Pages

Sabtu, 02 Februari 2013

Aceh Singkil 4: Catatan yang Tercecer (Tamat)

Tiga hari berkelana di Aceh Singkil memberikan banyak pengalaman berharga bagi saya dan teman-teman satu tim. Wilayah yang terdiri dari daratan dan kepulauan, dengan masyarakat dari berbagai suku, dan mayoritas penduduknya muslim (meski ada satu pulau yang hampir seratus persen penduduknya adalah nonmuslim), serta keberadaan berbagai adat dan budaya, semakin membuka mata kita betapa kayanya Tanah Air Indonesia. Lengkap dengan kekayaan alam (terutama kelapa sawit dan hasil laut), juga hal-hal yang berbau ghaib dan mistik, membuat Aceh Singkil menjadi begitu unik. Pada beberapa perbincangan kami dengan kepala sekolah dan masyarakat Aceh Singkil, beberapa kali terlontar semacam 'warning' bagi kami, agar tidak melakukan hal-hal yang bersifat pantang, selalu  bersikap hati-hati dan waspada serta melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan. Bila tidak yakin atau ragu-ragu, sebaiknya tidak dilakukan, baik dalam urusan makanan maupun hal-hal lain. Di Aceh Singkil, ajaran Islam begitu kentalnya mewarnai kehidupan masyarakat. Di sisi lain, aroma mistik dan kepercayaan yang seringkali tak bisa dijelaskan dengan akal sehat juga begitu dipegang teguh oleh sebagian masyarakat, bahkan secara turun-temurun. Karakteristik yang pada umumnya masih kuat melekat pada masyarakat tradisional.

Tsunami yang pada tahun 2004 dan setelah itu disusul dengan gempa Nias telah memporakporandakan sebagian wilayah Aceh Singkil.  Berbagai bantuan melimpah untuk program recovery. Belasan LSM, bahkan puluhan, berlomba-lomba menggerojokkan bantuan, baik berupa fresh money maupun berupa barang mulai dari sembako, lembu, benih ikan, itik, perahu, bahkan juga perbaikan jalan, rumah, perkantoran dan lain-lain. Mungkin karena begitu banyaknya bantuan sehingga semua itu sempat meninabobokan masyarakat Aceh Singkil. Bantuan yang awalnya dimaksudkan oleh para donor sebagai 'kail', ternyata tidak dimanfaatkan secara optimal, karena 'kail' itu justru banyak yang dijual dan ditukar dengan barang-barang konsumtif.

Bahkan sampai saat ini pun, bantuan dari LSM masih sesekali datang. Maka tidak heran, ketika pertama kali kami bertemu Marlon di Bandara Polonia, driver yang dikirim oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil untuk menjemput kami, pertanyaan pertama yang dia lontarkan adalah: 'ini dari LSM?'. Berikutnya dia katakan, bahwa Unesa dia pikir adalah LSM di bawah Unesco, atau setidaknya perwakilan Unesco di Indonesia. Glodak!

Menurut Marlon, penampilan kami seperti orang-orang dari LSM. Tapi begitu dia, juga para petugas dari dinas, serta masyarakat melihat bagaimana cara kerja kami, pembicaraan-pembicaraan kami, dan juga sikap kami, mereka baru menyadari bahwa kehadiran kami di Aceh Singkil, di berbagai pelosoknya, bukanlah demi sebuah formalitas. Apa yang kami lakukan bersama-sama anak-anak kami yang sedang mengabdikan diri mereka di sana, adalah sebuah bentuk perjuangan kecil demi membangun pendidikan. 'Mau apa orang itu kemari?', kata Marlon, pertanyaan itu hampir selalu terlontar dari masyarakat, setiap kali kami tiba di suatu tempat. Sejurus kemudian, setelah Marlon menjelaskan siapa kami dan mau apa kami, orang-orang itu mendekat, menyapa ramah, bahkan beberapa menawari kami untuk mampir ke rumahnya. Tentu saja, hal ini tidak lepas dari penilaian mereka atas kinerja para guru pengabdi itu, para peserta SM-3T, yang menurut mereka, para guru SM-3T bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi.

Selama kunjungan (atau lebih tepatnya disebut 'petualangan') kami di Aceh Singkil, bendera merah putih berkibar di semua halaman sekolah, kantor dan hotel. Namun beberapa di antaranya sudah tidak sepenuhnya merah dan sepenuhnya putih. Bahkan beberapa ada yang sudah koyak dan berjuntai pada bagian pinggir bawahnya. Panas dan hujan telah melapukkan bendera-bendera itu. Harapan kita adalah, semoga hal itu tidak melapukkan rasa nasionalisme mereka. Bagaimana pun kita agak miris ketika menemukan kenyataan bahwa ada sekolah yang menolak melaksanakan upacara bendera (meskipun di Jawa mungkin masih sesekali ditemukan hal serupa). Juga, ketika seorang siswa menyatakan, warna bendera Indonesia bukanlah merah putih (karena yang dia lihat adalah bendera yang warnanya telah memudar menjadi merah muda dan putih kelabu). Mungkin kita harus menyadari,  jawaban siswa itu tidak terlalu salah karena itulah kenyataan yang dia lihat di depan mata. Bahkan ketika dia menolak ketika diminta untuk menghormat bendera, mungkin kita harus melakukan refleksi, adakah yang salah dalam pendidikan kewarganegaraan kita di sekolah, atau bahkan dalam proses penanaman rasa cinta tanah air pada umumnya oleh bangsa ini.
  
Belum banyak daerah pelosok yang kami kunjungi. Tapi meski begitu kami bisa merasakan, betapa kinerja sebagian besar aparat pendidikan di berbagai pelosok itu masih sangat perlu ditingkatkan. Saya masih ingat, ketika kami berkunjung ke Talaud pada 2012 yang lalu, seorang petugas dinas PPO  Kabupaten Talaud, perempuan, integritas dan dedikasinya begitu mengagumkan kami. Dia mendampingi kami sampai ke pelosok mana pun, dan peta lokasi sekolah ada di kepalanya. Hafal di luar kepala. Di mana pun di sekolah yang kami kunjungi, dia disambut dengan sangat baik dan penuh kehangatan. Nampak jelas dia sangat membumi. Namun begitu, tidak banyak orang seperti dia. Di kabupaten yang lain, bupati dan kepala dinasnya beserta seluruh staf juga sangat responsif, menyambut baik kehadiran para guru SM-3T dengan penuh suka cita, dan mereka memastikan akan menjamin keamanan dan keselamatan guru-guru tersebut. Mereka tahu di mana sekolah-sekolah yang membutuhkan guru-guru itu. Tapi mereka juga nyaris tidak pernah berkunjung ke sekolah-sekolah tersebut. Pengawas tidak seluruhnya tahu di mana sekolah-sekolah yang menjadi wilayah tanggung jawabnya. Kepala sekolah bahkan tidak perlu datang setiap hari, seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali cukuplah. Medan yang berat dan cuaca buruk seringkali menjadi alasan. Guru-guru mengajar dengan semaunya, mangkir dari tugas tanpa merasa bersalah. Perilaku semacam itu ibarat virus yang menular, sebagai akibat dari lemahnya kepemimpinan dan minimnya figur panutan. Etos kerja yang rendah mulai dari pimpinan puncak daerah, menjalar sampai ke aparat-aparat di bawahnya, ke pengawas, kepala sekolah, guru, dan dalam kondisi yang seperti itulah siswa belajar. Ditambah dengan daya dukung masyarakat khususnya orang tua yang lemah, lengkaplah sudah. 

Saat ini kami baru saja menginjakkan kaki di Surabaya. Beberapa menit yang lalu Sriwijaya Air yang kami tumpangi sejak dari Medan-Padang-Jakarta telah mendarat di Bandara Juanda dengan selamat.  Setelah sejak kemarin sore kami melakukan perjalanan panjang dari Singkil, ditemani kabut tebal yang menghalangi pandangan, dan puluhan truk tangki pengangkut CPO yang memacetkan jalan;  saat ini kami telah kembali bertemu dengan keluarga kami masing-masing. Alhamdulilah. Satu tugas telah tunai. Tubuh boleh lelah, tapi jiwa dan semangat berjuang dan berkarya harus terus bergelora..... Amin YRA.

Juanda Surabaya, 2 Februari 2013. Pukul 23.00 WIB.

Wassalam,
LN

2 komentar

srillestari 20 April 2013 20.05

Ibu Luthfiyah diantar bang Marlon juga dari medan ke Singkil? Bang Marlon adalah driver yang tangguh yang sering mengantar staff kami dari medan ke singkil dan sebaliknya. salam dari singkil:-)

srillestari 20 April 2013 20.08

Oh ya yang di foto ini di Singkil sebelah mana ya? view nya bagus :-)

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...