Pages

Kamis, 19 Juli 2012

Jipurapah, Sisi Jombang yang 'Eksotis'

Pukul 07.30, berangkat dari rumah menuju Mojokerto. Ada Sinung dan Ike, dua orang adik Himapala yang hari ini saya minta menemani. Sinung menjadi driver, ditemani Ike di sebelahnya. Saya duduk di jok tengah, membuka laptop, menyiapkan materi -- lebih tepatnya menghimpun materi -- untuk acara workshop di SMK Negeri 1 Dlanggu. 

Sekitar pukul 09.00, kami tiba di tempat tujuan. Disambut guru-guru yang sebagian besar adalah alumni Unesa. Kepala sekolah, namanya bapak Hasyim, ternyata juga alumni Unesa. Beliau saudaranya Pak Yasir dan pak Yadi, dua-duanya dosen Unesa. 

Maka kegiatan pagi itu berjalan dengan sangat gayeng tapi serius. Para guru itu meminta sesuatu yang sangat simpel dari saya: bagaimana menyusun RPP yang benar. RPP, sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi 'sego jangan' mereka. 

Tentu saja mereka bukannya belum bisa menyusun RPP. Namun seiring dengan perkembangan beragam model pembelajaran dan penilaian inovatif, ditambah tuntutan harus mengintegrasikan karakter dalam pembelajaran, membuat mereka merasa perlu untuk meng-up grade pengetahuan mereka. 

***

Sekitar pukul 14.00, acara workshop selesai. Kami pamit. Meluncur ke arah Ploso, untuk mengunjungi anak-anak Himapala yang sedang melaksanakan kegiatan Pekan Pengabdian kepada Masyarakat. 

Hanya berbekal alamat yang dikirimkan oleh salah seorang anggota Himapala via sms, kami melaju. Beberapa kali Ike yang duduk di sebelah Sinung harus turun dan bertanya pada beberapa orang di pinggir jalan, karena kami tidak yakin dengan arah kami. Salah seorang bapak yang masih muda yang sedang mereparasi sepeda motor dengan anaknya, kami tanya ke mana arah desa Jipurapah, ketika kami sudah menempuh perjalanan lebih dari satu jam sejak dari SMK Dlanggu. Dia mengatakan arah kami sudah benar. Kami akan bertemu dengan kampung, masuk hutan pertama, keluar dan masuk kampung lagi, terus masuk hutan lagi, baru ketemu dengan desa Jipurapah. "Lumayan kok, bu, radosanipun...." Dia tersenyum, manis, tapi menyembunyikan sesuatu. "Radi mumbul-mumbul sekedik...." 

Tidak lama kemudian, mungkin tidak lebih dari 5 menit sejak bertemu bapak itu, kami menemukan 'rahasia di balik senyum manisnya'. Jalan panjang di depan kami luar biasa terjal, berbatu-batu, berlubang-lubang, berkelok-kelok, naik turun. Subhanallah. Tidak perlu jauh-jauh ke Sumba kalau ingin menikmati sensasi berpetualang di medan sulit. Kami bertiga berdecak-decak kagum memuji kelihaian anak-anak himapala junior kami mencari lokasi untuk pengabdian. Entah dari mana mereka tahu ada tempat yang begini 'eksotis' di pelosok Jombang ini.

Dan sampailah kami di tempat ini setelah sekitar satu jam melakukan perjalanan dalam kondisi 'mumbul-mumbul' di dalam mobil. Di sebuah desa bernama Jipurapah. Desa yang seolah menghampar di sebuah lembah yang dikelilingi hutan-hutan jati. 

Perasaaan kami lega, namun rasa lega itu tidak lama. Kami belum sampai tujuan. Ya, memang Jipurapah sudah ketemu. Tapi kami harus menuju salah satu dusunnya, yaitu dusun Kedungdendeng. Ada papan tanda penunjuk jalan menuju ke sebuah arah. Papan bercat hijau, yang di bagian bawahnya tertulis 'Himapala Unesa'. Oh, papan itu pasti mereka yang membuat. 

Maka kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah satu jam lebih kami dikocok-kocok di dalam mobil, tentu saja kami berharap akan menemui jalan yang lebih bersahabat. Tapi ternyata tidak. Jalan yang harus kami tempuh bahkan lebih terjal. Jarum speedometer tidak pernah melampaui angka 5. Karena saking terjalnya, beberapa kali bemper depan atau belakang mobil tersangkut batu, sungguh pun Sinung sudah sangat hati-hati memilih jalan. Sempat juga mobil terhenti tidak bergerak ketika jalan menanjak curam, ban belakang hanya 'muter'.

Perjalanan seperti itu, harus kami lalui lebih dari satu jam. Sepanjang kanan kiri jalan adalah hutan jati. Hutan dan hutan. Tidak ada pemandangan lain kecuali, sesekali, kebun tembakau dan jagung. Juga lombok. Senja yang mulai turun sempat membuat kami khawatir. Bila lokasi anak-anak belum juga ketemu sementara hari sudah mulai gelap, tentu akan lebih menyulitkan kami. Sebuah baleho bertuliskan 'Himapala Unesa' di sisi kanan jalan menentramkan kami. Tapi, seperti yang sudah saya duga, baleho itu benar-benar hanya untuk menentramkan. Lebih dari 15 menit dari tempat itu, lokasi anak-anak 'nakal' itu belum juga kami temukan. 

Dusun yang bernama Kedungdendeng itu benar-benar terpencil. Berada di desa  Jipurapah, kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, konon dusun itu merupakan perbatasan antara Nganjuk, Lamongan, Bojonegoro, dan Jombang. 

Adzan maghrib menyambut kedatangan kami. Anak-anak yang tidak menyangka akan kedatangan kami, kaget bercampur senang. Belasan anak itu menyalami kami. Mereka datang dari arah rerimbunan, seperti makhluk-makhluk penghuni hutan yang menyerbu mangsa. Tubuh kotor mereka mengeluarkan aroma 'lebus', perpaduan antara bau keringat, tanah, dan hutan. Rupanya mereka baru saja melakukan aktivitas outbond dengan anak-anak dan pemuda setempat. 

Mereka bermarkas di sebuah rumah milik perhutani. Rumah yang masih setengah jadi. Di depan rumah itu berdirilah sebuah bangunan sekolah dasar yang halamannya tidak terlalu luas, dan tidak berpagar. Di samping sekolah ada tanah lapang kosong, yang terpasang sebuah layar, semacam layar untuk melihat layar tancap. Hampir setiap malam anak-anak himapala memutarkan film untuk menghibur masyarakat setempat yang haus akan hiburan. Mulai dari film-film kartun sampai film-film pendidikan semacam Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku. Sumber listrik dari genset, karena dusun itu belum dialiri listrik. Ya, tanpa listrik, tanpa sinyal. Pilihan lokasi yang tepat untuk 'nyepi'.

Dusun Kedungdendeng terdiri dari 137 KK dan 500-an jiwa. Hasil alam yang utama adalah tembakau dan lombok. Makanan yang khas adalah oseng-oseng lombok. Hidangan yang diolah dari segenggam tempe dan sekilo lombok hijau. Kata anak-anak, sayur lombok dibumbu tempe (bukan tempe dibumbu lombok). Saking pedasnya, bila makan oseng-oseng itu, kata anak-anak, sampai membuat telinga mereka mengeluarkan asap yang mengepul-ngepul.

SD Jipurapah, satu-satunya sekolah di dusun itu, memiliki 43 siswa. Kelas 4 kosong. 6 guru, 3 PNS termasuk Kepala sekolah, dan 3 yang lain guru honorer. Guru datang bergantian. Dijadwal per hari, setiap hari ada 3 orang guru. Kepala sekolah, lulusan S2 UTS (Universitas Teknologi Surabaya), datang sekitar 2-3 kali sebulan.  

Sekolah itu sudah lama sekali tidak pernah melaksanakan upacara. Anak-anak Himapala memasang tiang bendera di depan sekolah, membelikan bendera merah putih, dan mengajari mereka upacara. Senin besok, adalah upacara pertama setelah bertahun-tahun upacara bendera tidak pernah dilakukan di sekolah yang sudah berdiri sejak lebih dari 30 tahun yang lalu itu. 

SD itu memiliki 3 ruang untuk kelas, ditambah 1 ruang guru yang sempit. Satu ruang kelas digunakan untuk 2 kelas. Kelas 1 digabung dengan kelas 2, kelas 3 dengan kelas 4, dan kelas 5 dengan kelas 6. Kelas 1, 2, 3 jumlahnya 22 siswa; kelas 5, 6 jumlahnya 21 siswa. Siswa ilegalnya ada 3 (titipan, karena tidak ada TK).  Oleh karena kelas 4 tidak ada siswanya, buku-buku perpustakaan diletakkan di ruang kelas tersebut. Buku-buku itu, sebagian besar adalah sumbangan dari IGI (terimakasih, mas Ihsan). Begitu buku-buku itu diatur di rak-rak bambu yang juga dibuat sendiri oleh anak-anak Himapala, buku-buku itu langsung diserbu anak-anak sekolah yang haus buku bacaan itu. 

Ketika UN yang lalu, siswa SD Jipurapah bergabung ke SD-SMP satap di Jipurapah, di dusun Brangkal. Tahun ini, ada 3 siswa kelas 6 yang ikut UN, semua lulus. Jadi tingkat kelulusannya mencapai 100 persen. 

Masjid di dusun ini bernama masjid Al-Istiqomah, sebuah masjid yang mungil (paling mungil yang pernah saya lihat). Luasnya hanya sekitar 36 meter persegi. Di situlah sholat berjamaah lima waktu, termasuk sholat Jumat, dilaksanakan. Dengan seorang ustadz, yang setia menjadi imam dan mengajari anak-anak dusun belajar membaca Al-Quran.

Selepas isya, ketika para ibu, bapak, pemuda, anak-anak, berdatangan, berduyun-duyun ke 'markas' anak-anak Himapala, duduk bergerombol di atas rerumputan di tanah lapang yang tidak terlalu lapang itu, dengan tujuan menyaksikan hiburan malam layar tancap yang sudah disiapkan, kami berpamitan. Hanya sekitar dua jam kami singgah di tempat itu. Dua jam yang bermakna. Cukup waktu untuk melihat perpustakaan di SD Jipurapah, meninjau MCK hasil karya anak-anak Himapala dan pemuda setempat, berinteraksi dengan perangkat dan masyarakat setempat di masjid mereka yang mungil, dan beramah-tamah dengan anak-anak himapala, para ibu, para bapak, para pemuda dan anak-anak. Juga menikmati hidangan singkong berbumbu masakan ibu kamituwo. 

Mobil kami menembus hutan di malam yang pekat itu. Harapanku hanya dua, Sinung yang pegang kemudi tidak mengantuk, dan yang kedua, mobil tidak mogok di tengah jalan. Tidak terbayangkan kalau kami harus bermalam di tengah hutan rimba di malam yang gelap gulita tanpa cahaya apa pun, tanpa sinyal lagi. Namun doa-doa dan pikiran positif kami akhirnya mengantarkan kami mencapai desa Ploso yang terang benderang setelah dua jam bergulat dengan medan terjal dan kegelapan malam......

Kedungdendeng, 15 Juli 2012

Wassalam,
LN

3 komentar

Titik Hayati 26 April 2016 21.12

Assalaualaikum Ibu..

SDN Pojokklitih 2 Plandaan 7 Mei 2016 09.29

Diatas Kedungdendeng masih ada dusun lagi yang lebih terisolir, Dusun Rapahombo (Ds. Klitih). 30 menit ke barat sudah sampai di Dusun Bunten Desa Tondomulo Kec. Kedungadem Bojonegoro (Masih Jombang Juga)

SDN Pojokklitih 2 Plandaan 7 Mei 2016 09.31

Ayo SM3T ke Dusun Rapahombo Ds. Klitih. Atasnya Kedungdendeng yang sampean ceritakan.

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...