Pages

Senin, 18 Maret 2013

Ujian Terbuka Rita Ismawati

Pagi tadi, saya menghadiri ujian terbuka teman baik saya, Rita Ismawati, S.Pd, M.Si. Dia adalah dosen di program studi Pendidikan Tata Boga, PKK FT Unesa. Lulusan IKIP Surabaya tahun 1993. Perempuan kelahiran Lamongan itu adalah yudisiawan terbaik jurusan PKK pada saat itu. 

Tempat acara di aula Fakultas Kedokteran Unair. Saya bersama beberapa teman diundang sebagai undangan akademik. Di sebuah ruang ujian yang dingin, bersih, sangat berwibawa, kami disilakan duduk setelah mengisi daftar hadir. Ada 16 kursi yang tersedia untuk undangan akademik, 10 kursi berada di depan untuk para penguji dan penyanggah, dan satu podium di sisi kanan untuk promovendus. Di tengah-tengah barisan meja untuk penguji, adalah kursi pimpinan sidang, yang tepat di belakangnya adalah backdrop berwarna hijau, bertuliskan: Universitas Airlangga, Fakultas Kedokteran, Program Studi S3 Ilmu Kedokteran, Ujian Akhir Doktor Tahap II (Terbuka), Rita Ismawati, S. Pd, M. Kes. Surabaya, 18 Maret 2013. Lengkap dengan logo Unair. Ditulis dengan lugas, sederhana, namun penuh kharisma.

Di ruang lain, terpisah dengan undangan akademik, ada keluarga, kerabat, kolega, mahasiswa, dan para undangan yang lain. Mereka semua berada di aula FK Unair ini untuk menjadi saksi atas pencapaian prestasi akademik Rita Ismawati.

Ujian dimulai tepat pukul 10.00. Para penguji dan penyanggah, dipandu oleh pimpinan sidang, Prof. Dr. Teddy Ontoseno, duduk di kursi masing-masing. Berbusana resmi, berjas dan berdasi. Tanpa toga. Tidak seperti di Unesa, para penguji di ujian terbuka selalu bertoga. Beda institusi, beda budaya. 

Beberapa dari para penguji itu saya kenal dengan sangat baik, termasuk promotor, Prof. Dr. Bambang Wirjatmadi. Sebagai promotor, beliau yang dikenal sebagai konsultan gizi itu diberi kesempataan pertama untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan. Dilanjutkan dengan kopromotor pertama dan kedua, serta penguji. Beliau-beliau itu duduk di sebelah kiri pimpinan sidang. Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari para penyanggah. Ada lima penyanggah, salah satunya adalah Prof. Dr. Burhan Hidayat, dokter spesialis anak yang sangat terkenal itu. Para penyanggah itu duduk di sebelah kanan pimpinan sidang. Setelah semua penyanggah melontarkan pertanyaan-pertanyaannya dan bisa dijawab dengan sangat baik dan lancar oleh Rita, pertanyaan dilanjutkan oleh pimpinan sidang sendiri. Sebenarnya bukan pertanyaan, tapi lebih sebagai ungkapan kekaguman.

Ya, ujian terbuka ini memang diwarnai dengan ungkapan kekaguman dari para promotor, penguji dan penyanggah. Ketekunan, keuletan, dan daya juang Rita Ismawati begitu luar biasa. Betapa tidak. Rita Ismawati meneliti tentang pengaruh suplementasi seng, lisin, dan vitamin A terhadap peningkatan respon imun seluler, nafsu makan, dan berat badan penderita tuberkulosis paru. Ini mungkin bukan penelitian istimewa kalau penelitinya adalah dokter atau setidaknya mahasiswa yang latar belakang pendidikannya kedokteran. Tapi Rita bukan dokter. Dia juga tidak memiliki sejarah pendidikan yang berbau kedokteran. Sekolah menengah diselesaikannya di SPG, ya, Sekolah Pendidikan Guru. Bukan SMA-IPA. Pendidikan sarjananya adalah Pendidikan Tata Boga. Memang S2-nya adalah Gizi Masyarakat, namun bidang ini pun tidaklah cukup memadai sebagai bidang kedokteran, makanya payungnya pun bukan Fakultas Kedokteran, tetapi Fakultas Kesehatan Masyarakat.  

Rita benar-benar 'orang biasa', yang terpaksa harus meneliti bidang kedokteran karena dia mengambil program studi ilmu kedokteran. Ketika tahun 2008 dia ingin melanjutkan studinya di S3, Program Doktor Gizi Masyarakat belum dibuka. Untuk menjamin linieritas bidang keilmuannya, tidak ada pilihan, prodi Ilmu Kedokteranlah yang terdekat. 

Maka dia belajar ilmu kedokteran nyaris dari nol. Bahkan di awal-awal studinya, Rita sempat ragu apakah dia akan mampu mempelajari ilmu-ilmu yang semuanya relatif baru itu. Namun hari ini dia sudah membuktikan, sesulit apa pun ilmu itu, dengan ketekunan, keuletan, dan kepasrahan pada Yang Maha Memiliki Ilmu, semuanya bisa diselesaikannya dengan baik, bahkan dengan sangat baik. 

Salah seorang kopromotor, Prof. Dr. Ni Made Mertaningsih mengungkapkan, beliau tidak hanya kagum dengan keuletan dan ketekunan Rita; tapi beliau juga kagum karena Rita berani mengambil risiko dengan sampel penelitiannya adalah pasien penderita tuberkulosis paru. Dia menjadi orang awam yang akhirnya harus bergulat dengan istilah-istilah kedokteran yang asing, eksperimen-eksperimen yang rumit, dan pengukuran indikator-indikator sebelum dan sesudah perlakuan untuk memastikan apakah suplemen yang dia tawarkan itu berpengaruh secara signifikan atau tidak.

Dalam penelitiannya, Rita melakukan identifikasi subyek dengan melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang datang ke Rumah Sakit Khusus Paru (BP4) Surabaya, sebagai langkah awalnya. Pasien dengan indikator batuk produktif lebih dari 3 minggu (klinis positif), pemeriksaan sputum dengan pewarnaan secara Zielh Nielsen positif, serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, yang menjadi subyek penelitiannya. Selanjutnya dilakukan kultur metode standar pada Lowenstein-Jensen untuk identifikasi Mycobacterium tuberkulosis, yang jika hasilnya positif, maka subyek ini dijadikan sampel penelitian.

Selanjutnya, Rita melakukan pemeriksaan prasuplementasi yaitu pemeriksaan kadar albumin, taste acuity, recall,  berat badan, seng saliva, kadar vitamin A, IFN-gamma, CD4, dan ghrelin. Kemudian dia lakukan randomisasi yang dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok 1 diberi OAT + suplemen (seng+lisin), kelompok 2 diberi OAT + suplemen (seng+lisin+vitamin A), sedangkan kelomppk 3 hanya diberi OAT saja. OAT sendiri kepanjangan dari Obat Anti Tuberkulosis.

Pengamatan dilakukan selama 2 bulan, kemudian dilakukan pemeriksaan yang sama pada saat dan sesudahnya. Dari hasil penelitiannya, Rita menemukan adanya peningkatan yang signifikan terhadap respon imun seluler dan nafsu makan pada kelompok yang diberi suplemen seng, lisin dan vitamin A. Respon imun seluler dan nafsu makan ini sangat berperan dalam penyembuhan tuberkulosis. Bahkan ada indikasi, dengan pemberian suplemen yang ditawarkan, pengobatan tuberkulosis yang biasanya menggunakan OAT minimal 6 bulan, waktunya bisa diperpendek. 

Untuk masalah tuberkulosis (TB), Indonesia sendiri masih menempati urutan ke lima setelah India, China, Afrika Selatan, dan Nigeria, dalam hal jumlah penderita terbesar. Menurut data dari Depkes RI (2002),  TB di Indonesia menyebabkan 175.000 kematian per tahun atau berkisar 500 orang per hari, dan 450.000 penderita baru muncul setiap tahunnya. Sementara itu, di antara kabupaten/kota di Jawa Timur, Surabaya menduduki tempat teratas dengan jumlah penderita TB sebanyak 1.859 orang.

Rita menawarkan suplemen dalam penelitiannya karena TB seringkali ditemukan bersamaan dengan kondisi malnutrisi, yaitu defisiensi gizi makro dan mikro, di antaranya: protein, seng, besi, vitamin A, vitamin C. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita tuberkulosis paru adalah juga daya tahan tubuh yang rendah, di antaranya karena kurang gizi. Berdasarkan beberapa alasan inilah Rita menawarkan suplemen yang bisa meningkatkan status gizi penderita TB serta meningkatkan imunitasnya. 

Karena waktu ujian hanya dua jam, pada sesi pertanyaan dari undangan akademik, hanya saya dan Dr. Meda Wahini yang diberi kesempatan. Namun pada dasarnya pertanyaan kami hanyalah 'aksesoris'. Yang terpenting, Rita telah mampu membuktikan bahwa alur pikir penelitiannya, sumbangan terhadap bidang ilmu dan penerapannya, juga ketangguhannya dalam menjawab semua pertanyaan dengan mendasarkan diri pada teori-tori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya, serta kecintaannya pada ilmu, membawanya pada tahap ini, di mana dia layak menyandang gelar doktor. Tidak hanya itu. Rita Ismawati, yang pada 2012 sempat mengikuti program sandwich di Australia,  dinyatakan lulus dengan predikat 'dengan pujian'. Cumlaude. 

Saya bahagia dan bangga, juga terharu. Hari ini saya belajar sesuatu pada sosok sederhana dan rendah hati itu. Rita tidak hanya seorang ilmuwan yang tekun dan ulet, tapi dia adalah istri yang patuh pada suami, anak yang taat pada orang tua, ibu yang penuh kasih untuk ketiga putra-putrinya, teman dan rekan kerja yang menyenangkan untuk para koleganya, serta guru yang mengagumkan bagi para mahasiswanya. Dia akan menjadi kekuatan baru bagi Unesa, khususnya bagi Prodi Pendidikan Tata Boga. Dia juga akan menjadi sumber inspirasi bagi kami semua untuk terus belajar dan mengembangkan diri. 

Selamat dan sukses, sahabatku. Semoga keberhasilanmu berkah bagi semua. Amin YRA.


Surabaya, 18 Maret 2013

Wassalam,
LN

0 komentar

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...