat pos tentu saja. Seingat saya, alamatnya adalah PO Box 78 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Surat pengantar cerpen pertama saya dibuatkan oleh Mas Zen. Saya gagal, cerpen dikembalikan. Saya menulis lagi, saya kirim, gagal lagi, begitu terus entah sampai berapa kali saya mencoba dan gagal. Bagusnya redaksi, setiap cerpen yang dikembalikan, pasti diberi komentar dan catatan-catatan. Di sini juga saya belajar menulis.

 

Baru kemudian, seingat saya kelas satu SMA, cerpen saya berhasil dimuat. Kepala sekolah SMA 2 Tuban, namanya Pak Bram, memanggil nama saya lewat loudspeaker, supaya saya datang ke kantor sekolah. Ternyata saya mendapat kiriman majalah Anita Cemerlang dan wesel. Girang sekali saya. Honor pertama saya adalah lima belas ribu rupiah.

 

Hari itu juga saya traktir beberapa teman untuk makan bakso. Sahabat saya dulu, salah satunya adalah Yayuk Sri Rahayoe , yang sampai saat ini masih ingat suka saya traktir bakso. Juga Mas Nganti Irawan , yang katanya pernah saya traktir juga, tapi saya tentu saja tidak ingat setiap nama yang pernah makan bakso bersama saya dari honor menulis cerpen. Saya juga membelikan sesuatu untuk adik-adik saya, putra-putrinya Kyai Ali Tamam, tempat saya mondok, meskipun hanya barang-barang kecil. Dik La'alik Helmiyati Aly , apa kabar, Dik?

 

Sejak saat itu, setiap cerpen yang saya kirim, hampir selalu dimuat di Anita Cemerlang. Honor saya juga semakin lama semakin naik. Ada juga cerpen saya yang dimuat sebagai cerita utama, dan ilustrasinya terpampang di cover-nya. Wah, bangganya luar biasa.

 

Saya juga mengikuti lomba cipta cerpen remaja, dan meskipun tidak menang, cerpen saya termasuk yang layak muat. Saya juga menulis cerber, satu-satunya cerber yang saya pernah tulis. Saya juga menulis feature, saya ingat, saya menulis tentang kehidupan para pencari belerang di Gunung Welirang.

 

Di kampus, saya menjadi wakil redaksi majalah ilmiah, juga menjadi reporter di koran kampus. Pernah juga mengisi kolom kuliner yang terbit setiap hari Minggu di Surat Kabar Surya.

 

Saya mulai berhenti menulis, khususnya cerpen, ketika saya sudah mulai dihinggapi gejala imsomnia. Ya, karena ide seringkali berjejalan di kepala saya, setiap malam saya sulit tidur. Sering saya tidur menjelang adzan subuh. Kadang tengah malam saya turun dari tempat tidur karena ingin menuangkan rangkaian cerita yang sudah menumpuk di kepala. Lantas saya mengetik dengan mesin tik cetak-cetok itu sampai menjelang pagi.

 

Khawatir dengan keadaan saya sendiri, saya akhirnya memutuskan untuk sementara berhenti menulis. Setiap ada inspirasi untuk bahan cerpen, saya selalu membuang inspirasi itu. Saya tidak mau terganggu dengan inspirasi. Saya berhenti merangkai-rangkai cerita dalam hayalan saya. Saya harus berhenti. Setidaknya jeda.

 

Bertahun-tahu saya jeda menulis cerpen. Hanya sesekali, sesekali saja kalau lagi pingin. Sebagai gantinya, karena saat itu saya adalah dosen muda, saya menulis proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Saya, tentu saja, juga menulis buku dan artikel ilmiah, sebagai tuntutan standar seorang dosen.

 

Bersambung...

 

Surabaya, 18 Juni 2022

Selasa, 14 Juni 2022

Setahun Berkhidmat

Bismillah

Hari ini genap saya setahun berkhidmat di Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Setahun yang lalu, 14 Juni 2021, saya dilantik sebaga Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (BPSDM & PMDDTT). Pelantikan dilakukan langsung oleh Menteri Desa PDTT, Dr. (Hc) Abdul Halim Iskandar, M.Pd, di Operational Room, Gedung A, Kementerian Desa PDTT di Jalan Kalibata, Jakarta, dihadiri oleh semua pejabat eselon satu dan dua di lingkungan Kemendes PDTT. Saya ditemani suami saya, Mas Ayik Baskoro Adjie.

Sejak hari itu juga, saya bekerja sebagai pegawai Kemendes PDTT. Masih mengenakan kebaya, saya diajak Sekjen Kemendesa, Taufik Majid, M.Si, menuju ruang kerja saya di Gedung B, dan diperkenalkan pada semua pejabat eselon dua di lingkungan BPSDM. Kemudian saya berdialog dengan beliau-beliau, yaitu Sekretaris BPSDM (Jajang Abdullah, M.Si), Kepala Pusat Pemberdayaan Masyarakat (Dr. Yusra), Kepala Pusat Pelatihan SDM (Dr. Fujiartanto), Kepala Puslat pelatihan Pegawai dan ASN (Dr. Mulyadin Malik), Kepala Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional (Hasman Ma’ani, M.Si), dan Kepala Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Jakarta (Dr. Lalu Samsul Hadi). Saya menyimak semua informasi dari para kolega baru saya itu dengan penuh perhatian, dengan mengerahkan semua kemampuan saya untuk memahami dan membayangkan tugas dan fungsi masing-masing. Sampai sore saat adzan maghrib berkumandang, kami mengakhiri sesi perkenalan dan dialog. Saat itu, seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya, saya sedang berada di hutan rimba raya.

Dunia yang saya geluti di Kemendes PDTT tentu saja adalah dunia yang sangat berbeda dari dunia kampus yang selama ini menempa saya. Saya berusaha untuk tidak mengalami culture shocked berlama-lama. Pada hari kedua, ditemani oleh Kepala Bagian Umum dan Kerumahtanggaan (Ibu Komalasari) dan ajudan (Mbak Domi) dan Sespri (Mbak Tita), saya berkeliling ke ruang-ruang pejabat BPSDM, ruang-ruang koordinator, ruang-ruang staf, bahkan ke mushala, pantry dan ke toilet-toilet. Menyapa dan mengobrol dengan siapa pun yang saya temui, para kapus, para koordinator, para staf, para office boy, para petugas cleaning service, dan petugas security.

Pengalaman saya hari itu, selain membuat saya semakin merasa berada di hutan belantara, ada satu hal yang sangat mengganggu. Aroma rokok. Ya, aroma rokok itu ada di beberapa ruang, di lift, di toilet, di lobi. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan saya mencoba memerangi aroma rokok, sempat bertemu dengan beberapa perokok, dan berdialog. Aroma rokok sempat hilang sebentar, lantas muncul lagi, hilang dan muncul lagi, terutama di lobi dan lift. Hari ini, setelah setahun saya di sini, saya mengibarkan bendera putih untuk perang melawan aroma rokok. Give up. Ternyata tidak mudah hanya untuk mengurus aroma rokok. Ya, karena gedung ini bukan hanya ditempati oleh BPSDM, namun juga oleh unit yang lain. Ada empat lantai, BPSDM menempati lantai 3 dan 4. Kalau pun para perokok di BPSDM bisa dikendalikan, belum tentu di unit lain yang memang bukan kewenangan saya. Selain itu, sepertinya memang merokok di dalam gedung sepertinya tidak terlalu menjadi persoalan di sini. Jadi ya sudahlah, setidaknya aroma rokok tidak lagi sekuat waktu pertama kali saya datang, meski seringkali masih mengganggu.

Meski berasa seperti di hutan belantara, namun saya tidak perlu waktu lama untuk kenal medan. Saya hadir hampir di setiap kegiatan sekretariat, pusat-pusat, dan balai-balai. Saya hadir di hampir semua rapat-rapat dan kegiatan-kegiatan penting, tidak sekadar untuk membuka acara, namun untuk belajar dan terus belajar. Saya pergi kesana-kemari untuk mendampingi Pak Menteri dan belajar dari apa yang beliau lakukan, yang beliau sampaikan pada setiap sambutan dan arahannya. Tentu ini juga karena bantuan dan dukungan orang-orang baik di sekitar saya. Dan mungkin inilah salah satu manfaat mengikuti kegiatan Himapala waktu mahasiswa dulu. Saya bisa dengan cepat berteman baik dengan seluruh penghuni hutan belantara ini dengan cepat seperti apa pun karakter dan temperamennya.

Beberapa teman kampus mempertanyakan mengapa saya memilih menjadi birokrat. Bahkan beberapa pejabat kemendesa PDTT dan Kementerian/Lembaga lain juga bertanya. Sebenarnya banyak dan panjang penjelasannya. Namun jawaban saya pada umumnya sederhana saja. Di kampus, jabatan saya sudah mentok, pangkat saya sudah mentok. Waktunya mencari pengalaman lain, mencari selingan yang bermanfaat untuk saya bisa lebih berkhidmat.

Saya berusaha dengan cepat menyesuaikan diri sebagai birokrat. Patuh tegak lurus pada pimpinan. Ide-ide yang seringkali muncul berjejalan di kepala saya, dan saya coba untuk wujudkan, seringkali terhempas karena tidak selaras dengan indikator kinerja utama. Sepenting apa pun program, muaranya adalah IKU. Karena saya lihat IKU tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua komponen di BPSDM, bahkan Kemendesa PDTT, saya terus berusaha bermanuver, tanpa harus melanggar regulasi. Untunglah ada tim tenaga ahli, yang saya sebut sebagai tim bodrek, yang memahami ide-ide saya dan dengan cepat membuat konsep, merancang berbagai aksi, dan mewujudkannya.

Hari ini, setahun saya di sini, sepertinya belum ada apa pun yang sudah saya capai, yang bisa menjadi penanda saya ada manfaatnya di kementerian ini. Program RPL Desa adalah ide lama di Kemendesa PDTT, sejak beberapa tahun sebelum kehadiran saya. Ide yang belum sempat terwujud dan hanya berhenti pada wacana-wacana. Kalau kemudian program ini akhirnya running pada Maret 2022, dengan menggandeng Kabupaten Bojonegoro, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), itu lebih karena kepiawaian Pak Menteri untuk membangun jejaring. Memang RPL Desa mulai menggeliat ketika saya dan tim menyusun Pedoman RPL Desa, dan mendiskusikannya dengan Pak Menteri. Kemudian bersama Pak Menteri dan Pak Sekjen, mensosialisasikannya di hadapan bupati, kepala desa, perangkat desa, tenaga pendamping profesional, kader pemberdayaan masyarakat desa, dan pegiat desa yang lain. Dan laksana busur anak panah, secepat kilat RPL Desa terwujud. Saat ini, sebanyak 1200-an mahasiswa mengambil S1 jalur RPL di Unesa dan UNY, pada lima program studi, yang semuanya berkaitan dengan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.

Selain Pedoman RPL Desa, kami sebenarnya juga menghasilkan Pedoman MBKM Sinergi Kemendesa PDTT dan Perguruan Tinggi. Sudah saya diskusikan dengan Pak Menteri, namun saya akhirnya harus memaklumi kalau kemudian program itu tidak mendapatkan dukungan, karena itu bukan bagian dari IKU Kemendesa PDTT. Saya sempat patah hati, sebentar. Namun kemudian saya bangkit lagi dengan semangat penuh. Tanpa dukungan anggaran dari Kementerian Desa PDTT, program ini harus tetap jalan. Ini adalah wadah untuk balai besar dan balai-balai dengan para penggerak swadaya masayarakat (PSM) yang ada di balai-balai, untuk mengaktualisasi diri. Berkolaborasi dengan berbagai universitas dan pemerintah daerah, beberapa balai terus bergerak membangun sinergi mewujudkan MBKM.

Namun jangan salah. Ternyata beberapa balai sudah bergerak melaksanakan MBKM ini bahkan sebelum pedoman MBKM kami hasilkan. Balai Besar Yogyakarta, Balai Banjarmasin, Balai Pekanbaru, sudah memulai ber-MBKM sejak 2020. Ya, memang, sejak 2021 dan sampai saat ini kegiatan MBKM mereka semakin melesat dan ibarat api disiram bensin, bisa jadi karena ada sedikit--sedikit saja--campur tangan saya untuk lebih menyemangati mereka. Tim bodrek saya minta untuk mengidentifikasi progress program MBKM di semua balai (2 balai besar dan 7 balai). Dari hasil identifikasi itulah kemudian saya memiliki keyakinan bahwa program ini sangat besar manfaatnya. Maka, tanpa mengabaikan IKU yang memang harus dicapai, program MBKM terus bergulir dan semakin menampakkan kebermaknaannya. Jika suatu ketika saya diundang oleh Komisi X DPR RI, saya akan dengan gagah menyampaikan progres MBKM di Kemendesa PDTT. Tahun lalu, saya diundang oleh Komisi X DPR RI untuk menyajikan progres program MBKM, saya dengan hati ciut menyampaikan bahwa Kemendesa PDTT baru menyiapkan pedomannya.

Saat ini kami juga sedang menyiapkan agenda tahunan, yaitu Pemilihan TPP Inspiratif dan PSM Teladan. Agenda pertama sudah pernah dihelat beberapa tahun sebelumnya, lantas terhenti selama dua-tiga tahun, dan tahun ini kami mulai lagi. Sedangkan agenda kedua, tahun ini merupakan tahun pertama. Kedua agenda tersebut merupakah wadah bagi para TPP dan PSM untuk mengeksplore potensinya, memantapkan eksistensi mereka, sekaligus sebagai sarana memberi penghargaan bagi mereka yang potensial, agar menjadi isnpirasi bagi yang lain.

Semakin ke sini, semakin saya menyadari, betapa banyak pekerjaan rumah yang harus kami kerjakan. Ya kami kerjakan, bukan kami selesaikan. Karena pekerjaan rumah ini akan terus ada dan terus ada. Ada sekitar 34 ribu tenaga pendamping profesional yang tersebar di 74.960 desa di seluruh Indonesia, yang kinerjanya harus terus dipantau. Mereka juga perlu segera ditingkatkan kapasitasnya, salah satunya melalui sertifikasi, karena bila tidak, secara regulasi, mereka tidak bisa dikontrak lagi. Ada ratusan bahkan ribuan penggerak swadaya masyarakat yang membutuhkan perhatian karena dukungan anggaran untuk peningkatan kapasitas mereka sangat minim, sementara mereka dituntut untuk bisa melakukan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan, serta harus memenuhi angka kredit tertentu sebagaimana lazimnya tuntutan jabatan fungsional. Mereka juga harus diuji kompetensinya. Ada dua balai besar dan tujuh balai di seluruh Indonesia yang masih harus terus dioptimalkan perannya dalam melakukan tugas-tugas pelatihan, pemberdayaan, dan penerapan model; sementara kompetensi SDM dan sumberdaya yang lain masih belum semua memadai. Ada pembangunan zona integritas, reformasi birokrasi, manajemen risiko, dan berbagai regulasi yang harus terus-menerus dibenahi, ditelaah, dan diwujudkan. Ada banyak yang lain.

Sampai di sini, saya hanya bisa berjanji pada diri sendiri untuk terus berikhtiar, dan menyandarkan segalanya pada Allah Tuhan Yang Maha Menolong. Semoga Allah selalu meridhai ikhtiar-ikhtiar ini.

Insyaallah, atas izin Allah, saya siap terus berkhidmat, dimana pun, dan kapan pun.

Bismillah. Laa haula walaa quwwata illa billaah.

 

Jakarta, 14 Juni 2022

Minggu, 15 Mei 2022

SEPI


Sebuah puisi

Bicara tentang hati

Rasa yang tak terkatakan

Kata yang tak teruraikan

 

Dalam sepi

Puisi kian sunyi

Membuai lamunan diri

Tentang rindu dan mimpi-mimpi

Tentang makna hidup sejati

 

Ke mana arah tujuan

Dermaga tak jua dalam jangkauan

Meski sang surya hampir mencapai peraduan

 

Detik demi detik

Seperti berputar

Seperti bergerak

 

Tak kunjung sampai ke titik harapan

 

Sebuah puisi

Adalah lukisan hati

Adalah sepi...

 

Patra Jasa Semarang, 5 Mei 2013

Minggu, 08 Mei 2022

Lebaran dan MC (lagi)


Lebaran ini saya memiliki kesibukan yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Cuti saya diisi dengan MC, momong cucu. Sebuah kesibukan yang sungguh menyenangkan. Lelah? Hilang semua lelah begitu melihat senyumnya, tawanya, pulasnya, bahkan rengekan dan tangisnya.

 

Diawali dengan kehadiran Lumi Latifa, cucu kedua, yang lahir pada 14 April 2022. Rute saya dari Jakarta tidak hanya ke Surabaya, namun juga ke Ponorogo.

 

Lumi lahir di Ponorogo, dan selama menunggu masa setelah 'selapanan', dia bersama Mommy Yoan Lita dan Daddy Barrock Argashabri Adji , serta--tentu saja--Kakak Kai, tinggal di Ponorogo. Didampingi oleh Tati Yuliana Fatimah dan Tatung Bagyo, juga Mimi Sari LiesTyowati , Lumi dan mommy-nya lebih aman di Ponorogo. Mimi, kakak Mommy, seorang perawat. Perawatan pasca kelahiran baik untuk ibu dan bayinya bisa dilakukan di rumah dengan lebih intens.

 

Selama cuti lebaran, saya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya pada 28 April sore. Penumpang membludak di Bandara Soetta, dan saya kembali menikmati sebagai ordinary people. Tanpa staf yang mendampingi dan membantu ini-itu, meski masih dimonitor ini-itunya. Tiket bisnis saya minta untuk di-down grade ke ekonomi. Saya mengangkat sendiri koper dan tas saya, sesuatu yang sejak sekitar sepuluh bulan ini tak pernah saya lakukan. Bahkan untuk memilih seat agak depan saja sudah tidak memungkinkan meski saya pemegang kartu gff platinum. Tak ada satu pun previllege yang berlaku untuk saya. Hehe. Saya sungguh menikmatinya.

 

Tiba di Surabaya pukul 20.00, meski seharusnya dua jam sebelumnya saya sudah mendarat. Ya, delay sekitar hampir dua jam.

 



Besoknya, yaitu 29 April, saya dan Mas Ayik Baskoro Adjie meluncur ke Ponorogo. Kami berada di Ponorogo sampai tanggal 3 Mei. Sehari di Guest House Kalandra milik adik sepupu, kemudian geser ke Ndalem Katong. Kai terus bersama kami, kecuali malam idul fitri. Kami sempat juga mengujungi Oma Diah Sastro  dan Mbak Gendis dan ber-bendi serta ber-pantai di Teleng Ria, Pacitan. 

 

Tanggal 3 Mei, kami meluncur ke Tuban. Kai bersama kami juga. Sehari di Tuban, saya sempat menghadiri halbil dan reuni SMP Filial dan SMADA Tuban, almamater saya. Bertemu dengan sekitar seratus teman lama, betul-betul sesuatu.

 

Dari Tuban, kami kembali ke Surabaya pada 4 Desember, selepas acara reuni. Bergulat dengan tugas-tugas seorang profesional. Mencuci, menyeterika, memasak, menyuapi Kai, menyapu, mengepel, bermain dan belajar bersama Kai, dan banyak lagi. Saya jamin, saya bukan amatiran dalam semua urusan ini. Boleh kok dibuktikan. Hehe.

 

Sore ini, saya harus kembali ke Jakarta. Tati dan Tatung sebenarnya sudah tiba di Surabaya sejak kemarin, dan bermaksud menjemput Kai, membawanya kembali ke Ponorogo, berkumpul bersama Mommy dan Lumi. Namun karena ada saudara yang sedang sakit dengan kondisi kritis di RKZ, Kai harus ikut bersabar dulu, menunggu kondisi memungkinkan untuknya. Ada Daddy, Opa, Dhe Yah, yang menemaninya.

 

Sejauh ini, Kai tidak pernah rewel. Selama dengan kami, hanya sekali atau dua kali dia memanggil-manggil Mommy-nya, yaitu saat kepalanya kejedot dan dia terjatuh. Saat ber-video call dengan Mommy-nya, dia mengobrol tanpa rengekan. Hal itu tentu saja membuat kami tenang. Namun bagaimana pun, saya ingin Kai bisa segera kembali ke Ponorogo dan berkumpul dengan Mommy dan adiknya. Tak ada tempat terbaik bagi seorang anak selain berada dekat dengan ayah bundanya.

 

Sabar ya, Kakak Kai.

Oma balik Jakarta dulu ya.

Baik-baik bersama Daddy, Opa, Tati, Tatung, dan Dhe Yah.

Insyaallah besok Kakak Kai sudah bisa bertemu dengan Mommy dan Adik Lumi.

 

Sehat selalu, Sayang.....

 

Surabaya, 8 Mei 2022

Sabtu, 07 Mei 2022

Bulir Padi


Bulir-bulir padi itu adalah harapan, tidak hanya bagi para petani pemilik sawah

Bulir-bulir padi itu juga harapan bagi para kuli penggarap dan penunggu sawah

Bahkan mungkin harapan itu jauh lebih besar

Karena bulir-bulir itulah sumber kehidupan mereka

Satu-satunya

 

Saat anak isteri ada di desa menunggu sepetak kebun atau ladang

Atau menemani orang tua, nenek, kakek yang sudah uzur

Para kuli itu berteriak-teriak mengusir serombongan burung mungil yang sedang mencoba keberuntungan

Hinggap dari satu helai ke helai tanaman padi yang lain

Terbang berhamburan saat suara para penunggu hingar-bingar memecah keheningan

Bertengger di pohon-pohon tinggi menunggu kesempatan

 

Bukan hanya burung-burung liar itu yang menggelisahkan para petani

Juga terpaan angin yang merobohkan padi-padi yang mulai menguning itu

Dan hama entah apa namanya yang membuat daun-daun padi mengering dan bulir-bulirnya menguning tidak rata

 

Bulir-bulir padi itu adalah harapan petani, penggarap, dan penunggu sawah

Di setiap bulirnya menyimpan kisah tentang kerasnya hidup, etos kerja, dan ketangguhan

 

Surabaya, 6 Mei 2018

Jumat, 01 April 2022

Wedang Sendang Ayu

Nama wedang ini bagi saya menarik. Sendang ayu. Setahu saya, sendang adalah sebuah tempat semacam kolam yang airnya sejuk, asli dari mata air pegunungan. Ayu, kita tahu semua, artinya cantik. Sendang ayu, artinya kolam yang cantik. Kalau Ayu Tingting, beda lagi ya.

 

Saya menemukan minuman panas ini di Pasar Ngasem, Yogyakarta, di suatu pagi saat matahari mulai menyembul. Pasar Ngasem yang dulu merupakan pasar burung, beberapa tahun ini sudah disulap menjadi pasar kuliner trdisional. Nasi gudeg, bubur gudeg, nasi lodeh, nasi brongkos, nasi sop, apem, beragam gorengan, beragam jajan pasar yang lain, berlimpah. Begitu juga dengan jenis wedang-wedangan. Kalau wedang kopi, wedang teh, wedang jahe, wedang jeruk, tentu sudah sangat biasa. Juga wedang uwuh, minuman yang sangat populer di Yogya. Nah, tentang wedang sendang ayu, saya baru tahu, meskipun sebenarnya wedang ini juga sudah lama ada.

 

Yogya memang terkenal dengan berbagai jenis wedang. Suatu pagi, kami rombongan dari Kememdes PDTT singgah di sebuah warung kopi saat perjalanan menuju Bandara Kulonprogo. Sambil menunggu kedatangan rombongan anggota Komisi V DPR RI yang akan melakukan kunjungan spesifik ke Bumdes Amarta di Sleman, kami menikmati pisang goreng dan mendoan yang konon sangat masyhur lezatnya. Ternyata tidak hanya makanannya yang lezat, wedang-wedangannya juga anglek. Beberapa di antaranya bernama wedang waras, 1wedang asmara, wedang gagasan, dan lain-lain. Semua dibuat dari beragam rempah segar dan kering. Yang terlihat adalah daun sereh, kapulaga, cengkeh, jahe, dan gula merah utuh. Kalau diaduk, gula merah tersebut akan lumer dan menyatu dengan air panas dan membuat warna wedang menjadi coklat tua.



 


Nah, wedang sendang ayu, mirip dengan wedang-wedang tersebut. Hanya saja, gelas penyajiannya berbeda, dengan gelas yang lebih pendek dan lebih lebar. Pebedaannya lagi, pada wedang ayu ada irisan jeruk, bukan jeruk nipis dan bukan jeruk lemon, lebih mirip dengan jeruk buah, namun kulitnya tipis dan rasanya agak asam. Jeruk apa ya namanya, saya lupa. Nah, berbagai bahan itu ditata sedemikian rupa di gelas yang pendek besar dengan penataan yang cantik. Mungkin karena inilah namaya sendang ayu. Gula yang digunakan adalah gula batu, sehingga kalau diaduk, warna wedang tetap bening.

 

Air panas yang digunakan direbus di atas tungku arang. Tidak hanya untuk merebus air, tungku arang juga digunakan untuk memanggang jahe emprit, jahe kecil yang rasa pedasnya lebih tajam daripada jahe besar. Saat disajikan, wedang tersebut tidak hanya penampilannya yang menarik, aromanya juga semerbak harum. Perpaduan antara daun sere, jahe, kapulaga, cengkeh, dan irisan jeruk.

 

Nah, bagi Anda yang belum pernah mencoba, silakan mencoba. Menikmati hangatnya segelas wedang sendang ayu, sepiring bubur gudeg, dan keramahan Pasar Ngasem dan orang-orangnya yang hangat bersahabat.

 

Yogya, 19 Maret 2022 

Rabu, 30 Maret 2022

Lagi, RPL Desa


Dua hari ini, gaung RPL Desa begitu menggema, setelah pembukaan dan peluncuran oleh Menteri Desa PDTT, dibarengi dengan kuliah umum oleh Bupati Bojonegoro. Pembukaan dan kuliah umum RPL Desa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dilaksanakan pada 29 Maret 2022, diikuti oleh sebanyak 457 mahasiswa. Sedangkan pembukaan dan kuliah umum RPL Desa di Universitas Negeri Surabaya yang diikuti oleh 619 mahasiswa dilaksanakan pada 30 Maret 2022. Para mahasiswa tersebut bergabung pada lima prodi penyelenggaran jalur RPL, yaitu Administrasi Negara, Manajemen, Sosiologi, Akuntansi, dan Pendidikan Luar Sekolah.

 

Pada kesempatan ini juga, Menteri Desa PDTT menyerahkan piagam penghargaan pada Bupati Bojonegoro sebagai bupati pertma yang menyelenggarakan beasiswa RPL dan pemberdayaan masyarakat desa. Rektor UNY dan Rektor Uesa juga menerima piagam penghargaan dari Menteri Desa PDTT sebagai perguruan tinggi penyelenggara RPL Desa.

 

Konsep RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) sebenarnya telah lama ada, khususnya di luar negeri. Selama lebih dari seabad, University of London telah memberikan layanan ujian terbuka untuk penilaian semacam ini. Para siswa belajar secara pribadi atau mengikuti kelas-kelas di lembaga pendidikan, namun hal tersebut jarang dijadikan sebagai persyaratan untuk mengikuti proses penilaian pembelajaran lampau. Hanya berdasarkan pengalaman, seseorang dapat mengikuti ujian dan dinilai kemampuannya. Di dunia internasional, RPL atau Recognition of Prior Learning diartikan sebagai “the process of recording of achievements of individuals arising from any kind of learning in any environment: the process aims to make visible an individual’s knowledge and skills so that they can combine and build on learning achieved and be rewarded for it”.

 

Pada prakteknya, pendekatan yang paling umum digunakan untuk penilaian hasil pembelajaran lampau adalah pendekatan portofolio. Pendekatan ini memaknai pengalaman memiliki arti yang beragam. Yang terpenting adalah apa yang telah dipelajari dari pengalaman, bukan apa pengalaman tersebut. Bagaimana pun, tentang apa yang telah dipelajari dari pengalaman, harus dibuktikan, dan inilah fungsi portofolio, sebagai bukti dari pengalaman.

 

Berdasarkan portofolio inilah program RPL Desa di UNY dan Unesa, yang digagas oleh Kemendes PDTT dan didukung oleh Pemda Bojonogoro, dilaksanakan. Para mahasiswa yang terdiri dari kepala desa, perangkat desa, pengelola bumdesa/bumdesma, tenaga pendamping profesional (TPP), kader pemberdayaan masyarakat desa (KPMD), anggota badan permusyawaratan desa (BPD), dan para pegiat desa yang lain, adalah mereka yang sudah lolos penilaian portofolionya.

 

Dokumen portofolio mereka antara lain meliputi surat keterangan, surat tugas, dan atau bukti-bukti lain yang  terkait dengan tugas pemerintahan, pembangunan desa, dan pemberdayaan masyarakat; Ijazah dan atau transkip nilai (khusus bagi calon mahasiswa yang putus kuliah untuk transfer kredit); dan daftar riwayat pekerjaan dengan rincian tugas yang dilakukan. Selain itu juga sertifikat kompetensi, keanggotaan asosiasi profesi yang relevan, piagam penghargaan, dan dokumen lain yang mendukung. Dokumen portofolio yang tidak relevan tentu tidak akan dinilai, karena pengakuan pada jenis pengalaman atau pembelajaran lampau yang tidak sesuai justeru akan menyebabkan inefficiency pada proses pendidikan melalui RPL.

 

Hal ini sangat relevan sebagaimana yang disarankan Evans (1987, 1992) bahwa ada empat tahap pendekatan pada sistem RPL. Yang pertama adalah refeksi sistematis atas pengalaman belajar yang signifikan. Evans menggambarkan tahap ini sebagai latihan curah pendapat (brainstorming). Identifikasi belajar yang dignifikan dinyatakan dalam pernyataan yang tepat tentang kepemilikan pengetahuan dan keterampilan. Pada umumnya, kategori pengetahuan atau keterampilan yang dapat digunakan dalam proses identifikasi ini adalah penanganan informasi, analisis, membaca, menulis, dan sebagainya. Yang kedua, sintesis bukti untuk mendukung pernyataan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Hal ini memerlukan pemeriksaan rinci terhadap bukti pendukung bahwa yang seseorang telah belajar, dan inilah yang dibuktikan dalam bentuk portofolio. Ketiga, penilaian akreditasi. Hal ini dimulai dengan penilaian diri, bertujuan untuk mengarahkan pada calon mahasiswa untuk menggunakan bukti pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Penilaian kemudian dilakukan oleh lembaga pendidikan yang terkait (Santoso, M, dkk, 2015).

 

Berdasarkan dokumen portofolio inilah tim asesmen UNY dan Unesa melakukan penilaian. Seteleh melalui proses penilaian yang cukup panjang, diskusi-diskusi untuk penyamaan persepsi dalam rangka menjaga validitas, objektivitas, dan akuntabilitas, diperoleh hasil sekitar 50% atau 70 sks yang dapat direkognisi. Berdasarkan hal tersebut, maka masa studi mahasiswa program RPL Desa ini ditentukan selama empat semester atau dua tahun. Untuk memastikan proses pembelajaran tetap berkualitas dengan masa studi yang tepat, maka program juga akan memanfaatkan perkuliahan pada semester pendek dan memberlakukan on going recognition.

 

Pendekatan tersebut tentulah sangat bermakna dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa RPL Desa. Mereka belajar dalam konteks yang sangat alamiah, dengan masalah-masalah yang ada di sekitar mereka, yang bersumber dari desa masing-masing, menjadi bahan untuk belajar berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. Model pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran penemuan (discovery/inquiry learning), dan model pembelajaran kreatif dan inovatif yang lain, akan menjadi warna yang sangat dominan dalam perkuliahan RPL Desa. Dengan demikian dapat diharapkan, RPL Desa akan mampu meningkatkan kompetensi para mahasiswa dengan kemampuan akademis yang sangat bermanfaat dalam memecahkan permasalahan sesuai konteks desa. RPL Desa akan memberikan kontribusi yang nyata pada pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. RPL Desa akan memberikan kontribusi yang signifikan pada indeks pembangunan manusia khususnya di Kabupaten Bojonegoro. Juga akan memberikan kontribusi yang positif pada pencapaian tujuan-tujuan dalam SDGs Desa.

 

Sebagai sebuah program yang khas, yang merupakan kerjasama antara Kemendes PDTT, Kabupaten Bojonegoro, UNY dan Unesa, maka program akan terus dikawal bersama. Dimulai dari proses rekrutmen, perkuliahan, tugas akhir, sampai pada yudicium/wisuda dan pasca perkuliahan, semua pihak akan terus bersama-sama mengawal. Pihak kemendes PDTT dan Kabupaten Bojonegoro akan terlibat dalam perkuliahan sebagai dosen tamu. Juga akan terlibat dalam pelaksanaan tugas mahasiswa sebagai penyedia data dan narasumber. Pada pelaksanaan tugas akhir berupa penulisan skripsi dan artikel publikasi, pihak Kemendes PDTT dan Kabupaten Bojonegoro akan terlibat sebagai penyedia data dan konsultan. Bila dimungkikan secara kebijakan dan pertimbangan akademis, pihak Kemendes PDTT dan Kabupaten Bojonegoro akan terlibat sebagai penguji ekternal skripsi mahasiswa dan penulisan artikel publikasi.

 

Program RPL Desa menjadi program yang sangat bermanfaat manakala program dikelola dengan tetap menegakkan penjaminan mutu sesuai dengan standar. Selain itu, prinsip legalitas, aksesibilitas, kesetaraan pengakuan, transparan, juga harus diimplementasikan dengan sebaik-baiknya.

 

Harapannya kemudian adalah, para mahasiswa RPL Desa benar-benar dapat memanfaatkan kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Menjalani setiap proses dan tahap perkuliahan dengan penuh kesungguhan dan keteguhan. Tuntutan antara belajar dan bekerja menjadi sesuatu yang sama-sama harus diprioritaskan. Perlu energi ekstra untuk memastikan keduanya dapat seiring sejalan. Harus selalu diingat, bahwa kesempatan ini adalah sebuah amanah, yang harus dipertanggungjawabkan sebagai pribadi, selaku pegiat desa, dan sebagai pejuang pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.

 

Selamat berjuang. Semoga Allah SWT meridhai.

 

Surabaya, 31 Maret 2022

 

Luthfiyah Nurlaela

Kepala BPSDM Kemendes PDTT

Minggu, 20 Maret 2022

BERKHIDMAT PADA FORUM


Weekend ini, 18-20 Maret 2022 saya berada di Yogyakarta. Yogya, dikenal sebagai kota pelajar, kota wisata, kota bakpia, dan kota gudeg. Untuk dua sebutan yang terakhir itu, sepertinya menjadi menu wajib bagi siapa saja yang berkunjung ke Yogya, khususnya saya sekeluarga.

Agenda Yogya kali ini adalah dalam rangka mengikuti Kongres Nasional Forum Program Studi Pendidikan Tata Boga Indonesia (FPS-PTBI) 2022. Forum ini merupakan himpunan program studi dan dosen Pendidikan Tata Boga di seluruh Indonesia. Didirikan sejak 2018, forum beranggotakan sekitar 150 dosen dari 15 universitas  yang memiliki program studi Pendidikan Tata Boga. Lima belas universitas tersebut adalah Universitas Negeri Surabaya  (Unesa), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Medan (Unimed), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh, Universitas Negeri Manado (Unima), Universitas Pendidikan  Ganesha (Undiksha), Universitas PGRI Adibuana (UNIPA) Surabaya, Universitas Sarjana wiyata Taman Siswa (UST) Yogyakarta,   dan Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali.

 

Agenda forum yang utama adalah pertanggungjawaban pengurus periode 2018-2022, dan pemilihan pengurus periode 2022-2024. Selain itu juga penyusunan rancangan kerja sama antar program studi untuk implementasi kurikulum merdeka belajar dan kampus merdeka (MBKM). Forum dihadiri oleh sekitar lima puluh orang perwakilan dari tiga belas universitas. Unima dan Undhira absen.

 

Saya sebagai ketua forum, dan bendahara, Prof. Mutiara Nugraheni , menyampaikan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan. Tentu saja didampingi sekretaris forum, Dr. Ai Nurhayati dan ketua sie kesekretariatan Nugrahani Astuti , S.Pd., M.Pd. Tidak Banyak yang sudah dihasilkan forum dalam periode pertama di bawah kepemimpinan kami. Beberapa yang mungkin bisa dianggap sebagai prestasi adalah dihasilkannya kurikulum nasional program studi Pendidikan Tata boga, MoU dengan UiTM MARA Malaysia, dan international joint conference yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Selain itu juga website forum yang menyajikan profil forum dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, meski website tersebut masih sangat "kurang gizi".

 

Tentang kurikulum nasional, kurikulum itu kami hasilkan dengan proses yang cukup panjang, mulai dari pembahasan awal, penyusunan draft kurikulum, reviu internal, reviu eksternal, dan finalisasi. Kurikulum akhirnya bisa disyahkan dan digunakan pada pertengahan 2020, dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan dinamika kurikulum yang berlaku, termasuk kurikulum MBKM.

 

Tentang international joint conference, sebetulnya cikal-bakalnya adalah the 1st iconhomecs (international conference on home economics) yang diselenggarakan pada 2017 oleh jurusan PKK Unesa. UM, UNY, dan UNIPA sebagai co-host. Itulah konferensi internasional pertama yang diselengarakan oleh PKK Unesa, sebagai pengganti seminar nasional Bosaris (boga, busana, rias) yang merupakan agenda tahunan. Pada the 1st iconhomecs tersebut, kebetulan saya ditugasi sebagai ketuanya, dan bagi saya, hal ini benar-benar menjadi ajang belajar utk mengorganisasi event internasional.

 

The 2nd iconhomecs kemudian dilaksankan di UM, dengan Unesa, UNY, UNIPA, dan beberapa perguruan tinggi anggota FPS-PTBI lainnya sebagai co-host. Pada saat itu, salah satu narasumbernya dari UiTM MARA Sarawak, Malaysia. Setelah konferensi, kami tetap terhubung dengan UiTM MARA dan bahkan merancang international joint conference, dengan menggabungkan event international conference kami. Singkat kata, akhirnya kami bisa menyelenggarakan IJCHT-21 (International Joint Conference on Hotel and Tourism-2021). UiTM Mara sebagai host, dan FPS-PTBI, Unesa, UNP, sebagai co-host. Co-host yang lain adalah NIDA Thailand, Chanakkale Onzekis Mart Turkey University,  University of South Florida USA, Association of North America Higher Education International, dan TROAS International  Tourism Research Association.  Sayang sekali, konferensi yang awalnya dirancang diselenggarakan secara offline di Sarawak, harus diganti dengan full online karena pandemi. Namun begitu, konferensi sangat sukses dengan sekitar 300 peserta pemakalah, dan artikel dimuat di beberapa jurnal international serta prosiding.

 


Tahun ini, IJCHT-2022 akan diselenggarakan dengan host Undiksha, dan co-host setidaknya sama dengan tahun sebelumnya, dengan jejaring dalam dan luar negeri. Berharap pandemi semakin melandai, dan konferensi bisa diselenggarakan secara offline. Bila ini terjadi, maka Bali akan dikunjungi ratusan akademisi mancanegara yang sekaligus akan berwisata di pulau impian para turis itu.

 

FPS-PTBI dalam usia mudanya, memang harus lebih giat berjuang dalam mengembangkan program kerjanya yang lebih visible. Sebagai sebuah forum program studi, kerja sama dengan asosiasi serta berbagai institusi di dalam dan di luar negeri harus terus dibangun. Peningkatan kompetensi dosen juga harus menjadi perhatian khusus. Begitu juga dengan kerjasama dalam melaksankan MBKM, yang memang mengharuskan adanya sinergi yang kuat antar prodi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam kongres FPS-PTBI juga dilakukan perancangan  penandatanganan implementation of agreement (IA) antar prodi anggota forum.

 

Pertanggung jawaban pengurus periode pertama diterima sepenuhnya oleh anggota forum. Meskipun harus secara jujur diakui bahwa target pencapaian program masih sangat minim, namun apresiasi dari dewan pakar dan juga para anggota sangat positif. Bagaimana pun, setidaknya sudah ada legacy yang dapat menjadi bekal bagi kepengurusan selanjutnya.

 

Forum juga menyelenggarakan pemilihan ketua dan pengurus periode kedua. Sebagaimana periode pertama, di mana ketua dipilih secara aklamasi, begitu jugalah yang terjadi pada periode kedua ini. Kembali saya diamanahi untuk memimpin forum. Segala alasan penolakan saya tidak diterima. Maka dengan sepenuh kerelaaan, saya harus menerima, dan kembali melanjutkan khidmat saya untuk FPS-PTBI.

 

Pengurus forum yang baru terbentuk dikukuhkan oleh Dekan FT UNY, Prof. Herman Dwi Surjono  , M.Sc., pH.D. Beliau menyampaikan apresiasinya atas pencapaian periode pertama, dan berharap forum bisa lebih meningkatkan perannya dalam mengembangkan program studi pendidikan Tata boga di seluruh Indonesia. Setelah sambutan Dekan FT UNY, Dr. Wagiran dari UNY juga hadir memperkaya wawasan tentang implementasi MBKM.

 

Terima kasih pada Prof Kokom Komariah , Ibu Ari Fadiati, seluruh panitia dari UNY, dan juga semua bapak ibu anggota forum.

 

Semoga Allah SWT memudahkan, memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan. Amiin.

 

Yogyakarta, 20 Maret 2022.

Kamis, 17 Februari 2022

RPL untuk Desa


Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL adalah pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal atau nonformal atau informal, dan/atau pengalaman kerja ke dalam pendidikan formal. Hal ini berkaitan dengan Peraturan Meteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 73 tahun 2013 tentang penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) bidang Pendidikan Tinggi, yang merupakan bukti bahwa pemerintah memiliki komitmen untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat. Kebijakan ini sangat penting mengingat masih rendahnya angka partisipasi kasar pada tingkat pendidikan tinggi. Peraturan tentang RPL kemudian direvisi dengan terbitnya Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 26 tahun 2016 tentang RPL.

Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2020, Kementerian Desa, Pembagunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) memiliki tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan perdesaan, pemberdayaan masyarakat desa, percepatan pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi. Salah satu fungsi Kemendesa PDTT adalah melaksanakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pemberdayaan masyarakat desa.

Berdasarkan data Kemendesa PDTT tahun 2019, mayoritas pendidikan tertinggi masyarakat desa adalah lulusan SD, sementara di daerah perkotaan lebih banyak didominasi oleh lulusan SMA/MA. Selanjutnya, data tentang kualifikasi pendidikan kepala desa dan perangkat desa meliputi 44.767 kepala desa, 46.983 sekretaris desa, 31.147 pengurus BUM Desa, dan 8.241 pendamping desa adalah lulusan SLTA. Dengan demikian, kurang lebih ada 131.138 potensi di desa yang perlu ditingkatkan pendidikannya ke program Sarjana (S1). Juga terdapat 19.441 kepala desa, 24.470 sekretaris desa, 15.477 pengurus BUM Desa, dan 26.977 pendamping desa adalah lulusan S1/D4, sehingga kurang lebih ada 86.365 orang yang perlu ditingkatkan pendidikannya ke program Pascasarjana (S2).



Kondisi tersebut mendorong Kementerian Desa PDTT menggagas program RPL untuk Desa. Program ini merupakan implementasi dari Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara Kemendesa PDTT, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Juga merupakan implementasi dari kerja sama antara Kemenedesa PDTT dan Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides).

Dengan demikian, RPL untuk Desa merupakan program yang disiapkan oleh Kementerian Desa PDTT bersinergi dengan Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides). Program ini memberikan fasilitasi pada kepala desa dan perangkat desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Tenaga Pendamping Profesional (TPP), Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), Pengurus BUMDesa/BUMDes Bersama, Pengurus Lembaga Kemasyarakatan Desa/Lembaga Adat Desa, untuk menempuh pendidikan lanjut pada jenjang S1/D4 dan S2 melalui skema RPL. 

 

Persiapan RPL untuk Desa

Saat ini, persiapan RPL untuk Desa masih pada tahap koordinasi/ konsolidasi dengan berbagai pihak yang terlibat, yaitu pemerintah provinsi/kabupaten, perusahaan, filantropi, dan juga perguruan tinggi. Pemahaman tentang apa itu RPL, bagaimana rekrutmennya, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana pembiayaanya, bagaimana penjaminan mutunya, dan bagaimana peran masing-masing pihak yang terlibat, merupakan beberapa hal yang terus didiskusikan dan dikonsolidasikan.

Merujuk pada Keputusan Menteri Desa PDTT RI Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Pembentukan Forum Perguruan Tinggi untuk Desa, ada sebanyak 49 PT yang tergabung dalam forum tersebut, namun belum semua PT menyelenggarakan program RPL. Beberapa PT anggota Pertides yang sudah menyelenggarakan RPL adalah: Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Manado, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Padjajaran, Universitas Bengkulu, Universitas Gajah Mada, Universitas Gorontalo, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, dan Universitas Pancasila. Penyelenggara program RPL adalah perguruan tinggi yang telah memiliki program studi yang menyelenggarakan RPL dan yang relevan dengan kebutuhan calon peserta program, pada jenjang S1 dan S2. Dengan kata lain, perguruan tinggi tidak perlu membuka program studi baru penyelenggara RPL.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan pemerintah kabupaten, misalnya dengan Kabupaten Bojonegoro, pada dasarnya pemda siap mendukung program RPL untuk Desa. Persiapan untuk mengikuti program ini tentu saja memerlukan berbagai konsekuensi, salah satunya adalah perlunya penyesuaian APBD. Juga diperlukan payung hukum dari puasat (Kemendes PDTT) sebagai cantolan untuk pelaksanaan program. Juga, tentu saja adalah adalah MoU antara pemda dengan Kemendes PDTT, serta pemda dengan perguruan tinggi penyelenggara RPL.

Persiapan juga menyangkut penyusunan capaian pembelajaran serta profil lulusan program RPL untuk Desa, yang akan menentukan pengalaman belajar yang  disediakan. Konten/materi yang khas dan spesifik sesuai dengan kebutuhan SDM Desa juga diidentifikasi. Beberapa konten seperti SDGs Desa, Pengelolaan BUMdes/BUMdesma, Pengelolaan Wisata Desa, Desa Cerdas dan Desa Digital, Teknologi Tepat Guna, Mitigasi Bencana, merupakan beberapa issu yang akan mewarnai konten. Issu yang lain seperti Penanganan Stunting, Desa Ramah Anak dan Perempuan, Desa Bebas Radikalisme, juga beberapa issu yang mengemuka. Issu lain yang relevan masih sangat dimungkinkan untuk diidentifikasi.

Tentu saja, dalam hal ini, diskusi intens antar stakeholder, sangatlah diperlukan. Begitu juga  hal-hal yang  menyangkut sistem perkuliahan, tidak saja mempertimbangkan kondisi pandemi, namun juga jarak, serta keharusan para peserta RPL yang tetap harus menjalankan tugas selama mengikuti program; merupakan hal-hal penting yang harus disepakati bersama. Juga berbagai standar sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT), misalnya syarat skor TEP, publikasi, dan memastikan data mahasiswa terkoneksi dengan Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDTT), merupakan hal-hal yang harus disiapkan.

Yang tidak kalah penting juga tentang kontrak komitmen. Setiap calon peserta program RPL harus menandatangani kontrak komitmen, baik dengan Kemendesa PDTT maupun dengan pihak penyandang dana/pemberi beasiswa. Klausul-klausul pada kontrak komitmen kepala desa, perangkat desa, TPP, tentu saja berbeda, karena kondisi dan tuntutan yang juga berbeda pada masing-masih profesi tersebut.

 

Antusiasme di Lapangan

Informasi tentang akan diselenggarakannya RPL untuk Desa baru saja disosialisasikan. Informasi melalui sebuah flyer yang berjudul RPL Desa hanya berisi tentang definisi singkat program tersebut, dibagikan pada seluruh komponen Kemendesa PDTT, termasuk para pendamping desa (TPP). Informasi ini telah mengundang banyak respon dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari calon peserta, juga beberapa penggerak swadaya masyarakat (PSM). Sekadar informasi, Kemendesa PDTT merupakan instansi pembina jabatan fungsional PSM di berbagai kementerian/ lembaga serta di pemerintah provinsi dan daerah. Tentu sangat bisa dipahami bila PSM juga merasa berhak untuk bisa mengikuti program RPL untuk Desa. Munculnya antusiasme PSM menjadi inspirasi untuk memunculkan program RPL untuk PSM.

Ternyata antusiasme juga muncul dari beberapa perguruan tinggi. Keinginan untuk menjadi bagian dari program ini, sebagai perguruan tinggi penyelenggara, adalah respon yang sebelumnya tidak terduga. Hal ini menimbulkan satu inspirasi juga, bahwa perguruan tinggi penyelenggara mungkin tidak harus dibatasi hanya PT yang terhimpun dalam Forum Pertides, namun juga PT yang memang memenuhi syarat untuk melaksanakan RPL.

Pemikiran ini bukannya tanpa alasan. Ada sebanyak 74.961 desa di seluruh Indonesia. Ada sekitar 35.000 tenaga pendamping profesional (TPP). Tentu saja ada jutaan perangkat desa, pengelola BUMdes/BUMdesa, dan pegiat desa lainnya. Mereka tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan respon lapangan saat ini saja, peminat Program RPL dari Desa, berasal dari berbagai provinsi. Bila program RPL untuk Desa dibatasi hanya diselenggarakan oleh PT yang terhimpun dalam Forum Pertides, hal ini tidak akan mengimbangi antusiasme di lapangan.

Menanggapi antusiasme ini, persiapan yang relatif matang harus dilakukan dahulu, terutama oleh Kemendesa PDTT, sebagai penanggung jawab program. Berbagai hal terkait kuota, perguruan tinggi penyelenggara, masa studi, penyandang beasiswa, cakupan beasiswa, sistem rekrutmen/seleksi, sistem perkuliahan, dan sebagainya, harus benar-benar dipastikan. Ibarat beperang, peluru harus sudah ada. Antusiasme dan gegap-gempita di lapangan tidak cukup ditanggapi hanya dengan sebuah jawaban normatif, misalnya, “semuanya sedang disiapkan dan dikoordinasikan, bila ada perkembangan terkini, akan segera diinformasikan”.

 

RPL untuk Desa dan SDGs Desa

SDGs Desa dengan 18 tujuan,merupakan arah kebijakan Kementerian Desa PDTT. Delapan belas (18) tujuan tersebut meliputi: 1) Desa tanpa Kemiskinan; 2) Desa tanpa Kelaparan; 3) Desa Sehat dan Sejahtera; 4) Pendidikan desa Berkualitas; 5) Keterlibatan Perempuan Desa; 6) Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi; 7) Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan; 8) Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata; 9) Infrastruktur dan Inovasi Desa sesuai Kebutuhan; 10) Desa tanpa Kesenjangan; 11) Kawasan Pemukiman Desa Aman; 12) Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan; 13) Desa Tanggap Perubahan Iklim; 14) Desa Peduli Lingkungan Laut; 15) Desa Peduli Lingkungan Darat; 16) Desa Damai Berkeadilan; 17) Kemitraan untuk Pembangunan Desa; dan 18) Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.

RPL untuk Desa merupakan salah satu program yang bertujuan untuk meningkatkan SDM desa. SDM desa merupakan faktor kunci dalam pembangunan desa. Dengan meningkatnya SDM desa, maka diharapkan desa akan lebih cepat berkembang, maju, mandiri, dan unggul. Bila desa-desa cepat berkembang, maju, mandiri, dan unggul, maka sangat bisa diharapkan terjadinya kemajuan dan keunggulan bangsa dan negara.  Dengan kata lain, peningkatan SDM Desa akan memberikan kontribusi yang nyata pada percepatan pencapaian seluruh indikator dalam 18 tujuan SDGs Desa.

Secara lebih spesifik, peningkatan SDM Desa menjadi akselerator dalam mewujudkan SDGs Desa, yang merupakan upaya terpadu pembangunan desa untuk percepatan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.  SDM desa yang unggul mendorong terwujudnya desa tanpa kemiskinan dan kelaparan, desa ekonomi tumbuh merata, desa peduli kesehatan, desa peduli lingkungan, desa peduli pendidikan, desa ramah perempuan, desa berjejaring, dan desa tanggap budaya untuk percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SGDs).

 

Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd
Kepala Badan Pengembangan SDM, PMDDTT, Kementerian Desa PDTT RI
Guru Besar Universitas Negeri Surabaya