Pages

Kamis, 11 April 2013

Kajian Preferensi (Kesukaan) Pangan Anak Usia Prasekolah Dan Sekolah Dasar Di Kabupaten Sidoarja


Sri Handajani, Luthfiyah Nurlaela, Siti Sulandjari, Maspiyah
luthfiyahn@yahoo.com

Abstrak: Masalah umum dalan penelitian ini adalah bagaimana kondisi preferensi (kesukaan) pangan anak usia prasekolah dan sekolah dasar  di Kabupaten Sidoarjo (meliputi kecamatan Waru, Taman, Porong dan Candi)? Rumusan masalah sebagai berikut: (1) Apa sajakah jenis makanan yang dijual di kantin sekolah dan di sekitar area sekolah? (2) Apa sajakah jenis makanan yang disukai oleh anak – anak? (3) Berapa nilai gizi makanan – makanan yang disukai oleh anak – anak? dan (4) Berapa persentase (%) sumbangan nilai gizi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak? Teknik pengumpulan data dengan food record, angket dan wawancara. Teknik analisis data dengan deskriptif persentase.  Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Jenis makanan yang dijual di sekitar sekolah dibedakan menjadi 4, yaitu makanan utama (yang mengenyangkan), makanan ringan/snack, minuman, dan buah. Makanan utama, meliputi nasi soto, bakso, nasi ayam goreng (Kentucky), lontong mie,dll; makanan ringan, meliputi  aneka gorengan (tahu, tempe goreng tepung, pisang goreng), snack kering (bungkus, makanan produksi pabrik), mini burger, dll; Jenis minuman yang dijual di sekitar sekolah adalah aneka minuman  instan, es teh, es tebu, es sari kedelai, es oyen, es cao, dll. , sedangkan jenis buah yang dijual adalah buah potong, rujak manis, dan manisan; (2) Konsumsi makan di rumah maupun di sekolah yang disukai anak-anak antara lain: mie instant, snack atau makanan  ringan, bubur instant, minuman  instan, gado-gado, mie ayam, siomay, bakso, burger, batagor, cilok/pentol aci, tempura, sosis; dan minuman yang disukai adalah minuman instan, es sirup, es cao, dan lain sebagainya; (3) Makanan yang disukai anak-anak pada umumnya mengandung mengnadung energi dan protein yang cukup baik untuk kebutuhan tumbuh-kembang anak-anak; dan (4)  Zat gizi dari makanan yang disukai anak menyumbangkan energi sebesar  21,81% dan  protein sebesar 33,11%.

Keyword: Preferensi, makanan jajanan, anak sekolah, zat gizi

Pendahuluan
Pada umumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah bagi anak sekolah adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut.
Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. Sebuah penelitian di Jakarta baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 – Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Sekitar 5% anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah.
Makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%, karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Namun demikian, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% – 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi di daerah Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok.
Berdasarkan uji lab, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax, tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Selain cemaran mikrobiologis, cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B (pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia.
Belakangan juga terungkap bahwa reaksi simpang makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, hiperaktif dan memperberat gejala pada penderita autism.
Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing, mual, muntah, diare atau bahkan kesulitan buang air besar. Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998.
Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi preferensi (kesukaan) makan anak usia prasekolah dan sekolah dasar yang ada di Kabupaten Sidoarjo (meliputi kecamatan Waru, Taman, Porong dan Candi). Permasalahan yang ada adalah: Bagaimana kondisi preferensi (kesukaan) pangan anak usia prasekolah dan sekolah dasar  di Kabupaten Sidoarjo (meliputi kecamatan Waru, Taman, Porong dan Candi)? Rumusan masalah ini dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) Apa sajakah jenis makanan yang dijual di kantin sekolah dan di sekitar area sekolah? (2) Apa sajakah jenis makanan yang disukai oleh anak – anak? (3) Berapa nilai gizi makanan – makanan yang disukai oleh anak – anak? dan (4) Berapa persentase (%) sumbangan nilai gizi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak?

Kajian Teori
A. Preferensi Pangan
            Pola konsumsi pangan menurut Randall (1982, dalam Sanjur, 1982) merupakan suatu kegiatan atau perilaku makan. Perilaku adalah segala tingkah laku, baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk perbuatan lebih nyata yang ditampilkan oleh seseorang dan dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung melalui panca indera.             Pola konsumsi pangan sangat erat hubungannya dengan preferensi makanan. Preferensi pangan adalah tingkat atau derajad kesukaan atau ketidaksukaan terhadap suatu makanan.
            Pada dasarnya seseorang melakukan tindakan makan dilandasi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) biogenik, (2) psikogenik, dan (3) sosiogenik. Konsep biogenik mengandung pengertian bahwa makanan yang dikonsumsi memenuhi kebutuhan biologik konsumen. Konsep psikogenik mengandung pengertian bahwa makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kepuasan kejiwaan, sedangkan konsep sosiogenik mengandung makna bahwa makanan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan sosial konsumen.
            Selanjutnya faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan menurut Randall dan Sanjur (1982) adalah: (1) Karakteristik individu, (2) karakteristik makanan, dan (3) karakteristik lingkungan. Karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin, pendapatan, pengetahuan gizi, keterampilan memasak, dan kesehatan. Hal-hal yang mempengaruhi karakteristik tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan makan di lingkungan keluarga sejak bayi dan masa anak-anak. Keluarga akan menyediakan jenis-jenis makanan yang mudah didapat di sekitarnya, dan  harga disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga. Di daerah pedesaan dengan mata pencaharian pertanian, umumnya jenis sayuran, umbi-umbian, beras, dan jagung merupakan komoditi yang dominan dikonsumsi. Di daerah pinggiran pantai dan sungai, ikan merupakan makanan pilihan sebagai konsumsi sehari-hari. Karakteristik makanan yang mempengaruhi preferensi makanan adalah rasa, rupa, tekstur, harga, tipe makanan, bentuk, bumbu dan kombinasi masakan. Pada masa sekarang teknologi pangan menyediakan makanan dalam bentuk warna, tekstur, dan rasa yang menarik. Selain makanan mudah disimpan, mudah dihidangkan dalam kehidupan sehari-hari. Kombinasi rupa, warna dan konsistensi makanan akan mempengaruhi nafsu makan seseorang.
            Suhardjo (1988) mengemukakan pentingnya kombinasi makanan. Makanan yang disajikan dalam susunan menu yang sama tetapi penyajiannya berbeda akan dapat merubah penilaian preferensi seseorang untuk suatu jenis makanan tertentu. Cara mempersiapkan dan memasak makanan yang berbeda-beda termasuk nilai gizinya akan mempengaruhi konsumsi makanan, karena metode ini secara langsung mempengaruhi sikap menerima atau menolak makanan tertentu.
            Karakteristik lingkungan mempunyai pengaruh penting dalam menentukan preferensi makanan. Karakteristik lingkungan yang berpengaruh terhadap preferensi antara lain musim, geografi, mobilitas, urbanisasi, dan daerah asal.         Faktor teknologi merupakan suatu hal yang perlu dipelajari dalam mempelajari preferensi makanan. Kemudahan dalam memperoleh makanan yang diawetkan mengurangi pengaruh musim terhadap jenis makanan yang tersedia dan mempercepat keterbiasaan terhadap makanan-makanan yang dahulu dianggap langka.
            Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa pola konsumsi makanan dipengaruhi oleh banyak hal, yang utama adalah karakteristik individu, karakteristik makanan, dan karakteristik lingkungan. Ketiga faktor ini akan dilihat secara lebih mendalam dalam riset ini, sehingga dapat dilihat pengaruhnya terhadap pembentukan pola konsumsi pangan keluarga-keluarga di Jawa Timur. Pola yang ada akan digunakan sebagai acuan untuk merumuskan model sosialisasi nilai budaya pola konsumsi pangan yang bersumber bahan pangan lokal, tentu saja dengan mempertimbangkan potensi pangan lokal yang telah ada.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang akan menguraikan kondisi preferensi atau kesukaan pangan anak usia prasekolah dan sekolah dasar di Kabupaten Sidoarjo, khususnya di empat kecamatan yaitu Waru, Taman, .Porong dan Candi. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Oktober sampai Nopember 2009. Tempat penelitian ini dilakukan di SD dan TK di empat kecamatan di wilayah Kabupaten Sidoarjo, yaitu Porong, Candi, Waru dan Taman. Sasaran penelitian ini adalah sebanyak 60 siswa SD (10 sekolah) dan TK (10 sekolah) di kematan Waru, Taman, Porong dan Candi.  Setiap kecamatan diambil 30 anak TK dan 30 anak SD.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode Food record, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk memaparkan, mendeskripsikan atau menggambarkan data hasil observasi tentang preferensi makanan anak di empat  Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, yaitu Kecamatan Waru, Candi, Porong dan Taman. Untuk menentukan kandungan gizi pada makanan  jajanan maka digunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).

Hasil dan Pembahasan
1. Jenis Makanan Jajanan
Berdasarkan hasil pengamatan,  jenis makanan yang dijual di sekitar sekolah seperti  terlihat pada tabel 1.
Tabel 1:  Jenis Makanan Jajanan yang Dijual di Sekitar Sekolah
Makanan Jajanan yang Mengenyangkan
Makanan Ringan/Camilan
Minuman
Buah
1.   Nasi soto
2.   Bakso
3.   Nasi Kentucky
4.   Lontong mie
5.   Lontong lodeh
6.   Nasi campur (bungkus)
7.   Nasi goreng
8.   Nasi kuning lengkap
9.    Nasi campur
10.Mie instan
1. Aneka gorengan (tahu, tempe goreng tepung, pisang goreng)
2. Snack kering (bungkus, makanan produksi pabrik)
3. Mini burger
4. Agar-agar
5. Mini sandwich
6. Sate usus
7. Sate telor puyuh
8. Pentol dan Cilok
9. Sosis goreng
10. Tempura
11. Pisang molen
12. Telur goreng
13. Roti bakar
14. Crepes
15. Tahu crispy
16. Arum manis
17. Kue basah (donat, pastel, risoles, dll)
18. Sawut
19. Mie kering
20. Roti manis
21. Manisan mangga
22. Ketan bumbu
1. Aneka minuman instan
2. Es Teh
3. Es Tebu
4. Es sari kedelai
5. Es oyen
6. Es Cao
7. Susu sapi
8. Es buah
9. Es syrup
10. Es tape ketan hitam
11. Es puter
12. Es garbis
13. Es lilin
14. Es sinom
15. Kopi

1.      Buah potong
2.      Rujak manis
3.      Manisan

2.  Jenis Makanan yang Disukai Anak
            Jenis makanan yang disukai anak-anak di rumah adalah sebagai berikut:
Gambar 1:  Makanan Sehari-hari di Rumah yang Disukai Anak

Sedangkan jenis makanan yang sering dikonsumsi anak-anak adalah sebagai berikut:

Gambar 2:  Jenis Makanan Instan yang Sering Dikonsumsi Anak

Selanjutnya tempat anak-anak membeli makanan jajanan di rumah adalah sebagai berikut:
Gambar 3:  Tempat Anak Membeli Makanan Jajanan di Rumah 
  
Tempat anak-anak membeli makanan jajanan di sekolah adalah sebagai berikut:
Gambar 4:  Tempat Membeli Makanan Jajanan di Sekolah
                       
                                       
3. Nilai Gizi  Makanan yang Disukai Anak
Makanan jajanan yang bersifat mengenyangkan dan disukai anak-anak ini adalah: gado-gado, ayam goreng tepung (Kentucky), mie ayam, siomay, bakso, burger, sedangkan makanan ringan/camilan yang banyak disukai anak adalah cilok/pentol aci, tempura, sosis, batagor mini, dan minuman seperti minuman instan, es sirup, es cao. Nilai gizi makanan-makan tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2:  Nilai Gizi Makanan Jajanan
Jenis Makanan
Porsi
Energi (Kalori)
Protein
(gr)

Ayam Goreng Tepung
100 gr (tanpa tulang)
289
32,1

Burger
Sedang
310
32

Gado-Gado
1 porsi sedang (150 gr)
203
6,7

Bakso
1 porsi sedang (250 gr)
100
10,3

Mie Ayam
1 porsi
360
5,9

Mie instan goreng
1 porsi (85 gr)
420
7

Siomay
1 porsi sedang (170 gr)
95
4,4

Cilok/pentol aci
10 biji kecil
122,75
1,05

Batagor
1 bks (10 bh)
158,35
3,45

Sosis
1 bh
75,34
2,42
Tempura
1 bh
43,28
2,15
Chiki (Makanan ringan)
1 bungkus (16 gr)
80
0,9
Biskuit
20 gr
70
0,16
Wafer
20 gr
53
2,7
Es Syrup
1 gelas
56
0
Es Cao
1 gelas
58
0,6
Es Degan
1 gelas
74
0,4
Es lilin
1 batang
38
0

4. Sumbangan Gizi Makanan yang Disukai Anak     
Pemenuhan gizi bagi anak SD dan PAUD diperoleh dari makanan yang dikonsumsi anak sehari-hari, baik dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari di rumah ataupun makanan jajanan yang dikonsumsi oleh anak di rumah dan sekolah. Berdasarkan makanan yang cenderung disukai oleh anak SD dan TK, maka diperoleh sumbangan energi dan protein seperti yang terlihat pada tabel3 dan 4 di bawah ini.

Tabel 3: Distribusi Frekwensi Persentase Sumbangan Energi dari Makanan yang Disukai Anak di Rumah dan Sekolah terhadap Konsumsi Energi Anak Sekolah
Golongan Umur (tahun)
Kecukupan Energi (k.kal/hr)
(a)
Rata-rata konsumsi  Energi makanan yang disukai (k.kal/hr) (b)
Rata-rata konsumsi Energi dalam total makanan (c)
Sumbangan Energi makanan yang disukai dalam total makanan sehari (%)
(b/c x 100%)
Tingkat Konsumsi Energi dari makanan yang disukai (%)
(b/a x 100%)
4-6 tahun
1.750
377,75
1156,75
32,66
21,59
7-9 tahun
1.900
415,69
1259,60
33,00
21,88
10-12 tahun (laki-laki)
2.000
487,75
1162,24
41,97
24,39
10-12 tahun (perempuan)
1.900
367,4
1218,90
30,14
19,37
Rata-rata
1.887,5
412,15
1199,37
34,44
21,81

Berdasarkan tabel di atas, energi yang diperoleh dari konsumsi makanan sehari-hari adalah untuk anak usia 4-6 tahun 1156,75 kkal; usia 7-9 tahun 1259,60 kkal; usia 10-12 tahun  laki-laki 1162,24 kkal; dan usia 10-12 tahun perempuan 1218,90 kkal. Makanan yang disukai oleh anak baik dari makanan jajanan atau makanan untuk melengkapi makan di rumah sehari-hari menyumbangkan kalori yang besarnya antara 30-42% dari total kebutuhan kalorinya. Berdasarkan kebutuhan kalori yang sebenarnya diperlukan oleh anak sekolah, maka makanan yang disukai tersebut menyumbangkan energi sebesar 21,81%.
Kebutuhan energi untuk anak usia sekolah SD dan TK masih jauh dari tercukupi, hal ini terjadi karena tingkat konsumsi makanan yang memenuhi energi masih kurang, ditinjau dari sisi jumlah, jenis dan kualitas kandungan gizinya. Melihat dari catatan konsumsi makan anak sehari-hari, anak cenderung makan makanan yang disukai saja.

Tabel 4:  Distribusi Frekwensi Persentase Sumbangan Protein dari Makanan  terhadap Konsumsi Protein Anak Sekolah
Golongan Umur (tahun)
Kecukupan Protein (g/hr)
(a)
Rata-rata konsumsi  Protein makanan  (g/hr)
(b)
Rata-rata konsumsi Protein dalam total makanan (c)
Sumbangan Protein  dalam total makanan sehari (%)
(b/c x 100%)
Tingkat Konsumsi Protein dari makanan  (%)
(b/a x100%)
4-6 tahun
32
9,85
30,22
32,59
30,78
7-9 tahun
37
11,65
31,27
37,26
31,49
10-12 tahun (laki-laki)
45
17,75
32,55
54,53
39,44
10-12 tahun (perempuan)
54
16,6
33,08
50,18
30,74
Rata-rata
42
13,96
31,78
43,64
33,11

Kesimpulan dan Saran
Hasil pengamatan di lapangan  mengenai preferensi (kesukaan) pangan anak SD dan TK di Kabupaten Sidoarjo dapat disimpulkan sebagai berikut: (1)  1. Jenis makanan yang dijual di sekitar sekolah dibedakan menjadi 4, yaitu makanan utama (yang mengenyangkan), makanan ringan/snack, minuman, dan buah. Makanan utama, meliputi nasi soto, bakso, nasi ayam goreng (Kentucky), lontong mie, dan lain-lain. Makanan ringan, meliputi   aneka gorengan (tahu, tempe goreng tepung, pisang goreng), snack kering (bungkus, makanan produksi pabrik), mini burger, agar-agar, dan lain-lain. Jenis minuman yang dijual di sekitar sekolah adalah aneka minuman  instan, es teh, es tebu, es sari kedelai, es oyen, es cao, dan lain-lain; (2) Makanan  dikonsumsi anak baik di lingkungan rumah  (makan rutin) dan makanan jajanan. Untuk konsumsi makan sehari-hari di rumah anak lebih sering mengkonsumsi masakan rumahan dan makanan instant,  seperti makanan dan minuman awetan atau kemasan yang diproduksi oleh pabrik (mie instant, snack atau makanan  ringan, bubur instant, minuman  instan, makanan awetan seperti bakso, sosis, nugget, dan lain sebagainya). Sedangkan makanan jajanan yang banyak disukai anak-anak di sekolah adalah   yang bersifat mengenyangkan  yaitu: gado-gado, mie ayam, siomay, bakso, burger;  sedangkan makanan ringan/camilan yang banyak disukai anak adalah batagor, cilok/pentol aci, tempura, sosis; dan minuman yang disukai adalah minuman instan, es sirup, es cao, dan lain sebagainya; (3)  Nilai gizi makanan  yang disukai oleh anak meliputi burger (energi 310 kkal dan protein 32 gr);  gado-gado (energi  203 kkal dan protein 6,7 gr); bakso (energi 100 kkal dan protein 10,3 gr); mie ayam (energi 360 kkal dan protein 5,9 gr); mie instan goreng (energi 420 kkal dan  protein 7 gr);  siomay (energi 95 kkal dan protein 4,4 gr); cilok (energi 122,75 kkal dan protein 1,05 gr); batagor (energi 158,35 kkal dan protein 3,45 g);, sosis (energi 75,34 kkal dan protein 2,42 gr); tempura (energi 43,28 kkal dan protein 2,15 gr); makanan ringan produk ekstruksi, misalnya chiki (energi 80 kkal, dan protein 0,9 gr); biscuit (energi 70 kkal dan protein 0,16 gr); wafer (energi 53 kkal dan protein 2,7 gr); es sirup (energi 56 kkal dan tidak memiliki kandungan protein); es cao (energi 58 kkal dan protein 0,6 gr); es degan (energi 74 kkal dan protein 0,4 gr); sedangkan es lilin memiliki energi 38 kkal dan tidak memiliki kandungan protein; dan (4) Zat gizi dari makanan yang disukai anak menyumbangkan energi sebesar  21,81% dan  protein sebesar 33,11%.
Saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut: (1) Perlu program peningkatan pengetahuan dan keterampilan penerapan sanitasi dan keamanan pangan bagi pengelola kantin dan para penjual makanan jajanan di sekitar sekolah. Program tersebut berupa pelatihan singkat meliputi teori dan praktek, dengan menerapkan pendidikan untuk orang dewasa (POD), di mana pembelajaran dilakukan di tempat mereka beraktifitas (2) Perlatihan yang juga perlu dilakukan adalah pelatihan pembuatan berbagai makanan jajajan dengan bahan lokal yang mudah diperoleh, teknik pengolahan yang sederhana, serta aman; kepada  ibu rumah tangga sebagai pengelola makanan di rumah, serta kepada pengelola kantin dan pedagang makanan jajanan sebagai penyedia makanan di luar rumah (sekolah dan sekitarnya) (4) Perlu dikenalkan pada anak tentang pentingnya makanan yang beragam, bergizi, berimbang, serta aman; pengenalan pengetahuan tersebut dilakukan oleh orang tua di rumah; dan oleh guru di sekolah. Sehingga perlu program sosialisasi makanan jajanan yang  beragam, bergizi, berimbang dan aman, meliputi jenis, cara pengolahan dan penyajiannya, baik untuk di rumah maupun di sekolah.  Sosialisasi bagi orang tua dapat melalui paket-paket sosialisasi (leaflet, booklet, dan semacamnya), dan (4) Berkaitan dengan nomer 3, sosialisasi makanan yang beragam, bergizi, berimbang, dan aman, melalui sekolah sebaiknya diintegrasikan dalam pembelajaran,  misalnya dalam bentuk pembelajaran tematik (untuk TK dan SD kelas 1, 2 dan 3), maupun dipadukan dalam matapelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan sebagainya (untuk SD kelas 4, 5 dan 6).

Daftar Pustaka
_________, 2008. Perilaku Makan Anak Sekolah. (www.muslipinang.com), diakses 7 Agustus 2009.
_________, 2009, Jajanan Apa Anak Anda Di rumah. (www.myopera.com), diakses 7 agustus 2009.
_________, 2009. Jajanan Anak Sekolah. (www.lampungspot.com), diakses 15 September 2009.
Arafah, 2006. Jajanan Anak Sekolah. (www.sehat.com), diakses 30 September 2009
Badan POM. 2003. Klasifikasi Bahan Pangan dan Resiko Keamanannya. Jakarta: Direktorat Surveilan dan  Keamanan Pangan.
Badan POM. 2004. Keamanan Pangan. Jakarta: Direktorat Surveilan dan  Penyuluhan Pangan.
BKKBN. 2005.  Hati-hati dengan Jajanan Anak Anda.  http//www.bkkbn.go.id. , diakses 17  September 2009)
Bunny Boy, 2008. Jajanan yang Enak Belum Tentu Sehat. (www.republika.com), diakses 6 Juli 2009
Eddy Setyo Mudjajanto. 2002.  Keamanan Makanan Jajanan Tradisional. http//www.kompas.co.id., diakses 17 September  2009
 Hidayat Muhhamad Alfian, 2009. Amankah Jajanan Anak Sekolah. (www.alfiandayat.blogspot.com), diakses 25 September 2009
I Dewa Nyoman Supariasa, Bachyar Bakri, dan Ibnu Fajar. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.
Judhiastuty Februhartanty. 2004.   Amankah makanan jajanan anak sekolah di Indonesia?. http//www.gizi.net.co.id  (accsested 15 juni 2005).
Mulyati. 2003.  Hubungan Konsumsi Pangan dan Makanan Jajanan terhadap Status Gizi Siswa Kelas II SLTP N 29 Purworejo tahun ajaran 2001/ 2002. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Satori Djam’an & Aan Komariah, (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif.  Bandung: Alfabeta
Trisno Haryanto. 1998. Kebiasaan Makan yang Baik. http://www.indomedia.com, diakses  17 Februari 2005.

2 komentar

Devin Dwiarta 28 Maret 2015 02.40

http://ita-thediffusionofexperience.blogspot.com/2012/01/ayam-bakar-kecap-favorit-keluarga.html

Devin Dwiarta 28 Maret 2015 02.42

Bagi yang bingung untuk memulai usaha ayam goreng silahkan klik Sukses Usaha Ayam Goreng Crispy salam sukses :)

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...