Pages

Selasa, 08 April 2014

Menjelang Coblosan

Masuk kelas pagi ini, saya menyapa mahasiswa dengan salam dan pertanyaan-pertanyaan "apa kabar? Sudah sarapan belum? Sehat semua kan?" Dan sapaan-sapaan lain, sekadar untuk menghangatkan suasana, sebelum masuk ke materi kuliah.

"Minggu yang lalu kita sudah membahas tentang perencanaan dan penyelenggaraan pangan kemasan, dan pagi ini, kita akan lanjutkan membahas pangan jajanan. Betul?"
"Betul, bu...." Sebagian besar menjawab serempak.
Kemudian saya memberi gambaran singkat tentang perencanaan dan penyelenggaraan pangan jajanan, sambil melakukan tanya jawab, sekedar untuk mengkaitkan pengetahuan awal mahasiswa dengan topik yang akan didiskusikan.

"Baik, siapa yang akan tampil hari ini?"
Tiga orang mengangkat tangan. Mereka satu kelompok. Pagi ini mereka akan mempresentasikan makalah kelompok mereka. 

"Siapa lagi?"
Tiga orang angkat tangan lagi. Mereka juga satu kelompok. Sebagai kelompok penyaji kedua, dengan topik yang sama. Ya, setiap topik memang disajikan oleh dua kelompok, supaya pembahasan topik lebih lengkap, dan supaya ada semangat di antara kedua kelompok penyaji itu untuk membuat makalah presentasi dan menampilkannya sebaik mungkin. 

"Baik, silakan, kelompok pertama dulu."

Sementara kelompok pertama bersiap untuk presentasi, saya berkeliling kelas. 

"Ngomong-ngomong, besok coblosan ya. Semua nyoblos?"
"Tidaaakkkkk....!!!"
"Hah?" Saya kaget. Tidak menyangka jawaban mereka sekompak itu. Mereka malah tertawa melihat kekagetan saya.

"Tidak bagaimana?"
"Tidak nyoblos, bu."
"Kenapa?"
"Malas pulang, bu".
"Banyak tugas, bu". 
"Mending di kost saja, bu, ngerjakan tugas".
"Pulang juga belum tentu dapat tambahan sangu, bu".
"Mau jalan-jalan saja, bu".
"Golput, bu".

Jawaban itu bersahut-sahutan. Kelas jadi riuh-rendah. Saya penasaran.

"Saya ingin tahu, siapa yang besok berniat nyoblos? Angkat tangan. Saya ingin tahu."

Beberapa dari mereka mengangkat tangan. Tidak lebih dari sepuluh orang. Padahal sekelas sekitar 50 orang. Hanya sekitar seperlimanya saja yang berniat akan menyoblos.

Saya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka justeru tertawa melihat saya geleng-geleng kepala penuh keheranan. Saya benar-benar tidak mengira respon mereka seperti itu. Mereka masih berusia 19 tahun, dan ini adalah pengalaman pertama mereka untuk menyoblos para caleg. Pengalaman pertama. Dan mereka tidak peduli, tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Tidak ada rasa ingin tahu seperti apa menyoblos itu dan bagaimana suasana penyoblosan itu.

"Kalian bukan warga negara yang baik". Kata saya, dengan mimik serius. Sekali lagi, mereka justeru tertawa.

"Kok malah tertawa, gimana sih? Generasi muda macam apa kalian?"

Tawa mereka justeru lebih keras. 
"Heh, ketawa lagi." Saya pura-pura marah. "Sudah, besok harus nyoblos semua. Harus."
"Disangoni ya, bu?"
"Nggak mau, bu."
"Sudah pernah, bu."
"Lhoh, kok sudah pernah?" Saya penasaran lagi.
"Pilkada tahun lalu, bu...."
"Kalau sudah pernah, kan sudah cukup, bu..."
Saya melenggang ke depan kelas. "Wis mbuh rek, sekarepmu...."
"Hahaha...." Kelas kembali riuah rendah, dan baru tenang saat diskusi kewirausahaan dimulai.

Selesai mengajar, saya ke kantor jurusan, menengok ruang saya, mengambil seabgrek berkas konsultasi mahasiswa. Juga mengambil setumpuk undangan rapat. Seminggu di luar kota, membuat meja saya penuh sesak.

Lantas saya pamit ke Ketua Jurusan, menuju PPG. Sebelum ke PPG, mampir ke sekretariat IKA Unesa, janjian sama mbak Fafi, mengambil buku dari mas Satria Darma. Buku untuk saya dan mas Rukin, saya ambil dua-duanya. Mbak Fafi wajahnya mengkilat, berlapis pelembab, beberapa hari beraktivitas di pantai Lombok membuat wajah bersihnya musti dinormalkan lagi.

Keluar dari sekretariat, sudah dihadang dua anak Himapala. Biasa, minta tanda tangan surat-surat untuk kegiatan. Kali ini untuk kegiatan hari bumi. Sambil duduk di mobil, saya tanda tangani setumpuk surat itu. 
"Dik, besok nyoblos?"
"Emmm......"
"Nyoblos kan?"
"Emmmm.....insyaallah, mbak."
"Kok ragu-ragu gitu?"
"Ya....insyaallah, mbak."
"Kamu dik?" Saya tanya yang satunya.
"Hehe..."
"Kok hehe?"
"Sama mbak"
"Sama apanya?"
"Sama-sama insyaallah, mbak."
"Sama ragu-ragunya juga?"
"Hehe"
"Yang lain gimana?"
"Banyak yang males pulang, mbak."
"Pulanglah....nyobloslah...."
"Hehe..."
"Haha hehe ae dik kok iku..."
"Hehe..."

Saya meluncur ke PPG. Bersama Anang, yang tenang pegang kemudi. Nanti sore, saya balik ke Ketintang, ngajar di S3 TP sampai maghrib. Pasti capek. Tidak apa-apa. Besok kan libur, bisa istirahat.

Horeee.....besok liburrrr....

BTW, mas Satria, terima kasih bukunya. Akan saya baca besok, mumpung libur. 

Mas Rukin, bukumu di PPG. Bisa diambil kalau naskah buku SM-3T angkatan kedua sudah selesai diedit dan siap saya baca. Kalau belum, jangan harap....


Surabaya, 8 April 2014. 10.00.


Wassalam,
LN
(OTW PPG)  

1 komentar

Kunil Kudit 8 April 2014 15.53

hihihhi ... ibu :D
banyak koq yg nyoblos ... cuma gak angkat tangan aja kemaren ....
kalo saya sih emang gak nyoblos, selain jauh..
saya juga gak bisa nyoblos disini soalnya KTPnya hilang .. :D
oia, saya boleh cerita sedikit ya bu,
tentang anak muda yg golput ..
kemaren saya baca satu status dari sebuah halaman tentang pemilu.. disitu banyak sekali yg komentar ..
mereka lebih memilih golput, karena mereka sendiri sudah kecewa sama pemerintahan, dan karena memang tidak ada yg sudah bisa dipercaya untuk mewakili suara mereka.. kebanyakan seperti itulah tanggapan mereka..
Bahkan ada yg bilang "ketika kita milih caleg, sama aja dengan melahirkan koruptor baru" ,, "partai yg berlandaskan **lam aja udh korupsi,trus siapa lg yg harus dipercaya?"
wahh macem-macem bu komentarnya ..
dari 2rb'an komentar, hanya beberapa saja yg menentang golput, yg lainnya menyuarakan golput ..
sekarang, bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan masyarakat yg seperti itu pada calon-calon pemimpin negeri ini bu ??

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...