Pages

Sabtu, 07 Maret 2015

Barok

Sore ini begitu luar biasa. Barok marah hebat. Pasalnya, kamera dan lensa kesayangannya berubah posisi meski masih dalam kotaknya, kotor, lecet, dan....mungkin rusak. Dengan garang dia menghampiri bapaknya yang lagi di halaman depan.

"Bah, di mana rumah tukang goblok itu? Aku mau ke rumahnya, mau aku kaploki..."

Saya gemetaran. Barok kalau sudah marah, persis seperti warok murka. Meski tidak semua orang Ponorogo "ngedap-ngedapi' kalau marah, Barok termasuk jenis yang ngedap-ngedapi. Suaranya menggelegar sampai terdengar oleh orang sekampung. Wajahnya merah padam seperti kulit manggis. Tangannya mengepal-ngepal seperti petinju haus sasaran. Haduh, saya tak henti-hentinya baca istighfar dan memintanya untuk bersabar.

"Sabar Le, sabar Sayang..."
Dia tak peduli.
"Gak bisa lek koyok ngene suruh sabar, Bu. Ibu tahu, aku mengumpulkan semua barang itu dengan susah payah. Dihancurkan koyok ngene. Gak, gak iso. Tak parani wae wonge..."

Saya menangis.
"Le, lihat ibu, kamu nggak kasihan sama ibu? Barang itu nanti pasti ada gantinya kalau kamu ikhlas dan sabar. Gusti Allah sugih, Le...."

Barok tak peduli. Dia masih teriak-teriak. Dengan berteriak-teriak pula dia menelepon tukang itu. Sumpah serapah berhamburan dari mulutnya. Semua hewan dari kebun binatang disebutnya. Bahkan semua 'bekakas' lokalisasi pun diteriakkannya dengan fasih. Saya lemas. Duh Gusti, maafkan hamba-Mu ini. Entah dari mana anak itu mendapatkan kosakata seperti itu. Entah dari mana dia belajar kasar seperti itu. Duh Gusti, berikan hidayah-Mu. Lembutkan hatinya. Beri rasa takut pada ayah ibunya, pada Engkau. Lembutkan hatinya, Gusti....lembutkan. Engkau Yang Maha Memberi Kelembutan....

Saya terus menangis sambil gemetaran. Dada saya berdegup kencang, suara degupnya seperti terdengar di telinga saya, dan rasanya sakit sekali. Seperti dipukul-pukul. Istigfar dan shalawat terus saya lantunkan dalam hati.

Mas Ayik, suami saya, terus mencoba menenangkan Barok. Tapi semakin ditenangkan, anak itu semakin murka. Saya menghampirinya, terengah-engah menahan isak tangis.
"Le, lihat ibu, Le. Lihat Ibu. Kok kamu lebih sayang sama kamera dan lensa daripada sama Ibu se, Le?"

Barok merangkul saya. "Maaf, maaf, Bu. Maksudku nggak mau nyakitin Ibu." Sejenak saya tenang dalam pelukannya. Tapi itu hanya sekejap. Hanya sekejap. Sejurus kemudian, dia melepaskan pelukannya. 

"Tapi wong iki kurang ajar tenan." Suaranya kembali menggelegar. Kembali meledak-ledak.

Saya lemas, berjalan ke belakang, mengambil air wudhu dengan tubuh gemetaran, diikuti Mas Ayik.
"Ayo salat, Le." Ajak saya.
"Ibu salat duluan." Jawabnya tak peduli.
"Ayo jamaah."
"Nggak, aku mau salat sendiri."
"Wong biasane jamaah gitu lho, Le."
"Ya, tapi aku lagi pingin salat sendiri."

Kami pun membiarkan Barok dengan kemauannya. Kami berdua salat berjamaah di musala. Selesai salat maghrib, kami melengkapinya dengan salat sunnat ba'diyah. Lantas berlama-lama dzikir. Sambil menunggu Barok mengambil air wudhu. Ternyata dia wudhu di kamar mandi, dan salat di kamarnya, tidak di musala seperti biasa.

Saya mengambil Al-quran. Mengaji dengan suara pelan. Barok mondar-mandir berusaha memecahkan perhatian saya. Tapi melihat saya mengaji, dia akhirnya hanya duduk di depan saya.

Tiba-tiba anak itu terisak. Sambil terus menyesali kamera dan lensa-lensanya yang telah rusak. Saya merangkulnya. Mencium keningnya. Mengaduk-aduk rambut tebalnya. Memintanya bersabar. Dan menjajikan akan membantu dia mendapatkan kamera dan lensai-lensa itu kembali.

Sejujunya, saya bisa memahami kekecewaan dan kemarahan Barok, meski saya tidak setuju dengan caranya marah. Dia memperoleh kamera pertamanya sekitar tiga tahun yang lalu, saya dan bapaknya membelikannya. Dia suka fotografi dan menekuni hobinya itu tidak sekedar hobi, tetapi dia memanfaatkannya untuk belajar hidup mandiri. Dia bergabung dengan teman-temannya untuk memotret berbagai event, juga mengikuti berbagai event fotografi nasional dan internasional. Beberapa rupiah berhasil dikumpulkannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya dia bisa meng-upgrade kameranya dan membeli beberapa lensa. Dia berusaha sendiri, tidak meminta bapak ibunya untuk membelikannya. Memang pernah suatu ketika dia meminta kami membelikannya lensa, tapi kami janjikan setelah akhir semester, setelah dia bisa membuktikan pada kami kalau aktivitasnya di dunia foto itu tidak mengganggu kuliahnya. Rupanya Barok tidak sronto. Dan dengan usahanya sendiri, dari aktivitas fotografi dan bermusiknya, dia akhirnya mendapatkan kamera dan lensa-lensa yang diidam-idamkannya.

Dan sekarang kamera dan lensa-lensa itu berantakan. Debu-debu halus memenuhi sela-selanya. Kameranya bahkan lecet-lecet. Ya, kecewa betul dia. Sakit hati dia. Setelah mengumpulkan rupiah demi rupiah dari keringatnya sendiri...

Saya mulai mengajaknya bicara lagi. Menunjukkan contoh-contoh di sekitar, betapa kita seringkali tak berdaya dengan apa pun yang menimpa kita. Jangankan hanya kamera dan lensa, kalau Allah sudah berkehendak, dunia dan seisinya ini dapat dihancurkannya. Luluh lantak dalam waktu sekejap. Ingat tsunami, ingat gunung meletus, ingat kebakaran, ingat kecelakaan pesawat, ingat semua hal yang menyadarkan kita betapa kita tidak pernah berhak sepenuhnya dari apa pun yang kita miliki. Ada yang Maha Berhak dari yang paling berhak sekali pun. Maka, kata bapaknya: "ikhlas, nompo opo sing teko, nompo opo sing lungo."

Malam itu kami kembali salat berjamaah, menunaikan isya di musala. Setelah salat dan dzikir, kami tidak langsung beringsut dari musala. Barok bahkan menyelonjorkan kaki dan menghempaskan kepalanya di pangkuan saya yang masih bermukena. Saya mengusap-usap kepala dan keningnya dengan penuh kasih sayang. Anak ini sedang lelah lahir dan batinnya. Dan dia butuh tempat untuk menyandarkan lelahnya.

Kami mengobrol apa saja. Obrolan yang bisa menghibur hati Barok. Obrolan yang mampu menyentuh sanubarinya yang terdalam. Pada dasarnya, Barok berhati peka dan lembut, sekaligus sangat temperamental. Namun kami selalu yakin, sifat temperamentalnya akan berangsur reda, sejalan dengan kedewasaa dan kematangannya.

Kemudian, ketika saya membaca situasinya memungkinkan, saya berkata: "Dik, ada yang sebenarnya sangat memberati pikiran ibu..."
"Apa, Bu?"
"Kamu tadi....mengumpat-umpat pak tukang, kamu ngomong kasar sekali, tidak pantas lho...." Saya menunggu reaksinya sejenak, tapi Barok diam saja. "Seharusnya, kamu tidak hanya meminta maaf pada bapak ibu, tapi juga pada pak tukang..."
"Sudah kok bu..." Tukas Barok. "Aku tadi udah sms ke Pak Tukang, udah minta maaf dan udah kubilang dia tidak perlu ganti kamera dan lensa-lensaku..."

Alhamdulilah, Ya Allah. Saya nyaris menangis mendengar jawaban Barok. Perasaan lega memenuhi benak saya.

"Alhamdulilah, Sayang." Saya acak-acak lagi rambut tebalnya. "Alhamdulilah. Itu membuat ibu lega. Kamu tahu kan, Allah tidak akan memaafkan kita atas kesalahan yang kita buat pada sesama, kalau kita tidak saling memaafkan terlebih dahulu...."

"Ya, Bu...."

Malam ini begitu luar biasa. Baru tadi sore Barok marah hebat, dan saat ini dia sudah kembali menjadi anak kami yang begitu manis dan menentramkan. Ya Allah, berikan kesabaran dan hati yang ikhlas pada dirinya, berikan dia ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, usia yang panjang barakah, serta kemuliaan di dunia dan akhirat. Amin.

Surabaya, Februari 2015

Wassalam,
LN

2 komentar

sigit taph 8 Maret 2015 00.19

Subhanallah bu, terkadang emosi memang membuat kita lupa daratan, tapi yang langsung diluapkan itu lebih baik daripda dipendam dan akhirnya menusuk dari belakang. Terimakasih atas ilmunya bu, bagaimana menjadi sosok orang tua yg bijak n memahami keluarga kita yg terkena musibah

Emy Zuroidah 8 Maret 2015 08.33

ternyata bu lutifi blogger juga, hehe
kenalin bu, saya emy, peserta ppg sm3t unesa angkatan 3.
yuk bu, tengol blog saya, banyak cerita perjalanan sm3t di blog saya, hehehe

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...