Pages

Selasa, 29 April 2014

Mi Lethek

Di sebuah desa, namanya Tajem, Meguwo, Yogyakarta, ada sebuah tempat makan yang namanya Warung Mendes. Mendes, ternyata singkatan dari 'mental ndeso'. Nama ini sengaja digunakan untuk memberi kesan tradisional atau mungkin agak primitif pada warung di pinggir jalan besar ini.

Menempati sebuah joglo besar, warung itu di bagian depan dan sepanjang sisi dindingnya dipenuhi dengan banner. Banner di depan menampilkan nama warung dan tulisan-tulisan: tanpa bahan pengawet, tanpa bahan pemutih, tanpa vetsin. Di dinding sisi kiri menampilkan gambar-gambar proses pembuatan mi. Dinding di sebelah kanan menayangkan menu. Di tengah-tengah joglo terpasanglah kursi-kursi dan meja-meja makan kayu. Cocok sekali dengan dekorasi keseluruhan tempat makan tradisional itu.

Menu yang dijual sebenarnya tidak istimewa. Menu kebanyakan, seperti mi goreng, mi rebus, nasi goreng, oseng kangkung. Yang istimewa adalah nama mi-nya, mi lethek. 
  
Ini jenis mi yang dibuat dari ubi. Dalam bentuk kering, dia persis mi kering, hanya warnanya saja yang putih kusam, makanya dibilang lethek. Dalam Bahasa Jawa, lethek artinya kusam, kotor, tidak cerah. Memang cocok sekali dengan warna mi-nya, benar-benar kusam.

Begitu mencoba makanan mi goreng dan mi rebus, wow, ternyata rasanya lezat, tidak kalah lezatnya dengan mi goreng dan mi rebus yang bahan pokoknya dari mi gandum. Kekenyalannya juga sangat pas. Meski warnanya lethek dan lebih menyerupai bihun, begitu dipadukan dengan berbagai sayuran dan telur, penampilan hidangan itu berubah menjadi sangat mengundang selera. Rasanya juga lezat.

Yang lebih istimewa lagi, adalah pilihan minuman yang ditawarkan, antara lain teh poci, wedang secang, dan wedang uwuh. Uwuh, dalam Bahasa Jawa artinya sampah. Nama ini menggambarkan bahan daun-daunan dan juga secang yang digunakan dalam minuman ini. Baik wedang uwuh, wedang secang, maupun tek poci, semua disajikan dengan cara sama. Satu cangkin stainless steel untuk 'com-comannya', satu lagi gelas untuk menuang wedang dari 'com-coman' itu. Gelasnya bening, sehingga akan menampakkan warna asli minumannya, coklat tua untuk teh poci, dan merah segar untuk wedang secang dan wedang uwuh. Sebagai pemanisnya, setoples gula batu disediakan, dan orang tinggal mengambilnya sesuai selera. 

Dunia kuliner seperti tak ada hentinya berinovasi. Di saat sebagian besar orang sudah mulai 'mblenger' dengan berbagai hidangan dan tenpat makan yang berkesan modern, prestisius, mahal  dan berkelas, Warung Mendes mencoba menawarkan pilihan tempat makan dengan menu yang lebih dekat dengan alam serta segala sesuatu yang beraroma tradisional. Menikmati sepiring mi lethek goreng atau rebus dengan segelas wedang secang atau wedang uwuh, di sebuah joglo besar, dilengkapi semilir angin, ternyata cukup memberikan pengalaman yang nikmat dan penuh kesan.

Tanggulangin, 29 April 2014

Wassalam,
LN

2 komentar

Hanung Sudibyono 10 Mei 2014 00.09

Waow Mantab ulasannya. Boleh memberi koreksi sedikit mbak, rumah warung Mendes bukan joglo tapi limasan dari kayu jati lawas. Mendes bukan kami singkat dengan Mental nDeso, ataupun Menthel nDeso tetapi yang benar adalah "Memang nDeso". Sebenarnya Mendes adalah panggilan mesra kepada eyang kami karena semasa hidupnya era tahun 1950 an priyayinya agak ramah, genit tapi galak. Maaf koreksi ini tanpa mengurangi respek kami kepada anda dan tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungannya serta kesediaannya menulis perihal warung kami. Salam Mendes.....

Anonim

Ow, terimakasih koreksinya. Sangat mencerahkan.
Selamat dan sukses terus untuk Warung Mendes ya....

Luthfiyah Nurlaela

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...