Pages

Jumat, 07 Juni 2013

Double Gardan

Menjelang subuh. Saya bangun dari tidur. Menggeliat sambil melafalkan rasa syukur karena hari ini saya masih bisa melihat pagi. Sehat wal afiat. Alhamdulilah. Meski ada sedikit pegal-pegal yang saya rasakan di punggung dan pundak. Sisa kelelahan semalam. Biasa, terbiasa tidur larut malam menjelang pagi, membuat tubuh sering merasa seperti masuk angin. Tapi rasa itu akan segera hilang begitu saya mulai melakukan aktivitas. Tak perlu dihiraukan. Biar tidak manja. 

Seperti biasa, saya mendahului bangun. Mas Ayik masih pulas. Arga tidur di sofa di depan TV ditemani cello dan perangkat fotografinya. Anak itu lagi gila kamera beberapa waktu belakangan ini. 

Sambil menunggu adzan, saya memanaskan nasi. Membuat jus buah. Pagi ini saya hanya menyajikan bandeng presto, bawang goreng dan sambal pecel akas (sambal pecel yang tidak dicampur air). Cukup. Kami terbiasa makan pagi dengan menu sederhana dan tidak ribet. Kadang hanya tempe goreng dan sambal bawang. Kadang telur ceplok atau omelette dengan sambal kecap. Sering juga hanya roti dengan isi coklat miesis atau keju dan sosis. Atau ayam goreng dan saus botol. 

Alhamdulilah, kedua laki-laki pujaan saya, Mas Ayik dan Arga, tidak pernah rewel soal makanan. Apa saja yang disajikan di atas meja, nyaris selalu dinikmatinya.

Selesai semua, saya membangunkan para lelaki. Sholat shubuh. Mas Ayik lantas memulai aktivitasnya. Membersihkan halaman, mencuci mobil. Arga bantu-bantu. Saya sendiri mulai bersiap-siap, mandi dan mengecek bagasi. 

Pagi ini saya akan berangkat ke Sumba Timur. Ada seminar nasional tentang hakekat guru dan pendidikan karakter yang diselenggarakan oleh para peserta SM-3T. Kami, saya dan bu Yanti, diminta untuk menjadi narasumbernya. Juga kepala dinas PPO Sumba Timur. 

Kesempatan ini akhirnya kami gunakan untuk sekalian monev SM-3T kedua. 'Ngiras-ngirus'. Biar ngirit. Panitia, yang notabene adalah anak-anak kami itu, tidak mungkin menyediakan transpor dan akomodasi kami sebagai narasumber. Bila mungkin pun, kami tidak akan menerima.

Bagaimana pun, dana mereka terbatas. Tidak mudah mencari sponsor di Sumba Timur ini. Ditambah lagi, acara seminar dan sejenisnya belum menjadi acara favorit. Panitia musti 'door to door' untuk mempublikasikan, untuk memastikan para kepala sekolah dan guru akan hadir sebagai peserta seminar. Anak-anak muda itu datang langsung ke sekolah-sekolah, bertemu dengan kepala sekolah dan guru-guru, dan menghimbau mereka untuk menghadiri seminar. 

Dari sekitar 300 undangan yang mereka siapkan, hanya bisa didistribusikan sekitar 200. Kendala utamanya adalah medan yang terlalu sulit untuk dijangkau, saking pelosoknya, dan akses menuju daerah tersebut sangat susah. 

Untuk masalah dana, sebanyak 78 peserta itu patungan, Rp. 250.000 per orang. Dana itu dialokasikan untuk seluruh keperluan seminar, mulai dari kesekretariatan, sewa gedung, konsumsi, narasumber lokal, dan sebagainya. Makanya tidak bijak kalau transpor dan akomodasi kami harus mereka atasi juga. 

Seminar ini adalah salah satu wahana mereka untuk mengembangkan keterampilan mengelola event forum ilmiah, mengembangkan kerja sama, dan, juga yang tidak kalah pentingnya, adalah wahana untuk pencitraan diri. Pencitraan bagi mereka sebagai guru-guru pengabdi, pencitraan bagi Unesa, dan pencitraan bagi dunia pendidikan pada umumnya.

Oh ya, kembali ke cerita tentang diri saya sendiri. Biar nyambung dengan judul tulisan ini. Ha ha...

Semalam, ketika semua sudah tidur, saya masih bekerja. Mereviu beberapa artikel yang akan dimuat di sebuah jurnal ilmiah. Kebetulan saya anggota mitra bestari di beberapa jurnal. Karena besok pagi harus bertugas di Sumba, maka pekerjaan ini harus rampung dulu. Di Sumba sudah banyak pekerjaan lain yang menunggu. Jadi, semalam saya seperti dikejar deadline. Ya, ternyata tidak hanya wartawan yang dikejar-kejar deadline. 

Dalam kesendirian saya (karena yang lain sudah pada tidur), kadang-kadang saya 'mikir-mikir dewe', betapa setiap perempuan itu diciptakan untuk menjadi kuat. Ya, di balik kelemah lembutannya. Begitu bangun tidur dan menjelang tidur lagi, seorang ibu nyaris tidak pernah berhenti memikirkan rumah. 

Pagi hari, begitu bangun, yang ada di pikirannya adalah menyiapkan makanan, membersihkan rumah, memastikan kalau dia bekerja di luar rumah nanti, ada makanan untuk yang di rumah dan yang nanti pulang. Memastikan baju-baju yang akan dikenakan setiap anggota keluarga sudah siap, dan seterusnya. 

Malam hari, ketika setiap anggota keluarga sudah lelap, mungkin si ibu masih juga bekerja. Memastikan tidak ada satu sendok pun yang belum dibersihkan, memastikan besok paginya sudah ada bahan makanan yang akan diolah menjadi menu sarapan maupun untuk bekal anak dan suami ke sekolah dan ke tempat kerja. Baru dia mengerjakan pekerjaan kantornya. Setelah urusan rumah beres. Saat semua anggota keluarga sudah lelap.

Meski ada pembantu di rumah, ibu adalah manajer yang tetap harus bekerja. Pembantu itu bukan siapa-siapa tanpa kita yang mengarahkan harus seperti apa dia. 

Setiap kali saya akan tugas keluar kota, saya memenuhi kulkas dengan logistik. Memasang daftar susunan menu di dapur. Mengingatkan pembantu untuk melakukan apa saja agar rumah tetap bersih, makanan aman, dan baju-baju selalu siap. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya membayangkan Tiwik yang sedang studi di Aussie dengan dua anaknya. Mbak Sirikit dengan seabreg kegiatannya. Teman-teman perempuan saya yang lain yang sering menjadi partner bekerja di luar kota. Mereka selalu mengawali pagi dengan menyapa suami dan anak-anaknya. Menjelang tidur, setelah seharian lelah beraktivitas, kembali menyapa keluarga dan memastikan mereka semua baik-baik saja meski ibu tidak sedang di rumah. 

Saya pikir, betapa setiap perempuan diciptakan untuk menjadi sosok dengan double gardan. Roda depan dan belakang harus jalan semua. Urusan karir dan tugas-tugas domestik musti beres semua. Betapa setiap perempuan menjadi sosok yang begitu penting dengan berbagai perannya tersebut.

Berbahagialah kalian, wahai para perempuan.....  

Cukup dulu. OTW Juanda, ngejar waktu. Bagasi banyak, jadi tidak boleh telat check in.....

Surabaya, 7 Juni 2013

Wassalam,
LN

1 komentar

Halina Said 29 Oktober 2013 09.21

:)

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...