Pages

Sabtu, 17 Desember 2011

Ke Sumba Lagi (7): Umbu Landu Paranggi, Penyair itu...

Siang ini kami semua telat makan. Medan sulit yang membuat kami terkocok-kocok di dalam mobil menyebabkan perut kami seperti penuh. Biskuit sudah habis kami bagi-bagikan ke anak-anak sekolah tadi. Hanya ada sedikit kripik pisang, stick keju, dan minuman. Tapi perut kami memang tidak terasa lapar.

Tapi demi menjaga kondisi, kami meminta Oscar mencari tempat yang nyaman untuk makan. Lagi pula nasi kotak yang kami bawa dari Waingapu juga harus segera disantap. Antara nasi dan lauk-pauknya sudah bercampur-aduk gara-gara terkocok-kocok sepanjang perjalanan.

Tepat pukul 15.00, Oscar menepi, menghentikan mobil di sebuah jembatan. Jalan agak lebar, kelihatannya memang biasa digunakan pengendara untuk tempat singgah. Di bawah jembatan adalah sungai yang airnya jernih sekali, berbatu-batu. Kami membuka bekal dan menikmatinya, duduk di sepanjang jembatan itu. Sekedar menggugurkan kewajiban. Perut saya yang 'mbesesek' membuat saya tidak mampu menghabiskan separo lebih dari makanan itu. Selesai makan, para bapak 'tengak-tengok' mencari tempat buang hajat. Tapi Oscar bilang, sebentar lagi kami bisa singgah di suatu tempat untuk buang hajat. Maka kami semua masuk ke mobil, melanjutkan perjalanan lagi, dengan menahan 'hajat'
kami masing-masing.

Hanya sekitar 15 menit kemudian, Oscar membelokkan mobilnya ke sebuah rumah berhalaman cukup luas, yang di depannya ada kuburan berbentuk rumah kecil. Di Sumba Timur, adalah hal yang biasa menjumpai kuburan di depan rumah. Meskipun ada kuburan umum, tidak sedikit masyarakat yang memilih mengubur anggota keluarganya yang meninggal, di depan rumahnya. Awalnya saya mengira batu-batu granit berbentuk segi empat yang disangga dengan empat tiang itu adalah tempat untuk kongkow-kongkow. Tidak tahunya, ternyata di bawah batu itulah anggota keluarga mereka ditanam. Bisa lebih dari satu orang yang ditanam di bawah batu itu. Untuk keluarga raja-raja, batu granitnya besar-besar. Bahkan ada yang harus diangkat dengan traktor ketika memasangnya. Tapi untuk keluarga biasa, batunya tidak terlalu besar, bahkan seringkali bukan batu yang digunakan, tapi lempengan cor-coran.

Oscar mengetuk pintu rumah untuk memintakan izin kami semua menggunakan toilet yang ada di samping rumah. Ternyata keluarga itu masih saudara Oscar. Pemiliknya adalah kepala desa. Namun kepala desa sedang tidak ada di tempat, ada di Waingapu untuk suatu keperluan.

'Ibu tahu Umbu Landu Paranggi?' Tanya Oscar kepada saya setelah keluar dari kamar mandi. 'Ya, penyair?' Jawab saya. 'Ya, betul. Ini rumahnya. Kuburan di depan itu kuburan bapaknya....'.

Saya terkejut campur takjub. Saya sedang berada di rumah Umbu Landu Paranggi, penyair itu. Tak menyangka. Sontak saya amati semua sudut di sekitar rumah itu. Bangunannya yang sederhana namun nampak menonjol karena tak bertetangga (seperti halnya rumah-rumah di pelosok Sumba Timur yang jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain sangat berjauhan, seringkali sampai puluhan kilometer), penuh tanaman pekarangan, dan bernuansa teduh. Di sinikah penyair itu berasal?

Nama Umbu sudah lama saya kenal, hanya karena saya agak suka baca-baca karya sastra (koleksi majalah Horison-ku masih setumpuk, dan tetap kusimpan dengan baik, sesekali kubaca-baca). Tapi nama itu juga sudah lama saya lupakan, karena tergerus oleh kesibukan dan urusan-urusan lain. Dia disebut sebagai raja Malioboro pada masanya (tahun 60-an atau 70-an ), berambut gondrong, dengan
garis wajah keras seperti kuda sumba. Dialah yang menumbuhkan sastrawan-sastrawan terkenal seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi, Korie Layun Rampan, dan Yudistira Adi Nugraha. Konon, musisi Ebiet G Ade juga lahir karena sentuhan tangan dinginnya.

Inilah tanah kelahiran Umbu. Desa Kananggar, Kecamatan Peberiwai. Sekitar 4 jam dari Waingapu, ibu kota Sumba Timur. Dari desa sangat terpencil ini, seorang penyair Indonesia telah dilahirkan. Dia yang disebut sebagai Presiden Malioboro ini, telah membuahkan sastrawan kelas atas. Orang-orang menyebutnya sebagai 'pohon rindang' tapi dia sendiri menyebut dirinya sebagai 'pupuk' saja. Umbu memang sosok penyair yang langka dan unik. Kecintaannya pada dunia puisi seakan melebihi segalanya. 'Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan, karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan' (cuplikan dari puisi 'Melodia' oleh Umbu Wulang Landu Paranggi).

Sabtu, 10 Desember 2011
Wassalam,
LN

1 komentar

Gaharu Sumba 29 November 2015 09.48

betul mba.. sy aja mendengar nama umbu landu paranggi itu bukan dari puisinnya justru dari kata presiden malioboro dan saking penasara sy telusuri trus akhirnya sy temui beliau dengan sastra puisinya....
waaaa.. malah sy jadi tertarik dengan puisi sekarang lohhh..

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...