Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Januari 2024

Ibu Mertua dan Zero Waste

Ibu mertua saya, Hj. Sri Lestari (almarhumah), adalah praktisi zero waste. Membaca postingan Bunda Aryani Widagdo tentang zero waste, mengingatkan saya pada Ibu Mertua, yang notabene adalah Ibundanya Mas Ayik Baskoro Adjie .

Ibu adalah sosok yang rajin dan irit. Kalau ada tempe dan tahu goreng yang disajikan untuk makan malam dan tidak habis, paginya sudah jadi oseng tahu tempe yang lezat. Ibu biasa menyajikan oblok-oblok atau blendrang yang meskipun mungkin gizinya sudah banyak hilang, namun rasanya enak sekali. Jenis hidangan seperti sambel tumpang, bothok, rempah (gorengan yang dibuat dari kelapa parut), telur atau ikan bumbu bali, abon, bahkan es buah atau jus buah, seringkali merupakan hasil rekayasa zero waste. 

Kalau sudah begitu, Bapak Mertua dan kami semua biasa berkomentar, “modif, modif. Gak montor tok sing dimodif." Ibu tertawa saja dan kami menikmati hidangan hasil modifikasi itu dengan nikmat.

Ibu selalu ngopeni dengan baik hidangan-hidangan yang tidak habis dan menyulapnya menjadi hidangan lain yang lezatnya tak terbantahkan.  Kami tidak pernah khawatirkan kelayakan dari setiap hidangan yang dimasak Ibu, termasuk hidangan  hasil modifikasi.

Untuk urusan pemanfaatan bahan makanan pun, Ibu sangat cermat. Misalnya kalau bikin udang goreng, maka kepala udang akan disisihkan, dihaluskan dan menjadi bahan tambahan untuk membuat kekian, bakwan sayur, atau dadar jagung. Tidak ada yang terbuang.  Belakangan saya tahu dari info Jeng Widowati Budijastuti , kalau cangkag udang itu bermanfaat untuk kesehatan. Menurut yang saya baca, cangkang udang merupakan sumber kalsium, mineral seperti magnesium, potasium, fosfor, dan juga mengandung protein.

Begitu juga dengan bahan makanan yang lain, Ibu berusaha sesedikit mungkin menyisakan sampah. Namun memang Ibu tidak memiliki pengolahan sampah, misalnya untuk menjadi kompos. Sampah bahan makanan biasanya diwadahi kantung plastik dan dibuang di tempat sampah di depan rumah. Oya, tapi sampah berupa kulit bawang merah dan bawang putih, seringkali Ibu kumpulkan untuk membuat telur pindang. Telur yang direbus dengan kulit bawang dan jambu biji akan menjadi telur rebus yang berwarna coklat dan berpola.

Tidak hanya dalam urusan makanan. Ibu yang hobi menjahit, hampir selalu membuat baju-bajunya sendiri. Mulai menggambar desain, membuat pola, memotong, menjahit, dan seterusnya, dilakukannya sendiri. Daster, kebaya, atasan, terusan, rok,  selendang, kerudung, piyama, yang memenuhi lemari pakaian Ibu, hampir semua adalah hasil karya sendiri. Ibu juga suka membuatkan kami semua, anak cucunya, baju-baju yang diberi sulaman nama masing-masing. Banyak sekali hasil karya ibu, termasuk lenan-lenan.

Bagaimanakah Ibu memperlakukan sisa kain? Nah, disinilah kepiawaian Ibu nampak sekali. Semua kain sisa jahitan dikumpulkan Ibu, diwadahi dalam sebuah keranjang besar. Ibu mengisi waktu senggangnya dengan menjahit kain-kain perca itu menjadi berbagai macam lenan dan bahkan juga baju dan piyama. Ada sprei, taplak meja, keset, sarung bantal, tutup kulkas, dan pernak-pernik yang lain. Tatakan gelas, tatakan mangkok penghidang, tudung saji, cempal, celemek, hampir semua sudah dibuat Ibu.

Ibu berpulang pada 2018. Sebagian barang hasil karya Ibu saat ini sudah tidak ada lagi, sudah rusak karena dimanfaatkan. Tidak terpikir oleh kami saat itu untuk setidaknya menyisihkan sekadar sebagai kenang-kenangan. Tapi masih ada cukup banyak peninggalan Ibu yang menjadi bukti betapa Ibu adalah sosok yang tidak mau diam, kreatif, dan inspiratif.

Di rumah kami, ada sprei, taplak, dan beberapa lenan hasil karya Ibu yang kami pasang dengan penuh rasa bangga. Lenan-lenan itu adalah hasil karya berwawasan zero waste. Sebagian sudah berubah warna atau aus dimakan usia. Namun melihatnya, senantiasa mengingatkan kami semua pada cinta dan kasih sayang Ibu.

Memanfaatkan hasil karya Ibu insyaallah menjadi amal jariyah Ibu, yang pahalanya terus mengalir. Amiin ya Rabb.

 

Jakarta, 31 Januari 2024

Minggu, 12 November 2023

Hutan Cempaka


Hari Jumat kemarin, saya terbang dari Denpasar menuju Surabaya. Sengaja ambil flight pagi, kebetulan tugas sudah saya selesaikan semalam, supaya saya bisa segera bertemu keluarga. Rencananya, sorenya kami akan ke Magetan, karena Sabtu malam, saya harus membuka kegiatan pelatihan content creator yang diselenggarakan oleh Puslat SDM kemendesa PDTT. Minggu sore juga ada kegiatan Peningkatan Kapasitas TPP di Graha Unesa, dan Pak Menteri diagendakan membuka acara. Jadi memang saya harus ke Surabaya untuk mengawal beberapa kegiatan tersebut.

Tiba-tiba Jumat sore, setelah mandi dan siap berangkat ke Magetan, si Kakak badannya panas. Saya katakan tiba-tiba karena pulang sekolah dia baik-baik saja, makan siang dengan ceria, dan mandi sambil main air dengan tertawa-tawa. Tapi memang dia agak batuk-batuk, dan saya pikir, mungkin karena itulah dia demam.

Rencana ke Magetan pun saya gagalkan. Segera saya koordinasikan pada staf dan Kapuslat SDM, saya tidak jadi bergabung. Cucu sakit, saya tidak tega untuk tinggalkan dia. Tapi kalau diajak,  tentu riskan. Acara di Magetan bisa dibuka oleh stafsus atau kapuslat SDM.

Tapi si Kakak rewel minta tetap pergi. Daripada terus rewel dan batuk dia semakin menjadi-jadi, kami putuskan untuk check in di hotel saja, yang penting keluar dari rumah membawa segala barang yang sudah kami persiapkan sejak siang tadi.

Malam itu kami tidur di Best Mansion. Si Kakak panasnya sudah mendingan setelah minum obat batuk dan obat turun panas. Malam itu dia tidur dengan baik.

Sabtu pagi, melihat Kakak sudah semakin sehat, kami memutuskan untuk pasang tenda di camping ground yang dekat-dekat saja. Sekadar memenuhi janji pada si Kakak, karena sebenarnya kami sudah menyiapkan tenda untuk dibeber di Magetan. Sekalian melatih si Adik untuk mengakrabi alam bebas.

Pilihan kami jatuh pada Hutan Cempaka, di Pasuruan. Rekomendasi adik kami yang dedengkot kemping, Dimas Prono Adjie dan Rika Adjie.

Pilihan pada Hutan Cempaka ternyata sangatlah tepat. Kami sering pasang tenda di banyak camping ground, tapi di Hutan Cempaka ini, sepertinya paling komplit sajian pengalamannya. Selain camping ground dengan fasilitas MCK yang bersih, Hutan Cempaka juga memiliki kedai yang menyediakan berbagai aneka panganan dengan siatem prasmanan, joglo besar dan kecil, dan juga panorama alam hutan pinus yang indah, lengkap dengan view Gunung Arjuno dan Anjasmoro yang begitu anggun. Udara sejuk tentu menjadi bonus tersendiri bagi kita yang setiap hari terpapar panas terik di kota-kota.

Yang juga sangat menarik dan menawan hati, ada pasar rakyat yang buka setiap Minggu Pahing dan Minggu Legi. Jadi sebulan pasar inj buka dua kali. Pasar yang menyajikan berbagai panganan tradisional, makanan dan jajanan.

Di tengah-tengah pasar itu ada panggung yang menampilkan berbagai kesenian tradisional, yang semuanya menonjolkan potensi lokal desa. Mulai anak-anak, remaja, dewasa, semuanya berpartisipasi aktif untuk meramaikan dan menyemarakkan. Sangat menarik dan merupakan meaningful learning bagi para generasi muda, untuk terlibat aktif dalam menjaga kelestarian alam dan budaya.

Dengan sajian alam yang begitu indah dan sajian pengalaman yang begitu bermakna, Hutan Cempaka menjadi referensi bagi setiap orang, terutama bagi keluarga yang ingin memperkenalkan keluarga kecil pada alam semesta. Membangkitkan kecintaan anak pada alam, insyaallah akan membangkitkan kecintaannya pada Sang Pencipta.

Surabaya, 12 November 2023

Minggu, 08 Mei 2022

Lebaran dan MC (lagi)


Lebaran ini saya memiliki kesibukan yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Cuti saya diisi dengan MC, momong cucu. Sebuah kesibukan yang sungguh menyenangkan. Lelah? Hilang semua lelah begitu melihat senyumnya, tawanya, pulasnya, bahkan rengekan dan tangisnya.

 

Diawali dengan kehadiran Lumi Latifa, cucu kedua, yang lahir pada 14 April 2022. Rute saya dari Jakarta tidak hanya ke Surabaya, namun juga ke Ponorogo.

 

Lumi lahir di Ponorogo, dan selama menunggu masa setelah 'selapanan', dia bersama Mommy Yoan Lita dan Daddy Barrock Argashabri Adji , serta--tentu saja--Kakak Kai, tinggal di Ponorogo. Didampingi oleh Tati Yuliana Fatimah dan Tatung Bagyo, juga Mimi Sari LiesTyowati , Lumi dan mommy-nya lebih aman di Ponorogo. Mimi, kakak Mommy, seorang perawat. Perawatan pasca kelahiran baik untuk ibu dan bayinya bisa dilakukan di rumah dengan lebih intens.

 

Selama cuti lebaran, saya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya pada 28 April sore. Penumpang membludak di Bandara Soetta, dan saya kembali menikmati sebagai ordinary people. Tanpa staf yang mendampingi dan membantu ini-itu, meski masih dimonitor ini-itunya. Tiket bisnis saya minta untuk di-down grade ke ekonomi. Saya mengangkat sendiri koper dan tas saya, sesuatu yang sejak sekitar sepuluh bulan ini tak pernah saya lakukan. Bahkan untuk memilih seat agak depan saja sudah tidak memungkinkan meski saya pemegang kartu gff platinum. Tak ada satu pun previllege yang berlaku untuk saya. Hehe. Saya sungguh menikmatinya.

 

Tiba di Surabaya pukul 20.00, meski seharusnya dua jam sebelumnya saya sudah mendarat. Ya, delay sekitar hampir dua jam.

 



Besoknya, yaitu 29 April, saya dan Mas Ayik Baskoro Adjie meluncur ke Ponorogo. Kami berada di Ponorogo sampai tanggal 3 Mei. Sehari di Guest House Kalandra milik adik sepupu, kemudian geser ke Ndalem Katong. Kai terus bersama kami, kecuali malam idul fitri. Kami sempat juga mengujungi Oma Diah Sastro  dan Mbak Gendis dan ber-bendi serta ber-pantai di Teleng Ria, Pacitan. 

 

Tanggal 3 Mei, kami meluncur ke Tuban. Kai bersama kami juga. Sehari di Tuban, saya sempat menghadiri halbil dan reuni SMP Filial dan SMADA Tuban, almamater saya. Bertemu dengan sekitar seratus teman lama, betul-betul sesuatu.

 

Dari Tuban, kami kembali ke Surabaya pada 4 Desember, selepas acara reuni. Bergulat dengan tugas-tugas seorang profesional. Mencuci, menyeterika, memasak, menyuapi Kai, menyapu, mengepel, bermain dan belajar bersama Kai, dan banyak lagi. Saya jamin, saya bukan amatiran dalam semua urusan ini. Boleh kok dibuktikan. Hehe.

 

Sore ini, saya harus kembali ke Jakarta. Tati dan Tatung sebenarnya sudah tiba di Surabaya sejak kemarin, dan bermaksud menjemput Kai, membawanya kembali ke Ponorogo, berkumpul bersama Mommy dan Lumi. Namun karena ada saudara yang sedang sakit dengan kondisi kritis di RKZ, Kai harus ikut bersabar dulu, menunggu kondisi memungkinkan untuknya. Ada Daddy, Opa, Dhe Yah, yang menemaninya.

 

Sejauh ini, Kai tidak pernah rewel. Selama dengan kami, hanya sekali atau dua kali dia memanggil-manggil Mommy-nya, yaitu saat kepalanya kejedot dan dia terjatuh. Saat ber-video call dengan Mommy-nya, dia mengobrol tanpa rengekan. Hal itu tentu saja membuat kami tenang. Namun bagaimana pun, saya ingin Kai bisa segera kembali ke Ponorogo dan berkumpul dengan Mommy dan adiknya. Tak ada tempat terbaik bagi seorang anak selain berada dekat dengan ayah bundanya.

 

Sabar ya, Kakak Kai.

Oma balik Jakarta dulu ya.

Baik-baik bersama Daddy, Opa, Tati, Tatung, dan Dhe Yah.

Insyaallah besok Kakak Kai sudah bisa bertemu dengan Mommy dan Adik Lumi.

 

Sehat selalu, Sayang.....

 

Surabaya, 8 Mei 2022

Sabtu, 25 Juli 2015

Lebaran, Pernikahan Perak Kami

Idul Fitri selalu istimewa. Bagi siapa saja. Bagi tua-muda, miskin-kaya, pria-wanita. Anak-anak kecil menyambut idul fitri dengan sangat suka cita. Ada baju baru, kue-kue, dan uang baru. Orang-orang tua juga menyambut lebaran dengan sangat suka cita, menyiapkan kupat sayur, lontong cap gomeh, kue-kue, dan uang baru untuk dibagi-bagikan. Bahkan kaum dzuafa pun menyambut idul fitri dengan sangat suka cita, karena sangat mungkin mereka akan mendapatkan santunan sembako, kue-kue, baju, sarung, dan uang. Dan yang lebih penting, idul fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam, setelah mereka berpuasa sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Hari di mana kita kembali fitri, suci bersih, seperti bayi yang baru lahir. Begitulah insyaallah, bila selama bulan Ramadhan kita beribadah dengan penuh keikhlasan dan semata-mata hanya mengharap ridha Allah Swt. 

Idul Fitri tahun ini, begitu istimewa bagi kami sekeluarga. Mungkin termasuk yang paling istimewa di antara idul fitri yang sudah kami lalui. Idul Fitri tahun ini, yang jatuh pada 17 Juli 2015, bersamaan tepat dengan ulang tahun pernikahan kami yang ke-25. Orang bilang, pernikahan perak. 

Kebetulan juga, ibu sebulan ini menempati rumah baru, rumah di samping rumah kami sekeluarga. Sengaja ibu kami boyong dari rumah Tanggulangin, supaya ibu bisa tinggal berdekatan dengan kami. Sejak berpulangnya Bapak sekitar setahun yang lalu, kami ingin ibu tinggal bersama kami. Alhamdulilah, Allah mendengar doa kami. Tetangga sebelah menjual rumahnya, dan syukurlah kami diberi kemudahan untuk membelinya. Jadilah ibu tinggal sangat dekat dengan kami. Sesuai dengan keinginan beliau, tinggal dekat dengan anak, tapi masih melakukan semuanya sendiri. Memasak, mencuci, bersih-bersih, semuanya tetap dilakukan sendiri. Ibu hobi memasak, menjahit, dan bertaman, dan beliau suka menghabiskan banyak waktunya untuk kegiatan itu.  

Ibu menyiapkan tumpeng nasi kuning pagi ini dan melengkapinya dengan ayam lodho dan berbagai makanan lain. Bulik kami, Bulik Is Hariyadi, yang datang dari Jakarta dan sudah di rumah kami sejak pertengahan puasa yang lalu, sangat membantu persiapan ini-itu. 

Selepas shalat eid, kami 'sungkem-sungkeman' ke ibu dan bulik Is Hariyadi. Adik kami, yang rumahnya di Gedangan, datang bersama anak semata wayangnya, Ichiro Bagaskara. Ramailah sudah rumah kami dengan tingkah polah Ichiro yang tidak mau diam. Ichiro, usianya tujuh tahun, adalah anak berkebutuhan khusus, yaitu down syndrom (DS). Namun, sebagai mana anak-anak pada umumnya, tingkah polahnya sungguh menggemaskan dan 'ngangeni'.

Sekitar pukul 10.00, tamu kami mulai berdatangan. Tamu kami, adalah para tetangga kiri-kanan yang sudah seperti saudara bagi kami. Sebagian besar mereka adalah penduduk asli Surabaya, dan memiliki kebiasaan 'unjung-unjung' selepas shalat eid. Tidak mudik ke mana-mana. Kalau pun ada yang mudik karena rumah mertuanya di luar kota, mereka biasanya berangkat malam hari. 

Momen unjung-unjung itulah yang kami manfaatkan untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan perak kami sekaligus memperkenalkan kehadiran ibu sebagai anggota baru di lingkungan kami. Tidak ada undangan khusus, tidak ada acara khusus. Ketika para tamu itu berkumpul, ibu memberikan sepatah dua patah kata, memohon doa restu mereka untuk kami sekeluarga. Lantas sebelum kami melengkapinya dengan pemotongan tumpeng kuning mungil itu, seorang tetangga kami, bapak Haji Abdul Rochim, kami minta untuk memimpin doa. Lalu kami semua menikmati makanan yang ada dengan suka cita, sambil beramah-tamah. Meski sederhana, rasanya acara ini sungguh berkesan.

Kalau ada tamu istimewa, mereka itu adalah Yuni dan anak-anaknya. Yuni, istri almarhum Mas Rukin, memang kemarin saya undang khusus melalui SMS, supaya dia dan anak-anak hadir untuk makan siang bersama. Tidak saya katakan kalau kami ada acara istimewa. Dia datang dengan dua anaknya, Chaca dan Lodi. Berbaju putih bersih, cantik-cantik dan cakep. 

Selain para tetangga dan Yuni sekeluarga, ada juga beberapa alumni PPG SM-3T yang datang. Mereka memang saya minta datang bila memungkinkan. Saya bilang, "ibuku masak nasi kuning, tolong kalian bantu habiskan." Sebanyak empat orang datang mewakili teman-temannya yang semuanya repot, karena memang momen seperti ini semua orang pada repot.

Jadilah siang itu rumah kami ramai dengan para sahabat, tetangga dan kerabat. Kami menikmati bakso, nasi kuning, dan nasi ayam lodho pedas serta kue-kue dan es buah. Beberapa teman dari PPPG yang hadir, Bu Lucia dan Mbak Ety, ikut melengkapi kebahagiaan. Alhamdulilah. Semuanya berjalan lancar, semuanya senang, insyaallah berkah bagi semua.

Saat para tamu pulang, kami tidak memberikan apa-apa sebagai suvenir, kecuali sebuah buku berjudul 'Saya Hanya Seorang Ibu." Buku itulah kado untuk pernikahan perak kami. Sekedar sebagai tanda dan rasa syukur, karena Allah SWT sudah mengizinkan kami mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan cinta ini.

Inilah kata pengantar buku sederhana kami itu: 

"Jumat, 17 Juli 1990. Saat matahari sudah mulai condong ke barat. Ya, sekitar pukul 15.00. 

Saat itu, halaman rumah bapak Zawawi Chusain dan ibu Basjiroh di Jenu, Tuban, penuh dengan tumpah ruah para tetangga, sanak-saudara, dan para sahabat. Juga di dalam rumah. Nyaris tidak ada tempat longgar sejengkal pun. Mulai dari teras, ruang tengah, ruang keluarga, dapur, bahkan di halaman belakang. 

Semua orang memenuhi setiap sudut. Dengan wajah-wajah yang cerah bahagia. Semua menyungging senyum. Mengucap selamat menempuh hidup baru pada dua sejoli yang telah menyatukan diri dalam sebuah pernikahan. Doa-doa berhamburan. Semerbak wangi bunga dan parfum berbaur dengan aroma makanan. Berbaur juga dengan alunan ayat suci Al Quran. Berbaur juga dengan mauidhoh hasanah. Berbaur juga dengan kata-kata bijak dari para wakil keluarga pengantin. Berbaur juga dengan kebahagiaan dan keharuan.

Dua sejoli yang sedang berbahagia itu, adalah Baskoro Adjie dan Luthfiyah Nurlaela. Senyum mereka, betapa indah, seindah busana yang mereka kenakan. Berkilau-kilau sorot mata mereka seperti kilauan manik-manik emas yang memenuhi setiap bagian tubuh, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Keindahan yang tak terkatakan, seperti keindahan yang melingkupi hati keduanya.

Dua puluh lima tahun yang lalu. Ya, 25 tahun. Seperti baru kemarin semuanya terjadi. Seperti baru kemarin saat dua sejoli itu duduk bersimpuh memohon doa restu bapak dan ibu tercinta. Seperti baru kemarin saat air mata bahagia dan haru mengaburkan pandangan. Satu di antara saat terindah dalam kehidupan, yang mungkin tak akan pernah terlupakan.

Dua puluh lima tahun yang lalu. Dan saat ini, ada sesosok pemuda tampan melengkapi kebahagiaan. Dialah M. Barok Argashabri Adji. Anak lelaki semata wayang yang menjadi tumpuan harapan. Dia adalah satu dari harta terindah dalam kehidupan, dan insyaallah akan menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi bapak ibunya, dunia akhirat.

Buku ini ditulis untuk menandai rasa syukur kami kepada Allah Yang Maha Mencintai, karena telah mengizinkan kami untuk mengarungi kehidupan ini dalam naungan pernikahan yang penuh cinta. Juga kami dedikasikan untuk ayah dan ibu kami, Bapak Nurhadi-Ibu Sri Lestari dan Bapak Zawawi Chusain-Ibu Basjiroh. Juga kami persembahkan untuk saudara-saudara kami terkasih: Mas Ib sekeluarga, Mas Zen sekeluarga, Mas Ipung sekeluarga, Dik Utik sekeluarga, Dik Hisyam sekeluarga, Iwuk sekeluarga, dan Dedi sekeluarga. Juga bagi orang-orang dekat yang tak terpisahkan dari sejarah hidup berumah tangga kami, salah satunya adalah Mbak Warsiyah sekeluarga. Tentu saja, bagi semua guru kami, sahabat kami, dan sanak-saudara kami yang lain. Juga, bagi Mas Rohman sekeluarga, yang selalu siap sedia mendukung dan membantu mewujudkan buku ini dan buku-buku kami yang lain.

Ya Allah, terimalah rasa syukur ini. Engkau telah memberi kami kebahagiaan yang begitu indah di dunia ini. Berikanlah kebahagiaan yang indah juga di akhirat kelak. Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat-Mu. Jangan biarkan kami menjadi orang yang ingkar akan semua kasih sayang-Mu. Berikan selalu taufiq dan hidayah-Mu, selalu jaga iman dan islam kami, selalu beri kekuatan, kesehatan, perlindungan, lahir dan batin untuk kami.

Ya Allah, berikan kami kebahagiaan dalam taqwa, islam, iman dan ihsan. Berikan kami kelapangan untuk selalu memohon pertolongan-Mu dengan salat dan sabar.  Berikan kami usia panjang yang barakah, rezeki yang halal dan barakah, ilmu yang bermanfaat dan barakah. Berikan juga kami sekeluarga kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin."

Surabaya, 17 Juli 2015


Wassalam,
LN

Sabtu, 07 Maret 2015

Barok

Sore ini begitu luar biasa. Barok marah hebat. Pasalnya, kamera dan lensa kesayangannya berubah posisi meski masih dalam kotaknya, kotor, lecet, dan....mungkin rusak. Dengan garang dia menghampiri bapaknya yang lagi di halaman depan.

"Bah, di mana rumah tukang goblok itu? Aku mau ke rumahnya, mau aku kaploki..."

Saya gemetaran. Barok kalau sudah marah, persis seperti warok murka. Meski tidak semua orang Ponorogo "ngedap-ngedapi' kalau marah, Barok termasuk jenis yang ngedap-ngedapi. Suaranya menggelegar sampai terdengar oleh orang sekampung. Wajahnya merah padam seperti kulit manggis. Tangannya mengepal-ngepal seperti petinju haus sasaran. Haduh, saya tak henti-hentinya baca istighfar dan memintanya untuk bersabar.

"Sabar Le, sabar Sayang..."
Dia tak peduli.
"Gak bisa lek koyok ngene suruh sabar, Bu. Ibu tahu, aku mengumpulkan semua barang itu dengan susah payah. Dihancurkan koyok ngene. Gak, gak iso. Tak parani wae wonge..."

Saya menangis.
"Le, lihat ibu, kamu nggak kasihan sama ibu? Barang itu nanti pasti ada gantinya kalau kamu ikhlas dan sabar. Gusti Allah sugih, Le...."

Barok tak peduli. Dia masih teriak-teriak. Dengan berteriak-teriak pula dia menelepon tukang itu. Sumpah serapah berhamburan dari mulutnya. Semua hewan dari kebun binatang disebutnya. Bahkan semua 'bekakas' lokalisasi pun diteriakkannya dengan fasih. Saya lemas. Duh Gusti, maafkan hamba-Mu ini. Entah dari mana anak itu mendapatkan kosakata seperti itu. Entah dari mana dia belajar kasar seperti itu. Duh Gusti, berikan hidayah-Mu. Lembutkan hatinya. Beri rasa takut pada ayah ibunya, pada Engkau. Lembutkan hatinya, Gusti....lembutkan. Engkau Yang Maha Memberi Kelembutan....

Saya terus menangis sambil gemetaran. Dada saya berdegup kencang, suara degupnya seperti terdengar di telinga saya, dan rasanya sakit sekali. Seperti dipukul-pukul. Istigfar dan shalawat terus saya lantunkan dalam hati.

Mas Ayik, suami saya, terus mencoba menenangkan Barok. Tapi semakin ditenangkan, anak itu semakin murka. Saya menghampirinya, terengah-engah menahan isak tangis.
"Le, lihat ibu, Le. Lihat Ibu. Kok kamu lebih sayang sama kamera dan lensa daripada sama Ibu se, Le?"

Barok merangkul saya. "Maaf, maaf, Bu. Maksudku nggak mau nyakitin Ibu." Sejenak saya tenang dalam pelukannya. Tapi itu hanya sekejap. Hanya sekejap. Sejurus kemudian, dia melepaskan pelukannya. 

"Tapi wong iki kurang ajar tenan." Suaranya kembali menggelegar. Kembali meledak-ledak.

Saya lemas, berjalan ke belakang, mengambil air wudhu dengan tubuh gemetaran, diikuti Mas Ayik.
"Ayo salat, Le." Ajak saya.
"Ibu salat duluan." Jawabnya tak peduli.
"Ayo jamaah."
"Nggak, aku mau salat sendiri."
"Wong biasane jamaah gitu lho, Le."
"Ya, tapi aku lagi pingin salat sendiri."

Kami pun membiarkan Barok dengan kemauannya. Kami berdua salat berjamaah di musala. Selesai salat maghrib, kami melengkapinya dengan salat sunnat ba'diyah. Lantas berlama-lama dzikir. Sambil menunggu Barok mengambil air wudhu. Ternyata dia wudhu di kamar mandi, dan salat di kamarnya, tidak di musala seperti biasa.

Saya mengambil Al-quran. Mengaji dengan suara pelan. Barok mondar-mandir berusaha memecahkan perhatian saya. Tapi melihat saya mengaji, dia akhirnya hanya duduk di depan saya.

Tiba-tiba anak itu terisak. Sambil terus menyesali kamera dan lensa-lensanya yang telah rusak. Saya merangkulnya. Mencium keningnya. Mengaduk-aduk rambut tebalnya. Memintanya bersabar. Dan menjajikan akan membantu dia mendapatkan kamera dan lensai-lensa itu kembali.

Sejujunya, saya bisa memahami kekecewaan dan kemarahan Barok, meski saya tidak setuju dengan caranya marah. Dia memperoleh kamera pertamanya sekitar tiga tahun yang lalu, saya dan bapaknya membelikannya. Dia suka fotografi dan menekuni hobinya itu tidak sekedar hobi, tetapi dia memanfaatkannya untuk belajar hidup mandiri. Dia bergabung dengan teman-temannya untuk memotret berbagai event, juga mengikuti berbagai event fotografi nasional dan internasional. Beberapa rupiah berhasil dikumpulkannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya dia bisa meng-upgrade kameranya dan membeli beberapa lensa. Dia berusaha sendiri, tidak meminta bapak ibunya untuk membelikannya. Memang pernah suatu ketika dia meminta kami membelikannya lensa, tapi kami janjikan setelah akhir semester, setelah dia bisa membuktikan pada kami kalau aktivitasnya di dunia foto itu tidak mengganggu kuliahnya. Rupanya Barok tidak sronto. Dan dengan usahanya sendiri, dari aktivitas fotografi dan bermusiknya, dia akhirnya mendapatkan kamera dan lensa-lensa yang diidam-idamkannya.

Dan sekarang kamera dan lensa-lensa itu berantakan. Debu-debu halus memenuhi sela-selanya. Kameranya bahkan lecet-lecet. Ya, kecewa betul dia. Sakit hati dia. Setelah mengumpulkan rupiah demi rupiah dari keringatnya sendiri...

Saya mulai mengajaknya bicara lagi. Menunjukkan contoh-contoh di sekitar, betapa kita seringkali tak berdaya dengan apa pun yang menimpa kita. Jangankan hanya kamera dan lensa, kalau Allah sudah berkehendak, dunia dan seisinya ini dapat dihancurkannya. Luluh lantak dalam waktu sekejap. Ingat tsunami, ingat gunung meletus, ingat kebakaran, ingat kecelakaan pesawat, ingat semua hal yang menyadarkan kita betapa kita tidak pernah berhak sepenuhnya dari apa pun yang kita miliki. Ada yang Maha Berhak dari yang paling berhak sekali pun. Maka, kata bapaknya: "ikhlas, nompo opo sing teko, nompo opo sing lungo."

Malam itu kami kembali salat berjamaah, menunaikan isya di musala. Setelah salat dan dzikir, kami tidak langsung beringsut dari musala. Barok bahkan menyelonjorkan kaki dan menghempaskan kepalanya di pangkuan saya yang masih bermukena. Saya mengusap-usap kepala dan keningnya dengan penuh kasih sayang. Anak ini sedang lelah lahir dan batinnya. Dan dia butuh tempat untuk menyandarkan lelahnya.

Kami mengobrol apa saja. Obrolan yang bisa menghibur hati Barok. Obrolan yang mampu menyentuh sanubarinya yang terdalam. Pada dasarnya, Barok berhati peka dan lembut, sekaligus sangat temperamental. Namun kami selalu yakin, sifat temperamentalnya akan berangsur reda, sejalan dengan kedewasaa dan kematangannya.

Kemudian, ketika saya membaca situasinya memungkinkan, saya berkata: "Dik, ada yang sebenarnya sangat memberati pikiran ibu..."
"Apa, Bu?"
"Kamu tadi....mengumpat-umpat pak tukang, kamu ngomong kasar sekali, tidak pantas lho...." Saya menunggu reaksinya sejenak, tapi Barok diam saja. "Seharusnya, kamu tidak hanya meminta maaf pada bapak ibu, tapi juga pada pak tukang..."
"Sudah kok bu..." Tukas Barok. "Aku tadi udah sms ke Pak Tukang, udah minta maaf dan udah kubilang dia tidak perlu ganti kamera dan lensa-lensaku..."

Alhamdulilah, Ya Allah. Saya nyaris menangis mendengar jawaban Barok. Perasaan lega memenuhi benak saya.

"Alhamdulilah, Sayang." Saya acak-acak lagi rambut tebalnya. "Alhamdulilah. Itu membuat ibu lega. Kamu tahu kan, Allah tidak akan memaafkan kita atas kesalahan yang kita buat pada sesama, kalau kita tidak saling memaafkan terlebih dahulu...."

"Ya, Bu...."

Malam ini begitu luar biasa. Baru tadi sore Barok marah hebat, dan saat ini dia sudah kembali menjadi anak kami yang begitu manis dan menentramkan. Ya Allah, berikan kesabaran dan hati yang ikhlas pada dirinya, berikan dia ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, usia yang panjang barakah, serta kemuliaan di dunia dan akhirat. Amin.

Surabaya, Februari 2015

Wassalam,
LN

Senin, 19 Januari 2015

Jogging Silaturahim

Meskipun kemarin Mas Ayik pingsan setelah jogging, pagi ini kami berdua sudah di jalanan lagi. Ya, apa lagi kalau tidak jogging. Tapi saya pastikan Mas Ayik jalan cepat saja, tidak boleh lari-lari. Pelipis kirinya yang diperban nampak bengkak, tapi dia ngeyel mau tetap keluar rumah untuk jogging. Dia merasa sehat, hanya pelipisnya saja yang bermasalah. Dari pada dia keluar rumah sendirian, maka saya temani saja. 

Semalam, lepas Maghrib, saya memboyong Mas Ayik ke Tanggulangin. Tidur di Tanggulangin. Bertiga dengan Arga, anak kami, menemani ibu. Mumpung malam Minggu. Tentu saja ibu panik melihat kondisi Mas Ayik. Tapi setelah kami jelaskan, dan Mas Ayik juga nampak tidak terlalu menderita, ibu tenang. 

Kami menghabiskan malam Minggu dengan mengobrol dan mendengarkan ibu bercerita. Juga menikmati acara televisi. Pokoknya bersantai sesantai-santainya. Tumpukan koreksian sengaja tidak saya bawa, karena saya tidak ingin terbebani dengan pekerjaan itu. Biar full time menikmati kebersamaan dengan keluarga, meski hanya ngobrol dan menghasidkan sup hangat dan ayam goreng bikinan ibu.

Sambil jogging, kami memutuskan untuk sekalian bersilaturahim, mengunjungi Yuni, istri almarhum sahabat kami, Rukin Firda. Sambil menyelam minum air. Dapat keringat, dapat pahala silatirahim. Sehat lahir dan batin. Hehe.

Semalam, Yuni menelepon. Seperti biasa, kami mengobrol saja. Kami memang sering bertelepon, sejak sebelum Mas Rukin pergi. Sekadar saling bertukar kabar. Juga tadi malam, kami mengobrol ringan tentang acara ulang tahun Himapala. Juga tentang pengalaman Yuni di Tanah Suci. Dia bersama ketiga anaknya memang baru pulang umroh beberapa hari yang lalu. Dia menceritakan perjalanan umrohnya, dan bilang kalau dia dan anak-anak ingin kembali lagi ke sana, insyaallah dua atau tiga tahun lagi. 

"Alhamdulilah, Mbak. salah satu amanah Mas Rukin sudah aku tunaikan...." Begitu kata Yuni. 

Jarak rumah kami di Perum TAS 2 tidak terlalu jauh dengan rumah Yuni di Kalitengah, mungkin sekitar dua kilometer. Karena kami sudah terbiasa jogging dengan jarak sekitar tiga sampai lima kilometer sehari, berjalan kaki ke rumah Yuni pulang pergi tidak masalah.

Yuni kaget ketika kami muncul di rumahnya. Seperti biasa, dia memeluk saya erat.
"Yun, aku kemringet, Yun, mari jalan-jalan, wis gak usah cipika-cipiki." Kata saya melepaskan pelukan Yuni. 

Kami mengobrol di ruang tamu. Chacha, anak pertama Yuni dan Mas Rukin, keluar kamar. Dia bersiap-siap mau berangkat kerja.

"Mau ke mana, Cha?" Tanya Mas Ayik.
"Ke car free day, Om."
"Main apa meliput?" Tambah saya.
"Meliput, Tante...."

Chacha mennyalami saya, Mas Ayik, dan mamanya. Pamit kerja. Sampai malam. Dia mewarisi bakat bapaknya, jadi reporter juga. Berangkat pagi pulang malam. Hampir setiap hari seperti itu.

"Ya...gimana lagi, Mbak...papanya dulu yo ngono iku..." Kata Yuni. 

Di ruang tamu itu, nyaris tidak ada yang berubah, tetap seperti saat Mas Rukin masih ada. Juga foto-foto di dinding. Mas Rukin berdua dengan Yuni, Mas Rukin sekeluarga, Mas Rukin berpose di depan mobil offroad.... Hati saya sempat perih melihat gambar-gambar itu. Kesedihan tiba-tiba menyeruak.

"Mas Rukin seneng, Mbak...sampai karo Mas Ayik ndolani aku ngene iki...." Yuni mulai melankolis. Bercerita apa saja saat Mas Rukin masih ada. Tentang sepeda motor, mobil, anak-anak, tugasnya di sekolah, yang semuanya berkaitan dengan Mas Rukin. Laptop Mas Rukin di meja, juga diceritakannya. Dia bilang, sampai sekarang dia belum bisa membuka laptop itu. Setiap mau mulai membuka, dia menangis, teringat betapa benda itu begitu lekat dengan Mas Rukin. Akhirnya sampai saat ini, Yuni belum juga merasa kuat untuk membuka laptop itu. 

"Ndelok foto-foto sampean nang FB, walah Mbak....biyen janjian kate camping nang Banyuwangi karo Mas Rukin gak iso-iso....cutine Mas Ayik karo Mas Rukin gak ketemu-ketemu...." Yuni mulai menangis. Saya menepuk-nepuk punggungnya.

"Hayo, mulai...."

Yuni selalu seperti itu. Menangis setiap kali bercerita tentang Mas Rukin. Selalu menangis saat mengobrol dengan saya, apakah itu di telepon, atau bertemu muka seperti ini. Saya pernah bilang ke dia, "Yun, kalau kamu nangis terus begitu, kamu nanti kurus lho." Dia lantas tertawa, meski tetap sambil nangis.

"Rasanya begitu cepat, Mbak...." Matanya semakin basah.
Saya merangkulnya."Yun, sabar. Kamu harus kuat. Harus tabah. Kamu dibutuhkan anak-anak..."
"Bacakan Fatihan setiap saat untuk Mas Rukin, Yun..." Tambah Mas Ayik.
"Sudah Mas....terus saya bacakan, Mas...."

Saat situasi memungkinkan, kami pamit, setelah menghabiskan air putih yang tadi sempat disiapkan Chacha. Air putih itu tidak hanya sangat segar, namun juga sangat penting untuk menjaga supaya tidak terjadi dehidrasi atau gangguan keseimbangan elektrolit lagi, seperti kemarin. Gangguan yang menyebabkan Mas Ayik pingsan. Mosok kate mbaleni semaput maning....

Yuni mengantar kami. Di depan pintu teras, kami berbincang sebentar dengan tetangga Yuni yang kebetulan sedang ada di depan rumah mereka. Yuni mengenalkan kami sebagai sahabat-sahabat baik Mas Rukin. Dua orang ibu, tetangga Yuni, menyalami dan menyapa kami. Mereka bilang, "Bu Rukin niku nangisan, Bu..."

Saya tertawa. Mengucek-ngucek kepala Yuni. "Inggih, Bu. Niki nangisan ancene. Titip nggih, Bu. Menawi nangis dineng-neng...."

Saya menjelaskan ke ibu-ibu itu, kalau kami bersahabat sejak lama. Yuni adalah adik angkatan saya di PKK dan di Himapala, Mas Rukin teman seangkatan saya di Himapala, dan Mas Ayik kakak angkatan kami di Himapala. Mulek. 

Saya memeluk Yuni erat. Dia nggak mau melepas-lepas. Punggung saya yang basah nggak dipedulikannya. Sebenarnya tidak hanya punggung saya yang basah, hati saya juga kuyup. Rasa kehilangan saya saja begitu dalam, apa lagi Yuni dan anak-anaknya.

Tapi saya yakin, Yuni dan anak-anak bisa menghadapi cobaan ini dengan tabah. Kalau sesekali dia menangis, itu sangat manusiawi. Rasa kehilangan yang sangat membuat air matanya meleleh begitu saja karena dihempas kesedihan. Dia hanya perlu waktu untuk menata kembali perasaannya supaya lebih kuat.

"Wahai Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang bisa menjauhkan dari perbuatan maksiat kepada-Mu, dan berilah kami rasa taat kepada-Mu yang dapat memasukkan kami ke dalam surga-Mu, dan berikanlah kami keyakinan yang bisa membantu kami menghadapi setiap cobaan-Mu. Amin."


Tanggulangin, 18 Januari 2015

Wassalam,
LN

Minggu, 18 Januari 2015

Jogging Sampai Pingsan

Pagi ini, seperti biasa, saya jogging bersama Mas Ayik, suami saya. Kali ini, kami jogging di Masjid Agung Al-Akbar Surabaya (MAS). Biasanya kami akan memutari masjib besar itu tiga sampai lima kali, bergantung dari waktu yang tersedia dan semangat yang ada. Saya berjalan cepat, dan mas Ayik berlari-lari kecil.

Beberapa bulan ini, kami memang mengganti kegiatan bersepeda dengan lari-lari dan jalan cepat. Mas Ayik sedang gandrung lari-lari, dan saya mengimbanginya dengan berjalan cepat. Untuk perempuan empat puluh tahun ke atas seperti saya ini, lari-lari sudah tidak disarankan, begitu juga senam aerobik. Yang baik adalah olah raga jalan sehat dan senam yang tidak menggunakan hentakan-hentakan keras. Bersepeda dan renang juga baik.

Saya berhenti pada putaran ketiga. Mas Ayik juga berhenti, terus bertanya: 'wis muter ping piro?" 
"Tiga." Jawab saya sambil menunjukkan tiga jari saya. 
"Aku tak muter pisan maneh yo?"
"Yo. Tak tunggu ning kene yo."

Sementara Mas Ayik melanjutkan lari-lari kecilnya, saya membuka BB. Mulai menulis. Melanjutkan tulisan laporan perjalanan saya ke Banyuwangi, saat monev Jatim Mengajar tempo hari. Di kanan-kiri saya, beberapa perempuan juga sedang duduk-duduk membuka gadget-nya, mungkin menunggu pasangannya masing-masing, seperti saya. 

Di tengah keasyikan saya menulis, tiba-tiba Mas Ayik muncul. Nafasnya ngos-ngosan. Keringatnya bercucuran. 
"Lho, kok cepet muternya?" Tanya saya.
Mas Ayik tidak menjawab. Mengambil air minum.
"Mas, baju muslim untuk laki-laki itu apa namanya?" Tanya saya lagi.
"Gamis," kata Mas Ayik masih dengan nafas ngos-ngosan.
"Bukan, yang kemeja, Mas."
"Emm...takwa, baju takwa."
"Ya, betul."

Baru saja saya mau menulis lagi, tiba-tiba saya merasa ada yang aneh pada Mas Ayik. Dia bersandar di dinding, tapi 'ngedet-ngedet', wajahnya pucat, matanya kosong.

"Ada apa, Mas?" Tanya saya. Mas Ayik suka bercanda, suka ngusilin saya, saya kira itu juga bagian dari candanya dan keusilannya.

Belum sempat saya menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba, dengan begitu cepat, Mas Ayik ambruk, jatuh tertelungkup, terhempas ke aspal kasar. Saya langsung melempar BB saya, dan meraih Mas Ayik yang kejang-kejang. Merangkulnya dan menggerak-gerakkan tubuhnya yang dingin. 

"Astaghfirullah, astaghfirullah, Mas, Mas..... Astaghfirullah.." Saya panik, histeris, berteriak-teriak. "Pak, tolong saya, Pak... Tolong Pak... Bawa kami ke rumah sakit, Pak..." Suara saya meraung-raung. Saya membangunkan Mas Ayik, tubuhnya masih kejang-kejang, darah mengucur deras dari pelipisnya, masuk ke hidung, mengaliri bibirnya, lehernya. Seorang ibu mengulurkan kain dan menutup luka di pelipis Mas Ayik. Saya terus berteriak-teriak minta supaya kami dibawa ke rumah sakit. Dalam pikiran saya hanya satu. Mas Ayik harus segera dibawa ke rumah sakit, segera mendapatkan pertolongan, jangan sampai terlambat, jangan sampai terlambat."

"Tolong, Bapak, tolong kami Bapak..." Saya menghiba-hiba pada mobil yang lewat, keluar dari tempat parkir. Tiga mobil lewat, tak satu pun berhenti. Seorang ibu ikut mondar-mandir mencoba mencari pertolongan. Lantas datang seorang bapak-bapak, kemudian dia meminta petugas MAS untuk membantu. Di tengah kepanikan saya yang semakin memuncak, tiba-tiba saya mendengar suara Mas Ayik. 
"Sudah, Yang, aku nggak papa, sudah, jangan nangis, Yang..."
"Subhanallah, Allahu Akbar, Alhamdulilah..." Saya lega luar biasa mendengar suara Mas Ayik. Tapi saya terus berteriak minta bantuan. "Mas harus dibawa ke rumah sakit. Harus segera dibawa ke dokter." Saya terus mendekap kepala dan tubuhnya. 

Akhirnya datanglah mobil bak terbuka, milik MAS, bersama petugasnya. Supir dan salah satu petugas lagi, membantu Mas Ayik berdiri, menuntunnya masuk ke bak belakang. Saya duduk di sisi Mas Ayik. Terus mendekapnya, mencoba menghentikan pendarahan di pelipisnya. Seorang petugas duduk di depan saya, menenangkan saya. 
"Ke Rumah Sakit Cempaka saja yang Bu? Yang dekat. Biar bapak segera dapat pertolongan."
"Ya, Pak."

Di mobil, darah terus mengucur dari pelipis kiri Mas Ayik. Saya bertanya, "Apa yang sekarang Mas rasakan?"
"Tidak apa-apa."
"Mas tadi itu...." Saya menceritakan kejadian yang tiba-tiba tadi, sambil terus membersihkan darah di muka Mas Ayik.

Begitu sampai rumah sakit, dua petugas dari MAS tadi membantu kami turun. 
"Bu, kami langsung kembali ya, Bu. Nanti motornya di Masjid Agung bisa diambil sewaktu-waktu kalau sudah memungkinkan."
"Pak, lha untuk ongkos mobil ini...?"
"Sudah, tidak usah, tidak apa-apa, yang penting Bapak segera dapat pertolongan".
"Aduh, matur nuwun, nggih, Pak..."

Saya tidak mengulurkan serupiah pun untuk kedua petugas itu. Bukan hanya karena saya uang di kantung saya tidak banyak, namun saya juga sedang menikmati ketulusan kedua orang baik itu, petugas MAS. Saya salut dengan gerak cepat mereka, yang begitu sigap memberi pertolongan, dan tanpa pamrih. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, MAS.

Di rumah sakit, perawat bergerak cepat. Membersihkan luka di pelipis Mas Ayik. 
"Suster, boleh saya cuci saputangan ini di wastafel itu?" Tanya saya.
"Boleh, Bu, silahkan."
"Saya mencuci saputangan yang penuh dengan darah itu. Air cucian merah segar. Saya bilas berkali-kali. Sementara suster sibuk memberisihkan luka, mengukur tekanan darah dan detak jantung, saya sibuk membersihkan kotoran di tangan dan kaki Mas Ayik. Mencoba membuatnya senyaman mungkin. Menyeka keringat di sekujur tubuhnya. Melepas kausnya yang basah kuyup. Dan menelepon Mbak Iyah, penunggu rumah kami, untuk membawakan baju bersih dan sandal jepit. Juga mengambilkan dompet saya di tas di dalam kamar. 

Alhamdulilah, Ya Allah. Akhirnya dokter datang. Dokter yang masih muda dan tampan itu, begitu cekatan namun penuh kelembutan menangani Mas Ayik. Memeriksa luka, membubuhkan cairan merah tua, menyuntikkan obat bius, menjahitnya, dan menutup luka itu dengan perban. Tentu saja dibantu seorang suster yang juga cekatan tapi lembut. Saya menyaksikan semua proses itu dengan cermat. Meski agak ngeri juga melihat daging segar itu ditusuk-tusuk.
"Jahitannya nanti harus diangkatkah, Dok?" Tanya saya.
"Ya, Bu. Harus diangkat." Jawab dokter. "Bu, Bapak lukanya dalam sekali. Bapak perlu suntik antitetanus, agak mahal, tapi harus disuntik."
"Inggih, Dokter, tidak apa-apa." 

Selepas proses penjahitan, dokter duduk di sebelah Mas Ayik. Berbicara pada kami berdua. Menasehati supaya lebih hati-hati kalau jogging. 
"Untuk seusia Bapak, harus ingat, metabolisme tubuh sudah tidak sama lagi ketika Bapak masih muda. Jadi Bapak harus bisa mengatur pola olah raganya. Kalau jogging, sebelum, di antara, dan setelahnya, Bapak harus minum, meskipun tidak haus."

"Dok, yang menyebabkan Bapak kejang-kejang tadi itu apa nggih, Dok?" Saya menyela.

"Bisa karena gulanya drop, bisa karena dehidrasi, bisa karena keseimbangan elektrolit terganggu." Jawab dokter. "Untuk kasus Bapak, kemungkinan karena keseimbangan elektrolit, Bu." 

Sepulang dari rumah sakit, saat Mas Ayik sudah bersih, makan, dan minum obat, saya membuka google dan mencari artikel tentang bagaimana olah raga yang sehat dan tidak menyebabkan dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit. Betul kata dokter tadi. Sebaiknya 30 menit sebelum jogging, lari, dan olah raga di tempat terbuka dengan kelembaban tinggi, kita harus minum. Sekitar 30-45 menit setelah jogging, minum lagi, sambil beristirahat beberapa saat. Kalau mau jogging lagi, waktunya tidak perlu lama, cukup 15-17 menit.

Saya berkali-kali memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena musibah ini ternyata tidak seberat yang saya bayangkan. Mas Ayik kejang-kejang dan pingsan 'hanya' karena kelelahan akibat terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit. Bukan karena yang lain. Lukanya insyaallah akan segera sembuh. Dokter tadi bilang, tiga hari lagi lukanya akan dikontrol, dan tiga atau empat hari lagi jahitannya akan diangkat, dan Mas Ayik akan segera pulih kembali.

Ya Allah, berikan kami sekeluarga kesehatan dalam keimanan, keimanan dalam keindahan akhlak, kemenangan yang disertai keberuntungan, rahmat dari sisi-Mu, keselamatan dan pengampunan, serta keridhaan dari sisi-Mu." 

Surabaya, Sabtu, 17 Januari 2015

Wassalam,
LN

Senin, 04 Agustus 2014

Muhibah Lebaran (4): Ngumpulke Balung Pisah

Sekitar pukul 21.30, kami pamit pada Paklik Mujab sekeluarga. Perasaan bahagia karena bisa bertemu dengan Paklik Mujab dan putro-wayah masih terasa membuncah di dada. Benar. Pertemuan seperti ini menjadi barang langka, mahal dan sangat berharga. Begitu mahalnya sehingga perlu pengorbanan, tenaga, waktu dan tentu saja sumber daya yang lain, untuk mewujudkannya. 

Saya jadi ingat pada Simbah Kakung Solo, Kyai Shoimuri. Simbah Kakung adalah putra dari Kyai Siroj. Kalau ingin tahu siapa Kyai Siroj, yang biasa disebut Mbah Siroj, googling saja, Anda akan banyak menemukan tautan tentangnya. Kyai Siroj dikenal sebagai pendakwah yang luas pergaulannya, moderat, dan bersahabat dengan semua suku, agama dan ras. Sampai saat ini pun, khoul Kyai Siroj tetap diperingati setiap tahun di Solo,  dan dihadiri oleh jamaah dari berbagai penjuru Tanah Air. Acara khoul ini, juga menjadi ajang reuni bagi kami semua, keluarga besar Bani Siroj. 

Kembali pada cerita tentang Simbah Kakung saya. Beliau dikenal sebagai ahli silaturahim. Jarak sejauh apa pun akan beliau tempuh untuk menjumpai para sanak saudara, kerabat, dan santri. Beberapa kali beliau rawuh di rumah kami, di Jenu, membawa kerabat baru, yang ternyata masih saudara kami yang telah puluhan tahun hilang, tak terendus jejaknya. Begitu kuatnya kemauan beliau untuk terus-menerus 'ngumpulke balung pisah' hingga sampai akhir hayatnya, sampai saat ini balung-balung yang sudah terkumpul itu terus menikmati dan mensyukuri berkah silaturahim itu. Tersambung dan menyatu dengan anggota Bani Siraj yang lain.

Saya bandingkan dengan apa yang kami lakukan sekarang, pengorbanan kami untuk bersilaturahim, tentulah tidak ada apa-apanya. Kami memiliki sarana untuk melakukannya. Ada kendaraan pribadi. Kalau pun tidak ada, ada kendaraan umum yang sepanjang waktu tersedia. Ada juga sepeda motor yang seringkali membuat perjalanan lebih mengasyikkan, touring sekaligus silaturahim. 

Saya sekeluarga sudah mengalami semua, naik kendaraan umum, naik sepeda motor, dan naik kendaraan pribadi. Tidak hanya saya sekeluarga yang melakukan itu, hampir semua saudara saya melakukannya juga. Bapak ibu kami mengajarkan pentingnya silaturahim, sehingga sowan-sowan dari ujung ke ujung ketika lebaran menjadi tradisi keluarga. Kadang-kadang, bila kesempatannya cocok, kami melakukannya dengan berkonvoi. Begitulah. Mungkin yang melihat tradisi keluarga kami ini akan mbatin, kok mau-maunya.... Ya. Nikmatnya bersilaturahim hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mencintai silaturahim.

Sekitar pukul 23.00, kami tiba di rumah ibu, di desa Jenu, Tuban. Rumah besar yang sekompleks dengan sekolah RA, MTs dan MA itu, sepi. Pintu besarnya tertutup rapat. Setelah membuka dan menutup kembali pintu pagar, kami langsung memarkir mobil di halaman belakang. Sudah ada Karimun milik Dik Utik, adik saya, parkir di situ. Juga mobil Espass, milik ibu. Halaman belakang itu menyatu dengan rumah Mas Zen, kakak kami, kepala sekolah M.Ts Al-Hidayah, sekolah yang bernaung di bawah yayasan Al-Hidayah, yayasan yang dibangun oleh keluarga kami. Ketua yayasan adalah ibu saya, yang oleh orang-orang disebut Ibu Nyai Basjiroh.

Ibu sendiri bukan orang baru dalam bidang organisasi. Pengalamannya dalam organisasi IPPNU telah mengantarkan beliau pada jabatan sebagai sekretaris kepengurusan IPPNU Pusat pada periode pertama kepengurusan, dan sebagai Ketua pada periode kepengurusan kedua. Ibu juga terjun ke dunia politik dan itu mengantarkan beliau sebagai anggota DPRD Kabupaten Tuban pada tahun 70-an. Meskipun ibu sekarang mengaku muak dengan dunia politik, namun bagaimana pun ibu juga mengakui, dunia itu telah memberi banyak pengalaman dan pelajaran hidup baginya. Salah satu pelajaran hidup yang beliau tanamkan pada kami, "lek iso, ora usah melu-melu terjun ke dunia politik. Wis cukup ibu wae." Kebetulan, dari enam putra-putri ibu, tidak ada seorang pun yang tertarik terjun ke dunia politik, meski tawaran itu datang silih berganti. Saat ini, pada usia beliau yang menginjak 78 tahun, alhamdulilah, ibu dikaruniai kesehatan yang sangat baik, dan memungkinkan beliau untuk terus berdakwah serta mengabdikan diri pada pendidikan agama. Keterlibatan beliau dalam dunia politik saat ini hanya sebatas dimintai doa restu oleh para caleg yang akan maju. Ibu tentu saja paham betul apa yang dimaui para caleg itu dengan memohon doa restu beliau. Maka, beliau akan selalu bilang, "lek olehmu nyaleg iku ngko nggowo barokah, tak dongakno hasil. Ning lek malah ndadekno mudhorot, tak dongakno ora hasil." 

Saya membuka ponsel. Ibu yang terus memantau kami sepanjang perjalanan tadi berpesan, kalau kami sudah sampai, saya diminta menelepon, untuk membangunkan ibu. Kalau mengetuk pintu, ibu khawatir beliau tidak mendengar, karena jarak pintu belakang dengan kamar ibu yang lumayan jauh. 

Begitu pintu dibuka, saya langsung merengkuh tangan kurus itu, milik tubuh mungil yang begitu saya cintai. Ibu saya. 
"Assalamualaikum, Mik." Saya mencium punggung tangannya. "Ngaturaken sedoyo kalepatan, nyuwun pangapunten. Ngaturaken salam lan sungkem saking keluarga Ponorogo, Solo, Boyolali, Rembang lan Pamotan"

"Waalaikum salam. Iyo. Podho-podho, Umik yo semono ugo."

Kami memasuki ruang keluarga. Sepi. Dik Utik sekeluarga, yang juga baru datang dari Bojonegoro sore tadi, sudah pulas. Mas Ipung sekeluarga, saudara kami yang tinggal bersama ibu, sudah tak ada suaranya. 

"Sampun, Mik. Umik enggal istirahat malih, sampun dalu, mangke dalem ringkes-ringkesi. Lawangipun dalem mangke ingkang nutup."
"Ora tak gawekke teh disik?"
"Sampun, Mik. Mboten sisah, maturnuwun. Air putih kemawon. Lha meniko, kantun mendhet." Jawab saya.
"Yo wis, Umik sare maneh yo. Ojo lali nutup lawang."
"Inggih."

Malam itu, kami menurunkan hampir semua bagasi dari mobil. Kue-kue dan hadiah lebaran untuk ibu, para saudara, dan para keponakan. Inilah momen berbagi yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Berbagi dengan para saudara, kerabat, dan tentu saja, orang tua. Mungkin tidak seberapa barang-barang yang kami bagikan, tapi bahwa itu sebagai bukti kalau kami selalu mengingat mereka, tentulah maknanya sangat bernilai. 

Larut malam mengantarkan kelelahan kami dalam tidur yang nyenyak. Masih ada serangkaian agenda selama tiga hari kami di Tuban ini. Apa lagi kalau bukan silaturahim. Ke sanak saudara, ke para sahabat. 

Arga yang kelelahan setelah menjadi driver jarak jauh, sudah tertidur pulas. Saya menatap wajah bulatnya yang tampan, mengelus rambutnya. Saya bersyukur pada Allah SWT, bagaimana pun, Arga yang cenderung sakarepe dewe itu, sudah terbiasa dengan tradisi silaturahim dalam keluarga besar kami. Dia tidak pernah mengeluh karena jauhnya jarak yang harus ditempuh, ditambah dengan kelelahan karena kemacetan di jalan, dan juga tugas tambahannya sebagai driver andalan. Dia nampak menikmati sekali pertemuan demi pertemuan dengan saudara-saudaranya, bercanda, bercerita, saling menggoda, dan berpisah setelah saling bersalaman dan saling mendoakan. Semoga kecintaannya pada silaturahim terus terjaga, sebagaimana kecintaan silaturahim yang telah diajarkan dan diwariskan oleh kakek nenek dan buyutnya.

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”. QS. An-Nisa’: 36.


Tuban, 30 Juli 2014

Wassalam,
LN    

Muhibah Lebaran (3): Jangan Percaya Google Map

Pukul 08.30, kami berangkat dari Hotel Dana, Solo, tempat kami transit semalam. Kami meluncur ke arah Purwodadi. Persis saat adzan dhuhur, kami tiba di rumah Pak Leksono, dosen PKK Unesa, teman seperjuangan saya. Pak Leksono adalah teman seangkatan saya di Tata Boga, yang sekarang juga sekantor dengan saya. Ini kali kedua kami mengunjungi rumahnya di Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Purwodadi. Kunjungan pertama kami sudah beberapa tahun yang lalu, juga dalam rangka muhibah lebaran seperti ini. Pak Leksono dan keluarganya nampak bahagia sekali karena kunjungan kami. 

Selepas makan siang dengan menu mi kocok dan bakso yang lezat, jualannya adik Pak Leksono sendiri, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami tentu saja ke Rembang, ke rumah bulik Muhsinah, adik ibu, istri almarhum Kyai Cholil Bisri. Seperti Solo dan Boyolali, Rembang juga banyak menyimpan kenangan masa kecil saya.

Menjelang maghrib, kami tiba di rumah Bulik Muhsinah, di Kompleks Pondok Pesantren Roudhotul Thalibin. Mobil kami parkir persis di samping kiri rumah. Beberapa santri kami lihat tersebar di beberapa tempat, di pintu samping kiri, di teras masjid, dan di depan rumah Gus Mus (Mustofa Bisri) di seberang jalan. 

Saat melintasi teras, kami sempat melihat dik Yahya, putra pertama Lik Ying (panggilan akrab Kyai Cholil Bisri), sedang njagongi para tamu di ruang tengah. Kami terus saja, menuju pintu samping sebelah kanan, pintu untuk para keluarga dan kerabat dekat. Bertemu dengan dik Inab, adik Dik Yahya, yang akan keluar sowan-sowan. Begitu melihat saya, dia teriak "Innalilah..." Dia menghambur memeluk saya. "Mbak Luluk....suweneng aku, suweeee gak ketemu...".
"Lha suwe gak ketemu kok innalillah." Kata saya.
"Haha...yo ngono iku, Mbak, aku lek surprise mbengokku keliru...haha."

Dik Inab berlalu ke arah mobil yang membawa rombongan keluarganya, yang sudah menunggu. Kami langsung masuk rumah, bertemu seorang santri putri, dan langsung disilakan naik ke lantai dua.

Di lantai dua inilah tempat pribadi Bulik Muhsinah dan keluarga Dik Yahya. Tentu saja hanya tamu-tamu khusus yang diperbolehkan mencapai ruang ini. Selain kamar dan ruang tamu pribadi Bulik, juga ada ruang-ruang lain yang dimanfaatkan untuk keluarga Dik Yahya. Oya, Dik Yahya, nama lengkapnya adalah Yahya Cholil Tsaquf, waktu Gus Dur jadi presiden, dia adalah salah satu juru bicaranya. 

Karena sudah Maghrib, saya minta izin ke santri putri itu, untuk berwudhu. Saat mau masuk toilet, Dik Nunik, istri Dik Yahya, tiba-tiba muncul. Saya menyalaminya.
"Njenengan sinten leh?" Tanyanya, dengan logat khas Rembang.
"Njenengan sinten, njenengan sinten." Sahut saya pura-pura sewot.
"Ya Allah, Mbak Luluuuukkkkkk...." Dik Nunik teriak, memeluk saya. "Sepuntene, Mbak...pangling kulo."

Saya salat di kamar Bulik Muhsinah. Mas Ayik dan Arga salat di ruang di depan kamar. Selesai salat, kami jagongan di ruang depan kamar itu. Bersama para putra putri anak menantu dan cucu Bulik. 

Tentu saja, kami tidak bisa berlama-lama, meskipun ingin. Bulik menggiring kami ke lantai bawah, ke ruang makan. Saat menuruni tangga, ingatan saya terbawa dalam kenangan puluhan tahun silam. Saat saya masih kanak-kanak, kalau kami sowan di rumah ini, ketika menyambut kami atau melepas kami, Lik Ying menuruni tangga, dengan baju dan jubah putihnya, sambil membawa lembaran-lembaran uang. "Iki gawe mundhut permen ya?" Begitu kata beliau, sambil membagikan sangu pada kami.

Di ruang makan, lagi-lagi, ingatan saya kembali ke masa silam. Tempe goreng tipis itu, saya masih ingat betul, adalah tempe kesukaan keluarga Lik Ying dan kami semua. Nyaris tidak ada menu makan tanpa tempe goreng itu. Kalau sarapan, lauk kami kadang-kadang hanya tempe goreng dan sambal bawang. Bahkan sampai sekarang, menu sederhana itu menjadi menu andalan saya sekeluarga. Dan setiap kali menyantap menu itu, ingatan saya selalu terbawa ke masa-masa kecil ketika berlibur di Rembang.

Kami menyelesaikan makan malam selepas adzan Isya. Kami pamit pulang, setelah saling bersalaman, berpelukan, dan saling mendoakan. Namun sebelum pulang, kami sowan ke rumah Paklik Makin, adik ibu yang lain, yang rumahnya di kompleks itu juga. Paklik Makin memukul-mukul lengan saya dengan gembira karena beliau tidak menyangka kami muncul malam itu. 

Malam sudah semakin larut, tapi masih ada satu tempat lagi yang musti kami kunjungi, yaitu rumah Paklik Mujab, adik ibu yang tinggal di Pamotan. Dengan berbekal sekantung makanan dan minuman, kami melanjutkan perjalanan, menembus hutan belantara dan puluhan kilometer jalan makadam. Ya, kami memang tidak melewati jalan yang biasanya. Dengan mengandalkan google map, kami memcoba mencari jalan dengan jarak terdekat. Memang berhasil. Rute Rembang-Pamotan yang biasanya perlu waktu sekitar empat puluh menit, saat ini bisa kami tempuh dengan waktu yang lebih lama. Ya, lebih lama, Saudara. Jaraknya memang mungkin lebih pendek, tapi kondisi jalan yang jeleknya minta ampun persis di daerah 3T, membuat mobil tidak bisa berjalan kencang. Hikmah hari ini, jangan percaya begitu saja pada google map. Beberapa kali sudah saya buktikan, ternyata dia tidak pintar-pintar amat.

Pamotan, 29 Juli 2014

Wassalam,
LN

Selasa, 29 Juli 2014

Muhibah Lebaran (2): Bani Wahabi dan Bani Tamami

Sekitar pukul 15.20, kami meninggalkan Kota Ponorogo. Meluncur menuju Solo. Kami mengambil rute Purwantara, Wonogiri, Sukoharjo, Solo.

Lalu lintas padat lancar. Sebenarnya cukup menyenangkan untuk perjalanan jauh. Tapi Arga yang hampir semalaman tidak tidur karena menyiapkan acara halal bi halal keluarga bersama Dio, memilih pensiun sementara jadi driver. Mas Ayik yang semalam melekan bersama teman-teman SMA-nya, terserang flu, dan obat flu yang diminumnya hanya membuatnya bertahan mengemudi sampai Purwantara. Akhirnya, sayalah yang harus pegang kemudi. Oh Tuhan, tidak terbayangkan, ternyata kedua laki-laki itu begitu teganya pada saya. Mereka berdua tidur mendengkur sementara saya mengukur jalan.

Tapi sebenarnya, pucuk dicinta ulam tiba. Dari dulu saya ingin nyetir di Jalur Ponorogo-Solo yang jalannya meliuk-liuk dan lumayan naik turun itu. Dari dulu Mas Ayik tidak pernah memberi saya kesempatan karena dia tidak tega. Katanya, medannya berbahaya.

Tapi kini, dia menyerah. Kondisi fisiknya yang teler karena obat flu tak memungkinkan dia untuk menolak kemauan saya. Wow, asyik sekali. Saya menguasai mobil sampai lepas Maghrib, saat kami tiba di rumah saudara di Jayengan, Solo. Kami salat dan makan malam, lantas pamit melanjutkan perjalanan menuju Boyolali.

Akhirnya, pada pukul 20.15, kami bertiga memasuki Kota Boyolali. Baru sekitar empat puluh menit yang lalu, kami meninggalkan Kota Solo. Solo dan Boyolali, dua kota yang menyimpan sejarah masa kecil saya.

Ibu saya lahir di Solo. Eyang dan buyutnya tersebar di Solo dan Boyolali. Sebagian saudara saya lahir di Solo. Masa kecil saya, sering saya habiskan di Solo dan Boyolali. Setiap liburan sekolah, kami sering dikirim bapak ibu ke Solo atau Boyolali, berlibur di rumah Mbah Putri dan Mbah Kakung, atau di rumah Pakde dan Bude Tamam. Ingatan masa kecil saya saat bersama Mbah Kakung, Mbah Putri, Pakde dan Bude Tamam, serta bersama para saudara sepupu, masih tersimpan rapi. Juga kenangan bersama Paklik Mubin almarhum, adik terkecil ibu, yang hobinya motret dan ngusungi para keponakan ke mana-mana, ke Sriwedari, Jurug, Tawangmangu, Pasar Kembang, Pasar Klewer dan Alun-alun.

Begitu kami tiba di depan rumah Pakde Tamam, keriuhan segera terdengar. Subhanallah. Di rumah itu ternyata sudah ada Bani Wahabi, para anak cucu Paklik Wahab. Mulai dari anak pertama sampai kelima, lengkap dengan anak-anak mereka. Bertemu dengan Bani Tamami, para anak cucu Pakde Tamam, mulai dari anak pertama sampai keenam, juga lengkap dengan anak-anak mereka. Suasana di ruang keluarga itu seperti sedang ada perayaan ulang tahun atau semacamnya. Lebih dari empat puluh orang berkumpul. Ramainya bahkan tidak kalah dengan ramainya PAUD atau kelompok bermain.

Begitu saya menginjakkan kaki ke ruang keluarga, mereka semua bahkan sudah menyiapkan acara penyambutan secara spontanitas. Mendendangkan salawat badar. Lengkap dengan bunyi-bunyiannya.

Kami bertiga geleng-geleng kepala melihat tingkah polah puluhan anak-anak kecil dan remaja itu. Sementara orang tua mereka tertawa cekakakan sambil memegangi perut masing-masing. Kami bergantian bersalaman, berangkulan, berpelukan. Saya bersimpuh di depan Bude Tamam, yang sedang duduk dan tersenyum manis menikmati tingkah polah anak-anak manusia yang tersaji di depannya. Saya cium punggung tangannya, kedua pipinya, dan menyampaikan permohonan maaf, serta menghaturkan salam takzim dari ibu saya dan saudara-saudara saya.

Bude Taman, sudah empat tahun gerah stroke. Sakit itu membuat beliau sulit berjalan. Tapi beliau secara mental sangat sehat, meski bicaranya sangat pelan. Dalam kondisi seperti itu, dalam usianya yang sudah mendekatai 80 tahun, bude Tamam tidak pernah meninggalkan salat tahajud dan dhuha, selain, tentu saja, tak pernah meninggalkan salat wajib lengkap dengan sunnat rawatibnya. Selama bulan puasa ini, beliau puasa penuh, meski dahar sahur nyaris tidak pernah kerso, kecuali hanya ngunjuk saja.

Kami sebenarnya ingin langsung menemui Pakde Tamam di kamar. Beliau sedang terbaring sakit. Namun masih ada beberapa tamu yang berada di kamar, menjenguk Pakde.

Sejak beberapa minggu ini, Pakde hanya bisa berbaring. Ibu dan saudara-saudara saya sudah menengok Pakde pada Ramadhan beberapa hari yang lalu. Kondisi beliau saat itu masih bisa berkomunikasi, masih sesekali bercanda dengan anak cucu, di antara waktu-waktu istirahatnya yang lebih banyak diisi dengan salat dan dzikir. Dalam kondisi tidur pun, lidah Pakde bergerak-gerak seperti melafalkan nama Allah.

Begitu kamar Pakde kosong, kami bertiga menghampiri beliau. Mbak Menuk, Mbak Umi, dua orang putri Pakde, juga Dik Iffah, putri almarhum Paklik Wahab, juga menemani. Mbak Menuk berbisik di telinga bapaknya.

"Bapak, Dik Luluk, Pak. Dik Luluk Bulik Basyiroh, Tuban, Pak."

Pade hanya sedikit menggerakkan matanya yang terpejam. Tidak berkata sepatah pun.

"Pakde..." Saya meraih tangannya yang tersembunyi di bawah selimut. "Pakde, ngaturaken sedoyo kalepatan, nyuwun pangapunten..." Saya mencium punggung tangannya dengan sepenuh perasaan. Hati saya meleleh. Sosok yang biasanya selalu ceria namun teduh itu begitu saja membuat hati saya menangis. "Pakde, ngaturaken salam lan sungkemipun Ibu lan sederek-sederek Tuban sedoyo..." Pakde tak bergeming. Saya menghela nafas panjang, melantunkan doa. Memberi kesempatan pada Mas Ayik dan Arga untuk menyapa Pakde.

"Waktu rene sing kapan iko, Pakde isih saget guyon lho, Mbak." Kata Dik Iffah. "Aku matur ngene. Pakde, kulo niki lek ningali Pakde remeeennn saestu. Terus Pakde ngendikan 'lha ngopo?' Pakde meniko pasuryanipun teduuuhhh sanget. Menopo Pakde Golkar to? Golkar meniko teduh Pakde, mergi pohon beringin. Wah, Pakde nggujeng kekel kae.."

Dik Iffah, anak perempuan satu-satunya Paklik Wahab dan Bulik Kafiyah (keduanya sudah almarhum), adalah saudara sepupu kami yang paling heboh. Ceriwisnya minta ampun. Kami pikir dulu karena dia masih kecil. Ternyata, sampai sekarang, di usianya yang sudah empat puluh tahun, ceriwisnya semakin menjadi. Dia bilang, sudah diobatkan ke mana-mana. Tidak ada obat yang cocok. Bahkan menurutnya, dia sudah kebal dengan berbagai macam obat. Tapi itu membuatnya sangat cocok menjadi guru PAUD, profesinya sekarang.

Setelah beberapa waktu menunggui Pakde, saya keluar kamar. Tiba-tiba barisan anak-anak kecil itu, anak turun Bani Wahabi dan Bani Tamami, melantunkan koor.

"Bude Luluk, Bulik Luluk.....sawerannya mannaaaaa?"
"Hah?" Saya kaget. Anak-anak itu tertawa keras. Para orang tua terpingkal-pingkal.
"Siapa yang ngajari kalian, hah?"
Spontan anak-anak itu menunjuk ke seseorang. Siapa lagi kalau bukan..... Dik Iffah.
"O.....dasar. Guru PAUD gak nggenah." Semprot saya. Dik Iffah tertawa berderai, puas sekali wajahnya. Saudara-saudara yang lain tidak kalah puasnya.

Malam itu, kami pamit sekitar pukul 21.30-an. Bani Wahabi akan melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing, ke Yogya, ke Solo Baru, dan di Boyolali saja. Bani Tamami, tentu saja, tetap tinggal bersama Pakde dan Bude Tamam, menunggui bapak ibu dan eyang mereka yang lagi gerah. Kami sendiri, delegasi Bani Zawawi, akan melanjutkan perjalanan, entah sampai di mana, sampai kami merasa perlu berhenti dan menginap di hotel untuk transit. Besok pagi, perjalanan dalam rangka muhibah lebaran ini berlanjut menuju Rembang, Pamotan, dan Tuban.

Rasa bahagia dan marem menyelimuti benak saya, ketika mobil kami menembus malam yang masih ramai. Bertemu dengan banyak saudara, bersilaturahim dengan para orang tua, seperti memberikan energi dalam jiwa. Rasanya ingin berlama-lama bersama mereka, namun perjalanan musti berlanjut untuk menemukan sumber energi yang lain.

Boyolali, 28 Juli 2014

Wassalam,

LN