Pages

Rabu, 22 Januari 2014

Bye Bye Bandung dan UN

Pukul 05.30. Saya sudah di lobi hotel. Menyerahkan kunci kamar, meminta resepsionis untuk memesankan taksi atau mobil hotel. Udara dingin menusuk tapi cuaca nampaknya cukup cerah. Tidak ada gerimis, tidak ada genangan atau kilau air di halaman hotel.

Dengan mobil hotel, saya diantar menuju Bandara Husein Sastranegara. Menyibak pagi yang masih penuh dengan gemerlap lampu-lampu kota. Mencuri waktu sebelum jalanan dipenuhi oleh kemacetan. Meski pesawat Air Asia yang akan membawa saya ke Surabaya dijadwalkan terbang pada 08.15, saya memilih lebih baik secepatnya saja berada  di bandara. Di Bandung ini, meski tidak separah Jakarta, jalan dari Hotel Horison menuju bandara rawan kemacetan. Saya sudah pernah nyaris ketinggalan pesawat di Bandung, dan saya tidak ingin mengulanginya lagi.

Tiba di bandara sebelum pukul 06.00. Luar biasa. Hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit. Ya, karena jalan masih sangat lengang, Padahal, kalau pada jam-jam padat, perjalanan bisa ditempuh hampir satu jam, bahkan lebih.  

Saya memasuki konter Air Asia. Mencetak tiket. Tiket ini akan diperlukan untuk SPJ, jadi memang harus saya cetak. 

Selesai, saya masuk ke ruang check in. Tidak seperti kalau kita naik Garuda atau pesawat lain, naik Air Asia musti check in dulu secara swalayan di  mesin check in yang mirip ATM itu. Bayar boarding pass, dan masuk ke ruang tunggu. Duduk manis sambil memainkan keypad BB.

Tiba-tiba sebuah SMS masuk ke ponsel saya.
"assalamualaikum wr. wb. mohon maaf, kalau kondisi sekolahan dsini, UNASnya tidak dibantu kerja oleh guru, kemungkinan besar tidak lulus semua. tapi hati kecil saya berkata, berarti mengajari ketidakjujuran kepada siswa. lalu apakah saya harus membantu anak2 d daerah 3T ini, atau membiarkan mereka tidak lulus? terima kasih sebelumnya"

Saya tersenyum kecut. Pertanyaan semacam ini, sudah belasan bahkan puluhan kali saya terima dari para peserta SM-3T. Mereka galau kalau sudah berhadapan dengan UN. Terjebak di antara idealisme dan keadaan yang tidak berpihak. Tapi bagi anak-anak muda yang berprinsip, idealisme adalah idealisme. Segencar apa pun gempuran yang menyerang idealisme mereka, mereka tetap setegar batu karang. Bahakan semakin tak tergoyahkan. 

Hal ini sudah terbukti beberapa kali. Mereka bersikeras tidak mau melakukan kecurangan saat UN. Meski harus dimusuhi guru-guru dan kepala sekolah, mereka tetap teguh menarik diri dari lingkaran konspirasi mensukseskan UN. 

"Bertanyalah pada hati nurani....
Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab.
Sekali lagi, bertanyalah pada hati nurani, dan kamu akan menemukan jawabannya.
Btw, ini siapakah?" Saya membalas SMS itu.

"Ini Tia, ibu..."

"Baik, Tia. Semoga kamu bisa memilih yang terbaik ya. Sekali lagi, ikuti hati nuranimu ya. Oke? Jaga diri baik-baik, Tia..."

Sejujurnya, saya agak lupa ini Tia yang mana. Keberadaan ratusan peserta SM-3T membuat saya lebih sering hafal wajah dan kurang hafal nama. Tia bertugas di mana, saya juga tidak tahu. Yang jelas bukan di Papua, karena hampir semua peserta yang bertugas di Papua saya hafal namanya, dan mereka semua adalah laki-laki. Tia, sepertinya nama perempuan. Mungkin dia bertugas di Sumba Timur, Aceh Singkil, Maluku Barat Daya, atau di Talaud. 

Saya kembali pada keypad BB saya. Air Asia sudah tiba dan mungkin tak berapa lama lagi penumpang akan disilakan masuk ke pesawat. Tidak seperti pengumuman untuk penumpang di pesawat yang lain, Air Asia mengumumkannya seperti ini: "para penumpang Indonesia, dimohon masuk ke ruang tunggu". Begitu masuk ke ruang tunggu, dua orang petugas yang cantik-cantik sudah menyambut: "Air Asia Surabaya....Air Asia Surabaya?" Lantas mereka mengecek boarding pass, memastikan setiap calon penumpang sudah stand by. Tertib banget. Kalau di pesawat lain umumnya check in ditutup 30 menit sebelum keberangkatan, Air Asia menentukan 45 menit sebelumnya.  

Tepat pukul 08.15, akhirnya terdengar informasi yang kami tunggu-tunggu itu. "Penumpang Indonesia, dimohon masuk pesawat". Maka kami para penumpang pun masuk ke pesawat dengan tertib. 

Dan terbanglah Air Asia meninggalkan Bandung, menembus mega-mega, mengarungi angkasa....

Surabaya, 22 Januari 2013

Wassalam,
LN

1 komentar

FAJAR AFI 2 Januari 2015 00.17

mbak, punya soal utn ppg b.inggris tahun lalu ga? thanks before :)

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...