Pages

Selasa, 04 Desember 2018

MENGUNJUNGI EROPA 3: EDUCATION 4.0

Tibalah hari ini, yang sesungguhnya menjadi alasan kami datang ke Vienna. Menjadi peserta sekaligus penyaji makalah pada konferensi internasional pendidikan. Acara konferensi digelar di University College for Agrarian and Environmental Pedagogy, alamatnya di Angermayergasse 1, 1130 Vienna, Austria. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Tapi dengan kondisi udara yang minus 3 derajat Celcius, no way, kami lebih memilih naik uber. Hanya perlu ongkos 9€ dan kami aman dari terpaan cuaca dingin yang begitu ramah tapi membekukan.
Kegiatan ini merupakan kerja bareng antara Erasmus, ProfEsus, dan empat organisasi yang lain. Salah satunya adalah IFHE (International Federation of Home Economics). Kami berempat menjadi bagian dari IFHE ini, sebagai member. Peserta yang lain adalah para guru, kepala sekolah, dosen, peneliti, dan pengamat pendidikan, yang datang dari 23 negara. Keren. Kegiatan yang hanya diikuti tidak lebih dari 100 orang ini, mampu menyedot peserta dari 23 negara. Semuanya berkulit putih, kecuali kami berempat dan tiga teman kami dari Zambia. Tapi wajah-wajah Asia bertebaran, begitu juga wajah Timur Tengah dan India. Kehadiran kami semua ditandai dengan 23 bendera kecil yang berjajar di bagian depan ruang konferensi.
Konferensi dibuka oleh rektor, yang menyampaikan welcome speech-nya dalam Bahasa Jerman. Sebagian besar narasumber berbicara dalam Bahasa Jerman, dan sebagian besar dari kami para peserta menggunakan translater dengan pilihan Bahasa Inggris dan Jerman. Acara demi acara disusun dengan begitu apik dan efisien. Sejak kami datang, kami disambut oleh panitia yang membantu kami melepaskan mantel, memandu menandatangani daftar hadir, dan menunjukkan di mana ruang konferensi, di mana toilet, di mana ruang break. Ajaibnya, mereka yang kami kira panitia itu ternyata sekaligus menjadi orang-orang penting, termasuk para narasumber. Anne Fox, yang menjaga dan membagikan translater, bahkan pemilik perusahaan pelatihan dan konsultan pendidikan yang berkedudukan di Denmark.  Sini Temiseva, dari Laurea University of Applied Science, Finland, salah satu orang kunci “Laurea” yang menjadi salah satu supporter konferensi ini, adalah orang yang menjaga daftar hadir.  Anne Lauveberg, salah satu perwakilan penting dari IFHE, sibuk mengantarkan mikrofon pada para penanya, dan menggeser-geser flip-chart di depan. Luar biasa efisiennya mereka. Saya bayangkan orang-orang itu adalah dekan, ketua lembaga, direktur, kalau di Indonesia. Namun saya tidak bisa membayangkan orang-orang penting di Tanah Air itu akan mau melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mereka.
Hari pertama kami diskusi tentang “Education in the Anthropocene”. Kata kuncinya adalah “climate change cannot be negotiated - a new “green deal” for sustainable development”. Prof. Dr. Kai NIEBERT, Professor for Science and Sustainability Education, University Z├╝rich, Switzerland, menyajikan topik tersebut dengan sangat menarik. Anthropocene sendiri dimaknai sebagai periode waktu di mana aktivitas manusia memiliki dampak lingkungan terhadap bumi yang dianggap sebagai usia geologis yang berbeda. Sebagian besar ilmuwan setuju bahwa tangan manusia telah mempengaruhi pemanasan iklim bumi sejak revolusi industri - beberapa bahkan berpendapat bahwa kita hidup dalam zaman geologi baru, dijuluki Anthropocene. Dampak kemanusiaan di bumi sekarang sangat besar. Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang utama adalah menjadikan dunia yang lebih hijau, sehat dan lebih setara pada tahun 2030. Prof. Kai Niebert dalam presentasinya mengeksplorasi pertanyaan bagaimana pendidikan bisa menghadapi tantangan Anthropocene. Jawaban kritisnya adalah pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan serta peluang dan hasil penelitian di bidang didaktik.
Tidak kalah menariknya adalah topik tentang “Pedagogy for Sustainable Development”, dengan kata kunci “empowering learners for transformation processes in every-day life, in businesses and in social communities”. Penyajinya adalah Prof. David SELBY, founding director of sustainability frontiers and adjunct professor at Mountain Saint Vincent University, Halifax, Canada. Prof David Selby melihat 'sindrom multi-krisis' yang dihadapi dunia, sebelum mempertanyakan apakah pendidikan keberlanjutan saat ini menawarkan respon yang cukup transformatif (memberdayakan, transgresif dan restoratif). Dia akan terus mengusulkan kurikulum dan pedagogi tersebut untuk memperdalam dan memperluas apa yang kita pelajari, bagaimana kita belajar, dan apa yang kita lakukan dengan pembelajaran kita.
Ada 4 topik yang lain, satu diantaranya disampaikan oleh Prof. Johanna MICHENTHALER, dari University College for Agricultural and Environmental Education. Topik tersebut adalah “Elements of the international ProfESus course: Discovering a Sustainable Mindset - in future-thinking professionals“. Johanna mengungkapkan, “Pembelajarn dan penelitian saya berfokus pada nutrisi dan teknologi pangan, ilmu kesejahteraan keluarga, green pedagogy, subjek didaktik dan pengembangan sekolah. Sejak Oktober 2016 Johanna adalah ketua proyek Erasmus + internasional “ProfESus” dengan topik “Focus on Sustainability – Education for Professionals in Household and guest-oriented Businesses. Sebagai bagian dari Proyek Uni Eropa ProfESus, konsep pelatihan guru internasional telah dikembangkan dan diuji dalam 2 tahun terakhir. Kursus pembelajaran terpadu ini, yang dikembangkan sebagai praktik terbaik, contoh untuk "Transformative Sustainable Learning", disajikan secara rinci selama konferensi tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, pantaslah kalau peserta konferensi ini adalah dominan guru dan kepala sekolah.
Johanna sepertinya menjadi pemeran kunci pada konferensi ini, karena dia tampil hampir sepanjang waktu, termasuk menjadi moderator dan fasilitator dalam setiap diskusi. Mungkin karena dia adalah nyonya rumah, dan sekaligus sebagai Ketua ProFesus Project.
 Oh ya, satu topik lagi yang sangat menarik di hari pertama ini adalah “Learning, to design the future, The didactic concept of Green Pedagogy and the use in vocational education”. Topik ini disampaikan oleh Prof. Wilhelm LINDER, dari University College for Agricultural and Environmental Education. Konsep didaktik dari green pedagogy digunakan dalam pendidikan kejuruan untuk pembangunan berkelanjutan. Salah satu aspek kunci di masa depan akan menjadi cara berpikir inovatif. Tetapi kompetensi apa yang dibutuhkan dan bagaimana hal ini bisa dikembangkan? Green pedagogy mencari jawaban bagaimana mengembangkan dan mengevaluasi pembelajaran.  
Kami mengikuti konferensi selama dua hari, mulai dari pukul 09.00-17.00. Beberapa variasi interaksi digunakan dalam konferensi, seperti diskusi kelompok, brainstorming, dan focus group discussion. Hari terakhir, kami dibagi dalam grup-grup, dan grup tersebut mengelompok sesuai dengan bahasa yang digunakan. Tentu saja pilihannya hanya dua, Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Setiap kelompok mendapatkan semacam worksheet yang dikemas dalam bentuk studi kasus dan pemecahan masalah. Setelah itu setiap wakil kelompok menyampaikan hasil diskusinya dan peserta saling menanggapi. Benar-benar bernas dan mencerahkan.
Satu lagi yang menarik, tentu saja, konsumsinya. Bukan karena ragam makanannya, bukan, karena makanannya bagi saya tidak terlalu bervariasi. Juga bukan karena kelezatannya, karena bagi kami, makanan yang disajikan sama sekali jauh dari lezat menurut selera kami. Namun proses pengolahan dan penyajiannya yang dilakukan oleh siswa-siswa SMK. Para siswa itu mengenalkan makanan yang disajikannya di depan para peserta konferensi sebelum acara break. Guru mereka mendampingi, dan membantu meyakinkan pada peserta konferensi bahwa makanan yang disajikan adalah aman, dan tentu saja lezat. Saya teringat mahasiswa kami kalau lagi melaksanakan gelar karya boga. Seperti itu jugalah yang mereka lakukan. Mempromosikan makanan kreasi mereka sebelum dilakukan penilaian oleh juri dan dilihat serta dicicipi para pengunjung. Untuk hal ini, kita sepertinya jauh lebih keren deh.

Wien, 29 November 2018

0 komentar

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...