Pages

Minggu, 31 Maret 2013

Mengabarkan Kebahagiaan

Suatu hari saya mengirim sebuah tulisan ke milis keluarga Unesa. Tulisan tentang pengalaman saya dalam acara reuni Himapala. Reuni yang menyenangkan. Perjalanan yang panjang, konsumsi dan akomodasi yang lezat dan nyaman, kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat wisata yang mengagumkan dan persahabatan yang indah, sangat berarti dan mencerahkan.

Seorang teman berkomentar: Dilihat dari tulisannya, kisah Bu Ella kok bahagia terus padahal kata Mario Teguh "Life is never flat". Apa yang ditulis emang yg bahagia aja ya? 

Sebenarnya saya tidak selalu menulis cerita yang bahagia saja. Sama dengan hidup saya, hidup kita semua, duka dan bahagia selalu menyertai. Saya ingat pernah menulis 'Episode Baru bagi Bapak' dan 'Di Ujung Ramadhan'. Dua tulisan yang mengisahkan tentang kesedihan kami saat bapak jatuh sakit, dan kami harus bahu-membahu untuk saling mendukung bagi kesembuhan bapak. Saya juga menulis tentang 'Ibuku (1)' dan 'Ibuku (2), sebagian menceritakan bagaimana rasa kehilangan kami semua saat bapak berpulang. Ada juga tulisan tentang 'Anak Lanang', sebuah cerita suka dan duka menemani anak semata wayang kami dalam menjalani proses pendewasaannya. Tulisan-tulisan itu sebagian ada di website www.luthfiyah.com dan juga di buku 'Jejak-Jejak Penuh Kesan', buku yang saya tulis untuk menandai momen pernikahan emas bapak dan ibu. 

Tapi memang, harus saya akui, saya lebih suka menuliskan hal-hal yang membahagiakan daripada hal-hal yang menyedihkan. Berbagi kebahagiaan akan menularkan energi positif bagi orang yang mendengar atau membacanya. Membagikan cerita sedih hanya perlu saya lakukan ketika saya yakin kita bisa mengambil hikmah dari cerita itu. Hikmah untuk selalu bersabar, ikhlas dan bersyukur.  
Mario Teguh menulis: 
"Jika hatimu baik, pikiranmu baik, yang kau katakan baik, dan yang kau lakukan baik, maka baiklah nasibmu.

Mas Ayik panorama waduk Gajah Mungkur...
Maka ikhlaskanlah hati, pikiran, kata-kata, dan keseluruhan gerak tubuhmu kepada kebaikan.

Sesungguhnya, lebih mudah bagimu mendekatkan dirimu kepada kebaikan, daripada mengeluarkan dirimu dari kesulitan karena keburukan."

Saya sangat sepakat dengan kata-kata bijak Mario Teguh itu. Meski dia mengakui "Life is never flat", tapi dia juga meyakini mengabarkan kebaikan akan membawa kita kepada 'nasib baik'. 

Ada juga syair dari The Best of Opick yang sangat saya suka. Saya memang penggemar Opick. Lagu-lagunya hampir selalu menemani saya sepanjang perjalanan menuju atau pulang kerja. Begitu saya membaca basmallah dan doa bepergian serta bersholawat, saya kemudian menghidupkan tape.  Saya bersenandung, tapi yang saya senandungkan adalah kalimat-kalimat pujian. 

RAPUH
Lagu/Lirik: Opick

"Detik waktu terus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka, tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan

Seribu mimpi, berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Di antara lelahnya jiwa
Dalam resah dan air mata
Kupersembahkan kepada-Mu
Yang terindah dalam hidupku

Meskipun rapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepada-Mu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah pada-Mu

Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dada kuharap hanya
Diri-Mu yang bertahta

Detik waktu terus berlalu
Semua berakhir pada-Mu..."

Entah kenapa, meski lagu ini sudah puluhan kali saya dengar dan saya senandungkan, saya hampir selalu menangis setiap mendengarnya. Bagi saya, ini tidak sekedar lagu. Bagi saya, lagu ini maknanya begitu luar biasa, begitu menyentuh titik kesadaran saya yang paling dalam. Pernah suatu ketika saya dan mas Ayik melakukan perjalanan mudik ke Tuban, dan kami menyenandungkan lagu itu bersama-sama, tiba-tiba saya terdiam. Terisak. Ternyata mas Ayik juga. Dia diam dan mebiarkan lagu itu terus mengalun sementara kami meresapinya dengan sepenuh hati. 

TAKDIR
Lagu/Lirik: Opick

"Dihempas gelombang
Dilemparkan angin
Terkisah kubersedih, kubahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencana-Nya

Semua berjalan 
Di dalam kehendak-Nya
Nafas hidup, cinta dan segalanya...

Dan tertakdir menjalani
Segala kehendak-Mu ya Rabbi
Kuberserah, kuberpasrah
Hanya padamu ya Rabbi

Bila mungkin ada luka
Kau coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa
Kau coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti

Bila hidup hampa yang dirasa
Mungkinkah hati merindukan Dia
Karena hanya dengan-Nya
Hati tenang damai jiwa dalam dada..."

Surabaya, 31 Maret 2013

Wassalam,
LN

1 komentar

just irfanbach 31 Maret 2013 18.06

setuju Proff,,, lagune opick emang menyentuh n menginspirasi sekailgus memerindingkan hehe,,, terutama "Bila" waktu tlah berakhir,,,...

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...