Pages

Minggu, 28 Juli 2013

Menulis Bagi Saya (2)

Tidak mudah menembus Anita Cemerlang. Cerpen saya yang akhirnya dimuat itu, entah itu cerpen yang ke berapa, saya sampai tidak ingat. Meskipun ditolak berkali-kali, saya tidak mau menyerah. Apa lagi redaksi Anita selalu memberikan komentar dan motivasinya untuk cerpen-cerpen yang kita kirim namun belum bisa dimuat. Dengan begitu kita jadi tahu di bagian mana yang musti kita perbaiki, serta tetap terdorong untuk menulis.

Setelah tulisan pertama saya berhasil dimuat di Anita Cemerlang, sejak itu, cerpen saya bisa dimuat rutin hampir setiap bulan. Ya, kunci masuk sudah saya pegang. Saya, yang di Anita menggunakan nama Lutfi Az,  sudah tahu seperti apa cerpen-cerpen yang dimaui Anita. Adalah cerpen remaja yang mendayu-dayu, mengharu-biru, tentang cinta, tentang perjuangan, namun tetap mengandung pesan. Seperti itulah belasan atau puluhan cerpen-cerpen saya.

Saya juga menulis di koran Solo (saya lupa nama korannya). Saya mengenal koran itu dari kakak laki-laki saya yang kuliah di sana. Lumayan, untuk tulisan-tulisan pendek, waktu itu diberi honorarium Rp. 5.000,- -Rp. 10.000,-. Sementara nasi bungkus masih seharga seribuan (tahun 1985-1986).  Saat itu saya masih kuliah di kampus Pecindilan. Menulis benar-benar membantu saya, tidak sekedar menuangkan pikiran-pikiran, namun juga membantu keuangan saya sebagai mahasiswa kost, yang uang sakunya hampir selalu pas-pasan. Setidaknya uang dari menulis itu bisa saya gunakan untuk membeli jas hujan, senter, mi instan, dan juga membayar urunan naik gunung bersama teman-teman Himapala; tanpa mengganggu dana untuk praktek dan bayar kost.

Selain cerpen, saya juga menulis laporan perjalanan dalam bentuk feature. Feature saya beberapa kali dimuat di beberapa media, termasuk di Anita Cemerlang. Karena kegemaran saya menulis feature itu, saya sering ditugasi Gema, koran IKIP Surabaya waktu itu, untuk meliput berbagai kegiatan di lingkup kampus dan sekitarnya. Waktu itu, saya masih ingat, sering mengikuti rapat bersama Pak Leo Idra Adriana (almarhum), mas Wawan Setiawan, mas Djoko Pitono, mas Jusuf (sekarang menjadi guru), dan beberapa nama lain yang saya sudah agak lupa. 'Jabatan' saya waktu itu adalah sebagai reporter lepas. Masa-masa yang saya begitu menikmatinya sebagai wartawan amatir.

Hobi ternyata seperti sebuah tanaman. Dia perlu rabuk. Seperti itulah menulis. Saya sempat meninggalkan kebiasaan menulis itu bertahun-tahun, dan sengaja tidak mau melakukannya. Kecuali menulis di buku harian. 
Ceritanya begini. Saya sempat mengalami masa-masa di mana saya seperti mengidap insomnia ketika saya begitu getol-getolnya menulis fiksi. Saya biasa tidak tidur semalaman atau tidur menjelang pagi karena saya lebih memilih cetak-cetok dengan mesin tik. Hal itu membuat tubuh saya lemas dan tidak berenergi di siang harinya. Seperti orang yang masuk angin berat.

Otak saya sering dijejali dengan berbagai macam ide untuk ditulis, khususnya cerita fiksi. Namanya fiksi. Meskipun saya belum pernah naik gunung, saya bisa menulis cerita tentang petualangan di gunung. Ketika saya belum pernah datang ke suatu kota, saya bisa saja bercerita dengan latar kota tersebut. Mengandalkan imajinasi. Imajinasi itulah yang membuat pikiran saya menjadi berat. 

Maka penyakit susah tidur pun menghinggapi saya. Sampai akhirnya bapak dan ibu saya menyarankan supaya saya berhenti menulis. Jeda dulu. Kembali kepada kehidupan yang normal. 

Namun sebenarnya saya tidak pernah sama sekali berhenti menulis. Sebagai pengganti menulis cerpen dan feature, saya menulis puisi. Ada sebuah buku saya yang penuh dengan puisi-puisi yang saya tulis, untuk mengabdikan momen-momen dalam hidup saya. Terutama, sebagaimana remaja pada umumnya, adalah tentang cinta dan cita-cita. Puisi-puisi yang melankolis, cenderung cengeng, namun tetap penuh semangat mengejar cita-cita.

Begitu menjadi dosen, kegemaran saya menulis fiksi berubah menjadi kegemaran menulis proposal penelitian dan artikel ilmiah. Berbagai skim penelitian dan pengabdian masyarakat saya raih setiap tahunnya, baik yang bertaraf lokal dari IKIP Surabaya/Unesa maupun secara nasional. Juga berbagai penelitian kerja sama dengan beberapa instansi. Begitu juga dengan artikel ilmiah, saya menulisnya baik untuk presentasi dalam sebuah forum ilmiah lokal/nasional/regional, maupun untuk publikasi di jurnal imiah nasional maupun internasional.

Keterampilan menulis membuat saya nyaris tidak pernah mengalami kekurangan kredit point untuk pengusulan kenaikan pangkat. Menulis bagi saya sendiri bukanlah semata-mata untuk mengejar credit point. Saya menulis karena saya merasa harus menulis. Apakah itu nanti terpakai atau tidak untuk naik pangkat, tidak menjadi pertimbangan utama. Sehingga saya biasa terpaksa 'membuang' beberapa tulisan saya karena sudah melebihi credit point. 

Ternyata kegemaran menulis itulah yang mengantarkan saya menjadi guru besar pada usia 43 tahun (sebenarnya 42 tahun, tahun kelahiran saya di ijazah 'dituakan' setahun dari tahun kelahiran yang sebenarnya). Kegemaran menulis itu juga yang mengantarkan saya pernah mendapatkan kenaikan pangkat istimewa, yaitu dari III-C ke IV-A, tanpa melalui III-D. Pangkat istimewa saya peroleh karena dalam waktu dua tahun, saya berhasil memuatkan dua artikel saya di jurnal ilmiah terakreditasi. 

Pangkat istimewa dan guru besar, seperti sebuah kebetulan saja bagi saya. Artikel yang dimuat di dua jurnal ilmiah terakreditasi waktu itu adalah artikel tugas kuliah saya di program Doktor Teknologi Pembelajaran UM. Dosen saya, Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng menjanjikan mahasiswa akan memperoleh nilai A kalau tugas artikelnya berhasil dimuat di jurnal ilmiah terakrteditasi. Kemudian Dr. Waras, asisten beliau, yang membaca artikel saya, meminta saya untuk 'menggemukkan' salah satu tugas artikel saya. Beliau yang notabene adalah penyunting di sebuah jurnal imiah terakreditasi di UM, menyampaikan kalau artikel saya layak muat. 

Begitulah. Pangkat saya pun 'melompat'. Itu pun setelah diingatkan teman saya. Saya yang tidak terlalu mau repot mencermati peraturan kepangkatan, diingatkan oleh pak Asrul Bahar, teman saya, kalau saya bisa naik pangkat istimewa.

Selesai S3, saya bermaksud mengajukan kenaikan pangkat ke IV-B. Saya menyetorkan berkas-berkas saya ke bagian kepegawaian Unesa. Tahukah apa yang terjadi? Saya dipanggil kabag kepegawaian, pak Yakup, dan beliau mengatakan bahwa credit point saya sudah cukup untuk pengusulan ke Guru Besar. Apa? Guru Besar? Profesor? 

Saya belum siap untuk menjadi guru besar. Terlalu cepat. Maka saya tarik berkas saya dari pak Yakup, saya simpan selama satu semester. Sampai saya harus dua kali dipanggil Dekan FT, dan diminta untuk menyetorkan berkas saya, serta membiarkan kepegawaian memroses usulan guru besar saya. Beliau tekankan ke saya, supaya tidak egois. Lembaga butuh guru besar. Dan menahan berkas usulan berarti tidak memikirkan lembaga.

Skak mat. Kalau sudah masalah integritas, dedikasi dan loyalitas yang dipertaruhkan, saya tidak bisa berkutik. Maka tergopoh-gopohlah saya menghadap pak Setyohadi (sekarang sudah almarhum, dosen senior yang saya sering meminta pertimbangannya untuk keputusan-keputusan penting dalam hidup saya), untuk meminta pendapat beliau. Ternyata pendapat pak Setyo, begitu saya memanggil beliau, sama dengan pendapat dekan, sama juga dengan pendapat mas Ayik, suami saya. 

Akhirnya, saya menjadi guru besar pada Mei 2009, sekitar satu setengah tahun setelah saya mendapatkan gelar Doktor. Kemudian tepat pada tanggal 7 Januari 2010, dua minggu setibanya kami menjalankan ibadah haji, saya dikukuhkan sebagai Guru Besar Unesa ke-43, dalam bidang Pendidikan Ilmu Kesejahteraan Keluarga (Home Economics Education), pada usia saya yang ke 43.

Menulis, ternyata membawa kita pada keajaiban-keajaiban yang tak kita sangka-sangka sebelumnya. Maka menulislah, dan kau akan menemukan keajaiban-keajaiban itu...

Bersambung.....

Tanggulangin, 28 Juli 2013. 13.40 WIB.

Wassalam,
LN

2 komentar

Arohman 30 Juli 2013 20.22

Tulisan yang menginspirasi....

Anonim

Menarik sekali

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...