Pages

Selasa, 21 Januari 2014

Surabi Banjur

Hari ini, saya mengawali pagi dengan bangun siang. Pukul 06.05 baru melek. Beginilah kalau lagi tdk ada tanggungan  salat dan masak. Bermalas-malasan.

Saya mengintip keluar dari jendela kamar di lantai lima Hotel Horison tempat saya menginap. Seperti kemarin, Bandung mendung dan basah. Udara dingin di luar menembus sampai di dalam kamar. Semalaman saya matikan AC, tapi selimut tebal tetap saya perlukan untuk menghangatkan tubuh saya. 

Mandi, berdandan, selesai.  Waktunya makan pagi.

Di ruang makan, teman-teman sedang sibuk dengan menu pilihannya masing-masing. Saya duduk semeja dengan bu Ernawulan, dosen PGSD UPI. Wanita cantik yang usianya dua tahun di atas saya itu sudah menyiapkan kursi untuk saya, semeja dengannya, berdua saja. 

Seperti biasa, saya muter-muter sebelum menentukan pilihan. Yang jelas, saya akan memulai dengan buah atau salad, atau kedua-duanya, sebagai appetizer. Ya, buah, yang sebenarnya berkedudukan sebagai dessert dalam menu Indonesia maupun Kontinental itu, selalu saya santap di depan. Fungsinya untuk menyiapkan organ pencernaan, supaya kerjanya dimulai dari yang ringan-ringan dulu, tidak langsung kerja berat. Fungsi yang lain, untuk 'nglambari' perut dengan serat, supaya bisa menyaring penyerapan makanan-makanan yang berlemak. Dan, ini yang terpenting, untuk menkondisikan perut, supaya perut terasa kenyang duluan sebelum mengkonsumsi main course yang penuh dengan kalori itu. Ya, mengelabui perut. Untuk orang-orang seusia saya, mengurangi asupan kalori sangatlah disarankan demi kesehatan dan menjaga tubuh supaya tidak terus melar. 

Salad dan buah sudah saya habiskan. Sepiring penuh. Waktunya berkeliling lagi. Dari satu meja ke meja lain. Roti, bubur ayam, soto Aceh, omelet, sederet menu Kontinental, dan....ini dia. Satu sudut khusus yang isinya menu khas Bandung. Nasi tutug oncom yang warnanya lebih hitam dari yang kemarin, dengan oncom bakarnya yang sebagian lumatannya masih kasar. Ada juga nasi liwet dengan lombok gendut, hm...aromanya membangkitkan selera. Juga aneka gorengan: cireng, tahu gimbal, dan ote-ote (di Bandung disebut bala-bala). Sambal, lalapan tomat dan mentimun.

Untuk memuaskan rasa penasaran saya, saya mengambil semuanya. Sesendok nasi tutug oncom, sesendok nasi liwet, sebutir cireng, sebutir bala-bala, dan sebutir tahu. Benar-benar hanya memuaskan rasa penasaran, karena sebenarnya perut saya sudah terasa penuh. Tapi semua makanan itu saya habiskan juga, sebagai  wujud tanggung jawab..hehe. Dalam acara makan dengan sistem buffet, apa pun makanan yang sudah diambil, etikanya harus dihabiskan. Kalau tidak dihabiskan, ya....kurang etislah. Begitu salah satu pelajaran table manner yang masih saya ingat. 

Masuk ruang kerja. Melanjutkan pekerjaan menyusun petunjuk teknis dan draf permendikbud. Melanjutkan diskusi semalam. Oya, semalam, kami berdebat lama sejak pukul 19.00-an sampai hampir pukul 23.00. Baru tahap brainstorming untuk merumuskan arah petunjuk teknis pemberian insentif bagi guru SM-3T, supaya sinergi antara program P2TK dan program Dikti. Menyangkut tujuan program, sasaran, mekanisme penyaluran insentif, sampai kepada monitoring dan evaluasinya. Juga payung hukum yang diperlukan untuk mengawal program tersebut. 

Diskusi pagi ini berlangsung gayeng. Kami berbagi tugas. Semua dengan kelompoknya masing-masing. Saya sendiri dengan dua orang teman kebagian menyusun draf mekanisme penyaluran isentif.

Waktunya break. Ada banyak kue yang menunggu. Pastry mini, pastel, keripik talas, dan.......surabi banjur. Ya, surabi bulat dengan warna hijaunya yang menarik hati. Dilengkapi dengan saus santan gula merah yang manis. Dibilang serabi banjur karena santannya dituangkan ke atas serabinya. Banjur adalah Bahasa Sunda, artinya tuang.

Saya mengambil sebutir surabi, meletakkannya di piring kecil. Mengambil sesendok kuah coklat susu itu, menuangkannya di atas surabi. Cairan itu membasahi gundukan serabi dan sekitarnya. Cantik. Saya potret dulu sajian menarik itu. Buat dokumentasi pribadi. Siapa tahu suatu saat saya memerlukannya untuk menulis buku serba-serbi serabi. Hehe.

Saya mengambil sendok. Memotong surabi, memasukkannya ke mulut. Menikmati legitnya sebelum mengunyahnya pelan-pelan, sambil menghayati keempukannya. Benar-benar enak. Satu surabi, habis tandas. Cukup. Tidak perlu menambah lagi. Kalau dipaksakan...enaknya hilang sudah. Berganti eneg.

Lho, kok bisa? Ya. Surabi itu terlalu manis untuk saya. Mungkin karena saya tidak terlalu suka makanan yang rasanya manis, ya, mengingat saya sendiri sudah cukup manis, eit...hehe. 

Tapi benar. Surabi banjur tak bisa mengalahnya lezatnya serabi Tuban. Mulai dari tekstur, keempukan, penampilan dan rasanya. Inilah bukti, bahwa preferensi seseorang terhadap pangan itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun teman sepermainan. Sejak kecil, saya mengenal serabi ya yang seperti serabi Tuban itu. Warna bagian atasnya putih, bagian bawahnya coklat kehitaman, nyempluk-nyempluk, dimakan dengan santan atau kelapa. Rasanya gurih. Karena rasanya yang gurih, ada citarasa gosong yang menambah selera, maka saya bisa menghabiskan dua potong sekali makan, bahkan lebih.

Dibanding dengan serabi Tuban, surabi banjur, serabi Solo, serabi Aceh, serabi Makasar, serabi Jakarta, serabi Amerika, serabi Belanda, serabi Arab, serabi mana pun...., serabi Tuban tak terkalahkan. Tak ada duanya. Suwerrr....hehe.

Ajaib. Setelah beberapa hari berdiskusi tentang oncom dan serabi di milis keluarga Unesa, saling gojlok, saling sindir, penuh canda, saya menemukan dua makanan itu di Bandung. Oncom dalam bentuk nasi tutug oncom dan serabi dalam bentuk surabi banjur. 

Semoga saya juga segera  menemukan serabi oncom. Ya Allah, kabulkanlah doa saya....
Amin Ya Rabbal Alamin.


Hotel Horison, Bandung, 21 Januari 2014

Wassalam,
LN 

1 komentar

Greenpack 22 Juni 2015 02.38

Ayo bantu Greenpack untuk mengurangi penggunaan styrofoam dan limbah plastik lainnya. Mulai sekarang katakan tidak untuk styrofoam. Kli di sini http://www.greenpack.co.id/

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...