Pages

Jumat, 19 April 2013

MBD (7): Sirih Pinang dan Bukit Sinyal

Bersampan ria...
Siang ini, sekitar pukul 10.30 WIT, setelah menyelesaikan dialog dengan guru-guru dan kepala sekolah di SMP Negeri 2 Letwurung, kami melanjutkan perjalanan menuju SMP Negeri 6 Ahanari. Meskipun namanya SMP 6, tapi tidak berarti di Babar Timur ini ada banyak SMP. Dari sejarahnya, Pulau Babar dulu hanya terdiri dari satu kecamatan, tersebar dari Babar Barat dan Babar Timur. Meskipun sekarang sudah terpisah, sekolah-sekolah yang ada tetap dinamai sesuai dengan namanya dulu.

Perjalanan dari penginapan ke sekolah-sekolah kami tempuh dengan bersepeda motor, begitu juga perjalanan ke SMP Negeri 6 Ahanari. Sepeda motor kami pinjam dari guru, kasek, kepala UPTD, dan dari penduduk setempat. Maka jadilah kami berkonvoi masuk desa keluar desa, dari satu sekolah ke sekolah lain. Mas Heru denga Mudho, Noval dengan Risna, Ratri dengan Ika, Nanda dengan Puri, Daniel, Sampurno, Melkianus, Junaidi, Fani, semuanya berboncengan. Saya sendiri membonceng mas Rukin. Paket lengkap. Bawa wartawan untuk meliput 'sak ngojek-e'. Hehe...

Jarak tempuh menuju SMP 6 Ahanari sejauh sekitar 30 menit. Melintasi beberapa desa, sehingga konvoi kami menarik perhatian para penduduk untuk keluar rumah menyaksikan konvoi. Mungkin di perkampungan seperti ini jarang ada orang bersepeda motor sebanyak itu. Juga melintasi perkebunan kelapa yang menghampar persis di sisi pantai, mirip sekali dengan di Talaud. Bedanya dengan Talaud, jalan-jalan di kebun kelapa harus beberapa kali melintasi jembatan-jembatan yang melintang di atas sungai-sungai kecil.

Menjelang pintu gerbang desa Ahanari, kami semua turun. Ternyata ada upacara penyambutan khusus. Suasananya ramai sekali tapi penuh khidmat. Saya didampingi mas Heru dan mas Rukin disilakan jalan di depan, dan para peserta yang lain di belakang kami. Selembar kain tenun dikalungkan ke leher kami bertiga oleh ibu Kepala Sekolah. Kemudian seorang bapak, mungkin tetua desa, menyalami tangan saya, memegangnya terus, sambil mengalunkan sebuah 'lagu'. Di bawah terik matahari, suaranya mendayu-dayu merdu, disaksikan oleh para sesepuh desa yang lain, guru-guru, puluhan siswa dan masyarakat. Sederetan siswa laki dan perempuan berseragam putih dan biru, saling bergandeng tangan, membentuk barisan setengah lingkaran, ada di depan kami. Di sebelah sana, di halaman sekolah, puluhan siswa berseragam putih biru juga, berbaris rapi dan tenang. Semuanya seperti menghayati alunan senandung bapak tetua tersebut.

Oriae lurik  
Mliona lekiau 
Mole koralel 
Piyoliwul namreia ulin 
Morelino wawan 

Terjemahannya kurang lebih seperti ini:

Orang besar dan berpendidikan,
Datang dari rantauan
Sampai di Ahanari
Katong (kita) berdoa kepada Tuhan
Katong hidup bersenang-senang

Bait ini diulang-ulang sampai beberapa kali, sampai akhirnya berhenti, berganti dengan hentakan alat musik tifa yang dipukul-pukul oleh dua siswa. Empat siswa perempuan menari di sekitar tifa itu, mengenakan pakaian adat. Puluhan siswa yang bergandeng tangan bergerak rancak mengikuti irama. Mereka membawakan tarian adat 'seka', menari dengan gerakan-gerakan sederhana, ke kiri dan ke kanan sambil 'menyanyi' juga. 

Tidak tahan menikmati saja tarian mereka, saya bertanya kepada seorang ibu pembawa payung yang sejak tadi berdiri di belakang saya. 'Bolehkah kami ikut menari?' Tanya saya. 'Boleh, ibu, semua akan lebih senang.' Tanpa pikir panjang saya bergerak di barisan penari, menyambungkan lengan saya, diikuti mas Heru, juga beberapa peserta SM-3T. Mereka bertepuk tangan melihat kami ikut menari bersama. Siang itu, matahari begitu teriknya, keringat bercucuran di wajah dan tubuh kami, namun keramahan dan ketulusan orang-orang bersahaja ini menyejukkan hati kami semua.

Lantas tibalah acara itu. Makan sirih pinang. Sejauh ini saya belum berhasil memaksa diri saya untuk mencoba mencicipi suguhan yang melambangkan penghormatan itu. Di Sumba dan di Talaud saya masih bisa menolak halus, meski pak rektor saja mengunyahnya. Tapi untuk kali ini tidak bisa tidak, saya harus menerima uluran sirih pinang dari ibu Kepala Sekolah, begitu juga mas Heru dan mas Rukin. Saatnya sudah tiba di mana saya akhirnya harus menyerah: menikmati rasa sirih pinang yang sepat dan pahit itu, di hadapan khalayak ramai. Haha....

Selesai dengan sirih pinang, kami dipandu memasuki halaman sekolah, dengan puluhan murid yang berbaris rapi. Mereka menyanyikan sebuah lagu. Liriknya tentang penghormatan pada guru, rasa bangga dan terimakasih mereka pada kami dan Unesa. Ya, Unesa disebut dalam lagu itu. Usut punya usut, ternyata pencipta lagu itu adalah Andi, seorang guru SM-3T yang bertugas di sekolah tersebut. Sebuah lagu yang sangat manis dan menyentuh, dilagukan dengan sangat merdu.

Di mana pun tempatnya di Maluku ini, semua orang seperti bersuara merdu. Mereka memiliki bakat alam yang luar biasa dalam urusan tarik suara. Kehidupan gereja yang lekat dengan lagu-lagu sangat membentuk keahlian ini. Juga petuah-petuah nenek moyang yang disarikan dalam bentuk nyanyian-nyanyian. Andaikata pita suara itu bisa dikloning dan diperjualbelikan, mungkin pita suara orang Ambon akan menjadi oleh-oleh favorit. Hehe.... 

Berfoto bersama di SMP Satap Nakarhamto.
Di SMP 6 Ahanari yang memiliki 99 siswa yang terbagi dalam empat rombel itu, ada empat guru yang semuanya PNS, ditambah tiga guru dari SM-3T. Yang sudah memiliki sertifikat pendidik profesional baru satu, dari prodi PAK, dan juga satu-satunya yang sudah S1. Selain mengajarkan agama Kristen, guru lulusan STAKPEN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan) Ambon ini juga mengajar PKn.

Peserta SM-3T yang bertugas di sekolah yang sangat sederhana ini adalah Melkianus, Andi dan Fani. Melkianus dari prodi Pendidikan Biologi, tapi dia juga harus mengajar Fisika dan Tikom (Teknik Informasi dan Komunikasi). Andi dari prodi Pendidikan Matematika, juga memiliki tugas tambahan mengajarkan Tikom. Begitu juga dengan Fani, meskipun dari prodi Pendidikan Sejarah, dia mengajar Bahasa Inggris sebagai tugas tambahannya. 
Seperti itulah mereka, menjadi apa saja untuk memenuhi kebutuhan akan guru.

Kami menyantap hidangan kue-kue dan teh panas yang disediakan di sebuah ruang kelas. Sambil mengobrol dengan kepala sekolah, komite, pendeta, dan juga guru-guru. Saya juga meminta pak tetua menyampaikan syair lagu yang dinyanyikannya tadi, dan menjelaskan maknanya. Seperti yang saya tuliskan di atas itulah hasilnya. 

Selesai menikmati kue, kami bermaksud pergi ke bukit sinyal. Ingin melihat di mana tempat para peserta SM-3T dan masyarakat setempat melakukan komunikasi dengan menggunakan ponsel mereka. Didampingi seorang bapak guru dan murid-murid, kami semua beramai-ramai menuju bukit sinyal. Tempat itu ada di bukit yang cukup tinggi dan terjal, sekitar lima ratus meter dari sekolah. Saking terjalnya, kami sampai harus terengah-engah untuk mencapainya dan musti sebentar-sebentar beristirahat di beberapa titik yang landai. Ratri, salah satu peserta SM-3T, bahkan sudah mengibarkan bendera putih sebelum mencapai puncak bukit. 'Nyerah'. 

Tapi jerih payah itu terbayar. Di atas bukit, kami tidak hanya mendapatkan sinyal. Tapi juga mendapatkan pemandangan yang wow. Luar biasa indahnya. Nun jauh di bawah sana adalah pantai dan laut yang biru berkilau-kilau. Dilengkapi dengan bukit berbatu dan pepohonan yang rapat. Atap-atap rumah seperti kotak-kotak korek api yang tersusun begitu indahnya. Kami semua takjub terpukau dengan hamparan lukisan alam yang dahsyat itu.

Turun dari bukit sinyal, kami melanjutkan perjalanan ke SMP Satap Tutuwawang. Sekolah ini letaknya persis di dekat pantai. Kami hanya sekedar mampir saja di sekolah ini, dan bermaksud melanjutkan perjalanan ke sebuah desa terpencil yang bernama Ampelas. Namun rute yang harus kami lalui begitu beratnya. Melintasi jalan kecil di sela-sela bebatuan pantai, sepeda motor harus 'dijeal-jejalkan' sedemikian rupa supaya bisa lolos menyelinap di antara batu-batu besar itu. Meski gua dan batu-batu pantai yang indah begitu mengobati kelelahan kami, namun karena tidak semua sepeda motor bisa lolos dan mencari speedboat sewaan juga tidak berhasil, maka kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. 

Sembari menuju jalan pulang, kami sempatkan mampir ke pantai. Bermain sampan. Saya sempat 'nyemplung' karena sampan kemasukan air. Tapi rasanya puas bisa bermain sampan meski di bawah sinar matahari yang terik sampai menyakiti kulit muka. Beberapa waktu yang lalu, Nanda pernah mengirimkan foto-foto dan videonya ketika dia sedang bermain sampan dengan anak-anak di desanya,di  desa Mahaleta di Pulau Sermata, Mdona Hyera. Saat melihatnya, saya menyimpan keinginan suatu saat ingin bermain sampan seperti itu. Hari ini 'keturutan.' 

Kami pun kembali berkonvoi menuju penginapan di sore yang mulai turun. Hari ini begitu luar biasa. Ada banyak pengalaman baru yang sangat menakjubkan. Ada banyak pelajaran hidup baru yang begitu berharga. Setiap detik terasa begitu penuh arti....

Aharani, Pulau Babar Timur, MBD, 18 April 2013.

Wassalam,
LN

0 komentar

Posting Komentar

Silakan tulis tanggapan Anda di sini, dan terima kasih atas atensi Anda...