Pages

SM-3T: Kerinduan

"Seorang peserta SM-3T Unesa langsung menghambur ke pelukan saya, saat kunjungan monitoring ke lokasi di wilayah Sumba Timur.

SM-3T: Kebersamaan

"Saya (Luthfiyah) bersama Rektor Unesa (Muchlas Samani) foto bareng peserta SM-3T di Sumba Timur, salah satu daerah terluar dan tertinggal.

Keluarga: Prosesi Pemakaman di Tana Toraja

"Tempat diadakannya pesta itu di sebuah kompleks keluarga suku Toraja, yang berada di sebuah tanah lapang. Di seputar tanah lapang itu didirikan rumah-rumah panggung khas Toraja semi permanen, tempat di mana keluarga besar dan para tamu berkunjung..

SM-3T: Panorama Alam

"Sekelompok kuda Sumbawa menikmati kehangatan dan kesegaran pantai. Sungguh panorama alam yang sangat elok. (by: rukin firda)"

Bersama Keluarga

"Foto bersama Mas Ayik dan Arga saat berwisata ke Tana Toraja."

Rabu, 01 Mei 2024

Menapak Jejak Laskar Pelangi

Salah satu buku yang sangat inspiratif bagi saya adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tidak hanya alur cerita dan untaian kata-katanya yang begitu apik dan indah, namun juga isinya yang penuh dengan pesan moral tentang keteguhan hati, kesetiakawanan, ketaatan pada guru, orang tua, dan juga agama dan bangsa. Juga tentang perjuangan mengejar cita-cita.

Dua hari ini saya berkesempatan menapak jejak Laskar Pelangi. Ini adalah mimpi yang sudah sejak lama saya simpan  setelah saya membaca buku dan nonton film Laskar Pelangi. Mungkin sejak tahun 2009-an atau 2010-an.

Saya memulai perjalanan dari Hanandjoeddin International Airport, sebuah bandar udara internasional yang terletak di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Saya terbang dari Bangka, setelah sehari sebelumnya bersama Menteri Desa dan Dirjen PDP menghadiri Pesta Adat Murok Jerami di Desa Namang. Menteri Desa dan Dirjen PDP kembali ke Jakarta dan saya melanjutkan perjalanan ke Belitung. Bertemu dengan teman-teman TPP dan berdialog di sekretariat mereka. Setelah itu, didampingi dua orang TPP, kami memulai perjalanan napak tilas itu.

Yang pertama kami kunjungi adalah replika SD Muhammadiyah Gantong. Sebuah bangunan kayu beratap seng yang berdiri di atas hamparan bukit pasir di Desa Lenggang, Kecamatan Gantong, Belitung Timur. Replika SD Laskar Pelangi ini sengaja dibangun untuk menggambarkan suasana pendidikan anak-anak tempo dulu di Belitung Timur. Sebuah daerah yang hidup dari penambangan timah dan hasil tangkapan nelayan. 

Pada lokasi sesungguhnya SD Muhammadiyah Gantong (dengan huruf 'o') saat ini sudah berdiri M.Ts Muhammadiyah Gantung (dengan huruf 'u'). Bangunan asli sudah tidak ada. Oleh sebab itu, replika SD Muhammadiyah Gantong dibuat supaya jejaknya tidak hilang. 

Setelah itu kami mengunjungi Ibu Muslimah, gurunya Andrea Hirata, di rumah beliau. Entah mengapa saya merasa sangat terharu saat memeluk dan mencium tangannya. Begitu juga beliau, saya rasakan keharuannya saat memeluk saya, seperti kami sudah saling mengenal sejak lama.

Foto bersama di depan sekolah MTs Muhammadiyah Gantung.

Perempuan yang dalam film Laskar Pelangi diperankan oleh Cut Mini itu, di mata saya begitu memukau. Keramahan dan kehangatannya saat menyambut kami, cerita-ceritanya yang mengalir deras saat mengisahkan kenakalan Andrea Hirata kecil dan kawan-kawannya, juga perjuangannya sebagai guru honorer di sekolah kecil, dan juga harapannya untuk pendidikan hari ini dan ke depan. Salah satu kalimat yang dengan tegas beliau ungkapkan, sekolah jangan menjadi penjara bagi anak-anak, namun sebaliknya, sekolah harus menjadi taman firdaus. Beliau memberikan contoh bagaimana praktik di sekolah banyak yang sudah menyimpang, yang justeru bersumber dari sikap, perilaku dan tindakan guru. Anak belajar dengan penuh tekanan, serta banyak kekerasan fisik dan mental yang dialami anak.

Namun satu hal lagi yang membuat saya sangat terharu adalah, memeluk Ibu Muslimah, seperti memeluk ibu saya sendiri. Posturnya yang kecil, kehangatannya, ketegasannya saat berbicara, sungguh mengingatkan saya pada sosok almarhumah ibu.

Dari rumah Ibu Muslimah, kami  mengunjungi MTs Muhammadiyah Gantung. Hanya sekadar ingin mellihat lokasi asli SD Muhammadiyah Gantong tempat Ikal dan kawan-kawannya menuntut ilmu. 

Kemudian kami mengunjungi Musium Laskar Pelangi. Sesuai namanya, bangunan sederhana itu dicat aneka warna bak pelangi. Ada ruang kelas, ruang baca puisi, ruang yang dibiarkan terbuka, dan dinding yang penuh lukisan dan tulisan. Harus diakui, setiap coretan seperti begitu berarti. Juga setiap benda, termasuk tumpukan koper tua di salah satu sudut musium.

Kami mengakhiri perjalanan dengan menikmati sebutir kelapa muda di sebuah pantai, saat sore sudah mulai temaram. Sambil berbincang lagi dengan teman-teman TPP.

Kenangan di sekolah Laskar Pelangi.

Pagi ini, kami melanjutkan perjalanan napak tilas kami. Dari BW Suites Hotel tempat kami menginap, kami mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini menjadi salah satu lokasi syuting Laskar Pelangi, dan menjadi destinasi wisata yang paling ikonik di Belitung. Jaraknya yang hanya sekitar 30 menit dari bandara juga sangat memudahkan orang untuk menjangkaunya. 

Sungguh, banyak pantai yang indah yang saya sudah pernah lihat. Namun pantai Tanjung Tinggi ini begitu memukau. Tidak hanya batu-batu besarnya yang menghampar di mana-mana, dan air lautnya yang bening hijau kebiruan. Namun saya seperti melihat Ikal dan teman-temannya berlari-lari di antara batu-batu itu. Membawa saya kembali pada kesadaran yang tinggi, betapa dahsyatnya sebuah tulisan. Kalau Andrea Hirata tidak pernah menulis kisah tentang Laskar Pelangi, mungkin tak akan pernah ada Belitung dalam benak kebanyakan kita. 

Merasakan sendiri suasana sekolah Laskar Pelangi.

Andrea Hirata bisa jadi salah satu orang yang paling berkontribusi pada kemajuan Belitung. Wisatawan dari berbagai penjuru dunia datang untuk melihat seperti apakah tempat kawanan Laskar Pelangi itu. Hotel-hotel didirikan, UMKM tumbuh dan berkembang. Ekonomi dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Tidak hanya mengandalkan pada menambang timah, tangkapan ikan, perkebunan lada dan sawit, namun juga dari sektor pariwisata. 

Semoga Belitung menjadi inspirasi bagi para generasi setelah Andrea Hirata di seluruh Tanah Air.

Belitung, 1 Mei 2024

Minggu, 14 April 2024

MOMEN LEBARAN

Momen lebaran, saatnya silaturahim, sowan-sowan dan sungkem-sungkem. Berbagi cerita, berbagi kebahagiaan, bahkan berbagi segala rasa. Juga ngalap berkah.

Saya memulai perjalanan dari Jakarta ke Surabaya pada 4 April, cuti 2 hari sebelum masa cuti bersama. Mas Ayik Baskoro Adjie  agak kurang sehat beberapa hari terakhir, anak cucu mau mudik duluan ke Ponorogo, dan saya ketempatan arisan dasa wisma. Jadi cuti saya sangat maksimal manfaatnya.

Tanggal 7 April, kami ke Tuban, untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat, namanya Mas Abdul Mundhir. Dia sempat beberapa bulan mendampingi saya di Jakarta, bersama almarhum Mas Mokhamad Sodikin . Untuk Mas Dikin, al fatihah.....

Selain untuk menghadiri acara pernikahan, kami juga perlu bersih-bersih rumah.

Kami sempat juga bertandang ke rumah orang tua almarhum Mas Dikin di Montong, Tuban. Bertemu Fifi K. Fitriyah, isteri almarhum,  dan anak semata wayangnya, Selena. Ini adalah pertemuan pertama kami sejak Mas Dikin berpulang. Kami berpelukan, sama-sama menangis, dan saya hanya bisa berbisik, 'ikhlaskan, Fi..."

Dari Montong, kami lanjut ke Ponorogo. Di sepanjang perjalanan menuju Ponorogo, kami menyempatkan sowan-sowan ke tiga kerabat, Bulik Khusniyah, Mbak Chayati, dan Mas Hendro. 

Lanjut nyekar di pesarean para leluhur dan kerabat yang sudah mendahului. Semoga Allah SWT memberikan kemuliaan pada mereka semua. Amiin.

Sorenya, kami buka puasa bersama, sekaligus  menyambut hari raya idul fitri, bersama Dimas Prono Adjie sekeluarga, di rumah Iwuk, adik Mas Ayik Baskoro Adjie , kakak Dimas. Juga dengan anak cucu, Barrock Argashabri Adji  dan Yoan Lita , tentu saja dengan Kakak Kai dan Adik Lumi. Menunya, menu wajib. Sate gule kambing. Juga kembang api yang heboh.

Besoknya, hari H, tanggal 10 April, kami melaksanakan shalat idul fitri di masjid alun-alun Ponorogo. Lanjut sowan Bu Heni, bulik kami satu-satunya, di Parikesit. Bertemu dengan saudara sepupu dan keluarganya. Menikmati nasi kuning dan kawan-kawannya. Berbagi angpao juga, momen yang sangat ditunggu oleh siapa pun yang masih berstatus anak-anak dan remaja bahkan dewasa. Lazimnya, selama masih menjomblo atau belum menikah, mereka masih berhak menerima angpao.

Lanjut menghadiri acara halbil Trah Ahmad Drangi di rumah seorang kerabat di Muneng, sowan besan di Balong, dan sowan kakak sepupu di Bangunsari.

Besoknya, kami kembali ke Tuban lagi, sambil membawa Mbak Yuli sekeluarga. Kami menjemput mereka di rumahnya di Jabon, Sumoroto, dan mengantar mereka ke Rengel, Tuban, sebelum kami menuju ke rumah kami sendiri di Jenu. Mbak Yuli adalah asisten RT Lita.

Besoknya,  berangkat pukul 07.30-an, kami konvoi ke Rembang dan Pamotan dengan keluarga besar Bani Zawawi. Mas Zainal Makarim Azach sekeluarga, Mas Saiful Bahri dan Mbak Ma'shumah sekeluarga, Dik Antok Yulianto dan Dik Mariyah Zawawi  sekeluarga, dan Dik Hisyam Zawawi Chusain dan Dik Masrukah sekeluarga. Hanya minus Mas Ibroham Azach sekeluarga, karena mas mbarep kami ini sedang mudik ke Sragen. 

Alhamdulilah, di Rembang, kami berkesempatan sowan dan sungkem Bulik Muhsinah, Bulik Lies, dan banyak kerabat. Dik Bisri Cholil Laqouf  sekeluarga, Dik Ahmad Zaky Makin dan Iefa Nadhifah Zaky sekeluarga, Dik Hanies Cholil dan Dik Diyah Hanies . Juga bertemu dengan Bulik Hany Mahanik sekeluarga, Dik Siroj sekeluarga, Dik Misbach sekeluarga, Dik Aang Masykur Rukhani , Dik Mujib, dan lain-lain.

Kami semua sampai di rumah Tuban, selepas Isya. Menjelang bobok, saya bilang ke Kai, cucu kami, silaturahim itu capek, tapi menyenangkan. Bahagia bisa sungkem dan salim-salim. Insyaallah berpahala, dan pahalanya besaaaarr sekali. Begitulah saya membahasakan pada laki-laki lima tahun itu. Meskipun saya sadar sekali, semuanya demi menggapai ridha Allah SWT. Amiin.

Malam ini, kami sudah menerima tamu di rumah kami di Surabaya. Ada teman dari Kemendes, Kemenaker, Unesa, alumni, dan adik-adik.

Sebenarnya saya sedang flu, batuk dan pilek, dan badan sempat nggreges. Tapi pintu rumah harus terbuka untuk para tamu, karena besok saya harus sudah kembali ke Jakarta.

Malam ini maunya segera istirahat. Namun mata tak juga terpejam. Mungkin memang harus menulis supaya momen lebaran tak hilang.

Surabaya, 14 April 2024

Sabtu, 06 April 2024

MUDIK GRATIS

Pagi ini saya dan Mas Ayik Baskoro Adjie mengantar Dheyah sekeluarga dan Mbak Yuli sekeluarga ke Kantor Dishub Jatim di Frontage Road Jl. Ahmad Yani Surabaya. Mbak Yuli adalah asisten Yoan Lita yang membantu mengurus rumah dan mengawasi anak-anak. Kalau Dheyah, insyaallah sudah banyak yang tahu, karena dia sekeluarga sudah puluhan tahun menjadi bagian keluarga kami. 

Mereka akan mengikuti mudik gratis. Dheyah ke jurusan Magetan, ke rumah mertuanya. Mbak Yuli ke jurusan Ponorogo.

Senangnya melihat wajah-wajah ceria mereka dan para pemudik yang lain. Bahagia, bangga, dan terharu melihat betapa pemerintah dan banyak pihak  memberikan fasilitasi bagi para pemudik.

Hari ini, Pemprov Jatim melalui Dishub Jatim menyediakan 90 armada bus untuk 3600 kursi untuk warga Jatim. Mereka diberangkatkan dari Surabaya menuju berbagai kabupaten, termasuk yang terjauh ke Banyuwangi dan ke Pacitan.

Pemprov Jatim bahkan juga memberikan fasilitasi pada para pekerja di Ibukota yang mudik ke berbagai tujuan kampung halaman. Sekaligus juga memberikan fasilitasi para pemudik tersebut untuk kembali ke Jakarta. Hm, so sweet-nya....

Luar biasa memang momen Idul Fitri dengan tradisi mudik ini. Mudik adalah budaya yang penuh dengan nilai luhur. Wujud dari penghormatan dan kerinduan setiap orang pada keluarganya, khususnya pada orang tua. Penghormatan dan kerinduan pada para sesepuh dan kerabat serta sahabat.

Mudik adalah wujud kesadaran tinggi setiap manusia tentang dari mana dia berasal dan wujud penghargaan pada alam yang telah menempa dan mengukir jiwa raganya.

Pada konteks tertentu, mudik bahkan menjadi bukti bakti kita pada orang tua, dan ketaatan kita pada Allah dan Rasul-Nya.

Mudik adalah perjuangan, pengorbanan, bahkan militansi.

Mudik adalah manifestasi kesalehan pribadi sekaligus sosial.

Selamat mudik, Saudara-saudaraku. Insyaallah perjalanan lancar dan menyenangkan.

Surabaya, 7 April 2024

Jumat, 05 April 2024

UANG BARU

Penukaran uang menjelang lebaran menjadi agenda tahunan di Kemendesa PDTT.  Pada Selasa, 2 April yang lalu, acara penukaran uang itu digelar di halaman kantor. Pejabat Bank Indonesia beserta jajaran hadir. Lengkap dengan mobil khusus untuk pelayanan penukaran uang. Menteri, Wakil Menteri, dan pejabat eselon 1 hadir untuk melakukan penukaran uang secara simbolis. Selanjutnya disusul oleh para pejabat eselon 2 serta semua keluarga kementerian.

 

Uang lama ditukar uang baru. Baru, kinyis-kinyis. Mulai dari pecahan seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, sampai seratus ribu. Karena melayani semua pegawai di kementerian, total nilai uang yang ditukar bisa mencapai milyaran rupiah.

Saya selalu merasa takjub setiap kali menghadiri agenda penukaran uang. Tradisi berbagi uang di Hari Lebaran yang sudah begitu mengakar pada masyarakat kita,  menunjukkan betapa tinggi  semangat untuk berbagi. Kalau dulu, setahu saya, uang tidak harus baru. Namun pada beberapa tahun belakangan ini, ada kecenderungan uangnya adalah uang baru, karena anak-anak dan kerabat tentu lebih senang bila uang yang mereka terima adalah uang baru. Sampai-sampai di banyak tempat di sepanjang jalan, ada orang-orang yang melayani penukaran uang baru.

Hari itu saya menukar puluhan juta rupiah uang lama dengan uang baru. Tapi jangan salah ya, uang saya hanya sebagian kecil saja. Saya melayani penitipan penukaran uang dari teman-teman staf. Mumpung ada kesempatan melayani teman-teman. Jastip, jastip.

Oya, hari itu selain agenda penukaran uang, kami juga mendampingi Menteri Desa rapat dengan Menpan RB di kantor Kemenpan RB. Agenda rapat adalah pembahasan kenaikan tukin.

Sorenya, kami juga melaksanakan buka puasa bersama Menteri dan Wakil Menteri. Acara dilaksanakan di Restoran Wiro Sableng Garden.

Jadi praktis hari itu, kami semua bersama-sama berkegiatan dari pagi hingga malam. Dari satu agenda ke agenda lain, dari satu tempat ke tempat lain.

Semoga semuanya menjadi berkah Ramadhan.




Jakarta, 2 April 2024

Selasa, 26 Maret 2024

RAKERNIS

Kapan hari, 19-21 Maret 2024, BPSDM menyelenggarakan Rapat Kerja Teknis (Rakernis). Kegiatan yang dihelat di Pajajaran Suite Bogor, ini diikuti oleh ses BPSDM, para kapus, kabalai besar dan kabalai, kabag, kasubag, PPK, dan hampir semua ASN di lingkungan BPSDM. Juga ada perwakilan dari semua unit kerja eselon 1. Ada juga perwakilan dari tenaga pendamping profesional (TPP).

Tema  Rakernis adalah "Optimalisasi Peran BPSDM dalam Meningkatkan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Desa, Aparatur Sipil Negara dan Pemberdayaan Masyarakat." Relevan dengan tema tersebut, beberapa narasumber dari kementerian lain diundang. Salah satunya adalah dari Direktorat Jenderal Anggaran (DJA), Kementerian Keuangan dengan materi Kebijakan Penganggaran BPSDM Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Kemudian juga dari KemenPAN dan RB dengan materi Penyelarasan Sasaran Strategi, Indikator Kinerja, dan Target Kinerja Organisasi. BKN juga hadir dan menjelaskan materi Penilaian Kinerja Aparatur Sipil Negara.

Selain narasumber eksternal, hadir juga narasumber  internal, yaitu dari Inspektorat I, Direktorat Jenderal PDP, PEI, PPKTrans dan PPDT. Narasumber dari Biro Perencanaan dan Kerja Sama sebenarnya juga diundang, tapi kabiro tidak bisa hadir.

Materi Rakernis disusun sesuai dengan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Periode 2025-2029 dan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJPN) Periode 2025-2045. Tiga agenda utama terkait dengan hal tersebut, yang juga sudah dirumuskan oleh Bappenas, dalam rangka menuju Indonesia Emas, meliputi agenda transformasi sosial, transformasi ekonomi, dan transformasi tata kelola. Selain dirancang dalam sidang pleno yang diisi oleh paparan narasumber, juga diisi dengan presentasi para kapus, kabalai besar, dan kabalai. Setiap paparan dilengkapi dengan diskusi yang cukup intens. Selain sidang pleno, juga ada diskusi kelompok yang dibagi menjadi tiga desk, dengan mengusung isu tiga agenda di atas.

Yang membanggakan, Menteri Desa PDTT berkenan hadir pada saat pembukaan. Menteri memberi banyak arahan dan sekaligus membuka acara secara resmi.



Pada acara pembukaan juga dilakukan pembacaan deklarasi oleh KaBPSDM yang diikuti oleh semua peserta Rakernis. Juga  penandatanganan komitmen pembangunan zona integritas oleh KaBPSDM, SesBPSDM, para kapus, para kabalai besar, dan para kabalai. 

Yang mengasyikkan, di sela-sela acara yang serius itu, ada selingan acara outbound. Acara ini dilaksanakan setelah isya. Ada yang sempat shalat tarawih lebih dulu, ada yang menunda salat tarawihnya setelah acara outbound.

Yang juga membanggakan lagi, ada cukup banyak rumusan yang diperoleh dari hasil kegiatan. Tentu saja hal ini harus ditindaklanjuti, tidak hanya oleh BPSDM sendiri, namun bersinergi dengan unit kerja eselon 1 yang lain serta kementerian dan lembaga.

Pak Sekjen hadir di acara penutupan kegiatan. Selain memberikan banyak arahan, beliau juga sempat menyampaikan kultum, kuliah tujuh menit, tausiyah menjelang buka puasa.

Selamat berpuasa, semoga Allah SWT meridhai puasa kita. Amiin.

Sabtu, 02 Maret 2024

MUNGGAHAN DAN MEGENGAN

Tiga hari berturut-turut ini saya menghadiri acara munggahan. Pertama di Balai Besar Jakarta, kedua di Puslat ASN, dan yang ketiga di Balai Besar Yogyakarta.

Munggahan di Puslat ASN merupakan acara BPSDM, tetapi diselenggarakan di Puslat ASN. Di sini, ada Masjid Iskandariyah, sehingga sangat sesuai untuk acara munggahan. Masjid berlantai dua itu cukup leluasa untuk menampung kami semua yang sekitar dua ratus orang.
Munggahan di Balai Besar Yogyakarta, diawali dengan pemberian arahan dan pembinaan oleh Menteri Desa PDTT. Acara dilaksanakan siang hari, setelah Pak Menteri melakukan kunjungan ke Kalasan Valley.
Saya sendiri mengenal istilah munggahan sejak bertugas di Jakarta. Saat itu menjelang puasa, dan Mbak Mala, Kabag Umum dan Kerumahtanggaan menyampaikan kalau akan dilaksanakan acara munggahan. Besoknya, setelah dhuhur, acara munggahan digelar di selasar lantai tiga. Kami berkumpul, berdoa bersama, dan makan bersama.
Munggahan menjadi tradisi menjelang Ramadhan. Di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya, dikenal istilah megengan. Ada juga yang menyebutnya nyadran atau ruwahan.
Sebuah sumber menjelaskan, tradisi munggahan berasal dari kata 'munggah'. Asal kata munggah dari kata 'unggah' yang berarti naik atau meningkat. Munggah berarti tentang perubahan ke arah yang lebih baik. Meningkatnya keimanan kita untuk memasuki bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh rahmah dan maghfirah.
Tradisi munggahan juga menjadi ajang silaturahmi. Berkumpulnya keluarga, kerabat, sahabat, rekan kerja, untuk berdoa dan bershalawat. Doa juga dipanjatkan untuk para leluhur yang sudah mendahului menghadap Illahi Rabbi, dengan harapan semua dosa para leluhur diampuni dan diberikan tempat terbaik di alam kuburnya.
Selanjutnya dari sebuah sumber dijelaskan, megengan berasal dari Bahasa Jawa yang berarti menahan. Dalam menjalankan puasa, umat Islam diingatkan supaya menahan segala bentuk perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa.
Tidak hanya sebagai peringatan, makna lain megengan adalah permohonan maaf bagi sesama. Permohonan maaf disimbolkan dengan kue apem, sebuah kudapan khas Jawa yang biasa disajikan pada berbagai acara. Apem dalam acara megengan ternyata memiliki makna tersendiri. Istilah apem konon diambil dari kata “’afwan” atau ‘’afwun’ yang berarti permohonan maaf.

Megengan juga merupakan wujud rasa syukur kita karena masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Rasa syukur tersebut disimbolkan dengan nasi berkat atau makanan yang dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan para tetangga. Berbagi kepada sesama merupakan sebuah bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.
Selamat menyambut Ramadhan. Mohon maafkan lahir dan batin.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma baariklana fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna ramadhana.
“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.
Amiin yaa Rabb.
Yogyakarta, 2 Maret 2024

Balai Besar Jakarta

Judul di atas hanya sebutan singkat saja. Nama pendek saja. Nama panjangnya adalah Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Jakarta. Disingkat BBPPMDDTT Jakarta. Sepanjang itu.

Sepanjang itu juga sebutan untuk Balai Besar Yogyakarta, BBPPMDDTT Yogyakarta. Sedangkan untuk balai yang lain, karena bukan balai besar, sedikit lebih pendek, BPPMDDTT Bengkulu, misalnya. Balai yang lain ada di Makassar, Pekanbaru, Jayapura, Banjarmasin, Denpasar, Ambon. Ya, ada dua balai besar dan tujuh balai. Itulah balai-balai yang dimiliki oleh Kementerian Desa PDTT, yang secara struktur organisasi menjadi tanggung jawab langsung Kepala BPSDM.
Tanggal 28 Februari 2024, Balai Besar Jakarta menyelenggarakan kegiatan Rapat Pembahasan Sistem Kerja. Tujuan kegiatan ini antara lain untuk memantapkan sistem kerja, konsolidasi, dan pembentukan tim kerja.
Peserta rapat meliputi perwakilan dari biro perencanaan dan kerja sama, perwakilan inspektorat jenderal, perwakilan sekretariat BPSDM, dan seluruh pegawai BBPPMDDTT Jakarta. Narasumbernya selain dari internal Kemendesa PDTT yang menguasai konsep dan implemetasi Sistem Kerja Baru, juga ada master trainer dan motivator Dr. Hery Margono, SE., MM.
Saya beruntung karena diberi buku karya Pak Hery, judulnya The Miracle of Metamorph. Sebuah buku motivasi yang sangat bagus, isinya bernas, terkait dengan bagaimana menjadi insan yang berhasil dalam hidupnya, seimbang antara hablum minannas dan hablum minallah.
Sebagaimana kita tahu, pemerintah tengah fokus melakukan penyederhanaan birokrasi. Tidak hanya menghapus struktur birokrasi dan mengalihkan pejabat administrasi menjadi pejabat fungsional, tetapi lebih dari itu, adalah untuk mewujudkan pemerintahan yang lebih profesional, lincah, dan dinamis. Untuk mewujudkannya, maka mekanisme kerja baru perlu diterapkan guna membangun budaya kerja baru yang lebih relevan.
Dalam laporannya, Dr. Enirawan selaku Kepala Balai Besar Jakarta menyampaikan kondisi eksisting balai saat ini dan apa rencana untuk pengembangan ke depan. Selain tetap melaksanakan berbagai pelatihan, yang merupakan tugas dan fungsi utama balai, kabalai juga menyajikan rencana kegiatan uji terap.
Balai besar, selain memiliki ruang lingkup tugas pelatihan dan pendampingan masyarakat desa, daerah tertinggal dan transmigrasi, juga melakukan penerapan model pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa, daerah tertinggal dan transmigrasi. Ruang lingkup terakhir inilah yang dimaksud dengan uji terap, dan yang selama ini masih sangat kurang dilakukan oleh balai besar. Padahal ruang lingkup ini jugalah yang membedakan balai besar dengan balai.
Balai Jakarta memiliki wilayah kerja DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung, dan Kalimantan Barat. Setiap balai memiliki wilayah kerjanya masing-masing. Balai Besar Yogyakarta, misalnya, wilayah kerjanya meliputi DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Begitu luasnya wilayah kerja setiap balai, maka perlu strategi yang tepat untuk bisa melaksanakan tugas dan fungsinya secara optimal. Komunikasi, koordinasi, konsolidasi, sinergi dan kolaborasi harus dilakukan terus-menerus dengan berbagi stakehoders.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi, perbankan, filantropi, LSM, pemda provinsi dan kabupaten, dunia usaha, dan sebagainya, memang sudah banyak dilakukan oleh balai. Namun khusus untuk Balai Besar Jakarta, saya menekankan, balai harus berbenah dan bangkit. Hal ini karena dalam penilaian saya selama menjadi Kepala BPSDM, salah satu balai yang kurang cepat bergeraknya adalah Balai Besar Jakarta.
Pencapaian IKU balai harus menjadi prioritas. Namun menargetkan hanya pada pencapaian IKU saja, balai hanya akan menjadi institusi yang biasa-biasa saja. Tidak ada kreativitas, tidak ada inovasi. Tidak ada sesuatu yang dibanggakan sebagai bukti dari kerja keras dan kerja cerdas. Tidak ada kebaruan. Tidak ada inspirasi yang layak untuk dibagikan.
Saya juga tekankan, kehadiran sosok panutan adalah sangat penting. Kepala balai harus menjadi figur. Contoh baik tentang kedisiplinan, integritas, kepedulian, kebersamaan. Harus menjadi leader yang mampu berpikir holistik. Yang mampu berkomunikasi, berkoordinasi, membangun sinergi dan kolaborasi.
Saya juga memberikan contoh tentang beberapa program yang tidak ada dalam IKU Kemendesa dan BPSDM. Program RPL Desa, Pendamping Desa Menulis, Pendamping Desa Inspiratif, PSM Teladan, seminar internasional, dan lain-lain, tidak ada kaitan dengan IKU. Namun semuanya itu adalah kegiatan yang bermakna dan memiliki dampak yang yang sangat penting bagi eksistensi BPSDM dan Kemendesa PDTT, juga pada pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.
Untuk menjadi organisasi yang kuat dan memiliki daya adaptabilitas tinggi, kekuatan leadership menjadi faktor utama. Balai Besar Jakarta, di bawah kepemimpinan Dr. Enirawan, insyaallah akan menjadi balai yang terdepan, semakin berkembang dan berkibar.
Jakarta, 28 Februari 2024


Jumat, 23 Februari 2024

Bengkulu dan Sawit

Salah satu hal tentang Bengkulu yang selalu ada di benak saya adalah sawit. Sawit dan sawit, menghampar luas sejauh mata memandang bahkan seperti sampai di kaki langit, adalah pemandangan yang kita lihat setiap kali menjelang pesawat mendarat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelapa sawit merupakan komoditas tanaman perkebunan dengan produksi terbesar di Bengkulu. Tercatat, produksi kelapa sawit di wilayah tersebut sebesar 234,83 ribu ton pada 2020.
Tapi sebenarnya hasil utama Bengkulu bukan hanya sawit. Hasil utama Bengkulu yang lain adalah padi--gabah kering giling, jagung--pipilan kering, kedelai--biji kering, kacang tanah--biji kering, kacang hijau--biji kering, Ubi kayu--umbi basah, dan ubi jalar--umbi basah.
Kalau dilihat dari luas lahan sawit, Bengkulu menempati urutan ke sebelas secara nasional. Riau menempati urutan pertama dengan luas lahan 2,86 juta hektar. Disusul dengan Kalbar, Kalteng, Sumut, Kaltim, Sumsel, Jambi, Aceh, Kalsel dan Sumbar. Luas lahan sawit di Bengkulu 371.900 hektar.
Bengkulu juga kaya rempah. Kopi Bengkulu juga sangat terkenal. Dua komoditi inilah yang dahulu menjadi daya tarik negara-negara lain untuk menguasai Bengkulu. Juga emas dan batubara. Setidaknya Inggris, Belanda, Jepang, dan Perancis adalah negara-negara yang pernah menduduki Bengkulu, salah satunya demi menguasai hasil perkebunan dan hasil alam.
Catatan tentang pendudukan para penjajah ini sebagian bisa kita baca di Benteng Malborough, sebuah benteng peninggalan Inggris, yang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang penting, selain rumah kediaman Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Kalau Anda pencinta sejarah dan belum berkunjung ke Bengkulu, maka mengunjungi Bengkulu harus masuk dalam daftar wajib kunjung Anda.
Berkunjung ke Bengkulu kali ini sungguh istimewa bagi saya. Pada beberapa kunjungan sebelumnya, saya nyaris tidak mempunyai waktu untuk eksplore. Datang, kerja, pulang. Bersyukurlah kali ini kami bisa berkesempatan melihat Bengkulu secara lebih luas.
Di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Bengkulu, yang jarak tempuhnya sekitar dua jam dari Kota Bengkulu, sawit juga mendominasi lahan balai yang luas keseluruhannya 241, 8 hektar. Sayang sekali waktu kami tiba di balai, hujan menyambut kami cukup deras, sehingga kami hanya bisa menikmati barisan benih sawit yang menghampar luas dari dalam mobil. Balai Bengkulu merupakan salah satu dari sembilan balai yang dimiliki Kemendes PDTT. Delapan yang lain ada di Pekanbaru, Makassar, Banjarmasin, Jayapura, Denpasar, Ambon, Yogyakarta, dan Jakarta.
Indonesia begitu kaya. Hasil alamnya begitu berlimpah. Mari kita syukuri kekayaan dan keberlimpahan ini dengan terus berusaha menjaga kelestariannya. Melakukan hal-hal sederhana dalam akfivitas sehari-hari. Membuang sampah pada tempatnya, hemat air, hemat listrik, menanam dan merawat tanaman dan pohon-pohon, peduli pada sesama.
Indonesia tanah air beta…
Pusaka abadi nan jaya….
Indonesia sejak dulu kala...
Selalu dipuja-puja bangsa...
23022024

Kamis, 22 Februari 2024

Danau Dendam Tak Sudah

Beberapa kali ke Bengkulu, baru kali ini saya sempat mengunjungi Danau Dendam Tak Sudah. Sungguh unik ya namanya? Dalam benak saya, nama ini pasti berkaitan dengan urusan cinta dan asmara. Namun ternyata, sebagaimana nama banyak tempat di Tanah Air tercinta ini, seringkali kisahnya ada beberapa versi. Untuk Danau Dendam Tak Sudah ini, urusan cinta dan asmara hanya salah satu versi. Versi yang lain konon ada hubungannya dengan masa penjajahan Belanda. Seperti apa kisahnya? Silakan googling sendiri ya, informasinya bejibun.

Saya dan teman-teman rombongan dari Kemendesa baru saja menyelesaikan tugas ke Dinas PMD Provinsi Bengkulu dan UT Bengkulu siang tadi, ketika tiba-tiba kami terpikir untuk memanfaatkan waktu mengunjungi Danau Dendam Tak Sudah. Sekadar mengisi waktu, sambil menunggu sore, sebelum kembali ke hotel. Penerbangan kami ke Jakarta masih besok.

Menurut catatan yang saya baca, Danau Dendam Tak Sudah terletak di Desa Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Danau ini merupakan kawasan yang sudah berstatus sebagai cagar alam sejak 1936. Danau yang berada di wilayah seluas kurang lebih 577 hektar ini memiliki pemandangan yang cantik. Airnya bening berkilau, hijau, teduh, syahdu sekali. 

Bagian danau yang menjadi favorit pengunjung adalah daerah pinggir jalan besar. Di sana tersedia berbagai macam kuliner khas juga. Pengunjung menikmati danau ditemani dengan berbagai makanan khas, sekadar bersantai atau sambil menunggu sunset.

Namun kami menjangkau danau tidak yang berada di pinggir jalan besar tersebut, melainkan menempuh jalan lain yang ujungnya adalah tepian danau di sisi yang lain. Memang jalannya lumayan terjal dan mungkin tidak mudah dijangkau oleh beberapa jenis kendaraan roda empat, tapi kemurnian danau terasa sangat kental. Ada beberapa spot untuk berfoto di tepian danau yang menambah kemenarikan danau dan sekelilingnya.

Begitu luar biasa indah danau ini, alam ini, dan sungguh, betapa indahnya Sang Maha Indah yang sudah menciptakan keindahan ini.

Bengkulu, 22 Februari 2024

Selasa, 20 Februari 2024

Ke Garut

Sabtu, 17 Februari 2024, saya ke Garut. Sudah lama ingin ke Garut dan tak kunjung kesampaian. Sabtu ini mumpung saya tidak di Surabaya, dan juga tidak ada kegiatan penting lain, maka saya putuskan untuk ke Garut.

Seperti biasa, Mang Atek, driver andalan, menjemput saya di apartemen, tepat pukul 07.00. Bersama Mas Sabar dan Mas Ardi, dua teman staf yang kebetulan juga sedang tidak ada acara.

Kami memasuki Garut sekitar pukul 11.30. Sesuai perkiraan, empat jam perjalanan dari Jakarta. Tapi karena tadi sempat mampir sarapan di rest area, waktu molor sekitar tiga puluh menit.

Kunjungan pertama kami adalah di rumah Mang Atek, di Desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja. Ya, saya sudah lama berjanji pada Mang Atek, suatu saat saya ingin bersilaturahim ke rumahnya di Garut. Inilah saat untuk membayar hutang janji itu.

Mang Atek mempunyai dua rumah. Satu rumah untuk rumah tinggal dan membuka warung kebutuhan sehari-hari. Satu rumah lagi, masih baru sekitar setahun ini, berlantai dua, ada di seberang jalan, persis di depan rumah lamanya. Rumah baru ini masih belum tuntas finishing-nya, tapi sudah ada tempat tidur dan perlengkapan makan. Kata Mang Atek, anak laki-lakinya, yang masih kelas dua SMP, yang lebih banyak tinggal di rumah ini.

Mang Atek memiliki empat anak. Juga sudah memiliki cucu dari anak pertamanya. Padahal usia Mang Atek dan isterinya masih 43 tahun. Mereka dulu menikah di usia 16 tahun, menikah muda. Makanya di usia yang masih muda, Mang Atek sudah memiliki cucu.

 

Selain bertemu dengan keluarga Mang Atek, kami juga bertemu dengan beberapa pendamping desa. Ngobrol di ruang tamu, lantas makan siang bersama. Menunya nasi liwet, masakan isteri Mang Atek. Nasi liwet ditanak di sebuah panci khusus, kata Mang Atek namanya kastrol. Ada ayam goreng, tahu dan tempe goreng, ikan asin, sambal dan lalap. Sedap sekali tentu saja, apa lagi perut pas lapar, dan cuaca sejuk sekali.

Setelah shalat jama’ qashar dhuhur dan ashar, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yang namanya Talaga Bodas. Dari rumah Mang Atek, naik terus, dengan jalan yang cukup terjal, sekitar lima belas menit. Kami didampingi Ibu Lurah dan suaminya serta seorang perangkat desa.

Pemandangan di sepanjang jalan sungguh mengagumkan. Hutan, kebun, bukit, gunung, lembah, betapa indah. Ada banyak tanaman sayuran yang subur dan ranum. Juga tanaman jagung. Gunung yang berkabut tipis dan mendung yang menggantung. Indah yang begitu sempurna.

Dan Talaga Bodas itu, wow, menghampar di depan sana dengan warna putihnya yang berkilau-kilau. Aroma belerang langsung menyeruak memenuhi hidung. Sebuah telaga yang mungkin mirip kawah putih di Bandung, namun telaga ini masih sangat alami. Meskipun sudah dikomersilkan, namun kemurniannya masih sangat terjaga.

Kami tidak berlama-lama menikmati telaga, karena hari sudah beranjak sore. Tapi Bu Lurah sudah menyiapkan nasi liwet di sebuah warung makan di dekat telaga. Meskipun sebenarnya perut kami masih terasa kenyang, tapi kami lahap juga nasi liwet dan lauk pauknya. Ayam goreng, tahu dan tempe goreng, ikan asin goreng, sambal dan lalapan, dan jengkol goreng. Jengkol, sampai saat ini merupakan salah satu makanan yang saya belum bisa menikmatinya.

Kami berpisah dengan Bu Lurah di tempat tersebut setelah mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena telah menjamu kami. Beberapa bungkus kopi khas Garut dibawakannya untuk kami. Nama kopinya adalah Talagabodas.

Karena tidak ada jalan lain menuju tempat kunjungan selanjutnya, kecuali tetap melewati jalan yang sama, kami mampir lagi ke rumah Mang Atek, sekalian numpang ke toilet. Ternyata isteri Mang Atek sudah menyiapkan segepok oleh-oleh untuk kami. Kerupuk, keripik, pepes ikan, dan entah apa lagi.

Dari rumah Mang Atek, temaram sudah mulai turun. Kami bersilaturahim di dua rumah lagi. Jaraknya sekitar dua puluh menit dari rumah Mang Atek. Satunya rumah Mas Dendy, staf di sekretariat BPSDM. Satunya lagi di rumah Ibunda Pak Jajang Abdullah. Pak Jajang sebelumnya adalah sekretaris BPSDM, dan sekarang menjadi pejabat swadaya masyarakat ahli utama.

Sekali lagi, kami harus makan lagi, karena makan malam sudah disiapkan oleh orang tua Mas Dendy. Seperti tadi, meskipun perut kenyang, kami tetap makan tetapi hanya sedikit. Sudah benar-benar penuh rasanya perut ini.

Kami berniat kembali ke Jakarta malam ini juga. Memang sudah diniati tidak menginap, karena Minggu pagi kami sudah ada agenda lain.

Maka Mang Atek pun melajukan mobil yang membawa para penumpang yang terkantuk-kantuk karena kekenyangan. Sempat singgah di rest area untuk shalat maghrib-insya. Sekitar pukul 22.30, kami sudah tiba kembali di Jakarta.

Tubuh memang terasa agak lelah, namun betapa bahagianya bisa mengisi waktu dengan bersilaturahim. Memperbanyak silaturahim adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi.

Manfaat silaturahim tak hanya untuk memperluas rezeki dan terhindar dari api neraka, namun juga untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Silaturahim merupakan tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah SWT dan menjadi makhluk mulia di hadapan-Nya. Semoga.

Jakarta, 17 Februari 2024

Rabu, 31 Januari 2024

Ibu Mertua dan Zero Waste

Ibu mertua saya, Hj. Sri Lestari (almarhumah), adalah praktisi zero waste. Membaca postingan Bunda Aryani Widagdo tentang zero waste, mengingatkan saya pada Ibu Mertua, yang notabene adalah Ibundanya Mas Ayik Baskoro Adjie .

Ibu adalah sosok yang rajin dan irit. Kalau ada tempe dan tahu goreng yang disajikan untuk makan malam dan tidak habis, paginya sudah jadi oseng tahu tempe yang lezat. Ibu biasa menyajikan oblok-oblok atau blendrang yang meskipun mungkin gizinya sudah banyak hilang, namun rasanya enak sekali. Jenis hidangan seperti sambel tumpang, bothok, rempah (gorengan yang dibuat dari kelapa parut), telur atau ikan bumbu bali, abon, bahkan es buah atau jus buah, seringkali merupakan hasil rekayasa zero waste. 

Kalau sudah begitu, Bapak Mertua dan kami semua biasa berkomentar, “modif, modif. Gak montor tok sing dimodif." Ibu tertawa saja dan kami menikmati hidangan hasil modifikasi itu dengan nikmat.

Ibu selalu ngopeni dengan baik hidangan-hidangan yang tidak habis dan menyulapnya menjadi hidangan lain yang lezatnya tak terbantahkan.  Kami tidak pernah khawatirkan kelayakan dari setiap hidangan yang dimasak Ibu, termasuk hidangan  hasil modifikasi.

Untuk urusan pemanfaatan bahan makanan pun, Ibu sangat cermat. Misalnya kalau bikin udang goreng, maka kepala udang akan disisihkan, dihaluskan dan menjadi bahan tambahan untuk membuat kekian, bakwan sayur, atau dadar jagung. Tidak ada yang terbuang.  Belakangan saya tahu dari info Jeng Widowati Budijastuti , kalau cangkag udang itu bermanfaat untuk kesehatan. Menurut yang saya baca, cangkang udang merupakan sumber kalsium, mineral seperti magnesium, potasium, fosfor, dan juga mengandung protein.

Begitu juga dengan bahan makanan yang lain, Ibu berusaha sesedikit mungkin menyisakan sampah. Namun memang Ibu tidak memiliki pengolahan sampah, misalnya untuk menjadi kompos. Sampah bahan makanan biasanya diwadahi kantung plastik dan dibuang di tempat sampah di depan rumah. Oya, tapi sampah berupa kulit bawang merah dan bawang putih, seringkali Ibu kumpulkan untuk membuat telur pindang. Telur yang direbus dengan kulit bawang dan jambu biji akan menjadi telur rebus yang berwarna coklat dan berpola.

Tidak hanya dalam urusan makanan. Ibu yang hobi menjahit, hampir selalu membuat baju-bajunya sendiri. Mulai menggambar desain, membuat pola, memotong, menjahit, dan seterusnya, dilakukannya sendiri. Daster, kebaya, atasan, terusan, rok,  selendang, kerudung, piyama, yang memenuhi lemari pakaian Ibu, hampir semua adalah hasil karya sendiri. Ibu juga suka membuatkan kami semua, anak cucunya, baju-baju yang diberi sulaman nama masing-masing. Banyak sekali hasil karya ibu, termasuk lenan-lenan.

Bagaimanakah Ibu memperlakukan sisa kain? Nah, disinilah kepiawaian Ibu nampak sekali. Semua kain sisa jahitan dikumpulkan Ibu, diwadahi dalam sebuah keranjang besar. Ibu mengisi waktu senggangnya dengan menjahit kain-kain perca itu menjadi berbagai macam lenan dan bahkan juga baju dan piyama. Ada sprei, taplak meja, keset, sarung bantal, tutup kulkas, dan pernak-pernik yang lain. Tatakan gelas, tatakan mangkok penghidang, tudung saji, cempal, celemek, hampir semua sudah dibuat Ibu.

Ibu berpulang pada 2018. Sebagian barang hasil karya Ibu saat ini sudah tidak ada lagi, sudah rusak karena dimanfaatkan. Tidak terpikir oleh kami saat itu untuk setidaknya menyisihkan sekadar sebagai kenang-kenangan. Tapi masih ada cukup banyak peninggalan Ibu yang menjadi bukti betapa Ibu adalah sosok yang tidak mau diam, kreatif, dan inspiratif.

Di rumah kami, ada sprei, taplak, dan beberapa lenan hasil karya Ibu yang kami pasang dengan penuh rasa bangga. Lenan-lenan itu adalah hasil karya berwawasan zero waste. Sebagian sudah berubah warna atau aus dimakan usia. Namun melihatnya, senantiasa mengingatkan kami semua pada cinta dan kasih sayang Ibu.

Memanfaatkan hasil karya Ibu insyaallah menjadi amal jariyah Ibu, yang pahalanya terus mengalir. Amiin ya Rabb.

 

Jakarta, 31 Januari 2024