Pages

Senin, 25 November 2013

Kabar Gembira Dari Papua

Pagi ini, pukul 07.30, sebuah SMS masuk ke ponsel saya. "Ibu, saya ingin telepon, bisakah?" Spontan saya balas, "silakan, Ilham...". Meski sebenarnya saya sedang sarapan di Sabtu pagi yang cerah ini, saya menghentikan aktivitas saya. Mencuci tangan dan bersiap menerima telepon.

Ilham Saputra, adalah koordinator peserta SM-3T yang ditugaskan di Mamberamo Raya. Sebenarnya awalnya bukan dia koordinatornya. Namun karena Faisal, koordinator yang pertama, tempat tugasnya yang di SMP Satap Bonoi Distrik Sawai, tidak terjangkau sinyal, maka tugas sebagai koordinator dialihkan ke Ilham. Konon, tempat tugas Ilham, yaitu di SMP Negeri Poiwai Distrik Sawai juga, masih terjangkau sinyal, meski untuk mendapatkannya, Ilham musti menyeberang laut dengan perahu atau speedboat sejauh lima belas menit. Sempat juga tugas koordinator dialihkan ke Salman, yang lokasi tugasnya ada di Burmeso. Namun ternyata, meski di tempat Salman tersedia sinyal, dia toh tidak bisa menghubungi siapa-siapa juga, karena di tempat tugas teman-temannya, sinyal tidak ada.

Saya mengobrol panjang lebar dengan Ilham pagi itu, setelah melepas suami berangkat ke kantor. Dia menceritakan tempat tugasnya. Di sebuah sekolah favorit, yaitu di SMP Negeri Poiwai. Meski sekolah favorit, masih banyak siswa kelas VII bahkan VIII yang masih belum bisa baca tulis dan hitung. Ilham dan Haris, rekannya sesama peserta SM-3T, memberi pelajaran tambahan kepada siswa di sore hari, termasuk membimbing mereka berkegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan Baris-Berbaris. 

"Wah, sangat berkesan, bu. Senang tapi juga gemes. Senang karena ada banyak kegiatan. Gemes karena anak-anak itu baru bisa paham kalau sudah diajari sepuluh kali." Kata Ilham saat saya tanya bagaimana kesannya. "Malasnya itu lho, bu....minta ampun. Tapi sekarang sudah mulai ada perubahan kok, bu... Mereka mulai rajin-rajin."

Saya senang mendengar cerita Ilham. Semangatnya untuk memotivasi anak-anak supaya tidak lagi malas, serta mencintai sekolah dan belajar, itulah yang sangat penting. Lebih-lebih bila kemudian ada dukungan dari orang tua siswa, yang pada umunya juga sangat minim. Semangat belajar, bekerja keras, tidak pantang menyerah, mencintai sesama, menghargai keragaman, dan memiliki kemauan untuk berkembang, adalah nilai-nilai yang harus terus-menerus ditanamkan pada mutiara-mutiara di ujung negeri tersebut. Tentu saja, semuanya ini jauh lebih penting dan berharga daripada sekedar lulus UN.

Sekolah itu memiliki siswa tidak lebih dari 100 orang. Ada 36 siswa kelas VII, 36 siswa kelas VIII, dan 35 siswa kelas IX. Gurunya ada 6 orang. Sebenarnya ada 10 guru PNS yang ditugaskan di sekolah tersebut, namun yang datang hanya 3 orang. Tujuh yang lain tak diketahui keberadaannya.

Kondisi seperti ini, bisa dikatakan 'sudah jamak' di mana pun di daerah 3T. Guru yang ditugaskan tidak datang. Bahkan kepala sekolah saja, juga bisa berbulan-bulan baru menengok sekolahnya. Namun gaji terus menerima. Jadi budaya 'magabu' sudah biasa. Makan gaji buta.

Hal ini juga yang merisaukan Bupati Mamberamo Raya. Saat beliau memberikan kata sambutannya pada acara penerimaan peserta SM-3T September yang lalu, beliau bertekad untuk melakukan pemetaan guru secara cermat, sehingga tidak ada lagi guru yang magabu. Termasuk guru-guru kontrak. 

Meski sekolah favorit, ternyata kekurangan guru tetap menjadi persoalan. Akibatnya, Ilham yang sebenarnya lulusan Pendidikan Sendratasik (Prodi Seni Musik) itu, musti mengajar Fisika, Kimia, PPKn, selain Kesenian. 

"Hah? Bisa kamu, Ilham?" Tanya saya. "Seni Musik suruh ngajar Fisika, Kimia?" "Bisa, bu. Saya SMA-nya IPA. Kalau untuk mengajar SMP, saya masih bisa, bu. Daripada mereka nggak diajar.".

Sama halnya dengan Haris, meskipun dia lulusan Prodi BK, dia juga musti mengajar Sosiologi dan Matematika Dasar. "Daripada kelas kosong, bu. Pokoknya gimanalah, bu, supaya anak-anak selalu ada kegiatan." Kata Haris. 

Ilham bilang, jarak yang diperlukan untuk mencapai tempatnya dari Kasonaweja (ibukota Mamberamo Raya) adalah sekitar tujuh jam dengan menumpang speedboat. Tapi jarak tempuh dari Serui hanya sekitar tiga jam. Ada sekitar delapan orang peserta yang tempat tugasnya lebih dekat dengan Serui daripada dengan Kasonaweja. Oleh sebab itu, Ilham menyarankan, bila tim monev nanti akan berkunjung, ada baiknya juga jika melalui Serui, tidak hanya melalui Kasonaweja, seperti saat pemberangkatan dulu.

Meskipun tempatnya jauh dari Kasonaweja, namun keadaan di sana menyenangkan. Listrik menyala mulai jam 06.00-01.00. Listrik itu dari genset yang dimiliki sekolah. Air juga selalu tersedia. Bagaimana dengan tempat tinggal? Kata Ilham, bahkan dibanding dengan kamar kostnya sewaktu kuliah dulu, tempatnya yang sekarang jauh  lebih nyaman. Dua buah kasur busa yang masih baru, khusus dibeli dan disediakan untuk mereka. Ditempatkan di sebuah kamar yang cukup luas, satu rumah dengan kepala sekolah. 

Untuk urusan makan, juga tidak ada masalah. Di sekolah itu ada asramanya, yang menampung anak-anak sekolah yang rumahnya jauh. Ada dapur dan tukang masaknya. Ilham dan Haris tinggal makan saja. Di awal kedatangan dulu, mereka menyetorkan beras, minyak goreng, gula, sarden kaleng, ke dapur asrama. Tapi mereka malah dimarahi, dibilang tidak perlu setor bahan makanan, karena semua sudah tersedia. 

Wow, bejo betul kedua anak tersebut. 'Saya seperti tidak sedang berada di Papua, Ibu', katanya. 'Semuanya ada, kecuali sinyal.'

Untuk mendapatkan sinyal, Ilham harus menumpang perahu kayu, orang setempat menyebutnya perahu kole-kole, hanya dengan membelikan bahan bakar sebanyak lima liter. Tidak harus menunggu speedboat. Sewaktu-waktu, kapan pun dia ingin menyeberang untuk mendapatkan sinyal, dia bisa menumpang perahu kole-kole langganan, asal laut dalam keadaan teduh.

Harga bahan makanan juga tidak terlalu mahal. Beras kemasan 10 kg harganya Rp.130.000,-, yang kemasan 20 kg harganya 250.000,-. "Itu sudah beras paling bagus, bu, bukan beras Bulog".

Buavita, minuman kesukaan Ilham (maaf, bukan bermaksud promosi), yang di Surabaya biasanya seharga Rp.4.000,-, di sana Rp.7.000,-. Ya, selisihnya lumayan juga, namun jauh lebih murah dibanding di Kasonaweja yang harganya Rp.10.000,-.

Yang unik dan menarik, di sana masih dikenal jual-beli dengan cara barter. Orang-orang membawa ikan dan hasil kebun mereka ke sekolah, dan ditukar dengan rokok, bukan uang. Kebetulan di sekolah itu ada koperasi, dan koperasi itu sangat membantu kebutuhan sekolah. 

Yang juga menyenangkan lagi, anak-anak sekolah pandai membuat alat musik ukulele. Bahannya dari kulit kayu yang ringan yang diperoleh dari pantai, sementara senarnya dari senar pancing. Saat ilham cerita, dia sudah pesan ukulele untuk dibawanya pulang tahun depan nanti, saya spontan juga minta dipesankan. "Untuk Barok, Ilham". Barok, nama lain Arga, kebetulan karena sama-sama di Sendratasik, Ilham juga kenal baik anak saya itu. "Ya, bu, saya pesankan juga untuk Barok".

Begitulah, kalau 'beruntung', anak-anak SM-3T bisa mendapatkan tempat tugas yang nyaman, meski untuk mencapai tempat tugas tersebut, mereka harus menempuh medan berat dan berisiko. Namun, semua ada plus-minusnya. Di tempat yang nyaman seperti itu, bisa jadi mereka bersyukur, bisa jadi justeru merasa kurang tantangan. Tahun lalu, beberapa anak SM-3T, termasuk di antaranya perempuan, minta dipindahkan ke tempat lain yang lebih terpencil, sehingga kehadiran mereka lebih dibutuhkan dan lebih bermakna.

Surabaya, 16 November 2013

Wassalam,
LN

0 komentar

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...